Durzir

Mendiang Habib Munzir Al-Musawa dikenal sebagai pemimpin apa yang dia sebut Majelis Rasulullah di Jakarta. Pengikutnya banyak, boleh dikata dari kalangan tradisional.

Sementara itu orang yang lebih dikenal lagi yakni mendiang Gus Dur (Abdurrahman Wahid) adalah tokoh NU (Nahdlatul Ulama) yang fanatikusnya cukup banyak. Para pengikut dan fanatikusnya bukan hanya dari kalangan tradisional namun hingga kalangan kafirin dan musyrikin pun tidak sedikit yang tampaknya pro Gus Dur. Hal itu di antaranya tampak dalam acara apa yang mereka sebut tahlilan dilaksanakan orang dari berbagai agama, bahkan acara itu ada yang dilaksanakan di gereja. (Doakan Gus Dur, Umat Berbagai Agama Gelar Yasinan & Tahlilan di Gereja http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/12/31/12598/doakan-gus-dur-umat-berbagai-agama-gelar-yasinan-tahlilan-di-gereja/)

Sebagai gambaran, berita tentang pemakaman Gus Dur seperti ini:

Para tokoh nasional dan ribuan warga larut dalam kesedihan saat jenazah Kiai Haji Abdurrahman Wahid dimakamkan dengan upacara kenegaraan di Jombang, Jawa Timur, Kamis (31/12 2009) siang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memimpin upacara pemakaman menjuluki almarhum sebagai Bapak Pluralisme Indonesia.  (Liputan6.com, Jombang Tim Liputan 6 SCTV Posted: 31/12/2009 19:02)

Dalam hal meninggalnya Habib Munzir, Presiden SBY juga hadir, bahkan menangis, sebagaimana berita ini:

Sebelum meninggal, Habib Munzir Almusawa diketahui terjatuh di kamar mandi rumahnya. Ia pun langsung dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta oleh pihak keluarga.

”Dia dipanggil Allah setelah mengalami peristiwa di kamar mandi dan dibawa ke RSCM,” ujar Penasihat Umum Majelis Rasulullah, Ashraf Ali di RSCM, Minggu (15/9) malam seperti dikutip jpnn.com.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menangis saat sambutan kepergiaan Habib Munzir Al Musawa di rumah duka, Jalan Cikoko Barat 2, Kompleks Liga Mas Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (16/9/2013), tulis inilah.com.

Semasa hidupnya banyak pemahaman Habib Munzir yang mendapatkan kritikan tajam bahkan dipertanyakan kejujuran ilmiyahnya dalam mengutip kitab-kitab Ulama ataupun pemahaman Ulama. Di antara yang dikritik tajam adalah celaan Habib Munzir terhadap Imam Masjidil Haram Syaikh Dr. Abdurrahman as-Sudais. https://www.nahimunkar.org/habib-munzir-meninggal-presiden-sby-menangis/

Kemiripan Antara Habib Munzir dan Gus Dur

Mari kita mulai melihat kemiripan antara keduanya.

Habib Munzir

Terhadap Habib Munzir ada sanggahan yang ditulis Firanda seorang mahasiswa Indonesia di Madinah. Dalam judul Habib Munzir Mencela Imam Masjidil Haram Syaikh Dr. Abdurrahman As-Sudais !!!! diantaranya di tulis sebagai berikut:

