Oleh HartonoAhmad Jaiz

Majalah Dakwah_836526423428

Kepemimpinan dalam Islam mencakup material dan spiritual, jasmani dan rohani. Maka di dalam Islam: sultan, pemimpin, imam, atau khalifah adalah sebagai imam shalat lima waktu, khatib, dan petugas memungut zakat untuk dibagikan kepada para mustahiq (yang berhak menerima). Tentu saja pelaksanaannya dengan cara mengangkat para ