Ilustra_kemenag_8365412643

Logo Kemenag/ ant, syiah sesat/ ibhe

  • Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberi nilai merah kepada Kementerian Agama dalam menindaklanjuti rekomendasi pembenahan sistem yang berpotensi korupsi di institusinya.
  • Kementerian Agama Memberi izin dan meresmikan Sekolah Tinggi Filsafat Sadra (Filosof Syi’ah) di Pejaten Pasar Minggu Jakarta.
  • Main combe-combean dengan syiah berbentuk bedah buku karangan isteri dedengkot syiah. Padahal buku itu menyebarkan fitnah kepada penganut Ahlussunnah.
  • Syiah adalah aliran sesat dan membahayakan stabilitas NKRI.
  • Syiah sering menyulut kekacauan di berbagai negara-negara Islam. Terlebih jika komunitas Syiah mulai beranjak besar, maka bisa dipastikan akan membentuk pasukan di luar pemerintahan seperti Hizbullah di Lebanon.
  • Mereka menghalalkan darah, harta dan kehormatan umat Islam non-Syiah.
  • Balitbang Kemenag Tidak Sensitif atau memang Kementerian Agama kini berisi manusia-manusia pengkhianat agama dan bangsa? Hingga surat Edaran tentang syi’ah bertentangan dengan ajaran Islam yang resmi dikeluarkan sendiri oleh kementerian Agama yang tadinya bernama Depag pun kini mereka ingkari sendiri. Surat Edaran Departemen Agama RI no D/BA.01/4865/1983 dikeluarkan pada tanggal 5 Desember 1983 tentang golongan syiah. Surat itu menyatakan bahwa syiah tidak sesuai dan bahkan  bertentangan dengan ajaran Islam.

(lihat Surat Edaran Departemen Agama Tentang: HAL IKHWAL MENGENAI GOLONGAN SYI’AH https://www.nahimunkar.org/5247/surat-edaran-departemen-agama-tentang-hal-ikhwal-mengenai-golongan-syiah/ ).

Ummat Islam perlu waspada, Allah Ta’ala telah memperingatkan:

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ [البقرة : 9 – 12]

 9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

11. Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan.”

12. Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah: 9-12).

***

Berdusta untuk membela aliran sesat

Ada sorotan yang perlu dicermati seperti berikut ini.

Menteri Agama Suryadharma Ali cenderung membela aliran sesat. Itu bisa dibuktikan melalui sejumlah fakta: ia pernah menyatakan syi’ah tidak sesat, memuji-muji Al-Zaytun (NII KW-9), menjadikan tokoh paham sesat LDII sebagai anggota Amirul Haj 2012.

Mengenai paham sesat syi’ah, Menteri Agama Suryadharma Ali pernah mengatakan bahwa Syiah bertentangan dengan ajaran Islam. Hal itu didasarkan pada surat edaran Departemen Agama RI no D/BA.01/4865/1983 yang dikeluarkan pada tanggal 5 Desember 1983 tentang golongan syiah. Surat itu menyatakan bahwa syiah tidak sesuai dan bahkan  bertentang dengan ajaran islam.

Selain surat edaran Departemen Agama, hal itu juga didasarkan pada hasil Rakernas MUI pada 7 Maret 1984 di Jakarta yang merekomendasikan umat Islam Indonesia agar waspada terhadap penyusupan paham sesat syi’ah yang memiliki perbedaan pokok dari ajaran Islam (ahlusunnah wal Jamaah).

Pernyataan itu disampaikan Suryadharma pada 25 Januari 2012. Namun selang dua hari kemudian, 27 Januari 2012, Suryadharma Ali menyatakan bahwa ia tidak merasa pernah menyebut kelompok Syiah sebagai aliran sesat yang berada di luar Islam.

Perasaan tidak merasa tadi terungkap saat berlangsung pertemuan antara Tanfidz Ahlul Bayt Indonesia (ABI) dengan Dewan Syariat PPP, pada hari Jumat malam tanggal 27 Januari 2012.

Pada forum itu, Dewan Syariat PPP atas nama Suryadharma Ali yang juga selaku Menteri Agama maupun ketua Umum PPP minta maaf kepada masyarakat Islam khususnya umat Islam Syiah, bahwa Suryadharma Ali merasa tidak pernah mengatakan bahwa Syiah sesat dan di luar Islam.

Keterangan itu memang disampaikan oleh Ahmad Hidayat (Sekjen ABI) kepada sejumlah wartawan. Namun, tidak ada bantahan dari Suryadharma Ali, sehingga bisa disimpukan bahwa keterangan yang disampaikan Sekjen ABI tadi bisa dikatakan benar.

Kegandrungan Suryadharma Ali terhadap paham sesat juga bisa dilihat ketika ia pada tahun lalu mengakui bahwa sejak kunjungan pertamanya pada Rabu 11 Mei 2011 ke Ma’had Al-Zaytun di Indramayu, dirinya jatuh cinta pada pesantren yang dipimpin oleh Panji Gumilang tersebut.

Begitu juga pada kunjungan keduanya, Ahad 25 Maret 2012, Suryadharma Ali memuji habis-habisan Ma’had Al Zaytun yang dipimpin Panji Gumilang, tokoh NII KW-9 yang sesat menyesatkan: “… Pondok Pesantren Al-Zaytun selalu mengedepankan perdamaian dan toleransi. Pesantren Al Zaytun  jauh dari kesan keras. Kesan Islam garis keras jauh, penyajian musik-musiknya pun beragam, bernuansa Islami dan keindonesiaan.”

