شيخ الأزهر يفتح النار على شيعة إيران .. وبيان غاضب من سلفي مصر

Fenomena Syiah revival (kebangkitan Syiah) di Timur Tengah selalu memakan korban dan berdarah-darah.

Karena itulah, sangat logis kemudian Syeikh al-Azhar, Ahmad al-Tayyib, mengecam keras terhadap Ahmadinejad ketika datang ke Kairo, Rabu (06/02/2013).

Bagi al-Azhar, Iran masih sangat setia memegang wasiat Khomeini. Padahal wasiat-wasiat itu menyakiti umat Islam dan cita-cita revolusi Syiah, membahayakan masing-masing Negara Muslim.

Inilah analisis dan berita tentang itu. Selamat menyimak sebaik-baiknya. Syi’ah memang bahaya, merusak iman dan kehidupan.

***

Khomeini, Ahmadinejad dan Ironi Kebangkitan Syiah Arab

Senin, 11 Februari 2013

Oleh: Kholili Hasib

KUNJUNGAN Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad ke Kairo Mesir untuk pertama kalinya baru-baru ini ternyata menuai kontroversi.Syeikh al-Azhar, Ahmad al-Tayyib, secara terbuka mengkritik Ahmadinejad, Rabu (06/02/2013) soal dukungan Iran terhadap kekisruhan Bahrain dan pembiaran penistaan sahabat Nabi Shallallahu ‘alahi Wassalam di Iran.

Tidak hanya itu, seseorang hampir memukul Ahmadinejad dengan sepatu saat menghadiri acara pertemuan OKI di Kairo. Pria yang diduga warga Suriah itu geram atas dukungan Iran terhadap rezim Bashar al-Assad yang membantai warga Sunni Suriah. Salah satu alasan dukungan Iran terhadap Suriah karena Suriah mendukung Iran selama perang tahun 1980-1988 (Perang Iraq-Iran) (hidayatullah.com 28/08/2012).

Bahrain, Iraq, dan Suriah tampaknya merupakan segitiga wilayah yang sedang dipersiapkan Iran untuk membangun imperium Syiah di Timur Tengah. Vali Nasr, dalam “Shia Revival (edisi Indonesia “Kebangkitan Syiah: Islam, Konflik dan Masa Depan”) mengatakan ada tiga pilar kebangkitan Syiah. Pertama, perebutan Iraq, Kedua, pencitraan Iran sebagai pemimpin Arab melawan Barat, dan Ketiga, dominasi Syiah dari Negara Lebanon hingga Negara Pakistan (Vali Nasr, Kebangkitan Syiah: Islam, Konflik dan Masa Depan, hal.159).

Karena itu, meski rezim Suriah, Bashar al-Assad, nyata-nyata secara keji membantai rakyatnya yang Sunni, Iran tetap mendukungnya. Tidak ada kamus HAM, ukhuwah, atau kemanusiaan lagi. Bahrain, sedang diguncang demonstrasi rakyatnya yang  mayoritas Syiah. Rakyat berambisi menggulingkan pemimpin Negara untuk diganti dengan pemimpin beraliran Syiah. Di belakang demonstrasi, Iran secara politis mendukung revolusi.

Nampak sekali, ambisi untuk mengekspor revolusi Syiah ke beberapa Negara Muslim telah diwariskan turun-temurun oleh Ayatullah Khomeini, pemimpin revolusi Iran tahun 1979.

Hingga pemimpin Iran sekarang ini, wasiat Khomeini masih dipegang. Terbukti, Ahmadinejad tetap bersikukuh terhadap dukungannya atas Suriah, pemerintahan Syiah Iraq, Hizbullah dan kekisruhan di Baharain. Iraq, Suriah, Hizbullah di Lebanon dan Baharain menjadi ancaman sangat serius terhadap Sunni Arab pada tahun-tahun berikutnya.