HABIB MUNZIR JUGA MENCELA ULAMA-ULAMA YANG LAINNYA
Bukan hanya As-Syaikh Abdurrahman As-Sudais yang tidak selamat dari celaan Habib Munzir, bahkan ulama-ulama yang lain juga tidak selamat dari celaan dan cercaan Habib Munzir. Yang ini semua menunjukkan “kepribadian dan budi pekerti luhur dan kelembutan Habib Munzir”.
Diantara para ulama yang dicela Habib Munzir adalah :
PERTAMA : MENCELA AS-SYAIKH BIN BAAZ rahimahullah.
Habib Munzir berkata :
“Beliau itu mufti arab saudi, saya tidak tahu apakah kini masih hidup atau telah wafat, ia bukan pakar hadits yg mencapai derajat Al Hafidh, atau Muhaddits, apalagi Hujjatul Islam, namun konon memang banyak hafal hadits dan ilmu sanad, namun saya telah menjawab banyak fatwanya sebagaimana buku saya yg bisa anda download di kiri web ini : Jawaban atas pertanyaan akidah.
semua adalah fatwa beliau, dan dari fatwa fatwa itu saya mengetahui bahwa IA DANGKAL DALAM ILMU HADITS.
(lihat: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid&func=view&catid=9&id=24085#24085)
Habib Munzir juga berkata tatkala ditanya tentang kitab “Benteng tauhid” yang merupakan terjemahan dari kitab “Hishnut Tauhiid” karya As-Syaikh Bin Baaz rahimahullah, maka Habib Munzir berkata:
“Mengenai buku tsb sudah saya baca sekilas, masya Allah, saya tidak menyangka nama nama yg dianggap ulama dan selama ini kita dengar sebagai ahli hadits itu, BETAPA BOBROK DAN LEMAHNYA HUJJAH HUJJAH MEreka, saya tak percaya buku itu tulisan syeikh Al Utsaimin, Bin Bazz dll, karena terlihat JELAS KEDANGKALAN MEREKA DALAM ILMU HADITS.
Ada dua kemungkinan, orang saudi mengada ada dan mencantumkan nama ulama mereka sebagai penulisnya, atau…, apakah benar mereka yg menulisnya?, HANYA SEBATAS ITUKAH PEMAHAMAN MEREKA DALAM HADITS?SAYA BISA MENJAWAB SEMUA YG DALAM BUKU ITU DALAM BEBERAPA JAM SAJA, NAMUN SAYA SAAT INI SIBUK SEKALI. (lihat :http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid&func=view&catid=9&id=20616#20616)
Habib Munzir ditanya :
“Saya ada kitab Fathul Baari syarah oleh Syeikh Abdullah b Baz dan kitab ‘ Solat seperti Nabi’ karangan Syeikh Albani. Saya baru tahu yg isinya ada unsur unsur Wahabi. Jadi sebaiknya apakah saran Habib untuk saya lakukan terhadap kitab itu. Buang saja atau dibakar atau ditanam supaya orang lain tak dapat baca?”
Habib Munzir Menjawab :
“Saran saya buku ITU BOLEH DIBAKAR, tapi baiknya disimpan saja untuk perbandingan masalah hingga kita tahu BANYAKNYA KESALAHAN FAHAM WAHABI DALAM MENAFSIRKAN HADITS
(lihat :
http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid&func=view&catid=8&id=22830#22830 )
Habib Munzir juga berkata :
“Saudaraku yg kumuliakan, BUKU BUKU YG SUDAH MELEWATI PENGEDITAN/SYARAH DARI IBN BAZ, SUDAH DIRASUKI HAL HAL YG MENYIMPANG dari aswaja, baiknya dihindari.”
(lihat :
http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid&func=view&catid=8&id=22352#22352)
Habib Munzir juga berkata :
“Anda tahu imam mereka kini?, Mufti Saudi Arabia yg buta bernama Syeikh Ibn Bazz (membicarakan aib orang lain haram hukumnya, namun mengabarkan NAMA ORANG YG MENYERU PD KESESATAN UMMAT WAJIB HUKUMNYA agar ummat tak terjebak), ia tak mengakui bahwa bumi ini bulat, ia berkata bahwa bumi ini datar seperti piring, ia tak percaya semua bukti otentik secara ilmiah, ia tetap berkeras bahwa bumi ini datar seperti piring.., yaitu bila kelewatan maka akan jatuh entah kemana, inilah akidah jumud abad ke 20″
(lihat http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid&func=view&catid=9&id=3713#3713)
KESIMPULAN :
Pertama : Menurut Habib Munzir Syaikh Bin Baaz dangkal dalam ilmu hadits
Kedua : Menurut Habib Munzir tentang buku “Benteng Tauhid” :
