Sering ada berita tentang buku-buku syiah beredar untuk anak-anak sekolah, bahkan ada semacam indikasi sepengetahuan Kemenag, namun tampaknya seperti tidak mau tahu.
Sebaliknya ketika ada buku yang menyangkut fenomena rusaknya aqidah agar tidak terjerumus kepada kemusyrikan yang telah menggejala, buru-buru pihak Kemenag minta maaf dan ingin “mengoreksinya”. Itu apakah artinya mempertahankan gejala yang menjurus kepada bahaya aqidah?
Padahal sejatinya, buku itu ya biasa-biasa saja.
Namun rupanya menjadikan gerahnya sebagian orang dan juga pihak Kemenag. Berbeda sekali terhadap buku-buku syiah yang jelas membahayakan aqidah, malah mereka diam saja.
Inila beritanya.
***

Buku Pelajaran MTs Sebut Makam Wali Berhala

SURABAYA – Buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kurikulum 2013 menuai protes. Pasalnya, dalam buku terbitan Kementerian Agama RI tahun 2014 itu menyebut makam wali sebagai berhala.

Pernyataan ini mencuat setelah Faiq Aminuddin Kepala Sekolah MTs Irsyaduth Thulab, Tedungan, Wedung, Demak mengadu ke laman Nahdhatul Ulama terkait menculnya kalimat bahwa Berhala sekarang adalah kuburan para Wali.

Dalam buku tersebut pada Bab I : Kedamaian, Sub Bab A Kondisi Masyarakat Mekkah sebelum Islam pada halaman 13-14 ada petunjuk mengajar. Petunjuk pertama adalah guru meminta peserta didik tetap di kelompok besarnya untuk mendiskusikan tentang perbandingan antara kepercayaan Mekkah dengan kondisi sekarang.

Kedua, Guru meminta setiap kelompok menulis hasil diskusinya dikertas kemudian hasilnya diserahkan ke Guru untuk dinilai. Ketiga, guru meminta salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.

Dalam buku tersebut diberikan contoh untuk hasil belajar mengajar. Contoh jawabannya tertulis, a. Persamaanya 1) masih ada yang menyembah berhala, mempercayai benda-benda dan selalu meminta kepada benda-benda. 2) mereka tidak bodoh secara keilmuan. 3) mendatangai dukun. Sedangkan perbedaanya, 1) berhala dilakukan oleh agama selain Islam yakni Hindu dan Budha. 2) Berhala sekarang adalah kuburan para Wali. 3) Istilah dukun berubah menjadi paranormal atau guru spiritual.

Dalam pengaduan itu, Faiq menyatakan, pemberian contoh yang menyebutkan berhala sekarang adalah kuburan para wali tentu tidak sesuai dengan ajaran yang anut oleh warga NU. Maka, kata Faiq, tidak tepatlah bila buku ini dijadikan sebagai buku pegangan guru semua guru MTs se-Indonesia karena ada banyak MTs yang berada di bawah naungan LP Ma’arif NU. Sungguh sangat disayangkan adanya kalimat yang menyatakan bahwa kuburan wali adalah berhala. Maka sudah seharusnya buku ini perlu segera dikaji ulang dan direvisi.

Pengaduan itu memantik reaksi sejumlah pihak. Salah satunya adalah Ibnu Syadii dari IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta yang menyebut bahwa pendidikan NU kalah start dengan kelompok Islam lainnya. Bahkan muncunya dalah kurikulum SKI ini dianggap bahwa NU telah kecolongan.

“Itu pertanda praktisi pendidikan dari NU kalah star dengan Islam kelompok lain. Sehingga dalam penyusunan kurikulum pelajaran SKI dan pelajaran Islam lainnya kita kecolongan. Tolong PP Ma’arif segera ambil sikap. Mohon dengan sangat!,” tulisnya.

(ded) Nurul Arifin – OKEZONE
Selasa, 16 September 2014 17:05 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 959 kali, 1 untuk hari ini)