ilustrasi foto: Liputan6.com


KIBLAT.NET, Jakarta – Berdasarkan pantauan Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) di beberapa wilayah, masih banyak kota yang tidak ramah dan cenderung anti-HAM.

Demikian diungkapkan Wakil Koordinator KontraS Bidang Strategi dan Mobilisasi, Puri Kencana Putri, pada konferensi Pers Peringatan Hari HAM Sedunia, di Bakoel Coffe, Jakarta, Kamis (10/12).

“Padahal, kita sedang membangun kultur kota ramah HAM, tapi dalam prakteknya, implementasi dari pemahaman itu masih sangat jauh,” katanya.

KontraS menilai ada 5 kota yang terkategori sebagai kota terbesar pelanggar Kebebasan dan HAM. Di antaranya, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, DKI Jakarta, dan Papua. Dominasi pelanggaran terjadi pada ranah hak beribadah, berkeyakinan, dan beragama.

“Kemudian, banyak aksi pembubaran ekspresi terkait dengan ekspresi publik terhadap eksploitasi sumber daya. Polisi biasanya melakukan tindak represif untuk membatasi praktek ekspresi warga,” papar Puri.

DKI Jakarta bisa masuk dalam 5 peringkat besa kota pelanggar HAM, menurut Puri, disebabkan masih banyaknya praktek penggusuran paksa dan pembatasan berekspresi, terutama ketika Gubernur DKI Jakarta mengeluarkan Pergub yang mengatur aksi unjuk rasa hanya di 3 titik wilayah.

“Pasca keluarnya Pergub Ahok, untuk membatasi ruang ekspresi dan opini, ternyata praktek kriminalisasinya menjadi besar. Kita lihat kemarin ada 306 mahasiswa Papua ditangkap langsung di bawa ke Polda Metro Jaya. Banyak orang melihat mereka menggunakan Pergub yang sama,” bebernya.

Peringkat daerah tidak ramah HAM versi KontraS urutan pertama ditempati Jawa Barat dengan 41 peristiwa pembatasan kebebasan beragama, beribadah dan berkeyakinan. Peringkat kedua, Jawa Timur dengan 35 peristiwa yang didominasi oleh praktek pembubaran aksi buruh. Selanjutnya, peringkat ketiga adalah Sumatera Utara dengan 28 peristiwa, yang didominasi oleh praktek pembatasan jurnalis, peningkatan pembatasan kebebasan dengan tren sumber daya.

Untuk DKI Jakarta sendiri, terjadi 24 peristiwa pelanggaran HAM, yang didominasi oleh peristiwa penggusuran paksa, penangkapan sewenang-wenang dan pembubaran paksa aksi buruh dan mahasiswa.

Reporter: Bilal Muhammad
Editor: Fajar Shadiq

Sumber: kiblat.net/ Jum’at, 11 Desember 2015

(nahimunkar.com)

(Dibaca 328 kali, 1 untuk hari ini)