– menunjukan BETAPA BOBROK DAN LEMAHNYA HUJJAH HUJJAH MEREKA (*yaitu Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin dll),
– saya tak percaya buku itu tulisan syeikh Al Utsaimin, Bin Bazz dll, karena terlihat JELAS KEDANGKALAN MEREKA DALAM ILMU HADITS
– Habib Munzir mampu membantah buku “Benteng Tauhid” hanya dalam beberapa jam saja, hanya saja beliau sibuk. Habib Munzir berkata : SAYA BISA MENJAWAB SEMUA YG DALAM BUKU ITU DALAM BEBERAPA JAM SAJA, NAMUN SAYA SAAT INI SIBUK SEKALI
Ketiga : Menurut Habib Munzir buku sifat sholat Nabi dan buku Fathul baari syarah Syaikh Bin Baaz DISARANKAN UNTUK BOLEH DIBAKAR. Alasan Habib Munzir karena BANYAKNYA KESALAHAN FAHAM WAHABI DALAM MENAFSIRKAN HADITS
Keempat : Habib Munzir berkata : BUKU BUKU YG SUDAH MELEWATI PENGEDITAN/SYARAH DARI IBN BAZ, SUDAH DIRASUKI HAL HAL YG MENYIMPANG
Kelima : Menurut Habib Munzir boleh menceritakan aib Syaikh Bin Baaz karena syaikh Bin Baaz menyeru pada kesesatan. Habib Munzir berkata : “Mufti Saudi Arabia yg buta bernama Syeikh Ibn Bazz (membicarakan aib orang lain haram hukumnya, namun mengabarkanNAMA ORANG YG MENYERU PD KESESATAN UMMAT WAJIB HUKUMNYA agar ummat tak terjebak)”
Keenam : Habib Munzir menyatakan akidah Syaikh Bin Baaz jumuud karena Syaikh Bin Baaz menyatakan bahwa bumi tidak bulat. Habib Munzir berkata : “Ia tak mengakui bahwa bumi ini bulat, ia berkata bahwa bumi ini datar seperti piring, ia tak percaya semua bukti otentik secara ilmiah, ia tetap berkeras bahwa bumi ini datar seperti piring.., yaitu bila kelewatan maka akan jatuh entah kemana, inilah AKIDAH JUMUD abad ke 20″
SANGGAHAN
Sungguh keji perkataan Habib Munzir sang ahli hadits…sampai-sampai mengatakan bahwa Syaikh Bin Baaz dangkal ilmu haditsnya.
Wahai Habib Munzir…tatkala anda mengatakan demikian apakah anda sudah mengukur keilmuan ilmu hadits Syaikh Bin Baaz?? Lalu anda membandingkannya dengan ilmu hadits anda yang hebat??!!
Wahai Habib Munzir…bagaimana anda mengetahui kerendahan ilmu hadits Syaikh Bin Baaz hanya dengan membaca kitab “Benteng Tauhid”?, APAKAH KITAB TERSEBUT SEDANG MEMBICARAKAN ILMU HADITS??!!. Bahkan anda menyatakan bahwa hujjah Syaikh Bin Baaz dalam kitab tersebut “Bobrok” dan “Lemah”. Maka pantas saja jika kemudian anda menganjurkan untuk membakar kitab-kitab syaikh Bin Baaz??!!
Bahkan anda menyatakan mampu untuk membantah kitab “Benteng Tauhid” tersebut hanya dalam waktu beberapa jam?!!!
Wahai Habib …kalau ada kesalahan dalam kitab “Benteng tauhid”, coba tunjukkan…
Wah.. anda benar-benar orang alim dan pakar hadits.
Kalau Syaikh Bin Baaz bisa anda bantah dalam beberapa jam…jangan-jangan bantahan-bantahan dalam artikel-artikel saya mungkin hanya dalam beberapa menit bisa anda bantah. Maka saya sangat berharap anda membantah artikel-artikel saya…
Wahai Habib Munzir…anda menghalalkan untuk mencela Syaikh Bin Baaz dengan menunjukkan cacat belia (yaitu butanya beliau) dengan alasan bahwa Syaikh Bin Baaz menyeru pada kesesatan…!!!, bahkan anda meyakini wajib bagi anda untuk mencela kebutaan Syaikh Bin Baaz…, maka;
– Apakah demikian bantahan yang ilmiyah..!!!.
– Apakah demikian akhlaknya seorang yang menyebut dirinya sebagai keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
– Apakah demikian Habib berbicara kepada seorang muslim paling tidak, kalau Anda tidak menganggap beliau (syeikh Ibnu Baz rahimahullah) seorang alim.
Wahai Habib…betapa banyak orang yang buta mata akan tetapi Allah memberi sinar dan cahaya kebenaran dalam hatinya. Betapa banyak orang yang buta akan tetapi lebih alim dan lebih bertakwa daripada orang yang bisa melihat. Kalau anda ingin mengkritik saya rasa tidak perlu mencela kebutaan Syaikh Bin Baaz.
