Saya dulu sempat mengabdi; mengajar di ponpes yatim dan dhuafa, Hidayatul Muslimin I, Parit Sembin, Kalimantan Barat. Kisaran 13/14 tahun lalu. Suatu pondok yang di ujung sekali. Tak ada desa setelahnya kecuali hutan. Jarak tempuh jalan kaki antara pondok hingga jalan raya hingga kisaran 4 km. Itupun jalan raya dulu sepi.

Saat itu, pondok tersebut masih kental dengan Sufi Tarekat. Di antara guru rajin berkhalwat (istilah khusus untuk menyendiri tafakkur) sampai menyendiri di bawah pohon tengah malam. Ada yang menyendiri di loteng masjid yang gelap.

Sebagian murid adalah anak Dayak, Melayu dan Bugis. Sekolah mereka tak berseragam, sebagian nyeker, kelas pun sangat miris tata ruang dan bangunannya.

Suatu pelajaran siang, pernah hujan deras. Jendela pun lebar tak berkaca. Kami terhembus angin kencang dan siraman derasnya air hujan. Sampai saya dan murid-murid kelas 3 SMP saat itu, berlindung mendekam di bawah meja-meja kelas. Adik-adikku kala itu, seperti Suratno, Sarpandi, Samsul dan lainnya, iya, kita saat itu menunggu hujan selesai sambil mendekam.

Saya tak menyangka sekarang pondok itu sudah luar biasa. Di dalamnya banyak pelajaran Aqidah dan Manhaj. Sudah berubah jauh.

Pondok ini, dahulu pemerintah daerah pun kaget, rupanya ada orang hidup di area itu. Pondok ini, dulunya lebih dari pondok tradisional. Awalnya gaji kami perbulan hanya 50.000. Kemudian syukurlah diusahakan pemerintah mendapatkan dana BOS.

Sekarang Pondok HM1 sudah jauh berbeda kualitasnya. Mungkin penulis juga antara dulu dan kini, ada perbedaan.

Dulu, tak satu pun tahu apa itu Salafi. Kini masya Allah. Tabarakallah.

Saya dulu tak menyangka, bahwa sekarang saja bisa melihat di Google Map. Di sana pondok itu ada.

Bahkan dhuha ini, saya lihat ada live streaming FB kajian di sana. Masya Allah. Dahulu sinyal yang masuk ke sana cuma Telkomsel. Itupun cuma untuk SMS. Listrik pun kadang mati.

Murid-murid saya kala itu, adik-adik saya, yang kebanyakannya anak-anak desa dan pedalaman, semoga mereka masih sehat hingga kini. Banyak dari mereka kini sudah berkeluarga. Ada yang jadi pebisnis sukses di Pontianak, padahal dulunya kalem dan biasa saja. Ada yang sudah jadi ustadz juga, sepertinya.

Selalu dalam kenangan. Sedari kecil saya selalu suka Anak Seribu Pulau. Murid-murid saya itu, seolah mereka. Ah, semoga Allah selalu jaga mereka.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy – Kemarin pukul 10.43 ·

(nahimunkar.org)

(Dibaca 229 kali, 1 untuk hari ini)