(Contoh Nyata, 14 Mahasiswa UIN Jogja Ikuti Misa Natal 2015 di Gereja Solo)


Kasus 14 Mahasiswa UIN Jogja (di antaranya sembilan mahasiswi berjilbab) mengikuti ibadah natal 2015 di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Margoyudan Solo (Surakarta) Jawa Tengah adalah salah satu bukti nyata makin dilancarkannya pemurtadan lewat pendidikan tinggi Islam oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Mahasiswa perguruan tinggi Islam negeri dari Jogja sampai menempuh jarak 63 KM dengan dua mobil untuk mengikuti ibadah orang kafir dan mengaguminya serta boleh dibilang bangga hingga ngoceh ke media itu adalah merupakan keberhasilan pendangkalan aqidah dari pihak Kemenag dan UIN dalam menggarap mahasiswa dengan mempercayakan pendeta Gereja Margoyudan Solo itu untuk memurtadkan mereka, hingga sanggup mengikuti ibadah natal bersama orang nasrani di Gereja Margoyudan Solo. Masih pula sang dosen yang menggiring mereka itu yang juga pendeta di gereja yang dihadiri ini memperkenalkan mereka kepada jemaat nasrani yang sedang ibadah natal dalam gereja, karena para mahasiswa itu juga bergaung di dalam barisan jemaat nasrani yang sedang merayakan hari kelahiran apa yang mereka sebut Tuhan mereka.

Bagaimana tidak dhalimnya, lha wong pendeta gereja kok dipercaya untuk mengajar di UIN dalam materi mata kuliah teks suci Al-Quran dan kitab agama lain. Pendeta itupun hasil didikan s3 di UIN Joga itu sendiri. Sehigga dapat dibayangkan, pendeta itu tentu mampu menjajagi kemampuan mahasiswa yang akan digirig untuk mengikuti ajarannya. Semakin sukses penggiringannya, maka berarti makin sukses misinya, sekaligus akan mendapatkan nilai prestasi tinggi dari pihak yang menugaskannya, yakni UIN yang jalurnya adalah Kemenag. Berarti sama dengan menyelenggarakan gerilya pemurtadan pakai jalur resmi sistematis, sedang Al-Qur’an dijadikan kedok kajian. Kemudian ketika mereka para mahasiswa itu telah tergiring ikut misa natal ke gereja, maka tinggal dikatakan, bahwa itu adalah kemauan mereka sendiri, sebagaimana diberitakan oleh orang gereja begini:

”Kedatangan mereka ke sini atas keinginan sendiri. Mereka mahasiswa Pendeta pak Wahyu Nugroho di UIN. Beliau mengajar di sana. Beliau juga menyelesaikan kuliah S3 di sana,” kata Sekretaris umum GKJ Margoyudan, Winantyo saat dikutip hatree.co usai misa Natal, Jumat (25/12) siang.

Menurut Winantyo, pada waktu mengikuti ibadah itu, para mahasiswa berbaur dengan ribuan jemaat lainnya. Mereka juga menempati deretan bangku kelima dari depan yang terletak dekat dari mimbar. Terdapat sembilan mahasiswi mengenakan hijab dan enam lainnya adalah mahasiswa.

“Mereka mintanya berbaur dengan jemaat kami. Makanya kami tempatkan di tengah-tengah. Sambutan hangat dari jemaat membuat mereka nyaman,” ujar Winantyo./ hatree.co/

Itulah bentuk kongkalikong UIN- Kemenag- dan Gereja.

Kemenag tampaknya menjadi kordinator pemurtadan di Indonesia.

 Ini buktinya.

Kalau beberapa tahun lalu gerilya pemurtadan secara resmi itu di antaranya menggunakan tenaga murtad tingkat internasional dari luar negeri, maka akhir-akhir ini tampaknya dengan menggunakan tenaga orang kafir dari dalam negeri. Yang ketahuan dan terberitakan adalah kasus misa natal di gereja Margoyudan Solo yang “menghadirkan” 14 mahasiswa UIN Jogja hasil binaan (“pemurtadan”) pendeta gereja Margoyudan ini yang sengaja dipercaya oleh UIN_Kemenag untuk menggarap para mahasiswa.