Wahai Habib Munzir, anda telah mencerca Syaikh Bin Baaz dengan menyatakan bahwa akidah beliau jumud !!!, dan anda menuduh bahwasanya Syaikh Bin Baaz menyatakan bahwa bumi itu seperti piring dan tidak bulat??
Bisakah anda menyebutkan sumber perkataan Syaikh Bin Baaz tersebut??!!
Jika anda tidak mampu menyebutkannya BERARTI ANDA TELAH BERDUSTA !!!!
Justru Syaikh Bin Baaz –yang saya dapati- dalam buku-buku beliau menyatakan bahwa bumi itu bulat. Silahkan anda membaca buku beliau Majmuu’ Fataawaa Syaikh Bin Baaz 3/156-159 dan juga 9/228.
Wahai Habib Munzir…jika anda tidak bisa menyebutkan sumber perkataan Syaikh Bin Baaz maka ketahuilah BAHWA DUSTA ITU AKHLAK YANG SANGAT BURUK…APALAGI DUSTA ATAS NAMA ULAMA ??!!!
KEDUA : Habib Munzir menuduh para ulama sering menggunting perkataan para ulama aswaja
Habib Munzir berkata :
“Saudaraku yg kumuliakan, diantaranya tentunya IBN ABDUL WAHHAB, IBN TAIMIYAH, AL BANIY, ABDULLAH BIN BAZZ, MUHAMMAD QUTUB, UTSAIMIN, MUFTI PERLIS MALAYSIA, DAN BANYAK LAGI.
namun hati hati lho saudaraku, karena mereka juga SERING : GUNTING TAMBAL UCAPAN PARA ULAMA ASWAJA, mereka gunting ucapan Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar, Imam Ibn Rajab, dan banyak lagi.
jika kita lihat sekilas tentunya bertentangan dg aswaja dan sefaham dg mereka, namun jika kita lihat pada tulisan aslinya, ternyata keterangannya jelas membantah ucapan itu, namun karena digunting, maka maknanya menjadi berubah bahkan sebaliknya”. (lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid&func=view&catid=9&id=19677#19677)
Wahai Habib Munzir…anda mengatakan para ulama di atas (Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Bin Baaz, Utsaimin, Al-Albani) SERING menggunting dan menambal perkataan para ulama aswaja???!!
Saya sangat berharap anda mendatangkan bukti-buktinya…!!!. Sungguh ini merupakan tuduhan yang sangat keji…yang arti dari tuduhan anda ini bahwasanya para ulama tersebut adalah PARA PENDUSTA karena SERING menggunting dan menambal !!!!, bahkan berdusta kepada umat !!!
Wahai Habib Munzir bertakwalah kepada Allah…datangkanlah bukti anda…saya menunggu dengan sabar…bukankah anda mampu membantah syaikh Bin Baaz hanya dalam beberapa jam??, tentunya hanya butuh beberapa menit saja untuk mendatangkan bukti bahwa para ulama tersebut SERING berdusta kepada umat !!!
Para pembaca yang budiman, masih banyak cercaan Habib Munzir kepada para ulama seperti Al-Albani, Al-Utsaimin, dll, hanya saja saya rasa apa yang kami paparkan di atas sudah cukup untuk menggabarkan betapa alimnya dan tingginya ilmu hadits Habib Munzir dan betapa indahnya “budi pekerti dan tutur kata serta kelembutan hati beliau”. Saya sangat berharap permintaan-permintaan saya kepada Habib Munzir untuk segera mendatangkan bukti atas tuduhan-tuduhannya kepada para ulama tersebut…dan saya sangat menanti komentar dan koreksian Habib Munzir atas artikel-artikel yang saya tulis…. .
Selama ini saya belajar kepada guru-guru saya di masjid Nabawi seperti Ahli Hadits Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad yang mengajar di masjid Nabawi, demikian juga saya belajar di guru-guru saya di kuliyah hadits di Universitas Islam Madinah yang rata-rata mereka memiliki sanad dan pakar hadits…ternyata…saya tidak tahu kalau di tanah air tercinta ada seorang ahli dan pakar hadits seperti Habib Munzir. Siapakah diantara kita yang tidak ingin menimba ilmu dari orang yang seperti Habib Munzir yang merendahkan ilmu haditsnya Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin, dan Syaikh Albani ???!!!