Dalam bukunya “al-Hukumah al-Islamiyah”, Khomeini secara emosional menghakimi kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah sebagai sistem thoghut, rusak, kufur dan tidak diridlai Allah swt. Sistem itu menurutnya harus diganti. Ia mengatakan, “Kenyataannya tidak ada pilihan lain selain menghancurkan sistem pemerintahan yang rusak dan menghapus pemerintahan yang penuh dengan pengkhianatan, kerusakan dan kedzaliman. Ini adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim yang ada di Negara Islam sehingga dapat tercapailah kejayaan Revolusi Politik Islam” (Imam Khomeini, Sistem Pemerintahan Islam, hal.46).

Di kalangan kaum Syiah, tulisan Khomeini ini merupakan fatwa untuk melakukan revolusi di negaranya masing-masing. Khomeini sendiri merupakan tokoh Syiah paling kharismatik. Sehingga fatwa ini pernah membakar pemuda Syiah di Indonesia pada tahun delapan puluhan.

Pada 24 Desember tahun 1984 aktivis Syiah bernama Jawad alias Ibrahim terlibat aksi peledakan gedung seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang dan peledakan candi Borobudur pada 21 Januari 1985. Dalam pengakuannya, ia nekat melakukannya karena cita-citanya ingin menjadi Imam di Indonesia, sebagaiman Khomeini di Iran.[i]

Pada tahun 1981, Iran menggelar Konferensi Internasional untuk Imam Jum’at dan Jama’ah mengundang pemimpin Negara-negara Muslim di duia serta para muftinya. Syeikh Muhammad Abdu Qodir Azad,Ketua Majelis Ulama’ Pakistan, yang ikut konferensi menyaksikan pidato Khomeini berapi-api memprovokasi kaum Muslim untuk melakukan revolusi seperti yang ia lakukan di Iran.

Khomeini mengatakan; “Karena itu wahai para ulama! Berangkatlah dari muktamar ini untuk mengadakan revolusi Iran di Negara-negara masing-masing, agar anda semuanya dapat menang dalam usaha yang besar ini. Kalau anda bermalas-malas, maka pada hari kiamat nanti di hari semua manusia dikumpulkan, Allah akan meminta pertanggungjawaban dari masing-masing Anda karena tidak melakukan sesuatu tentang hak Allah dan hak bangsa-bangsa Anda. Lalu ketika itu nanti jawaban apakah yang akan Anda berikan?” (Muhammad Abdul Qodir Azad, Bahaya Faham Syiah Khomeini, hal.14).

Pidato provokatif itu disaksikan oleh puluhan ulama dan pemimpin Negara-negara Muslim dan berlanjut dengan konferensi-konferensi berikutnya yang diadakan oleh Khomeini. Di antaranya, konferensi Haji di India pada 1981, Konferensi Islam di Banglades pada 1982 dan di Negara-negara Eropa. Padahal pada saat itu sedang berkecamuk perang panas antara Irak dan Iran.

Namun, semua pemimpin Negara Muslim kecewa berat bahkan mengecam. Pada saat konferensi Islam di Iran bertepatan dengan peringatan revolusi, Khomeini pernah berpendapat bahwa semua kepala Negara yang terdapat di Negara Islam adalah bukan kecuali presiden Suriah Hafidz al-Asad. Hafidz yang juga ayah Bashar al-Assad, merupakan presiden Suriah yang beraliran Syiah Nushairiah. Jadi memang sejak lama Iran sangat intim dengan Suriah. Karena faktor ideologis. Ahamdinejad pun menerangkan bahwa Iran mendukung Suriah karena Suriah dulu menyokong Iran saat perang delapan tahun (1980-1988) dengan Iraq. Iraq saat itu di bawah pimpinan Saddam Husein yang Sunni.

Prinsip dasar revolusi Syiah berakar dari akidah Imamah. Revolusi Khomeini berlangsung atas dasar ajaran aliran Syiah. Khomeini berusaha agar kepemimpinannya tidak hanya meliputi wilayah Iran, bahkan seluruh dunia harus tunduk di bawah pemerintahan dan kekuasaannya.

