ilustrasi. Said Aqil: Jenggot Mengurangi Kecerdasan Otak, Makin Panjang Jenggot Makin Goblok!/ foto panjimas.com, 13 Sep 2015


JAKARTA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj menjadi tokoh Islam paling kontroversial dari hasil penelitian Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Kapuslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kemenag, Amsal Bakhtiar mengatakan, munculnya Kiai Said sebagai tokoh Islam paling kontroversial merupakan hasil penelitian yang objektif. Menurutnya, penelitiannya melakukan sampel terhadap 1031 dengan subjek penelitian terdiri dari penyuluh, penghulu, guru madrasah, guru pendidikan keagamaan, guru agamaIslam di sekolah, dan dosen agama di 28 kabupaten dan kota yang tersebar di 14provinsi seluruh Indonesia.

Demikian keterangan Amsal, usai pemaparan hasil penelitian tentangperanan media massa dan media sosial dalam pembelajaran agama dan keagamaanIslam, di Hotel Cemara, Jakarta, Kamis (30/11).

Amsal menjelaskan penilaian tersebut merupakan persepsi dari responden. Contoh hal kontroversial yang diungkapkan oleh tokoh Islam misalnyatentang ajakan menghormati penganut syiah atau Ahmadiyah dimana berbeda.

Pernyataan seperti ini tidak semua orang setuju karena katakanlah Syaih dianggap tidakIslam. “Menghormati orang seperti itu kan menimbulkan kontroversial,” kata Amsal.
Diringkas dari berita di REPUBLIKA.CO.ID,  Rep: Rahmat Fajar / Red: Elba Damhuri

istimewa,  Jumat , 01 December 2017, 00:06 WIB

***

Arti kontroversi dan kontroversial.

kontroversi/kon·tro·ver·si/ /kontrovérsi/ n 1 perdebatan; 2 persengketaan; pertentangan

Kontroversial (ajektif) bersifat menimbulkan perdebatan. (contohnya, kalimat berikut): karena pandangannya yang radikal, dia merupakan tokoh yang kontroversial di negerinya/ artikbbi.com.

***

Dikhawatirkan

Orang yang pendapatnya kontroversial dan menyelisihi Islam, lalu sulit diluruskan pakai hujjah Islami, maka dikhawatirkan akan tergolong manusia al-aladdul khashim yang paling dibenci oleh Allah Ta’ala.

Hadits riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ


“Sesungguhnya orang yang paling dimurkai Allah adalah
al-aladdul khashim – orang yang paling keras permusuhannya dan yang menantang jika diterangkan hujjah kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2457 dan Muslim no. 2668)
Ketika orang sudah dikenal (bahkan dari hasil penelitian lembaga resmi negara) sebagai tokoh paling kontroversial, berarti lontaran-lontaran pendapatnya bersifat menimbulkan perdebatan. Itupun dia pada tingkat paling (puncaknya) kontroversial (yang sifatnya menimbulkan perdebatan). Padahal, perdebatan itu sendiri tercela dalam Islam. Maka benarlah hadits tersebut di atas bahwa orang yang paling dimurkai Allah adalah al-aladdul khashim – orang yang paling keras permusuhannya dan yang menantang jika diterangkan hujjah kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2457 dan Muslim no. 2668)

Berikut ini ada artikel mengenai tercelanya perdebatan, insya Allah bermanfaat. Selamat menyimak.

***

by Abu Muawiah

Tercelanya Perdebatan

Dari Abu Umamah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah tadinya mereka berada di atas petunjuk kecuali karena mereka adalah kaum yang senang melakukan perdebatan.” Kemudian beliau membaca ayat ini, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud berdebat saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58) (HR. At-Tirmizi no. 3253, Ibnu Majah no. 47, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5633)

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

“Sesungguhnya orang yang paling dimurkai Allah adalah orang yang paling keras permusuhannya dan yang menantang jika diterangkan hujjah kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2457 dan Muslim no. 2668)
Dari Abu Umamah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku akan menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kedustaan walaupun dia sedang bergurau. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik.” (HR. Abu Daud no. 4800 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1464)

Penjelasan ringkas:
Perdebatan dalam agama yang tidak sesuai dengan aturan syar’i merupakan salah satu di antara penyakit lisan yang sangat berbahaya. Dia merupakan sebab terjadinya perpecahan, pemutusan hubungan, saling menjauhi di antara sesama kaum muslimin. Perdebatan juga bisa menjadi sebab keras dan sesaknya hati karena bisa melahirkan kedengkian kepada kaum muslimin lainnya, plus banyaknya waktu yang terbuang akibat melakukan perdebatan ini dan kurangnya manfaat yang lahir darinya.