Demikian tulis Firanda dalam firanda.com

Gus Dur

Untuk mencari kemiripan antara Hbib Munzir dan Gus Dur, berikut ini cuplikan dari buku Hartono Ahmad Jaiz tentang Gus Dur berjudul Mengungkap Kebatilan Kyai Libera Cs. Mari kiita simak dalam sub judul ini :

Inilah pluralismenya Gus Dur

Inilah pluralismenya Gus Dur yang menyiarkan bahwa taqwa itu tidak pandang agama, “Tidak peduli muslim atau bukan.”

Pernyataan Gus Dur itu dia pidatokan, dan dimuat di situs lembaga dia, The Wahid Institute.
Padahal taqwa itu menurut Umar bin Khathab adalah taqwa (menjaga diri) dari kemusyrikan.
Jadi otomatis orang musyrik sama sekali tidak bertaqwa. Tetapi menurut Gus Dur, tidak peduli muslim atau bukan.

Betapa jauhnya antara pemahaman Gus Dur dengan pemahaman Umar bin Khatab.
Inilah teks berita pidato Gus Dur:

Selasa, 29 Januari 2008 05:01

Islam dan Umat Agama Lain

“Ketakwaan Bukan Monopoli Islam”

Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan, ketakwaan bukanlah ukuran spesifik dalam Islam. Ketakwaan juga dimiliki orang nonmuslim, baik Yahudi, Nasrani maupun yang lain. Ini, katanya, berdasarkan firman Allah Swt: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah Swt ialah orang yang paling bertakwa. (Qs. al- Hujurat: 13).

“Berdasarkan ayat ini, takwa itu bukan monopoli orang Islam saja.”
Demikian dikatakan mantan ketua PBNU itu saat menjadi narasumber pada Workshop Islam dan Pluralisme V bertema Islam dan Umat Agama Lain di Kantor The WAHID Institute Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 Matraman Jakarta, Jum’at (18/01/2008) malam. Hadir juga sebagai narasumber Ketua PCNU Kota Bandung KH. Maftuh Kholil. Dan tampak Direktur the WAHID Institute Yenny Wahid. Sedang peserta forum tersebut adalah pendeta, calon pendeta dan aktivis sosial Kristen.