Puji-pujian yang menyesatkan. Kesesatan sebuah paham tidak bisa dilihat dari tampilan luarnya yang terkesan tidak keras, apalagi bila diukur dari sajian musik yang beragam. Tetapi, harus disimpulkn melalui sebuah penelitian yang terukur, profesional, reliable dan valid. Sekedar kunjungan singkat seperti dilakukan Suryadharma Ali sama sekali tidak bisa dijadikan landasan menilai sesat-tidaknya sebuah paham.

Sikap Suryadharma Ali seperti itu jelas jauh dari kepatutan yang seharusnya dimiliki seorang Menteri Agama, Ketua Parpol yang katanya Islam, dan Sarjana atau Cendikia yang katanya Islam. Sebuah penelitian tentang Al-Zaytun yang menyimpulkan sesat, tidak bisa dianulir begitu saja oleh kunjungan Suryadharma Ali yang hanya beberapa jenak di sana. Penelitian hanya bisa dibatalkan oleh penelitian yang setara. Begitulah kaidah ilmiah. Apalagi kesesatan itu menyangkut keyakinan agama. Satu contoh kecil, dapat dibayangkan betapa sesatnya keyakinan yang disuntikkan oleh Pesantren Al Zaytun:

Dalam buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs diungkap pula faham pluralism agama alias kemusyrikan baru yang nyata di Pesantren Al-zaytun Indramayu Jawa Barat pimpinan Panji Gumilang ini. Mari kita simak cuplikannya:

Mengapa gagasan pluralisme agama disebut sebagai gagasan orang dungu? Cobalah simak kejadian berikut ini:

Seorang pemandu tamu Ma’had Al-Zaytun pimpinan AS Panjigumilang di Indramayu Jawa Barat menjelaskan kondisi pesantren megah itu kepada pengunjung dalam mobil ketika mengelilingi pergedungan dan kawasan pesantren ini. Pemandu mengatakan, pesantren ini menerima juga santri-santri yang non muslim. Lalu seorang bocah keturunan India dalam mobil ini bertanya, “Lho kok menerima santri non Muslim Pak, kan ini pesantren?”

“Ya, kami menerima murid yang non muslim pula, karena semua agama itu sama, semuanya dari Tuhan juga. Jadi semua agama sama,” jawab pemandu.

Mobil pun tetap berjalan pelan-pelan. Pemandu masih sering menjelaskan ini dan itu kepada pengunjung sekitar 10-an orang dalam mobil itu. Lalu mobil lewat di depan deretan kandang yang isinya banyak sapi. Bocah keturunan India itu bertanya lagi:

“Pak, itu banyak sapi, untuk apa pak, sapi-sapi itu?”

“Untuk disembelih, dijadikan lauk bagi para santri,” jawab pemandu.

“Lho, sapi kok disembelih Pak. Tadi bapak bilang, semua agama sama. Lha kok sapi boleh disembelih pak?” Tanya bocah keturunan India yang bagi agama dia sapi tak boleh disembelih itu.

Ditunggu bermenit-menit tidak ada jawaban dari pemandu. Adanya hanya diam. Padahal hanya menghadapi bocah yang dibawa oleh bapak dan ibunya dan belum dapat bepergian sendiri itu.

Baru menghadapi bocah saja, orang yang berfaham pluralisme agama alias menyamakan semua agama ini sudah tidak mampu menjawab. Padahal masih di dunia. Apalagi di akherat kelak.

Di dunia ini sudah ada tuntunannya, bahwa agama yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah Islam. Yang lain tidak diridhoi. Maka jelas tidak sama antara yang diridhoi dan yang tidak. Yang bilang sama, itu hanya orang-orang yang tak menggunakan akalnya. (Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2010, halaman 48-49).

Apakah keyakinan yang sangat batil itu dapat dianulir begitu saja dengan pujian-pujian SDA tersebut?

Yang paling anyar, kegandrungan Suryadharma Ali kepada paham sesat bisa dilihat ketika ia (pernah) menjadikan tokoh paham sesat LDII sebagai anggota Amirul Haj pada musim haji tahun ini (1433 H).

Tokoh paham sesat LDII yang dimaksud adalah Abdullah Syam. Ketika itu Suryadharma Ali menyatakan bahwa LDII yang dulu bernama Islam Jamaah dan didirikan Nur Hasan Ubaidah, setelah dipimpin Abdullah Syam mengalami perubahan paradigma, sehingga sudah berbeda dengan Islam Jamaah.

Pernyataan Suryadharma Ali jelas menyestakan. Karena pada dasarnya tidak ada perubahan apa-apa pada LDII alias sama saja dengan Islam Jama’ah yang betah memegangi kesesatan pahamnya dan mengkafirkan kaum muslimin yang tidak menjadi jamaahnya.

Salah satu buktinya, ketika Abdullah Syam memberikan arahan di hadapan peserta CAI (Cinta Alam Indonesia) yang merupakan acara tingkat nasional –semacam jamboree nasional kalau Pramuka— tapi ini bagi generasi penerus Islam Jama’ah, di Wonosalam Jombang, Jawa Timur, sebagai berikut: “…memperkuat ijtihad nasehat bapak imam kita…, mengepolkan ajaran Qur’an Hadits jamaah yang dibawa H. Nurhasan Al Ubaidah, beruntung jadi jamaah karena ibadahnya pasti diterima kalau salah diampuni. Sedangkan orang luar IJ walaupun ibadahnya sudah benar secara teori praktek sesuai Qu’an Hadits tapi tidak berjamaah (menjadi jamaah IJ) maka ibadahnya tidak diterima dan matinya masuk neraka…”

Bukti ungkapan Abdullah Syam dedengkot aliran sesat LDII yang sangat sesat dan mengusik keyakinan Muslimin sedunia itu dimiliki dan telah diedarkan oleh para mantan LDII/ Islam Jama’ah yang tergabung dalam FRIH (Forum Ruju’ ilal Haq). Diedarkannya itu sebagai protes atas tindakan Menteri Agama yang mengangkat Abdullah Syam sebagai anggota Amirul Haj. Namun ternyata Menteri Agama Suryadharma Ali tetap “ngeyel” dan menganggapnya telah berubah dengan paradigma baru.