Karenanya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menutup semua wasilah menuju kepada perdebatan yang tidak bermanfaat, dengan memberikan janji surga kepada orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia yang benar, dan sebaliknya Allah sangat murka kepada orang-orang yang bergampangan terjun dalam perdebatan tanpa mengindahkan aturan-aturan syariat di dalamnya.

Dan  telah benar Allah dan Rasul-Nya, bahwa setiap orang yang terjun ke dalam perdebatan yang tidak berguna pasti akan berakhir pada kesesatan, kecuali mereka yang masih dirahmati oleh Allah, dan sangat sedikit sekali jumlah mereka ini. Tidakkah kita mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu sebelum kita, yang mereka ini lebih berilmu dibandingkan kita, bagaimana akhirnya mereka terjerumus ke dalam kesesatan akibat mereka berdebat dalam masalah agama, walaupun ada segelintir di antara mereka yang masih bisa kembali kepada kebenaran. Sebut saja di antaranya: Jahm bin Shafwan penyebar mazhab Jahmiah, Washil bin Atha’ pencetus mazhab Mu’tazilah, Imam Al-Ghazali, Fakhrur Razi, Asy-Syahrastani, dan selainnya.

Karenanya para ulama di setiap zaman menegaskan dalam kitab-kitab akidah mereka, bahwa di antara ciri khas ahlussunnah adalah menjauhi semua bentuk perdebatan. Karenanya siapa saja yang terjun dalam perdebatan dalam agama maka dia telah bermain-main di daerah terlarang, yang bisa mengeluarkan dia dari ahlussunnah. Hanya saja walaupun demikian, para ulama tetap memberikan persyaratan yang sangat ketat mengenai kapan perdebatan dibolehkan. Hal itu karena ada segelintir ulama (tidak banyak) yang diketahui mengadakan perdebatan dengan pengikut hawa nafsu (seperti Imam Ahmad, Utsman bin Said Ad-Darimi, dan Ibnu Taimiah), bahkan para nabipun berdebat dengan kaumnya.

Maka ini menunjukkan bahwa hukum asal perdebatan dalam agama adalah haram, kecuali jika terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu:

  1. Ikhlas guna meninggikan kalimat Allah, bukan dengan niat untuk menjadi tenar.
  2. Orang yang berdebat harus mapan keilmuannya dalam masalah yang dia perdebatkan. Jika dia orang yang jahil atau ilmunya masih setengah-setengah maka diharamkan atasnya
  3. Dia yakin -atau dugaan besar- dia bisa menang. Jika dia tidak yakin bisa menang maka dia wajib meninggalkan perdebatan itu.
  4. Ada kemungkinan pihak lawan jika dia kalah maka dia akan kembali kepada kebenaran. Jika pihak lawan diketahui sebagai orang yang keras kepala dan tidak akan bertaubat walaupun kalah maka tidak boleh berdebat dengannya.
  5. Jika dia tidak berdebat maka kebenaran akan tertutupi dan kebatilan yang akan menyebar.
  6. Ada maslahat darinya, baik yang kembalinya kepada pihak lawan dengan dia bertaubat maupun yang kembalinya kepada masyarakat dengan mereka menjauhi pihak lawan tersebut. Adapun jika tidak ada manfaatnya sama sekali, walaupun mereka kalah tapi masyarakat tetap tidak goyah dalam mengikuti mereka maka ini perdebatan itu adalah perbuatan sia-sia.

Keterangan tambahan tentang perdebatan dalam agama bisa dibaca dalam artikel: Larangan berdebat dalam agama.

Sumber: al-atsariyyah.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 557 kali, 1 untuk hari ini)