Dalam konsep wilayatul faqih, Khomeini menjelaskan bahwa hanya faqih (ulama/ahli hukum) Syiah sajalah yang boleh memimpin dan memerintah umat. Karena, menurut keterangan Khomeini, fuqaha Syiah saja yang beriman pada akidah Imamah dan imam Mahdi akhir zaman (Syeikh Muhammad Mandzur Nu’mani, al-Tsaurah al-Iraniyah fi Mizan al-Islam, hal 31).

Dengan demikian, cita-cita revolusi itu bentuk dari pengamalan ideologis kaum Syiah. Maka, cukup bisa dimengerti kemudian Ahmadinejad, bersikukuh membela rezim Suriah, meski dunia Islam mengecam pembantaian rezim terhadap rakyatnya. Dalam sejarahnya, cita-cita revolusi selalu menelan korban. Di internal Negara Iran, seorang perdana Menteri era Reza Pahlevi, Sadeq Gotbzadeh dihukum mati, dan Ayatullah Syariat Madari, rival politik Khomeini dikucilkan hingga meninggal sebagai tahanan rumah. Ekspor revolusi ke Negara tetangga menciptakan perang panjang Iraq – Iran selama delapan tahun. Untuk menegakkan pemerintahan Syiah di Iraq, dibantu serangan AS ke Saddam Husein, dan kini Suriah berdarah-darah karena rakyatnya yang Sunni tidak tahan dengan rezim Bashar. Fenomena Syiah revival (kebangkitan Syiah) di Timur Tengah selalu memakan korban dan berdarah-darah.

Karena itulah, sangat logis kemudian Syeikh al-Azhar, Ahmad al-Tayyib, mengecam keras terhadap Ahmadinejad ketika datang ke Kairo. Bagi al-Azhar, Iran masih sangat setia memegang wasiat Khomeini. Padahal wasiat-wasiat itu menyakiti umat Islam dan cita-cita revolusi Syiah, membahayakan masing-masing Negara Muslim.*

Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya/  hidayatullah.com

***

شيخ الأزهر يفتح النار على شيعة إيران .. وبيان غاضب من سلفي مصر

Syaikh Al-Azhar&ahmedinejad_82367482374

06-02-2013 03:58 AM

( الأولى ) :

فتح الدكتور أحمد الطيب شيخ الأزهر النار على شيعة إيران، ووجه لهم رسائل شديدة اللهجة، حول انتهاكاتهم لحقوق السنة في إيران ومحاولة نشر التشيع في الدول السنية وعن رفضه للمد الشيعي في بلاد أهل السنة، وطالب باستصدار فتاوى من المراجع الدينية تجرم وتحرم سب السيدة عائشة ـ رضي الله عنها ـ وأبي بكر وعمر وعثمان والبخاري؛ حتى يمكن لمسيرة التفاهم أن تنطلق.

واستنكر الطيب خلال استقباله الرئيس الإيراني محمود أحمدي نجاد بمشيخة الأزهر اليوم، الاختراق الشيعي لمذاهب أهل السنة والجماعة، مؤكدًا أن “مصر مثلاً كانت ولازالت معقلاً لأهل السنة والجماعة، ونحن نرفض رفضًا قاطعًا هذا الاختراق من الشيعة، ولا نحب لشباب مصر وأهلها أن يتشيَّعوا“.

وأعرب الطيب عن رفضه التطاول على الصحابة، وتابع متوجهًا للرئيس الإيراني: “اسمحوا لي أن أقول: إنَّنا نأسف مما نسمعه دائمًا من سب للصحابة وأمهات المؤمنين- رضوان الله عليهم – وهذا أمرٌ مرفوض جملة وتفصيلاً“.

وأضاف: “على الرغم من أن الأزهر يرى ويسمع دائمًا سب الصحابة والسيدة عائشة ـ رضي الله عنها ـ والإمام البخاري، إلا أننا نضبط أنفسنا، ولا نريد أن يُجَرَّ الأزهر إلى معركة كلنا في غنًى عنها“.

