Kenapa NU Dikabarkan Bahas UU Penodaan Agama, Bukan Bahas Tingkah Warga NU yang Rawan Aqidahnya?

  • Pertanyaannya lagi, apa memang benar bahwa PBNU sudah ‘terbeli’?

     

Perlu dipertanyakan, kenapa Munas- Konbes NU di Jakarta 25-26 September 2021 kabarnya malah membahas UU Penodaan Agama?

Kenapa bukan membahas masalah2 tingkah polah warga NU atau bahkan pentolan-pentolannya yang berkiprah atau melontarkan hal-hal yang menggoyang iman?

Al-jawab, mungkin karena ketua Dewan Pengarah Munas-Konbes NU kali ini adalah Ahmad Ishomuddin yang jadi saksi meringankan Ahok di pengadilan dalam kasus penistaan Al-Qur’an QS Al-Maidah ayat 51 waktu lalu. Di MUI Ahmad Ishomuddin itu dikabarkan dipecat lantaran tingkah pembelaannya terhadap Ahok penista Islam terebut, tapi di NU dia tetap bercokol, bahkan kini jadi ketua Dewan Pengarah Munas-Konbes NU 2021.

Setelah pentoln dari PBNU itu gagal meraih sukses dalam membela Ahok penista Agama yang akhirnya Ahok divonis 2 tahun penjara, apakah kini UU Penodaan Agama yang menjerat Ahok itu yang akan dibahas NU untuk digusur? Wallahu A’lam. Padahal, masalah2 rawannya aqidah di kalangan warga NU bahkan pentolan2nya yang suka nyeleneh cukup banyak. Kenapa tidak terdengar dibahas?

Salah satu contoh, berikut ini masalah yang malah telah dibahas orang lain mengenai tingkah warga NU yang berkaitan dengan rawannya menggoyang aqidah. Tapi rupanya dibiarkan saja oleh NU.

***

Beredar kalimat di kaos berlogo NU, dinilai sebagai kalimat kufur

Posted on 1 September 2021

by Nahimunkar.org

 




Foto orang berpeci paki kaos yang punggungnya bertulisan Arab Nahdlatul Ulama (logo NU). Di bawahnya ada tulisan ‘SELAMA MASIH ADA NAHDLATUL ULAMA MASIH ADA INDONESIA’

Kalimat (‘SELAMA MASIH ADA NAHDLATUL ULAMA MASIH ADA INDONESIA’) tersebut dikomentari akun fb berikut ini:

Atho Bin Ismail

29 Agustus pukul 08.19

Ini adalah termasuk Kalimat kufur.

Belum lagi Kiyainya bilang ; NU itu sudah jadi agama, bukan ormas lagi.

Bahkan sudah mengklaim “NU ahli Suwargo” diluar NU “Neroko”. Ada juga yg bilang kalo yg pertama masuk surga adalah banser ” katanya “cek lokasi”.. Dan sekarang NU sudah jadi Tuhan, yg bisa menentukan Takdir bahwa Indonesia masih ada lantaran karena NU.

.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

{إِنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ } [التوبة: 116]

“Sesungguhnya Allah memiliki kekuasaan langit dan Bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah.”

(QS. At-Taubah 9: Ayat 116).

.

مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْـرَاَهَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”

(QS. Al-Hadid 57: Ayat 22).

.

Jadi bukan karena ormas NU, Indonesia masih ada.

Larangan Ghuluw /manut sama ketua /pendiri ormas ;

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Tidak boleh bagi siapa pun mengangkat org mengajak umat ini utk mengikuti pola hidup dan peraturannya, senang dan membenci karena dia, selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma ulama Sunnah. Adapun ciri ahli bid’ah, mereka mengangkat pemimpin dari umat ini, atau membuat peraturan yg mengakibatkan umat berpecah belah, mereka mencintai umat krn mengikuti peraturan golongannya dan memusuhi orang yang tidak mengikuti golongannya” [Dar’ut Ta’arudh 1/149]

Selanjutnya beliau rahimahullah berkata ; “Dan tidak boleh seorangpun membuat undang-undang yang dia menyenangi orang atau memusuhinya dengan dasar peraturannya, bukan peraturan yang tercantum dalam Al-Qur’an & Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 20/164].

.

Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid (anggota Kibarul Ulama Saudi Arabia) berkata :

“Barangsiapa yg mengangkat selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sbg panduan hidup maka dia tersesat dan ahli bid’ah” [Hukmul Intima Ilal Firoq wal Ahzab wa Jama’at Islamiyah : 96-97]”.

.

@thaifah_najiyah_manshurah.

 
 

Hanyalah Alloh tempat kita bergantung segalanya…

AL-FIRQAH AN-NAJIAH (Jalan Golongan yang Selamat)

Iwan Permana  · 29 Agustus pukul 10.36  · 

(nahimunkar.org)

***

Pertanyaannya lagi, apa memang benar bahwa PBNU sudah ‘terbeli’?

***

Kini PBNU Sudah ‘Terbeli’

Posted on 25 September 2021

by Nahimunkar.org

Belum lama para kyai NU Jatim wanti-wanti, PBNU jangan jual NU dan pesantren. Para kyai NU sampai bicara keras begitu karena orang-orang PBNU menjadi pembela penista Islam dalam kasus Ahok menista Al-Qur’an. Beberapa pentolan PBNU jadi saksi yang meringankan di pengadilan dalam kasus Ahok itu. Di antaranya Masdar F Mas’udi dan Ahmad Ishomuddin. Maka para kyai NU Jatim tampaknya marah seperti tersebut.