***

Kemenag member izin dan meresmikan sekolah tinggi kelompok Syiah. Inilah beritanya.

***

Diresmikan, Sekolah Tinggi Filsafat Sadra (Filosof Syi’ah) di Jakarta

  • Dinilai dekat dengan aliran sesat Syi’ah
  • Beberapa pengajarnya lulusan Iran
  • Untuk mengajarkan tentang idiologi adanya Al Qur’an versi Syi’ah?

Mengaku sempat terseok-seok selama dua tahun akibat kendala perizinan, akhirnya Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STIF) Sadra resmi berdiri tahun ini.

Lembaga yang berdiri di bawah naungan Yayasan Hikmat Al Mustafa Jakarta ini diresmikan oleh Prof. M. Zein, selaku pewakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kemenag.

Dalam pernyataannya, M. Zein sempat memberikan apresiasi terhadap sekolah filsafat ini. Ia bahka berharap STFI Sadra dapat menjadi kebanggaan umat Islam dalam mempelajari filsafat, al-Qur’an dan Hadits.

“Rasulullah bersabda ambillah hikmah dar imanapun asalnya,” ujarnya saat launching di Gedung Sucofindo, Jakarta Selatan, Kamis, (12/07/2012) kemarin.

Acara dihadiri oleh Wakil Menteri Agama, Prof Dr Nasarudin Umar dan Perwakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Prof M. Zein. Juga dihadiri Dewan Penyantun STFI Sadra, Prof. Umar Shihab, Ketua STFI Sadra Umar Shahab dan Direktur Mizan Dr Haidar Bagir,  dan sejumlah pembicara beserta undangan.

Sementara itu Profesor Ahmad Fazeli, Ketua Yayasan Hikmat Al Mustafa turut berterimakasih kepada Kementerian Agama (Kemenag) yang mengeluarkan izin sekolah filsafat ini. Ia berharap smoga STFI Sadra memberikan sumbangan pemikir bagi perkembangan negeri ini.

Beberapa dosen di Sekolah ini di antaranya Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Prof Dr. Abdul Hadi MM, Dr. Haidar Bagir (Mizan), Dr Umar Shahab, Dr. Muhsin Labib, Dr. Zainal Abidin Bagir (Center for Religious and Cross-Cultural Studies/CRCS), Dr Donny Gahral Adaian, Prof. Dr Rosikhon Anwar (Guru Besar Ilmu Al-Quran UIN Sunan Gunung Djati Bandung) juga Dr. Khalid Walid, alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, Iran.

Ahmad Jubaili, Ketua Tim Perumus Kurikulum dikutip radio Iran, IRIB, mengatakan, kuliah yang disusun dirancang secara integral, saling terkait. Kampus ini menurutnya merupakan tempat kajian ilmiah yang merujuk pada Filsafat Mulla Sadra yang mampu menggabungkan seluruh pendekatan keilmuan, terutama teologi, filsafat dan Tasawuf.

Mulla Shadra mempunyai nama lengkap Shadr al Din Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Yahya Qawami al Syiraz, seorang filsuf terbesar mazhab Syiah Imamiyah.

Sekolah ini dikembangkan dengan model boarding (berasrama) yang direncanakan menampung setiap tahun 80 mahasiwa laki-laki dan perempuan yang direkruit secara ketat dari sekolah terbaik (SMA, Pesatren) di seluruh Indonesia. Mahasiswa yang lulus seleksi di beri beasiswa secara penuh selama  7 tahun.

Sementara itu, Fahmi Salim, MA, Wakil Sekjen Majelis (Waskjen) Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Komisi Pengkajian di MUI Pusat mengatakan, dari bentuknya, lembaga ini dinilai dekat dengan Syiah.

“Karena selama ini, gerakan Syiah masuk melalui filsafat,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Jumat (13/07/2012) siang.*

Rep: Pizaro

Red: Cholis Akbar

Jum’at, 13 Juli 2012

Hidayatullah.com— Berdiri Sekolah Tinggi Filsafat Islam Pertama, Dinilai “Berbau” Syiah.

***

Kemenag nilainya merah. Inilah beritanya.

***

Kementerian Agama dan Badan Pertanahan Nasional Nilainya Merah

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberi nilai merah kepada Kementerian Agama dalam menindaklanjuti rekomendasi pembenahan sistem yang berpotensi korupsi di institusinya.

KPK pernah memberikan 48 poin rekomendasi, tetapi hanya empat yang dilaksanakan. Ketua KPK Abraham Samad mengakui Kemenag merupakan institusi yang paling nakal melaksanakan rekomendasi itu.

“Iya (paling bandel) karena banyak rekomendasi yang belum dilaksanakan. KPK sudah melakukan sistem pencegahan dengan kementerian dan lembaga lain,” kata Abraham, Jumat (31/8/2012).

Seperti diberitakan, tahun ini Kemenag merekrut mantan pimpinan KPK, M. Jasin sebagai Inspektur Jenderal Kemenag. Abraham mengakui sejak Jasin masuk, ada sejumlah perbaikan yang dilakukan Kementerian tersebut.