Kemenag pernah mempercayakan pemurtadan kepada orang murtad, Dr Nasr Hamid Abu Zayd

Dulu tahun 2007, Depag (kini Kemenag/ kementerian agma) mengundang pentolan murtad (yang murtadnya resmi atas keputusan Mahkamah Agung Mesir 1996), yaitu Dr Nasr Hamid Abu Zayd yg menganggap Al-Qur’an itu produk budaya (muntaj tsaqafi), dan dia pengusung metode hermeneutik (metode dari Yunani diadopsi yahudi dan nasrani untuk meneliti kemurnian bible, lalu diadopsi orang yg mengaku Islam, lalu diajarkan juga di UIN IAIN dsb untuk mengacak-acak pemahaman isi Al-Qur’an).

Nasr Hamid Abu Zayd si murtad itu diundang Depag ke Riau 2007 untuk menatar dosen2 IAIN UIN STAIN se-Indonesia (konon sekitar160 doktor) untuk meningkatkan apa yg disebut pendidikan Islam. Lhah, orang murtad diundang untuk menatar dosen-dosen perguruan tinggi Islam se-Indonesia, tentu saja artinya adalah untuk meningkatkan pemurtadan terhadap para mahasiswa perguruan tinggi Islam se-Indonesia.

 Qadarullah, saat itu berita akan diadakan penataran dengan mengundang pentolan murtad dari Mesir yang sudah miggat ke Belanda yakni Dr Nasr Hamid Abu Zayd itu terdengar oleh Umat Islam, maka ditolaklah oleh MUI Riau dan para tokoh Islam. Akibatnya, walau sudah hadir itu si murtad yang dundang, namun Depag (Kemenag) karena ketahuan umat Islam dan ada reaksi keras penolakan itu maka Depag (Kemenag) membatalkannya, hingga si murtad itu tidak jadi menatar para dosen IAIN UIN STAIN se-Indonesia di Riau, walau sudah ada di kota itu.

Kemudian si murtad itu juga dijadwalkan untuk bicara di Surabaya dan Malang, tetapi ditolak pula oleh Umat Islam, maka lagi-lagi Depag (Kemenag) tidak berani meneruskannya, hingga membatalkannya pula. dan akhirnya si murtad itu pulang sebelum sempat menularkan langsung ilmu kemurtadannya yang diminta oleh Depag (kini Kemenag) untuk ditularkan kepada para dosen perguruan tinggi Islam negeri se-Indonesia itu.

Khabarnya sepulang dari Indonesia kemudian si murtad itu mengidap virus aneh hingga sakit, dan akhirnya mati, 5 Juli 2010 di Kairo. lihat link ini:https://www.nahimunkar.org/nasr-hamid-abu-zayd-meninggal/

Nasr Hamid Abu Zayd Meninggal

– Dia terjangkit virus ‘aneh’ beberapa pekan setelah ia berkunjung ke Indonesia.

– Virus ‘aneh’ dari pemikiran dia di antaranya: Ia berpendapat dan mengatakan bahwa al-Quran adalah produk budaya (muntaj tsaqafi), dan karenanya mengingkari status azali al-Quran sebagai Kalamullah yang telah ada dalam al-Lawh al-Mahfuz.

– Dia adalah tokoh nyeleneh (aneh) di Mesir yang divonis Murtad oleh Mahkamah Agung 1996

Nasr Hamid Abu Zayd menginggal setelah mengidap virus ‘aneh’. Tokoh nyeleneh (aneh) di Mesir yang divonis Murtad oleh Mahkamah Agung 1996 karena mengobarkan pemikiran bahwa Al-Qur’an itu muntaj tsaqofi (produk budaya) itu difasakh (dibatalkan) perkawinannya pula namun kemudian ia “lari” ke Leiden Belanda dan konon menjadi guru Ulumul Qur’an di sana. Salah satu muridnya di Indonesia adalah seorang dosen di UIN Jogjakarta.