Takwa atau ketakwaan, kata Gus Dur, itu bermakna takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang betul-betul takut pada Tuhan, imbuhnya, dia telah bertakwa. “Tidak peduli muslim atau bukan,” ujarnya. “Tolong ini dipikirkan lebih jauh lagi. Saya nggak ada waktu lagi untuk semua ini,” imbuhnya disambut tawa.

http://www.wahidinstitute.org/Programs/Print_page?id=67/hl=id/Islam_Dan_Umat_Agama_Lain_Ketakwaan_Bukan_Monopoli_Islam

Komentar kami: Coba bandingkan dengan penjelasan ahli tafsir, bahwa taqwa itu dalam ayat

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah Swt ialah orang yang paling bertakwa. (Qs. al- Hujurat: 13). Artinya bahwa Allah Ta’ala lebih tahu kepadamu dengan tingkatan-tingkatanmu dalam iman.[1]

Sedangkan menurut Umar bin Khatab, orang yang paling taqwa (menjaga diri) adalah orang yang paling taqwa (menjaga diri) terhadap kesyirikan.[2]

Yang ulama tafsir merujuk kepada Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, taqwa itu menjaga diri dari kemusyrikan, sedang faham yang disebarkan Gus Dur, taqwa itu “Tidak peduli muslim atau bukan”.

Masa sih orang musyrik bertaqwa, wahai para pendukung Gus Dur?

Mari kita bandingkan, taqwa menurut Gus Dur dengan sifat orang yang bertaqwa menurut Al-Qur’an.

Takwa atau ketakwaan, kata Gus Dur, itu bermakna takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang betul-betul takut pada Tuhan, imbuhnya, dia telah bertakwa. “Tidak peduli muslim atau bukan,” ujarnya.

Pernyataan Gus Dur itu sangat melawan ayat al-Qur’an yang mensifati orang yang bertaqwa dalam awal-awal Surat Al-Baqarah:

Alif Laam Miim.

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Al-Baqarah: 1-5).

Dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya terbitan Departemen Agama RI ada penjelasan, di antaranya:

– Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.

– Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.

– yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. percaya kepada yang ghaib yaitu, mengi’tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.

– Shalat menurut bahasa ‘Arab: doa. menurut istilah syara’ ialah ibadat yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu’, memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.

Mari kita tes: Apakah agama apa saja selain Islam ada yang berimannya sesuai dengan Al-Qur’an?

Apakah agama selain Islam keimanannya terhadap hal ghaib sesuai dengan suruhan Al-Qur’an.

Apakah agama selain Islam, shalatnya sesuai dengan yang dijelaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang didefinisikan tersebut di atas?

Apakah selain Islam ada yang beriman kepada Al-Qur’an?

Al-Qur’an pun menjawab:

فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (137)

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 137)

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115) إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (116)

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS An-Nisaa’: 115, 116).

Jelaslah, pendapat Gus Dur tersebut sangat bertentangan dengan Al-Qur’an.

Di samping menganggap taqwa itu tak peduli muslim atau non muslim, masih pula Gus Dur mendirikan pesantren multi agama Soko Tunggal di Mijen, Semarang, Jawa Tengah.

Masih ragukah wahai para pendukung Gus Dur bahwa itu semua bertentangan dengan Islam bahkan pemurtadan model baru?

Masih ragukah bahwa sejatinya yang terjadi adalah pembusukan besar-besaran di NU bahkan di Ummat Islam dan di perguruan tinggi Islam se-Indonesia dengan adanya faham pluralisme agama yang diharamkan oleh MUI itu sekarang digembar-gemborkan dan disuntikkan kepada Ummat Islam lewat lembaga-lembaga pendidikan Islam negeri dan swasta, bahkan ormas-ormas Islam wabil khusus NU?