Kendati demikian, kata Abraham, pihaknya tetap independen dan menyoroti kelemahan-kelemahan sistem di lembaga negara yang dipimpin Suryadarma Ali.

“Walau di sana ada Yasin, KPK tetap menyoroti Kemenag,” katannya.

Secara terpisah Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas menjelaskan, selain Kemenag, masih ada lembaga negara yang mendapat nilai merah, yakni Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Menurut Busyro, di BPN masih banyak praktek-praktek korupsi, seperti budaya suap dan kongkalikong dalam pengurusan administrasi. Diungkapkannya, lantaran lemahnya sistem pengawasan.

Tribunnews.com – Jumat, 31 Agustus 2012 23:03 WIB.

***

Balitbang mau membedah buku karangan isteri dedengkot syiah yang isinya menyebarkan fitnah kepada penganut Ahlussunnah.

***

Balitbang Kemenag dan Syiah: Kompromi Akhir Tahun?

Henri Shalahuddin, MIRKH  (Ketua Majelis Riset dan Pengembangan MIUMI)

 “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, laknatlahkedua berhala Quraisy, yaitu Abu Bakar dan Umar, Jibt dan Thaghut, kawan-kawan, serta putra-putri mereka berdua. Karena keduanya telah membangkang perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, mengkufuri Nikmat-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, membolak-balikkan agama-Mu, merubah kitab-Mu, mencintai musuh-musuh-Mu, mengingkari anugerah-Mu, mengabaikan hukum-hukum-Mu, mendustai kewajiban-kewajiban yang Engkau perintahkan, mendurhakai ayat-ayat Mu, memusuhi para kekasih-Mu…”

Kutipan doa di atas biasa disebut doa Dua Berhala Quraisy (Shanamai Quraisy). Sebuah doa yang berisikan pelaknatan terhadap Abu Bakar dan Umar ra.Melaknat Sahabat Nabi di kalangan Rafidhah (yakni Syiah Duabelas dan Isma’iliyah) diyakini sebagai ritual yang berpahala. Maka seringkali pelaknatan itu dikemas dalam bentuk doa dan sangat dianjurkan untuk dibaca setelah shalat fardhu. Kaum Syiah meyakini bahwadoa di atas memiliki derajat yang tinggi dan lebih utama daripada menjawab salam. Barang siapa yang membaca doa ini maka akan dicukupkan kebutuhannya dan dikabulkan cita-citanya. Di samping itu, keutamaan membaca doa Dua Berhala di atasibarat seperti para pemanah yang menyertai Nabi di perang Badar dan Hunain dengan 1.000.000 anak panah. Sebelum melantunkannya, dianjurkan memukul paha kanan 3 kali dan mengucapkan: “Ya Maulaya, Ya Sahibazzaman”.

Doa pelaknatan Sahabat di atas dapat dijumpai di kitab-kitab Syiah, misalnya kitab “al-Misbah” yang ditulis oleh Syeikh al-Kaf’ami (828-905H). Al-Kaf’ami merupakan salah satu ulama Syiah terkemuka asal Lebanon.Sehingga tidak mengherankan jika Syeikh al-Kaf’ami bertabur sanjungan dari para pemuka ulama Syiah, misalnya: a) Syeikh al-Hur al-‘Amili (w. 1104H).Beliau menyatakan bahwa Syeikh al-Kaf’ami adalah ulama yang memiliki banyak keutamaan,tsiqah (terpercaya), penyair, ahli ibadah, zuhud dan wara’. b) Sayyid Muhammad Baqir al-Khunsari menyebutnya sebagai seorang syeikh yang alim, rajin, wara’, terpercaya dan kuat. c) Syeikh Abdullah al-Ishfahani memujinya sebagai seorang yang alim, sempurna, fadhil dan faqih.

Tradisi melaknat Sahabat yang tertulis dalam kitab-kitab Syiah senantiasa dihidupkan oleh keberadaan makam Abu Lu’luah yang dibangun megah.Sebagaimana diketahui, Abu Lu’luah adalah pembunuh Khalifah Umar bin Khattab r.a.yang digelari pahlawan pemberani. Makam Abu Lu’luah adalah simbol ritual pelaknatan. Oleh karena itu, makamnya sangat diagungkan, diziarahi, serta diadakan perayaan tahunan secara khusus. Kaum Syiah memberinya gelar “Bapak agama yang berani.” Di atas kuburannya tertulis kalimat-kalimat penghinaan terhadap sahabat-sahabat Nabi yang mulia: “Kematian untuk Abu Bakar, Kematian untuk Umar, Kematian untuk Utsman”.

Inilah secuil gambaran tentang ajaran Syiah rafidhah yang sesungguhnya. Klaim bahwa Syiah adalah pencinta Ahlul Bait, tidak lebih dari upaya pencitraan diri untuk mencari market. Sekiranya Syiah benar-benar mencintai Ahlul Bait, tentunya mereka akan mencintai orang-orang yang dicintai Ali ra., dan keturunannya. Kecintaan Ali ra., terhadap tiga pemuka Sahabat itu diabadikan dengan memberikan nama beberapa putranya dengan nama mereka. Ali menamai satu putranya dengan Abu Bakar, dua putranya dengan nama Umar dan dua lagi dengan nama Utsman. Bahkan Ali mengambil Umar bin Khatab sebagai menantunya. Namun kenapa kaum Syiah tetap saja berkeras hati melaknati orang-orang yang sangat dicintai Ali itu?

