Bagi umat Islam, identitas keislaman justru diperintahkan untuk dikemukakan

Sebaliknya justru ada ancaman bila mengikuti identitas jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin.

 

Silakan simak ini.

***

Jokowi: Jangan Ada lagi Politik Identitas dan Politisasi Agama

Presiden Jokowi berharap tidak terjadi politisasi agama dalam kehidupan masyarakat. Foto/tangkapan layar

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat dan semua pihak untuk mendukung tahapan pemilu yang tengah dipersiapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jokowi juga meminta agar tidak ada lagi politik identitas.

Hal tersebut disampaikan Jokowi dalam pidato kenegaraannya dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD pada hari ini Selasa 16 Agustus 2022.

(SINDOnews.com, Raka Dwi Novianto Selasa, 16 Agustus 2022 – 11:57 WIB)

***

Sementara itu Wasekjen Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin mengatakan, hanya rezim “Sambo” yang selama ini atas nama konstitusi melarang politik identitas dan politik agama.


“Karena institusi Polri kalau tidak salah pernah mengeluarkan yang diduga ancaman melarang bahkan akan menindak bagi yang menjalankan politik identitas atau politik agama,” ujar Novel kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (17/8).
https://politik.rmol.id/ LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL
, Rabu, 17 Agustus 2022, 17:02 WIB)..

***

Jamiman dalam konsitusi

Jaminan atas hak kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi warga negara Indonesia itu tercantum dalam Pasal 29 UUD 1945. Pasal 29 UUD 1945 terdiri atas 2 ayat yang berbunyi: -Ayat (1) “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”

-Ayat (2) “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu.”

Selain dijamin oleh UUD 1945, kebebasan beragama dan menjalankan ajarannya juga termasuk sebagai Hak Asasi Manusia (HAM) yang diakui secara internasional.

Baca selengkapnya di artikel “Isi Bunyi Pasal 29 UUD 1945 tentang Kebebasan Beragama dan Maknanya”, https://tirto.id/glPa

Bagi umat Islam, identitas keislaman justru diperintahkan untuk dikemukakan.

{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 64]

Artinya: Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS Ali Imran:64)

Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah:

Katakanlah, “Wahai Ahlul kitab, marilah menuju pada satu kalimat yang sama} yang adil {antara kami dan kamu, kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun, dan tidak sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, katakanlah, “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.”
(tafsirweb.com)

 

Sebaliknya justru ada ancaman bila mengikuti identitas jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin.

{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا } [النساء: 115]

Artinya: Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’: 115)

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

115 Barangsiapa yang menentang dan membantah Rasul sesudah jelas kebenaran baginya serta setelah tahu bahwa Rasul adalah pembawa bukti yang jelas atas itu, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Jalan orang mukmin adalah senantiasa dalam aturan Islam. Justru mereka menolong orang-orang kafir dan orang-orang sesat maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah mereka pilih itu dan Kami masukkan mereka ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (tafsirweb.com)

 

Ketika keadaannya ramai-ramai menyuarakan hal yang tidak cocok dengan konstitusi, dan bahkan betentangan dengan agama maka dikhawatirkan menjadi pertanda imaroh sufahaa’.

Ada dalil khusus mengenai imaroh sufahaa’

Akan Datang Zaman, Ada Pemimpin Sufaha’ Mengutamakan Orang-orang Jahat Dicitrakan sebagai Orang Baik

  • “… Barang siapa yang mendapatkan zaman tersebut, janganlah mau menjadi penasehatnya, polisinya, pemungut pajaknya dan bendaharanya.”
    (Hadits Riwayat Abu ya’la dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan berkata Haitami: para rijalnya shahih, dan di hasankan oleh Al Bani).


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ سُفَهَاءُ يُقَدِّمُونَ شِرَارَ النَّاسِ، وَيَظْهَرُونَ بِخِيَارِهِمْ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ، فَلَا يَكُونَنَّ عَرِيفًا وَلَا شُرْطِيًّا وَلَا جَابِيًا وَلَا خَازِنًا» . رواه أبو يعلى وابن حبان في صحيحه، وقال الهيثمي: رجاله رجال الصحيح خلا عبد الرحمن بن مسعود وهو ثقة اهـ. وحسنه الألباني.

“Akan datang suatu masa kepada umat manusia, pemimpinnya adalah Sufaha, lebih mengutamakan orang – orang jahat sebagai pembantunya namun mereka mencitrakannya sebagai orang-orang baik. Mereka selalu mengakhirkan shalat. Barang siapa yang mendapatkan zaman tersebut, janganlah mau menjadi penasehatnya, polisinya, pemungut pajaknya dan bendaharanya.”

(Hadits Riwayat Abu ya’la dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan berkata Haitami: para rijalnya shahih, dan di hasankan oleh Al Bani).

(nahimunkar.org)