Kementrian Agama RI mengakuia sahnyaAgama Yahudi di Indonesia. Dalam waktu bersamaan, Kelompok HAM di dunia sedang mengutuk persetujuan Israel atas undang-undang baru yang memungkinkan pemenjaraan bagi anak berusia 12 tahun untuk “pelanggaran teroris”.

Inilah beritanya.

***

Pemerintah Akui Yahudi Sebagai Agama Sah dan Ijinkan Berkembang di Indonesia

AntiLiberalNews – Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama Ferimeldi menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia mengakui keberadaan agama Yahudi di Indonesia dan bebas menjalankan ajaran agamanya.

Pemerintah tidak hanya mengakui enam agama, tetapi juga agama-agama yang lain. Yang lain itu, seperti Yudaisme, dibiarkan apa adanya,” ujar Ferimeldi, seperti dilansir Islamedia dari CNNIndonesia.com, Rabu(3/8/2016).

Meskipun mendapatkan pengakuan keberadaan, pemeluk agama Yahudi tidak akan mendapatkan pelayanan dari negara seperti yang diterima pemeluk agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Ferimeldi mengungkapkan bahwa keberadaan agama ataupun aliran kepercayaan selain 6 agama resmi itu dilindungi dalam pasal 29 ayat 2 UUD 1945.

“Sepuluh macam hak yang diatur konstitusi melalui Bab XA, juga melekat pada para penganut Yudaisme. Hak itu mencakup hak hidup, hak ekonomi, sosial, dan politik” tegas Ferimeldi.

Ferimeldi juga menegaskan bahwa pemerintah membiarkan kesempatan kepada pemeluk agama Yahudi di Indonesia untuk bebas berkembang, dengan syarat tidak melanggar peraturan perundangan.

Red: Adiba Hasan/http://www.antiliberalnews.com/

***

{لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا} [المائدة: 82]

  1. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. [Al Ma”idah82]

Kemarin hari ulang tahun Kemenag RI dimeriahkan dengan tarian (kemusyrikan) Bali dengan menginjak-injak sajadah. Kini Kemenag mengakui sahnya agama Yahudi.

Apakah Kemenag yang merupakan hadiah bagi umat Islam secara sejarahnya, hingga diadakannya Kemenag itu sendiri belakangan dibanding kementrian lain itu kini justru untuk menghadiahi Umat Islam berupa keyakinan yang menurut ayat tersebut sangat memusuhi Islam?

Sekadar kilas balik, inilah berita yang pernah heboh soal tingkah Kemenag.

***

Kemenag Menjajakan Tari Kemusyrikan dengan Injak-injak Sajadah

by nahimunkar.com, Jan 5th, 2016

Jakarta Dipimpin Ahok, Kanwil KEMENAG Jadi Gila, Tunjukan menari diatas sejadah. Para penari nampak melakukan pentas tari dengan beralaskan sajadah. (tribunnews.com)/kaskus.co.id

Jakarta. Kementerian Agama RI memperingati Hari Ulang Tahun atau Hari Amal Bakti ke-70 yang jatuh pada tanggal 3 Januari 2016.

Upacara peringatan Hari Amal Bakti ke-70 tersebut digelar di halaman Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Jalan Lapangan Banteng Barat, Pasarbaru, Jakarta Pusat, Minggu (3/1/2016). dakwatuna.com

***

Bagaimanapun, tari bali tidak dapat dilepaskan dari kemusyrikan. Unsur kemusyrikan itu kental di dalamnya. Bahkan tari bali itu berfungsi  sebagai sarana menyambut dewa-dewa. Itu jelas kemusyrikan.

Hari Amal Bakti ulang tahun Kementerian Agama 3 Januari 2016 selayaknya diisi rasa syukur. Selayakanya Kemenag mengenang perjuangan Umat Islam dalam berperang melwan penjajah kafir. Selayaknya Kemenag mengenang perjuangan umat   yang dipimpin para ulama, kyai, tokoh Islam dengan memekikkan Takbir Allahu Akbar untuk mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala dalam berjuang meneteskan darah agar diberi kemerdekaan. Bukan malah sebaliknya, sudah melupakan perjuangan Ulama, Kyai, dan Umat Islam; masih pula menyakiti.