Laknat adalah lawan dari rahmat. Melaknat seseorang berarti menghilangkan dan menjauhkan rahmat (cinta kasih) Allah darinya. Sebab laknat adalah simbol ungkapan dendam dan kebencian. Kebencian adalah bencana terbesar diantara penyakit-penyakit yang menggerogoti tubuh manusia. Kebencian menyerang manusia dari sisi jiwa, pikiran, hati dan perasaannya. Ia menghisap nilai-nilai keindahan dan ketinggian budi, memadamkan cahaya nurani, spirit dan kejernihan diri, serta mengeringkan sumber-sumber potensi kebajikan.

Oleh karena Rasulullah saw., secara tegas melarang umatnya melaknat. Sebab beliau tidak diutus sebagai pelaknat, tapi sebagai penebar kasih sayang. Beliau bersabda:

« إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتِ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا ثُمَّ تَهِبْطُ إِلَى الأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالاً فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِى لُعِنَ فَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلاً وَإِلاَّ رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا ». سنن أبي داود

Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tertutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, dia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (HR. Abu Daud)

Maka tradisi melaknat menurut ulama Ahlussunnah merupakan salah satu sifat penghuni neraka pada hari kiamat kelak. Sebab mereka telah yakin akal kekal di dalam neraka dan telah berputus asa dengan Rahmat dan Ampunan Allah.

Di samping itu, melaknat berdampak buruk terhadap kesehatan jiwa pelakunya, apalagi jika ditanamkan terus-menerus dan menjadi tradisi turun temurun yangdipandangsebagai ibadah berpahala.Tidak diragukan bahwa melaknat adalah perilaku yang senantiasa memancarkan aura negatif. Melaknat adalah skor terendah dan ekspresi minimal dalamsebuah rentang skala tindakan yang dimotivasi oleh kebencian.Sebab dendam dan kebencian bila terlahir dari seseorang yang lemah akan menghasilkan pelaknatan. Tetapi jika terlahir dari orang yang memiliki kekuatan dan kesempatan, niscaya akan mengekspresikan tindakan yang lebih buruk lagi, seperti merampok, menganiaya bahkan sampai tindak pembunuhan.

Hal ini terungkap dalam kitab ulama kenamaan Syiah, Muhammad Baqir al-Majlisi dalam karya monumentalnya, Bihar al-Anwar. Ia menukil sebuah doa pelaknatan yang diriwayatkan dari ‘Ali ibn ‘Ashim al-Kufi bahwa tatkala malaikat mendengar doa si pelaknat, malaikat pun berkata: “Ya Allah berilah salawat atas ruh hamba-Mu ini yang telah mengeluarkan suaranya untuk menolong para kekasihnya, sekiranya dia mampu untuk berbuat lebih dari itu pastilah dia akan melakukannya“. (vol. 50, 1983: 316)

 Ajaran Teror

Bermula dari tradisi melaknat yang dimotivasi perasaan penuh dendam dan kebencian terhadap para Sahabat Nabi, beberapa ulama Syiah yang mu’tabar melangkah semakin jauh dengan menghukumi kafir kepada kaum muslimin yang memuliakan ketiga khalifah sebelum Ali. Dengan menyematkan label kafir ini, mereka menghalalkan darah, harta dan kehormatan umat Islam non-Syiah, terutama kepada Ahlussunnah dan Syiah Zaidiyyah. Mungkin hal ini terkesan provokatif dan pastinya penulis akan dituduh menyebarkan kebencian atau memecahbelah umat Islam. Namun fakta dalam beberapa kitab Syiah akan menepis kesan tersebut. Berikut beberapa pendapat ulama Syiah terkemuka perihal ajaran yang menakutkan ini:

a)   Syeikh al-Shaduq dalam‘Ilal al-Syarai’ menyatakan: “Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah as:  Bagaimana pendapat anda mengenai membunuh al-nasib (sunni)?” Beliau menjawab: “Halal darahnya, tetapi aku khawatir terhadapmu. Maka (lebih baik) jika kamu mampu untuk merobohkan tembok kepadanya, atau menenggelamkannya kedalam air, sehingga tidak seorang pun yang menyaksikan (perbuatan) mu, maka kerjakanlah!” Aku bertanya (lagi): “Bagaimana pendapat anda tentang hartanya?” Beliau menjawab: “Ambillah hartanya sebisamu! (1408H: 326)
Riwayat ini juga terdapat dalam karya Syeikh Yusuf al-Bahrani, “al-Hadaiq al-Nadhirah”, vol. xviii, hal. 156
b)  Pemimpin Revolusi Republik Islam Iran, Ayatullah Imam Khumaini dalam kitabnya Tahrir al-Wasilah, menegaskan:”Dan (pendapat) yang terkuat bahwa al-nashib (sunni) didudukkan sebagai ahlul-harb (lawan dalam peperangan) dalam hal kehalalan diambil ghanimah-nya (harta rampasan perang) dari mereka dengan menyisihkan seperlimanya. Bahkan jelas kebolehan mengambil hartanya di manapun berada, dengan cara apapun serta kewajiban mengeluarkan seperlimanya”. (vol. I, hal. 352)
c)   Mirza Muhammad Baqir al-Musawi al-Khunsari dalam karyanya, “Raudhatul Jannat fi Usuli l-‘Ulama wa l-Sadat (vol. I, hal. 300-301) memuji-muji al-Thusi. Al-Thusi adalah tokoh Syiah yang menjadi menteri dalam pemerintahan Daulah ‘Abbasiyah dan berkhianat sehingga menyebabkan kekalahan umat Islam di tangan tentara Tartar. Kekalahan Daulah ‘Abbasiyah diiringi dengan pembantaian umat Islam besar-besaran oleh tentara Tartar. Peran pengkhiantan al-Thusi itu justru mendapat penghormatan dari al-Khunsari dan menyebutnya sebagai pahlawan. Pembantaian dan penghancuran yang dilakukan Holako justru digambarkan sebagai langkah untuk membangun Baghdad, melenyapkan kezaliman dan kediktatoran. Al-Khunsari secara detail mengisahkan bagaimana Holako membantai para pengikut Thaghut dan mengalirkan darah mereka yang kotor seperti aliran sungai. Dikisahkan bahwa Holako telah mengalirkan darah sunni itu ke sungai Dajlah, dan sebagiannya lagi langsung dialirkan ke neraka, tempat orang-orang sengsara dan jahat. (vol. I, hal. 300-301). Pujian terhadap peran al-Thusi ini juga datang dari Ayatullah Imam Khumaini (al-Hukumah al-Islamiyyah, hal. 142)