Nasr Hamid Abu Zayd pun pernah diundang ke Indonesia oleh Departemen Agama (kini Kementeri Agama) RI, untuk menatar para dosen IAIN se-Indonesia dalam rangka apa yang disebut meningkatkan pendidikan tinggi agama di Indonesia tahun 2007. Namun kehadiran tokoh nyeleneh dan liberal itu ditolak oleh MUI Riau. Kemudian dijadwalkan untuk berbicara pula di Jawa Timur, Malang, namun ditolak pula oleh MUI dan tokoh-tokoh Islam di Jawa Timur.

Nasr Hamid Abu Zayd adalah tokoh liberal yang pendapat-pendapatnya sangat ekstrim, sehingga dia divonis murtad oleh Mahkamah Mesir. Dia lalu melarikan diri ke Leiden University. Dari sanalah, dengan dukungan negara-negara Barat, dia mulai mendidik beberapa dosen UIN/IAIN. Beberapa muridnya sudah kembali ke Indonesia dan menduduki posisi-posisi penting di UIN/IAIN.

Di Indonesia, para penghujat al-Quran di kampus-kampus UIN/IAIN hampir selalu menjadikan Abu Zayd sebagai rujukan. Dalam hasil penelitiannya terhadap perkembangan paham-paham keagamaan Liberal di sekitar kampus UIN Yogyakarta, Litbang Departemen Agama Yogyakarta, Litbang Departemen Agama menulis:

“Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman. Amin Abdullah (petinggi UIN Jogja) mengatakan bahwa sebagian tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini dianggap telah melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. Hermeneutika kini sudah menjadi kurikulum resmi di UIN/IAIN/STAIN seluruh Indonesia. Bahkan oleh perguruan tinggi Islam di Nusantara ini hermeneutika makin digemari.” (Lebih lengkap tentang kekeliruan pemikiran Abu Zayd bisa dilihat dalam buku “Al-Qur’an Dihujat”, karya Henri Shalahuddin, MA (GIP, Jakarta: Mei 2007).

Ketika Al-Qur’an sudah dianggap sebagai produk budaya, dan mempelajarinya pakai metode  Hermeneutika yang dusung pentolan murtad yakni Nasr Hamid Abu Zayd untuk seluruh perguruan tinggi Islam di Indoneia, maka sejatinya itu adalah pemurtadan dan pengingkaran terhadap Al-Qur’an.

Kini telah ditingkatkan lagi, pengajaran tentang Al-Qur’an di UIN Jogja diserahkan kepada seorang pendeta gereja alumni S3 UIN Jogja. Sehingga langsung yang mengajarkan Al-Qur’an kepada para mahasiswa itu adalah orang yang memang mengingkari Al-Qur’an. Makanya ketika pendeta yang telah dipercayakan menggarap mahasiswa berkedok al-Qur’an itu mampu menyeret 14 mahasiswa hingga masuk ke barisan jemaat nasrani dalam gereja yang sedang misa natal 2015; itu pada dasarnya adalah pemurtadan nyata yang dlaksanakan oleh UIN-Kementerian Agama , kongkalikong dengan pihak gereja.

Itu lebih buruk dibanding tingkah buruk wanita nakal yang memorot duit suami tapi untuk menggugat cerai sang suami sambil berselingkuh dengan lelaki bejat.

Pantas saja ada doa  Nabi saw yang mengutuk pihak pemimpin yang dipercaya namun khianat.

Doa Nabi Saw, Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ _أحمد ، ومسلم عن عائشة

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

 وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ _ رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 10.446 kali, 1 untuk hari ini)