Jakarta Dipimpin Ahok, Kanwil KEMENAG Jadi Gila, Tunjukan menari diatas sejadah. Para penari nampak melakukan pentas tari dengan beralaskan sajadah. (tribunnews.com)/kaskus.co.id

Jakarta. Kementerian Agama RI memperingati Hari Ulang Tahun atau Hari Amal Bakti ke-70 yang jatuh pada tanggal 3 Januari 2016.

Upacara peringatan Hari Amal Bakti ke-70 tersebut digelar di halaman Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Jalan Lapangan Banteng Barat, Pasarbaru, Jakarta Pusat, Minggu (3/1/2016). dakwatuna.com

***

Bagaimanapun, tari bali tidak dapat dilepaskan dari kemusyrikan. Unsur kemusyrikan itu kental di dalamnya. Bahkan tari bali itu berfungsi  sebagai sarana menyambut dewa-dewa. Itu jelas kemusyrikan.

Hari Amal Bakti ulang tahun Kementerian Agama 3 Januari 2016 selayaknya diisi rasa syukur. Selayakanya Kemenag mengenang perjuangan Umat Islam dalam berperang melwan penjajah kafir. Selayaknya Kemenag mengenang perjuangan umat   yang dipimpin para ulama, kyai, tokoh Islam dengan memekikkan Takbir Allahu Akbar untuk mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala dalam berjuang meneteskan darah agar diberi kemerdekaan. Bukan malah sebaliknya, sudah melupakan perjuangan Ulama, Kyai, dan Umat Islam; masih pula menyakiti.

 Kemusyrikan yang ditengarai selama ini diekspresikan di Bali dengan sangat membenci Islam dan syiar-syiar Islam seperti jilbab dan lainnya, justru tarian kemusyrikan mereka yang untuk dewa-dewa diumbar untuk menginjak-injak sajadah tempat ibadah Umat Islam. Sakitnya hati ini, karena yang menyelenggarakan itu justru kementerian agama, dan di hari Amal Bhakti yang seharusnya untuk mengenang perjuangan para pahlawan Muslim yang telah bertakbir Allahu Akbar lalu berperang melawan penjajah kafir untuk meraih kemerdekaan itu. Kini justru kekafran dan kemusyrikan yang dijunjung tinggi, itupun untuk menginjakinjak sajadah.

Nangis hati ini…

Apalagi kalau kita tengok betapa kentalnya muatan kemusyrikan dalam tari bali itu.

Apa yang terkandung dalam tari bali dapat disimak di antaranya di penggalan artikel dari kalangan mereka ini:

Tarian & Agama

          Tari Bali tidak bisa dipisahkan dari agama. Sedikit persembahan berupa makanan dan bunga harus disiapkan bahkan hanya untuk tarian yang digunakan untuk menghibur wisatawan. Sebelum memulai pertunjukkan, banyak penari bersembahyang terlebih dahulu di pura yang ada di rumah mereka masing-masing,  memohon ´taksu´ (inspirasi) dari para dewa.

          Pada tradisi warisan leluhur ini,  banyak orang mengatakan bahwa kedamaian dan harmoni berasal dari perlindungan yang diberikan dewa dan leluhur. Tarian dalam konteks ini bisa memiliki beberapa fungsi spesifik seperti :

  1. Sebagai sarana tempat untuk dewa yang sedang turun ke dunia, penari akan berlaku sebagai tempat persinggahan dari dewa Tari ini termasuk tari Sang Hyang Dedari dengan gadis kecil yang kesurupan, dan tari Sang Hyang Jaran, sebuah tarian api.
  2. Sebagai sarana menyambut dewa-dewa yang datang ke dunia seperti tari pendet, rejang dan sutri.
  3. Sebagai hiburan kepada dewa-dewa yang datang ke dunia seperti tari topeng dan wayang.

(Sejarah Tarian Bali, http://www.turkebali.com/articlebali/sejarah_tarian_bali.html ).

Menteri Agama Lukman Seharusnya Melek Soal Ini

Non Muslim menghalangi pembangunan masjid

Umat Islam di Denpasar yang berjumlah 30-an persen pun tidak dibolehkan mengadakan pekuburan Muslim. Sehingga untuk menguburkan jenazah orang Islam harus ke kampong Negara yang jarak perjalanan mobil sekitar dua jam. Demikian pula tidak diizinkan mendirikan masjid lagi bahkan mushalla sekalipun. Walau jama’ah shalat sudah tidak tertampung.

Tempat-ibadah-Indo_84365234872

 https://www.nahimunkar.org/non-muslim-menghalangi-pembangunan-masjid/

Orang Non Muslim di negeri mayoritas Muslim pun berani menghalangi pembangunan masjid. Kini orang Non Islam berani menghalangi pembangunan masjid di Desa Nahornop Marsada, Kecamatan Pahe Jae, Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Bahkan di Indonesia, penghalangan terhadap Umat Islam itu ada yang secara sistematis memakai kekuasaan. Seperti di Bali –yang masih termasuk wilayah Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim–, di sana Umat Islam di Denpasar yang berjumlah 30-an persen pun tidak dibolehkan mengadakan pekuburan Muslim. Sehingga untuk menguburkan jenazah orang Islam harus ke kampong Negara yang jarak perjalanan mobil sekitar dua jam. Demikian pula tidak diizinkan mendirikan masjid lagi bahkan mushalla sekalipun. Walau jama’ah shalat sudah tidak tertampung.

Nasib Umat Islam di Indonesia, cukup memprihatinkan; sebagian dibunuhi oleh Densus 88 tanpa prosedur yang sah, langsung bunuh, kemudian mau beribadah dan bahkan menguburkan jenazah pun dihalangi secara formal, tanpa ada pembelaan.

Ketika ada petinggi yang dipuji-puji orang liberal sebagai tokoh pembela minoritas seperti mendiang Gus Dur  — yang jejak langkah tidak sukanya kepada Islam diteruskan oleh para muqalidnya–, ternyata yang dibela hanya kalau minoritasnya itu orang kafir. Kalau orang Muslim seperti Muslimin di Bali, maka sama sekali tidak dibela. (Posted on Jun 14th, 2015 by nahimunkar.com).

Kalau toh diri-diri para pejabat Kemenag itu sudah gerah menyandang agamanya, tidak usahlah sebegitu bertingkahnya dalam merusak Islam dan menyakiti Umat Islam. Baik yang mereka lakukan langsung ataupun yang pemurtadan serta perusakan Islam lewat perguruan tinggi Islam UIN IAIN STAIN dan sebagainya seluruh Indonesia. Kalau toh mau rusak dan gerah menyandang agamanya, silakan diri-diri mereka saja, (namun ini bukan suruhan tapi hanya agar merasa bahwa mereka sudah terlalu).

Oleh karena itu, ketika ada suara-suara Umat Islam bahkan media Islam yang menjerit agar menteri agama Lukman Hakim Saifuddin mundur dari jabatannya, disertai para pejabat yang bertanggung jawab soal itu; tampaknya suara itu masuk akal dan bahkan ada nuansa membangun. Agar negeri ini tidak lebih dicemari lagi oleh orang-orang yang menyakiti Islam semaunya saja, lewat jabatan yang diamanahkan namun diselewengkan.

Wassalam.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.926 kali, 1 untuk hari ini)