Dalam uraian di atas, istilah nashib (jamaknya nawashib) dalam literatur klasik Syiah bermakna semua pengikut Ahlussunnah. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Syeikh Ni’matullah al-Jazairi (al-Anwar al-Nu’maiyah, vol. II, 1404H: 307), Syeikh Muhammad Tijani(al-Syiah hum Ahlussunnah, cet. x, 1423H: 161), dan Syeikh Husain Ali ‘Ashfur al-Darazi al-Bahrani. Bahkan Syeikh al-Bahrani menyebutkan secara jelas bahwa kaum Sunni adalah yang dimaksud dengan al-nasib dan mereka ini lebih najis dari pada anjing dan lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani. (al-Mahasin al-Nafsaniyah fi Ajwibati l-Masa’il al-Khurasaniyah, cet. I, 1399H: 147)

Menyikapi aliran Syiah yang sudah eksis ratusan tahun memang tidak sesederhana yang dibayangkan dan diperlukan ekstra kehati-hatian. Jika memang penganut Syiah di Indonesia yang mengenalkan dirinya dengan Mazhab Ahlul Bait ini berpaham Syiah Itsna ‘Asyriyah (Duabelas) dan memegang teguh ijtihad para ulamanya, maka fatwa ulama Sampang dan Jawa Timur tentang sesatnya ideologi Syiah bukan saja akurat, tetapi fatwa itu perlu ditambahi bahwa Syiah adalah aliran sesat dan membahayakan stabilitas NKRI.

Balitbang Kemenag Tidak Sensitif

Dari informasi yang diperoleh dari penulis, Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang Kementerian Agama RI pada 17 Desember nanti berencana membedah buku IJABI yang berjudul ”Empat Puluh Masalah Syiah”. Rencananya Balitbang Kemenag akan menggelar acara itu di Hotel Millineum Tanah Abang Jakarta. Jika informasi ini benar adanya, maka patut disesalkan sekali keputusan ini. Bagaimana pun acara bedah buku Syiah yang dilakukan oleh Balitbang Kemenag ini secara tidak langsung merupakan bentuk pengakuan terhadap ajaran Syiah yang sering menyulut kekacauan di berbagai negara-negara Islam. Terlebih jika komunitas Syiah mulai beranjak besar, maka bisa dipastikan akan membentuk pasukan di luar pemerintahan seperti Hizbullah di Lebanon.

Kemenag sebagai alat negara yang dibiayai dari pajak rakyat yang mayoritas Ahlussunnah wal Jama’ah sepatutnya tidak diselewengkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mempromosikan buku-buku dan ajaran Syiah yang sesat dan membahayakan negara. Di samping itu, buku tersebut juga sangat tidak layak dibedah di lembaga ilmiah setingkat Kemenag. Sebab secara akademik, buku yang ditulis oleh istri Jalaluddin Rakhmat itu jauh dari standar karya ilmiah, misalnya tidak menggunakan catatan kaki, banyak melakukan mutilasi teks dan konteks terhadap ayat, hadits dan sirah, serta menyebarkan fitnah kepada penganut Ahlussunnah.

Para pembesar ulama Ahlussunnah telah memperingatkan untuk tidak dekat-dekat dengan golongan Syiah. Imam Syafi’i bahkan mengatakan: “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mana aku benar-benar bersaksi akan kebohongannya melainkan dari kaum Syi’ah Rafidhah”. (Manaqib asy-Syafi’i, 1/468. Siyar A’lam an-Nubala’, 10/89). Imam Malik, ketika ditanya tentang Syi’ah Rafidhah, maka beliau berkata:“Janganlah kamu berbicara dengan mereka dan jangan kamu meriwayatkan hadis dari mereka, karena mereka adalah pendusta.” (Ibnu Taimiyyah, Minhajus Sunnah, 1/26). Sedangkan Imam Fudhail ibn ‘Iyadh (w.187H) berkata:“Jangan kamu beri kepercayaan kepada ahli bid’ah dalam urusan agamamu, jangan kamu bermusyawarah dengannya dalam urusanmu, dan jangan kamu duduk-duduk dengannya. Barang siapa yang duduk dengan ahli bid’ah, Allah akan mewariskan baginya kebutaan, yaitu (kebutaan) di hatinya.” (al-Laalikaa’i, Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, 1/138, no. 264).

