Kenapa Para Da’i dan Khatib Memberi Menu Syubhat


Pada Bulan Rabi’ul Awwal setiap tahun banyak da’i bahkan khatib Jum’at menyampaikan materi tentang pentingnya perayaan atau peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan berbagai cara mereka dengan sekemampuan mereka menekankan untuk disemarakkannya perayaan Maulid. Tanpa ragu-ragu mereka mempidatokan bahkan mengkhutbakannya seakan itu ajaran Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Hingga iming-iming pahala pun tergambarkan.

Materi tentang pentingnya perayaan Maulid itu bila dalam khutbah tentu diawali hamdalah puji syukur kepada Allah dilanjutkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, syahadat, shalawat, wasiat taqwa, dan diakhiri dengan doa kepada Allah Ta’ala, mohon ampunan bagi Muslimin dan Muslimat yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Bungkus indah dari hamdalah hingga wasiat taqwa dan diakhiri doa itu isinya berupa penekanan pentingnya mengadakan perayaan Maulid.

Astaghfirullaahal ‘adhiem….

Siapa yang menyuruh para khatib berkhutbah seperti itu ? Adakah di dalam ayat-ayat Al-Qur’an menyuruhnya ? Adakah di dalam Hadist Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya ? Adakah dalam ijma’ para sahabat menyuruhnya ? Adakah  atsar sahabat yang menyuruhnya ?

Ketika dalam rujukan Islam yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah sama sekali tidak ditemukan, anehnya kenapa justru di banyak tempat bahkan Umat Islam yang sadar sangat kesulitan untuk mencari masjid yang kira-kira khatibnya tidak berkhutbah dengan materi syubhat seperti itu ?

Mari kita sadari. Manusia di dunia ini, dalam hal untuk hidup sehat saja sampai sekarang di kota-kota besar terlihat banyak orang memakai masker. Hidung dan mulut mereka ditutup masker. Agar mereka terhindar dari polusi udara, dari debu, asap dan sebagainya. Agar udara yang terhirup bukan yang bercampur aneka kotoran. Kenapa justru dalam ber-Islam,  para da’i dan khatib memberikan menu syubhat yang seharusnya justru disaring?

Benar-benar terbalik. Seharusnya para khatib sesuai dengan wasiat taqwanya itu menuntun ke jalan Allah sebenar-benarnya. Bukan malah memberikan menu syubhat.

Hati-hati. Setiap ucapan apalagi itu atas nama penganjur agama secara resmi (karena khutbah kan memang resmi, ritual mahdhah) pasti akan dipertanggung jawabkan kelak. Bila menu yang disajikan kepada umat Islam ini justru menu syubhat seperti itu, maka bagaimana. Ya kalau selamat. Kalau tidak, bagaimana.

Maka mestinya yang sudah jelas-jelas saja dalilnya, disampaikan kepada Umat dengan pemahaman yang benar. Agar sesuai dengan wasiat taqwa yang disampaikan.

Kasihan kan Umat ini. Sudah bersemangat ingin mendapatkan keridhoan dari Allah dengan menghadiri shalat Jum’at tahu-tahu dikhutbahi dengan materi pentingnya Maulid yang justru sama sekali Islam tidak mengajarkannya. Umat Islam ini di luar masjid sudah sering tertipu oleh aneka macam penipu dan ada penipu yang sistemis, malah masuk ke masjid juga diberi menu yang syubhat. Lantas siapa sebenarnya yang membina Umat ini?

Sadarilah, mumpung masih ada waktu. Fenomena masyarakat menginginkan jasmani dan ruhaninya sehat. Para pedagang telah menawarkan dagangan-dagangan atas nama menu sehat, alami, herbal dan sebagainya. Lha kok malah da’i dan khatibnya ramai-ramai “jualan” menu syubhat. Benar-benar memprihatinkan bahkan bisa menjerumuskan ! (Hartono Ahmad Jaiz)

Ilustrasi foto/ dok net

Posted on 10 Januari 2014

by Nahimunkar.com

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 489 kali, 1 untuk hari ini)