Pengikut syiah di Indonesia (Foto: SyiahIndonesia.com)


Kaum Syiah mengklaim bahwa shalat tarawih merupakan ajaran Umar bin Khatab yang belum pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dengan logika tersebut, orang Syiah mengatakan bahwa tarawih adalah bid’ah.

Dalam sebuah dialog yang ditayangkan videonya pada youtube dan dilaporkan Islampos, Kamis (9/6/2016), ada seorang Syiah bertanya: “Bukankah bulan Ramadhan itu penuh berkah, mengapa Syiah sendiri justru anti-tarawih?”

Salah satu tokoh syiah, Yassir Habib memberikan penjelasan, bahwa jamaah tarawih tidak pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dulu para sahabat pernah shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarang untuk melaksanakan shalat sunah secara berjamaah. Keterangan ini ada di buku-buku shahih yang dimiliki kelompok mukhalifin (orang yang menyimpang).

Kemudian Yasir juga menegaskan, bahwa yang pertama kali mengadakan jamaah tarawih adalah Umar bin Khattab. Umar mengumpulkan semua orang untuk shalat jamaah di malam hari Ramadhan, di bawah imam Ubay bin Ka’b. Ketika itu ada beberapa orang yang tidak paham mengkritik Umar, “Bid’ah…bid’ah..”

Umar menegaskan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” sebagai bentuk bantahan atas tuduhan yang dilontarkan kepadanya.

Dengan demikian, kaum Syiah yang tidak menyukai para sahabat Nabi kecuali Ali bin Abi Thalib tentu menganggap shalat tarawih sebagai kreatifitas dalam beribadah (bid’ah).

Dasar Masyru’iyah Tarawih

Tradisi menjalankan ibadah sahalat tarawih adalah tradisi yang dilandasi dengan dalil-dalil yang qath’i (pasti), baik secara sanad maupun dilalah.

Menurut Ustadz Ahmad Sarwat, Lc M.A, dalam Seri Fiqih Kehidupan tetang Puasa, dasar Masyru’iyah shalat tarawih ada banyak sekali. Salah satunya adalah yang pernah dikisahkan ibunda ‘AisyahrhadiAllahu’anha tentang shalat sunah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan di bulan Ramdhan.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ. (صحيح مسلم)

“Dari Aisyah rhadhiAllahu ‘anha sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam pernah melaksanakan shalat kemudian orang-orang shalat dengan shalatnya tersebut. Kemudian beliau shalat pada malam berikutnya dan orang-orang yang mengikutinya bertambah banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Rasulullah SAW tidak keluar dan shalat bersama mereka. Pada pagi harinya Rasulullah SAW berkata, “Aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan. Dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (shalat) bersama kalian kecuali bahwasanya aku khawatir bahwa shalat tersebut akan difardhukan.” Rawi hadits berkata,”Hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan dasar masyru’iyah yang qath’i, maka umat Islam sejak masa Rasulullah SAW hingga hari ini, empat belas abad kemudian, selalu menjalankan shalat tarawih di malam-malam bulan Ramadhan.

Sedangkan bagi kaum Syiah, yang memang membenci bahkan melakukan takfiri kepada ibunda ‘Aisyah rhadiAllahu ‘anha dan Umar bin Khatab rhadiAllahu ‘anhu tentu menolak dasar tersebut di atas.

Red: Adiba Hasan/ http://www.antiliberalnewscom/

Posted on 10 Juni 2016

by Nahimunkar.org

selengkapnya simak di sini:

https://www.nahimunkar.org/mengapa-syiah-anti-shalat-tarawih/

(nahimunkar.org)