Sedangkan para ulama terkemuka yang mengkategorikan kafirnya Syiah Rafidhahdi antaranya adalah Imam Malik(w.179H), Syeikh Abdul Qahir al-Baghdadi (w.429H), Ibnu Hazm, Imam al-Asfarayaini (w.471 H), Imam al-Ghazali (w. 505H), al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544H), Fakhruddin al-Razi (w.606H), Ibnu Katsir (w.774 H), Imam Syaukani (w.1250 H), dan masih banyak lagi.Bahkan di antara pemuka ulama tersebut juga melarang shalat dibelakang Imam yang beraliran Syiah Rafidhah, seperti Imam Bukhari, Imam Syafi’i, dan lain-lain.(lihat misalnya:http://www.alserdaab.org/articles.aspx?article_no=463http://www.syiah.net/2012/08/fatwa-dan-pendirian-ulama-sunni-terhadap-aqidah-syiah-bag-4.html#edn64, http://www.1aqidah.net/v2/syiah-cerca-sahabat/)

Jika informasi bedah buku tersebut benar, maka tindakan Balitbang Kemenag sangat tidak sensitif dan menyakiti mayoritas umat Islam di Indonesia. Sebab tindakan tersebut terlalu rumit untuk dibenarkan, baik dari sisi akademis maupun moral etis. Bahkan secara terang-terangan berseberangan dengan pendapat mayoritas ulama sepanjang zaman. Sebagai lembaga negara yang dipenuhi oleh para cendekiawan, saya yakin acara tersebut tidak digelar untuk menghabiskan anggaran yang tersisa. Namun kenapa Balitbang yang dipimpin seorang profesor nekad mengadakan bedah buku itu? Adakah agenda tersembunyi atau mungkin semacam kompromi akhir tahun antara Balitbang Kemenag dan Syiah di balik acara itu? Wallahu a’lam, tapi tentunya kita semua tidak berharap demikian.

a)   Syeikh al-Shaduq dalam‘Ilal al-Syarai’ menyatakan: “Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah as:  Bagaimana pendapat anda mengenai membunuh al-nasib(sunni)?” Beliau menjawab: “Halal darahnya, tetapi aku khawatirterhadapmu. Maka (lebih baik) jika kamu mampu untuk merobohkan tembok kepadanya, atau menenggelamkannya kedalam air, sehingga tidakseorang pun yang menyaksikan (perbuatan) mu, maka kerjakanlah!” Aku bertanya (lagi): “Bagaimana pendapat anda tentang hartanya?” Beliau menjawab: “Ambillah hartanya sebisamu! (1408H: 326)
Riwayat ini juga terdapat dalam karya Syeikh Yusuf al-Bahrani, “al-Hadaiq al-Nadhirah”, vol. xviii, hal. 156
b)  Pemimpin Revolusi Republik Islam Iran, Ayatullah Imam Khumaini dalam kitabnya Tahrir al-Wasilah,menegaskan:”Dan (pendapat) yang terkuat bahwa al-nashib(sunni) didudukkansebagaiahlul-harb(lawan dalam peperangan) dalam hal kehalalan diambil ghanimah-nya (harta rampasan perang) dari mereka dengan menyisihkan seperlimanya. Bahkan jelas kebolehan mengambil hartanya di manapun berada, dengan cara apapun serta kewajiban mengeluarkan seperlimanya”. (vol. I, hal. 352)
c)   Mirza Muhammad Baqir al-Musawi al-Khunsari dalam karyanya, “Raudhatul Jannat fi Usuli l-‘Ulama wa l-Sadat (vol. I, hal. 300-301) memuji-muji al-Thusi. Al-Thusi adalah tokoh Syiah yang menjadi menteri dalam pemerintahan Daulah ‘Abbasiyah dan berkhianat sehingga menyebabkan kekalahan umat Islam di tangan tentara Tartar. Kekalahan Daulah ‘Abbasiyah diiringi dengan pembantaian umat Islam besar-besaran oleh tentara Tartar. Peran pengkhiantan al-Thusi itu justru mendapat penghormatan dari al-Khunsari dan menyebutnya sebagai pahlawan. Pembantaian dan penghancuran yang dilakukan Holako justru digambarkan sebagai langkah untuk membangun Baghdad, melenyapkan kezaliman dan kediktatoran. Al-Khunsari secara detail mengisahkan bagaimana Holako membantai para pengikut Thaghut dan mengalirkan darah mereka yang kotor seperti aliran sungai. Dikisahkan bahwa Holako telah mengalirkan darah sunni itu ke sungai Dajlah, dan sebagiannya lagi langsung dialirkan ke neraka, tempat orang-orang sengsara dan jahat. (vol. I, hal. 300-301). Pujian terhadap peran al-Thusi ini juga datang dari Ayatullah Imam Khumaini (al-Hukumah al-Islamiyyah, hal. 142)

Dalam uraian di atas, istilah nashib (jamaknya nawashib) dalam literatur klasik Syiah bermakna semua pengikut Ahlussunnah. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Syeikh Ni’matullah al-Jazairi (al-Anwar al-Nu’maiyah, vol. II, 1404H: 307), Syeikh Muhammad Tijani(al-Syiah hum Ahlussunnah, cet. x, 1423H: 161), dan Syeikh Husain Ali ‘Ashfur al-Darazi al-Bahrani. Bahkan Syeikh al-Bahranimenyebutkan secara jelas bahwa kaum Sunni adalah yang dimaksud dengan al-nasibdan mereka ini lebih najis dari pada anjing dan lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani.(al-Mahasin al-Nafsaniyah fi Ajwibati l-Masa’il al-Khurasaniyah, cet. I, 1399H: 147)

Menyikapi aliran Syiah yang sudah eksis ratusan tahun memang tidak sesederhana yang dibayangkan dan diperlukan ekstra kehati-hatian. Jika memang penganut Syiah di Indonesia yang mengenalkan dirinya dengan Mazhab Ahlul Bait ini berpaham Syiah Itsna ‘Asyriyah (Duabelas) dan memegang teguh ijtihad para ulamanya, maka fatwa ulama Sampang dan Jawa Timur tentang sesatnya ideologi Syiah bukan saja akurat, tetapi fatwa itu perlu ditambahi bahwa Syiah adalah aliran sesat dan membahayakan stabilitas NKRI.