وذكّر الطيب بأن “الأزهر كان سباقًا ورائدًا للتفاهم بين السنة والشيعة، وكبار شيوخنا في الأزهر كانوا يطمحون للقضاء على الفتن المختلفة التي تفرق بين الأمة الإسلامية، كما شارك الأزهر في مختلف مؤتمرات الوحدة الإسلامية“.

لكنه اعترف بأن هذه المؤتمرات لم تؤت ثمارها، وأضاف متوجهًا للرئيس الإيراني: “أرجو ألا أكون خارجًا على واجب الضيافة فأقول: إن جل هذه المؤتمرات كانت تصب في مصلحة الشيعة الإمامية، على حساب أهل السنة وعقائد أهل السنة ورموزها، وهذا يفقد هذه المؤتمرات ما نرجوه“.
كما طالب شيخ الأزهر بضرورة العمل على إعطاء أهل السنة والجماعة في إيران ـ وبخاصة في إقليم الأهواز ـ حقوقهم الكاملة كمواطنين، بعد أن قال إن “كثيرًا من أهل السنة في إيران شكوا إلينا أوضاعهم وحقوقهم كمواطنين إيرانيين لهم حقوق وعليهم واجبات، فالمواطنة لا ينبغي أنْ تُجزَّأ، وهذا أمر متَّفق عليه في النظم الحديثة والشريعة الإسلامية“.

وطالبه باحترام البحرين “كدولة عربية شقيقة، وعدم التدخل في شئون دول الخليج”، قائلاً له “اسمح لي سيادة الرئيس فأنا لست سياسيًّا أن أصارحكم بمسألة أخيرة وهي مسألة التدخل في شئون البحرين والدول العربية، وأنا أتكلم بصفتي إمام أهل السنة والجماعة، فشعبنا العزيز في البحرين ينبغي أن يكون ولاؤهم لوطنهم، ولا ينبغي لأيٍّ كان أن يتدخل في شئونهم الداخلية“.

كما تطرق شيخ الأزهر إلى الوضع في سوريا ـ حيث تتهم إيران بدعم نظام بشار الأسد في مواجهة الثورة الشعبية ـ وحثه على وقف النزيف الدموي في سوريا والخروج بها إلى بر الأمان، وفق بيان أصدره المكتب الإعلامي لشيخ الأزهر.

من جانبه، نأى الرئيس الإيراني بنفسه عن سباب الصحابة، قائلا إنه “ليس عالمًا دينيًّا، ولا يعرف هذه الخلافات الدِّينية، ولا يريد أن يعرفها، وإنما يود الكلام عن الوحدة الإسلامية، وأنه يعتقد أن المهمة المشتركة بيننا هي الوحدة الإسلامية، والعلماء في النجف وقُم هم الذين باستطاعتهم إيضاح بعض ما ذكرتموه من مشاكل، ولكن حسبنا مع هيئة كبار العلماء أن نفكر في العمل من أجل هذه الأمة“.

واعتبر أن “كل من يسيء إلى الصحابة الكرام فليس منَّا، وعكس ذلك أيضًا”. وقال: “أنا جئت إلى الأزهر لطرح مفهوم الوحدة، فتعالوا لنتوحد، فإنني لا أرى أي مبرر للفرقة ونحن في جامعتنا نطرح القضايا التاريخية، وأعتقد أن المشاكل التاريخية قد عُولِجت في مدارس الدرس والبحث، ونحن الآن نريد إصلاح الحاضر، فكلنا يشعر بهذا الواجب، واجب الوحدة في أقرب وقت، فالنبي الأكرم – صلى الله عليه وسلم – جاء لإحياء الإنسان أولاً، ثم لإقرار التوحيد واستئصال الظلم والجهل والخراب، وهذه هي المعاني المشتركة التي نوحد صفوفنا حولها“.