 Kemusyrikan yang ditengarai selama ini diekspresikan di Bali dengan sangat membenci Islam dan syiar-syiar Islam seperti jilbab dan lainnya, justru tarian kemusyrikan mereka yang untuk dewa-dewa diumbar untuk menginjak-injak sajadah tempat ibadah Umat Islam. Sakitnya hati ini, karena yang menyelenggarakan itu justru kementerian agama, dan di hari Amal Bhakti yang seharusnya untuk mengenang perjuangan para pahlawan Muslim yang telah bertakbir Allahu Akbar lalu berperang melawan penjajah kafir untuk meraih kemerdekaan itu. Kini justru kekafran dan kemusyrikan yang dijunjung tinggi, itupun untuk menginjakinjak sajadah.

Nangis hati ini…

Apalagi kalau kita tengok betapa kentalnya muatan kemusyrikan dalam tari bali itu.

Apa yang terkandung dalam tari bali dapat disimak di antaranya di penggalan artikel dari kalangan mereka ini:

Tarian & Agama

          Tari Bali tidak bisa dipisahkan dari agama. Sedikit persembahan berupa makanan dan bunga harus disiapkan bahkan hanya untuk tarian yang digunakan untuk menghibur wisatawan. Sebelum memulai pertunjukkan, banyak penari bersembahyang terlebih dahulu di pura yang ada di rumah mereka masing-masing,  memohon ´taksu´ (inspirasi) dari para dewa.

          Pada tradisi warisan leluhur ini,  banyak orang mengatakan bahwa kedamaian dan harmoni berasal dari perlindungan yang diberikan dewa dan leluhur. Tarian dalam konteks ini bisa memiliki beberapa fungsi spesifik seperti :

  1. Sebagai sarana tempat untuk dewa yang sedang turun ke dunia, penari akan berlaku sebagai tempat persinggahan dari dewa Tari ini termasuk tari Sang Hyang Dedari dengan gadis kecil yang kesurupan, dan tari Sang Hyang Jaran, sebuah tarian api.
  2. Sebagai sarana menyambut dewa-dewa yang datang ke dunia seperti tari pendet, rejang dan sutri.
  3. Sebagai hiburan kepada dewa-dewa yang datang ke dunia seperti tari topeng dan wayang.

(Sejarah Tarian Bali, http://www.turkebali.com/articlebali/sejarah_tarian_bali.html ).

Menteri Agama Lukman Seharusnya Melek Soal Ini

Non Muslim menghalangi pembangunan masjid

Umat Islam di Denpasar yang berjumlah 30-an persen pun tidak dibolehkan mengadakan pekuburan Muslim. Sehingga untuk menguburkan jenazah orang Islam harus ke kampong Negara yang jarak perjalanan mobil sekitar dua jam. Demikian pula tidak diizinkan mendirikan masjid lagi bahkan mushalla sekalipun. Walau jama’ah shalat sudah tidak tertampung.

 https://www.nahimunkar.org/non-muslim-menghalangi-pembangunan-masjid/

Orang Non Muslim di negeri mayoritas Muslim pun berani menghalangi pembangunan masjid. Kini orang Non Islam berani menghalangi pembangunan masjid di Desa Nahornop Marsada, Kecamatan Pahe Jae, Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Bahkan di Indonesia, penghalangan terhadap Umat Islam itu ada yang secara sistematis memakai kekuasaan. Seperti di Bali –yang masih termasuk wilayah Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim–, di sana Umat Islam di Denpasar yang berjumlah 30-an persen pun tidak dibolehkan mengadakan pekuburan Muslim. Sehingga untuk menguburkan jenazah orang Islam harus ke kampong Negara yang jarak perjalanan mobil sekitar dua jam. Demikian pula tidak diizinkan mendirikan masjid lagi bahkan mushalla sekalipun. Walau jama’ah shalat sudah tidak tertampung.

Nasib Umat Islam di Indonesia, cukup memprihatinkan; sebagian dibunuhi oleh Densus 88 tanpa prosedur yang sah, langsung bunuh, kemudian mau beribadah dan bahkan menguburkan jenazah pun dihalangi secara formal, tanpa ada pembelaan.

Ketika ada petinggi yang dipuji-puji orang liberal sebagai tokoh pembela minoritas seperti mendiang Gus Dur  — yang jejak langkah tidak sukanya kepada Islam diteruskan oleh para muqalidnya–, ternyata yang dibela hanya kalau minoritasnya itu orang kafir. Kalau orang Muslim seperti Muslimin di Bali, maka sama sekali tidak dibela. (Posted on Jun 14th, 2015 by nahimunkar.com).