Lihat: Bagus!! Kyai se-Jatim untuk Said Aqil: Jangan Jual NU dan Pesantren!!
https://www.nahimunkar.org/bagus-kyai-se-jatim-untuk-said-aqil-jangan-jual-nu-dan-pesantren/

Anehnya, Ahmad Ishomuddin yang jadi saksi meringankan Ahok dalam kasus penistaan Islam itu justru kini jadi ketua Dewan pengarah Munas-Konbes NU di Jakarta 25-26 September 2021 di Jakarta. (Pembela Ahok Kasus Penistaan Al-Qur’an, Ahmad Ishomuddin Jadi Ketua Dewan Pengarah Munas-Konbes NU 2021
https://www.nahimunkar.org/pembela-ahok-kasus-penistaan-al-quran-ahmad-ishomuddin-jadi-ketua-dewan-pengarah-munas-konbes-nu-2021/ ).

Maka tidak mengherankan ketika kemudian muncul pernyataan keras tokoh NU, Prof Rochmat: Jangan Ada Politik Uang, Kini PBNU Sudah ‘Terbeli’

Apakah itu maknanya justru PBNU sudah ‘menjual’ NU dan pesantren? Tentunya para kyai dan warga NU lah yang lebih faham soal ‘kebobrokan’ PBNU macam itu.

Silakan simak ini.

***

Muktamar ke-34 Segera Digelar, Prof Rochmat: Jangan Ada Politik Uang, Kini PBNU Sudah ‘Terbeli’

Beduk’ Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU), sudah berbunyi. Sabtu hingga Ahad (26/9/21), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta.

 
 

Sejumlah kiai sepuh Jawa Timur, Senin (20/9) mengadakan pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. Intinya, meminta agar Muktamar ke-34 NU berlangsung tahun ini, 2021. Ada juga yang mengusulkan tahun 2022, pertimbangannya Covid-19, seperti PWNU DKI Jakarta, PWNU Sumatera Selatan (Sumsel) dan PWNU Kalimantan Utara serta PP Fatayat NU.

 
 

Soal waktu, menurut Ketua Komite Khitthah Nahdlatul Ulama (KKNU), Prof Dr H Rochmat Wahab, MPd, MA, lebih cepat lebih baik. “Harapan para kiai sepuh Jawa Timur, logis. Kalau molor terus, kredibilitas dan wibawa organisasi ini semakin jatuh. Mundur bukan berarti berkualitas,” tegas Prof Rochmat Wahab kepada duta.co, Kamis (23/9/21).

 
 

Lalu, soal pandemi covid-19? Kata Prof Rochmat, kini, kondisi sudah melandai. Tentu, peserta Muktamar harus taat protokol kesehatan. “Ormas lain bisa melakukan, masak kita tidak bisa. Apalagi faktanya, syahwat politik pengurus NU sekarang semakin vulgar, ini berbahaya bagi NU ke depan,” tegas Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016 ini.

 
 

PBNU Sudah ‘Terbeli’

 
 

Prof Rochmat kemudian menyebut, banyak hal yang harus segera mendapat koreksi dari prilaku oknum pengurus NU. Dalam pandangannya, diam-diam PBNU sekarang ini sudah ‘terbeli’.  Pengurus NU lebih suka bersenang-senang dengan kekuasaan, jabatan.

 
 

“Akhirnya NU seperti stempel penguasa. Pengurus NU senang ketika Ormas ini mendapat lahan 10 hektar. Sementara kita diam ketika ratusan warga  NU dalam ancaman seperti dialami Rocky Gerung. Ini jelas bukan NU yang diinginkan Mbah Hasyim, Mbah Wahab dan Gus Dur,” jelasnya.

 
 

Masih menurut Prof Rochmat, kondisi seperti ini berpotensi besar munculnya praktek politik uang. Padahal, ini harusnya kita lawan. Dan, ini sesuai keinginan kita membangun peradaban baru yang menjadi komitmen NU dalam memasuki Abad ke-2 kelahiran NU.

 
 

“Sekarang ini momentumnya. Sangat tepat, bagi generasi muda NU mengambil-alih estafet kepemimpinan NU ke depan. Bersihkan politik uang dalam segala proses suksesi kepemimpinan NU di semua level. Jika kita bisa mewujudkan bersama-sama, maka, ini kontribusi besar terbangunnya NU yang sejaln dengan Khitththah NU. NU sebagai institusi membangun peradaban tinggi. Butuh kepemimpinan berintegritas, tanpa dibebani dosa masa lalu yang semakin menggurita,” terangnya.

 
 

Sekarang, ujarnya, semua kader NU punya hak mencalonkan dan dicalonkan. Saat ini adalah waktu yang tepat melakukan filter terhadap calon-calon yang akan membangun NU ke depan. Sekaligus memberikan dukungan kepada kader-kader potensial yang bisa mengakselerasi kemajuan NU di masa-masa yang semakin sulit, di tengah-tengah era disrupsi (perubahan besar-besaran red) ini.

 
 

Tak kalah penting, Prof Rochmat juga menyinggung pimpinan PBNU yang suka ‘liar’ mengobral wacana dan membingungkan umat. Ini bisa berakibat fatal, karena masih kacaunya pemahaman terhadap agama.

 
 

“Sangat merepotkan nahdliyin dalam menjaga martabat NU. Pimpinan NU itu kalau bicara harus memilih diksi yang tepat dalam mengartikulasikan gagasannya. Jangan hanya ingin seperti Gus Dur, tetapi kecerdasan tidak sama dengan Gus Dur. Akibatnya, banyak kalimat yang tidak argumentatif, justru membingungkan umat,” pungkasnya.  (duta)

@geloranews

25 September 2021

(nahimunkar.org)

 

(Dibaca 93 kali, 1 untuk hari ini)