وتعد زيارة الرئيس الإيراني إلى الأزهر غير مسبوقة، وجاءت في إطار زيارته لمصر بناء علي دعوه رسمية تلقاها من الرئيس محمد مرسي للمشاركة في القمة الإسلامية. وهذه أول زيارة يقوم بها رئيس إيراني لمصر منذ قطع العلاقات الدبلوماسية بين البلدين قبل أكثر من ثلاثة عقود.

لكن الزيارة أثارت اعتراضات في أوساط السلفيين خصوصًا، إذ نظم سلفيون وقفة احتجاجية أمام مشيخة الأزهر قبيل وصول الرئيس الإيراني للقاء شيخ الأزهر، رفعوا خلالها لافتات منددة الزيارة منها: “لا مرحبا بك في مصر”، “يا شيخ الأزهر لا تنجس يدك بالسلام على من أهانوا الصحابة”، كما رفعوا لافتات باللغة الفارسية معناها باللغة العربية “سوريا ليست للبيع“.

وأصدرت “الدعوة السلفية” بيانًا حذرت فيه من تجاوز الغرض المعلن من زيارة الرئيس الإيراني لمصر من حضور اجتماعات منظمة التعاون الإسلامي، إلى “تقارب سياسي قد يأتي على حساب مصالح عليا لمصر ولأهل السنة والجماعة، الجسد الأصلي للأمة الإسلامية“.

وقالت في بيان : “يجب أن تتحدث مصر مع الرئيس الإيراني بوصفها أكبر الدول السنية، ويجب ألا ينسى أن التزام مصر بحماية كل الدول السنية من أي اختراق سياسي أو ثقافي أو عسكري جزءٌ من التزامات مصر الدولية ، ثم هو جزء من برنامج الدكتور محمد مرسى الانتخابي“.

وطالبت أيضًا بأن يتم مواجهة الرئيس الإيراني بملف اضطهاد أهل السنة في إيران، وأن يتم مواجهته بملف سوريا ومدى مسئولية النظام الإيراني عن قتل النساء والأطفال هناك، “عن طريق الدعم العسكري والسياسي لنظام بشار الأسد“.

وشددت “الدعوة السلفية” على ضرورة أن يتم مواجهة الرئيس الإيراني بما أعلنه الرئيس مرسى نفسه، بأن “أمن الخليج هو أحد أهم دوائر الأمن القومي المصري“.

وطالبت بعدم السماح للرئيس الإيراني بالقيام بجولة في المساجد والأماكن “التي يزعم الشيعة أنها تمثلهم، وإلا اعتبرت هذه سقطة تاريخية للدبلوماسية المصرية”، على حد قولها. ويشمل جدول زيارة الرئيس الإيراني زيارة مسجدي الحسين والسيدة زينب بالقاهرة.

ورفضت قيام نجاد بجولة خاصة في ميدان التحرير “رمز الثورة المصرية”، وقالت إن هذا الطلب يجب أن يقابل بالرفض ؛ لأنه “يمكن أن يحمل الكثير من الرسائل السلبية لاسيما في تلك الظروف الحرجة التي تشهدها البلاد“.

يذكر أن طهران قطعت علاقاتها مع القاهرة في 1980 بعد عام واحد من “الثورة الإسلامية” في إيران، ومن توقيع مصر لاتفاقية سلام مع إسرائيل، وقيام إيران بإطلاق اسم خالد الإسلامبولي قاتل الرئيس أنور السادات على أحد أشهر شوارعها. ولا تزال العلاقات الدبلوماسية بين البلدين على مستوى تمثيلي محدود. “المصريون

http://www.alolaa.net/news.php?action=show&id=18845

 (nahimunkar.com)


[i] Redaksi nahimunkar.com: lihat Syi’ah dan rangkaian kasus peledakan di Indonesia

6 March 2012 | Filed under: Aliran Sesat,Dunia Islam,Featured,Indonesia,Syi’ah | Posted by:nahimunkar.com

https://www.nahimunkar.org/syiah-dan-rangkaian-kasus-peledakan-di-indonesia/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.634 kali, 1 untuk hari ini)