Kalau toh diri-diri para pejabat Kemenag itu sudah gerah menyandang agamanya, tidak usahlah sebegitu bertingkahnya dalam merusak Islam dan menyakiti Umat Islam. Baik yang mereka lakukan langsung ataupun yang pemurtadan serta perusakan Islam lewat perguruan tinggi Islam UIN IAIN STAIN dan sebagainya seluruh Indonesia. Kalau toh mau rusak dan gerah menyandang agamanya, silakan diri-diri mereka saja, (namun ini bukan suruhan tapi hanya agar merasa bahwa mereka sudah terlalu).

Oleh karena itu, ketika ada suara-suara Umat Islam bahkan media Islam yang menjerit agar menteri agama Lukman Hakim Saifuddin mundur dari jabatannya, disertai para pejabat yang bertanggung jawab soal itu; tampaknya suara itu masuk akal dan bahkan ada nuansa membangun. Agar negeri ini tidak lebih dicemari lagi oleh orang-orang yang menyakiti Islam semaunya saja, lewat jabatan yang diamanahkan namun diselewengkan.

Wassalam.

(nahimunkar.com)

***

Israel Teken Undang-Undang Untuk Penjarakan Anak-anak Palestina Usia 12 Tahun

KIBLAT.NET – Kelompok HAM mengutuk persetujuan Israel atas undang-undang baru yang memungkinkan pemenjaraan bagi anak berusia 12 tahun untuk “pelanggaran teroris”. Undang-undang ini telah disetujui dan akan diterapkan, terutama untuk anak-anak Palestina di Yerusalem Timur.

Undang-undang yang disebut “Youth Bill” itu memungkinkan pihak berwenang untuk memenjarakan anak di bawah umur yang dihukum karena kejahatan berat seperti pembunuhan dan percobaan pembunuhan. Meskipun ia berada di bawah usia 14 tahun, kata pemerintah Israel dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (3/8).

Serangan dalam beberapa bulan terakhir menuntut pendekatan yang lebih agresif, termasuk terhadap anak di bawah umur, kata pemerintah dalam pernyataannya.

Kelompok HAM Israel B’Tselem mengkritik hukum dan perlakuan Israel terhadap pemuda Palestina secara umum.

“Daripada mengirim mereka ke penjara, Israel akan lebih baik mengirim mereka ke sekolah yang di sana mereka bisa tumbuh dalam martabat dan kebebasan, tidak di bawah pendudukan,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

“Memenjarakan anak di bawah umur muda sama dengan membunuh kesempatan masa depan mereka yang lebih baik,” tambah pernyataan itu.

Hukum militer, yang saat ini diterapkan untuk warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel, sudah memungkinkan pemenjaraan anak usia 12 tahun.

Sejak Oktober, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 219 warga Palestina, termasuk penyerang, demonstran tidak bersenjata, dan pengamat. Selama periode yang sama, penyerang Palestina telah menewaskan 34 warga Israel di sebagian besar menusuk atau insiden penembakan.

Menteri Kehakiman Israel Ayelet Shaked, anggota dari partai ultra-nasionalis Jewish Home, memberikan dukungan penuh untuk Youth Bill ketika datang sebelum komite menteri tahun lalu.

Saat masih menjabat sebagai anggota parlemen selama perang 51 hari di Gaza pada tahun 2014, Shaked pernah menyebut anak-anak Palestina sebagai “ular kecil”. Ia mempromosikan kekerasan mematikan terhadap warga Palestina.

Setidaknya 414 anak-anak Palestina berada di penjara-penjara Israel pada bulan Juli, menurut jaringan dukungan untuk tawanan yang berbasis Tepi Barat.

Seorang gadis Palestina berusia 12 tahun dari Tepi Barat, dihukum karena percobaan pembunuhan oleh pengadilan militer. Ia dibebaskan pada bulan April sebagai bagian dari tawar-menawar pembelaan setelah menjalani empat bulan penjara.

Reporter:Salem

Sumber: Al-Jazeera/kiblat.net

(nahimunkar.com)

(Dibaca 57.733 kali, 1 untuk hari ini)