Balitbang Kemenag Tidak Sensitif

Dari informasi yang diperoleh dari penulis, Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang Kementerian Agama RI pada 17 Desember nanti berencana membedah buku IJABI yang berjudul ”Empat Puluh Masalah Syiah”. Rencananya Balitbang Kemenag akan menggelar acara itu di Hotel Millineum Tanah Abang Jakarta. Jika informasi ini benar adanya, maka patut disesalkan sekali keputusan ini. Bagaimana pun acara bedah buku Syiah yang dilakukan oleh Balitbang Kemenag ini secara tidak langsung merupakan bentuk pengakuan terhadap ajaran Syiah yang sering menyulut kekacauan di berbagai negara-negara Islam. Terlebih jika komunitas Syiah mulai beranjak besar, maka bisa dipastikan akan membentuk pasukan di luar pemerintahan seperti Hizbullah di Lebanon.

Kemenag sebagai alat negara yang dibiayai dari pajak rakyat yang mayoritas Ahlussunnah wal Jama’ah sepatutnya tidak diselewengkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mempromosikanbuku-buku dan ajaran Syiah yang sesat dan membahayakan negara. Di samping itu, buku tersebut juga sangat tidak layak dibedah di lembaga ilmiah setingkat Kemenag. Sebab secara akademik, buku yang ditulis oleh istri Jalaluddin Rakhmat itu jauh dari standar karya ilmiah, misalnya tidak menggunakan catatan kaki, banyak melakukan mutilasi teks dan konteks terhadap ayat, hadits dan sirah, serta menyebarkan fitnah kepada penganut Ahlussunnah.

Para pembesar ulama Ahlussunnah telah memperingatkan untuk tidak dekat-dekat dengan golongan Syiah. Imam Syafi’i bahkan mengatakan: “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mana aku benar-benar bersaksi akan kebohongannya melainkan dari kaum Syi’ah Rafidhah”. (Manaqib asy-Syafi’i, 1/468. Siyar A’lam an-Nubala’, 10/89). Imam Malik,ketika ditanya tentang Syi’ah Rafidhah, maka beliau berkata:“Janganlah kamu berbicara dengan mereka dan jangan kamu meriwayatkan hadis darimereka, karena mereka adalah pendusta.” (Ibnu Taimiyyah, Minhajus Sunnah, 1/26). SedangkanImam Fudhail ibn ‘Iyadh (w.187H) berkata:“Jangan kamu beri kepercayaan kepada ahli bid’ah dalam urusan agamamu, jangan kamu bermusyawarah dengannya dalam urusanmu, dan jangan kamu duduk-duduk dengannya. Barang siapa yang duduk dengan ahli bid’ah, Allah akan mewariskan baginya kebutaan, yaitu (kebutaan) di hatinya.” (al-Laalikaa’i, Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, 1/138, no. 264).

Sedangkan para ulama terkemuka yang mengkategorikan kafirnya Syiah Rafidhahdi antaranya adalah Imam Malik(w.179H), Syeikh Abdul Qahir al-Baghdadi (w.429H), Ibnu Hazm, Imam al-Asfarayaini (w.471 H), Imam al-Ghazali (w. 505H), al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544H), Fakhruddin al-Razi (w.606H), Ibnu Katsir (w.774 H), Imam Syaukani (w.1250 H), dan masih banyak lagi.Bahkan di antara pemuka ulama tersebut juga melarang shalat dibelakang Imam yang beraliran Syiah Rafidhah, seperti Imam Bukhari, Imam Syafi’i, dan lain-lain.(lihat misalnya:http://www.alserdaab.org/articles.aspx?article_no=463http://www.syiah.net/2012/08/fatwa-dan-pendirian-ulama-sunni-terhadap-aqidah-syiah-bag-4.html#edn64, http://www.1aqidah.net/v2/syiah-cerca-sahabat/)

Jika informasi bedah buku tersebut benar, maka tindakan Balitbang Kemenag sangat tidak sensitif dan menyakiti mayoritas umat Islam di Indonesia. Sebab tindakan tersebut terlalu rumit untuk dibenarkan, baik dari sisi akademis maupun moral etis. Bahkan secara terang-terangan berseberangan dengan pendapat mayoritas ulama sepanjang zaman. Sebagai lembaga negara yang dipenuhi oleh para cendekiawan, saya yakin acara tersebut tidak digelar untuk menghabiskan anggaran yang tersisa. Namun kenapa Balitbang yang dipimpin seorang profesor nekad mengadakan bedah buku itu? Adakah agenda tersembunyi atau mungkin semacam kompromi akhir tahun antara Balitbang Kemenag dan Syiah di balik acara itu? Wallahu a’lam, tapi tentunya kita semua tidak berharap demikian.

LAST UPDATED ON SUNDAY, 16 DECEMBER 2012 00:50SUNDAY, 16 DECEMBER 2012 00:39

WRITTEN BY HENRI SHALAHUDDIN

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=502:balitbang-kemenag-dan-syiah-kompromi-akhir-tahun&catid=29:syiah

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.022 kali, 1 untuk hari ini)