Ilustrasi: Gubernur DKI Joko Widodo mengangkat kandang berisi monyet di pelataran Monas, Rabu (23/10/2013). Monyet-monyet itu hasil razia Satpol PP terhadap topeng monyet di Jakarta.(Fabian Januarius Kuwado)/ kpscom


Sepertiny sebagian pendukung Jokowi ada yang gerah terhadap polah tingkah Ngabalin.   Padahal justru Ngabalin tampaknya getol banget dalam hal mendukung junjungannya yang dulu ia singkiri itu.

Pemandangan pun jadi seakan aneh. Pihak pendukung Jokowi tampak resah gelisah atas ulah Ngabalin, sedang penonton di seberang lain menikmati adegan-adegan Ngabalin dengan senyum-senyum bagaimana… gitu.

Hingga ada netizen yang menulis: Biarin aja kelakuan si Nyebelin ini begitu terus, jangan diingetin. Malah kayaknya harus berterima kasih kepada beliau, karena sepertinya kelakuan dia menggerus elektabilitas Jokowi. Secara tidak langsung beliau turut menusuk Jokowi dari belakang.

Demikian salah satu komentar netizen terhadap Ngabalin yang dikutip inilahcom.

Tulisan pendek netizen itu sepertinya dari pihak yang berseberangan dengan aspirasi Ngabalin yang sekarang, hingga menyebutnya diplesetkan begitu, yang seharusnya tidak usah lah nama itu diplestin. (Ini sama sekali bukan membela Ngabalin lah… untuk apa membela dia. Jadi hanya sekadar … kalau toh sebel sama dia, ya ga’ usah nama dia yang diplesetin, gitu saja).

Kenapa pendukung Jokowi ada yang gerah dengan polah tingkah Ngabalin? Apakah mereka khawatir kesaingan? Atau ada hal-hal yang lain?

Urusan berbau politik itu tidak mudah ditebak. Apalagi bukan hanya berbau, tapi ini malah politik bin politik. Ya tentunya lebih sulit lagi ditebak. Dan masalah itu urusan mereka lah. Hanya saja, sisi yang masih dapat dinalar secara gampang, tidak usah njlimet, gampangnya begini saja, kita ambil ibarat saja.

Ibarat menantu (baru) getol2nya bekerja bantu mertua tapi tanpa ilmu, akibatnya justru menyusahkan mertua. Misal, menantu petani singkong yang tak tahu apa2, tahu2 rajin bekerja menanam singkong sampai se-tegalan yang luas. (Hebat ga’? Menantu baru, begitu rajinnya tuh!).

Tak tahunya, ternyata pohon-pohon singkong yang ditancapkan ke tanah sampai se-tegalan yang luas itu banyak yang terbalik. Seharusnya yang ditancapkan ke tanah itu yang pangkal, eh ini malah yang pucuk. Ya kebalik-balik jadinya.

Ketika mertua melihat hasilnya itu ke ladangnya, sang mertua pun mengelus dada. Waduh, cilaka mencit iki… (Celaka sampai memuncak ini). Kalau jadinya begini, lebih baik tidak usah dibantuin daripada malah mindon gaweni (dua kali kerja): Harus meneliti satu persatu tiap pohon, lalu harus membalikkannya bila ternyata kebalik, hingga lahan pun jadi padet karena terinjak-injak.

Menantu tolol ga’ tahu diri ini namanya, sok tahu. Jadinya nyusahin, tapi merasa hebat…

He… he… mertua pun ngomel…

Enak ga’?

(nahimunkar.org)

(Dibaca 578 kali, 1 untuk hari ini)