Departemen Agama (kini Kementerian Agama), UIN, IAIN, STAIN, STAIS dan semacamnya serta NU dan lainnya sekarang sudah jadi ajang pembusukan Islam oleh mereka-mereka yang menjajakan pluralisme agama dan multikulturalisme secara sistematis dan dikomandoi oleh petinggi negeri ini. Sadarlah wahai saudara-saudaraku…

Maka tidak mengherankan, orang sudah mati pun kalau mereka menyebarkan kesesatan kepada Ummat Islam maka diberi hadiah secara resmi. Contohnya, baru-baru ini Harun Nasution yang ketika hidupnya menyebarkan faham sesatnya, tidak percaya bahwa taqdir itu termasuk dalam rukun Iman, dan Nurcholish Madjid yang menyebarkan faham sesatnya bahwa Iblis kelak masuk surga dan surganya tertinggi, maka mereka ini diberi hadiah oleh UIN Jakarta dan dihadiri serta disambut oleh Menteri Agama Surya Dharma Ali yang konon memang alumni UIN Jakarta. Ini sebagai bukti tambahan saja tentang pembusukan Islam di Indonesia secara sistematis dan bahkan dibiayai dengan duit dari Ummat Islam pula.

Ya Allah, saksikanlah, bahwa ini semua telah kami sampaikan… ya Allah… ampunilah hamba-Mu yang lemah ini, dan tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar agar kami mampu mengikutinya, dan tunjukilah kami yang batil itu batil sehingga kami mampu menghindarinya. Amien ya Rabbal ‘alamien.


[1] Inilah teksnya;

تفسير أبي السعود – (ج 2 / ص 167)
إن أكرمكم عند الله أتقاكم والمعنى أنه تعالى اعلم منكم بمراتبكم في الإيمان الذى به تنتظم احوال العباد وعليه يدور فلك المصالح في المعاش والمعاد ولا تعلق له بخصوص الحرية والرق فرب امة يفوق إيمانها إيمان الحرائر

[2] Ini teksnya:

فتح القدير – (ج 7 / ص 23)
وأخرج ابن مردويه عن عمر بن الخطاب أن هذه الآية : { يأَيُّهَا الناس إِنَّا خلقناكم مّن ذَكَرٍ وأنثى } هي مكية ، وهي للعرب خاصة الموالي ، أي : قبيلة لهم ، وأي شعاب ، وقوله : { إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عَندَ الله أتقاكم } فقال : أتقاكم للشرك

Dikutip Dari Judul NU Tersihir Pluralisme Dan Multikulturalismenya Gus Dur

Oleh Hartono Ahmad Jaiz Dalam Buku Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta

 Durzir1

Rupanya memang ada kemiripan antara Habib Munzir dan Gus Dur. Habib Munzir berkata : SAYA BISA MENJAWAB SEMUA YG DALAM BUKU ITU DALAM BEBERAPA JAM SAJA, NAMUN SAYA SAAT INI SIBUK SEKALI.

Sementara itu, dalam hal yang walaupun bukan mencela ulama seperti Habib Munzir, namun justru dalam hal memporak porandakan aqidah Islam, Gus Dur begini:

Takwa atau ketakwaan, kata Gus Dur, itu bermakna takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang betul-betul takut pada Tuhan, imbuhnya, dia telah bertakwa. “Tidak peduli muslim atau bukan,” ujarnya. “Tolong ini dipikirkan lebih jauh lagi. Saya nggak ada waktu lagi untuk semua ini,” imbuhnya disambut tawa.

Keruan saja dua tokoh ini mendapat bantahan telak. Yang satu, Habib Munzir dibantah oleh beberapa orang, di antaranya yang ditampilkan di sini adalah Firanda. Sedang Gus Dur pun demikian, dan yang dikutip ini adalah Hartono Ahmad Jaiz dalam bukunya Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

Demikianlah di antara kemiripan antara Habib Munzir dan Gus Dur.  Alhamdulillah kedua-duanya sudah dibantah orang. Alhamdulillah!

(nahimunkar.com)

(Dibaca 25.058 kali, 1 untuk hari ini)