Oleh : Dr. Slamet Muliono[1]

Abu Bakar Ash-Shiddiq tercatat sebagai khalifah yang memiliki prestasi gemilang dan menorehkan tinta emas dalam sejarah kepemimpinannya. Kecerdasannya diletakkan di bawah petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sehingga seluruh kebijakannya mendatangkan kemaslahatan bagi umat Islam. Pengiriman pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid untuk melawan Romawi, memerangi orang-orang yang mengaku nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan orang-orang yang menolak membayar zakat merupakan contoh prestasi gemilangnya. Berkat prestasi gemilangnya ini, membuat Islam berkibar dan disegani lawan, serta mengokohkan akidah umat Islam di tengah peradaban Romawi dan Persia.

Perlawanan Terhadap Romawi Hingga Nabi Palsu

Pencanangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk melakukan perlawanan terhadap Romawi dengan menetapkan Usamah bin Zaid sebagai panglima, belum bisa dilaksanakan. Namun oleh Abu Bakar, keputusan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini dilaksanakan Abu Bakar. Kebijakan Abu Bakar ini tidak berjalan mulus, karena tantangan saat itu tidaklah besar. Ada orang yang mengaku sebagai Nabi, pembangkangan terhadap pembayaran zakat menjadi pekerjaan besar. Sehingga Umar bin Khaththab menyarankan Abu Bakar untuk menundanya. Salah satu cara pandang di satu sisi ada benarnya, karena tantangan internal itu harus diprioritaskan. Di mata Umar bin Khaththab, nabi palsu dan orang-orang murtad harus ditupas terlebih dahulu. Namun kekokohan pandangan Abu Bakar tak bisa diruntuhkan. Apa yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pasti benar dan mengandung manfaaat yang besar bagi umat Islam. Abu Bakar sempat menyatakan “Aku tidak akan pernah mengurai tali yang sudah diikat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.  Andaikata anjing-anjing berada di kaki-kaki istri Rasulullah maka aku tidak akan menggagalkan apa yang telah diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Apa yang diyakini Abu Bakar benar-benar terjadi. Pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid benar-benar menggetarkan orang-orang yang mengaku sebagai nabi maupun orang-orang yang murtad dengan menolak membayar zakat. Ketika melihat keteguhan hati Abu Bakar yang kokoh pendiriannya dalam menegakkan perintah Rasul dengan mengirim pasukan Usamah dalam memerangi orang yang menolak membayar zakat, Abu Hurairah mengatakan : “Andaikata Allah tidak mengutus Abu Bakar sebagai khalifah maka Allah tidak akan disembah lagi di muka bumi ini.” Hal ini karena pada saat itu, sudah ada orang yang berani meninggalkan kewajiban membayar zakat, maka saat ini akan banya orang yang tidak lagi mengenal Islam dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban lain, seperti shalat, puasa, dan haji.

Tantangan berikutnya, yakni memerangi orang yang mengaku sebagai Nabi. Beberapa nama yang tenar karena mengaku sebagai nabi di antaranya Al-Aswad Al-Ansi, Tulaihah Al-Asadi, Sajah bintu Harits At-Taghlibiyah, dan Musailamah Al-Kadzab. Salah satu kisah yang menarik adalah adalah Al-Aswad al-Ansi. Dia berasal dari Yaman dan mendakwahkan diri sebagai nabi ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup. Dia memiliki 700 pasukan yang berhasil menguasai kota Shan’a, Yaman. Al-Aswad berhasil membunuh penguasa Yaman, dan mengawini istrinya yang saat itu masih muslimah. Fairuz Ad-Dailami, seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berhasil membunuhnya. Dia bekerjasama dengan istri Al-Aswad dari penguasa Yaman yang dibunuhnya. Fairuz berhasil menyelinap di rumah Al-Aswad, dan melihatnya dalam keadaan mabuk. Begitu melihat Al-Aswad, Fairuz membunuhnya. Ketika terbunuh maka suara Al-Aswad terdengar keras (mengorok) sehingga terdengar pasukannya. Ketika pasukan itu mendekat dan ingin melihat apa yang terjadi, maka dikatakan oleh istrinya bahwa Al-Aswad sedang menerima wahyu dari langit. Maka beberapa saat, Fairus memenggal kepala Al-Aswad dan melemparnya keluar ke pasukannya. Sejak saat itu pasukannya bubar karena nabinya telah meninggal.

Prestasi Khalid dan Kebanggaan Abu Bakar

Kontribusi besar Abu Bakar di antaranya adalah menugaskan dan menempatkan Khalid bin Walid untuk memimpin perang, sehingga banyak memenangkan perang dan tidak sedikit wilayah yang ditaklukkan dan tunduk kepada Islam. Kepiawaian Khalid bin Walid dalam mengatur strategi dan kegembiraan dalam perang telah tercatat dalam ucapan emasnya : “Sesungguhnya di malam yang sangat dingin untuk menunggu pergantian waktu untuk perang lebih aku sukai daripada penantian untuk menunggu pengantin baru.”

Perang Yarmuk merupakan salah satu karya besar Khalid bin Walid yang bekerjasama dengan Ubaidah ibnu Jarrah sebagai panglima untuk melawan pasukan Romawi. Pada saat itu jumlah pasukan Romawi sebanyak 120.000, sementara pasukan Islam sebanyak 27.000. dengan jumlah yang tidak seimbang itu, Ubaidah meminta pasukan tambahan kepada Abu Bakar. Namun abu Bakar mengatakan : “Kalian tidak akan dikalahkan oleh jumlah tetapi dikalahkan oleh dosa-dosa yang kalian lakukan.” Saat perang Yarmuk yang terjadi di negeri Syam itu, Khalid bin walid berada di Iraq dan diminta untuk pergi ke Syam. Dengan membawa 9.000 pasukan, Khalid meluncur ke Syam dengan mengambil jalan pintas yang tidak pernah dilalui manusia, dan akhirnya berhasil bergabung dengan pasukan Ubaidah. Dalam peperangan itu, pasukan Romawi berhasil dikalahkan, sehingga nama Islam semakin berkibar dan harum.

Karena kemenangan pasukan Islam yang berturut-turut itu, orang-orang Romawi  penasaran, hingga mengirim inteligen untuk mengetahui apa yang menjadi rahasia pasukan Islam sehingga selalu menang. Maka diperoleh informasi bahwa pasukan Islam itu kalau malam seperti rahib-rahib (beribadah secara khusyu’) tapi di siang hari seperti ganas singa. Seorang panglima Romawi bernama Mahan pernah bertemu Khalid dan menanyakan apa yang mendorongnya perang melawan Romawi. Maka Khalid menjawab bahwa kami pergi ke tempatmu ingin meminum darah. Darah yang paling manis adalah darahnya orang Romawi.

Prestasi Abu Bakar yang mengirim pasukan Usamah melawan Romawi, menumpas orang yang mengaku nabi, melawan orang yang murtad, hingga mengorbitkan Khalid bin Walid dalam menaklukkan musuh-musuh Islam, benar-benar meneguhkan kapasitasnya sebagai khalifah agung dan memberi kontribusi besar bagi Islam.

[1] Dosen UIN Sunan Ampel dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

Surabaya, 9 Januari 2019

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.800 kali, 4 untuk hari ini)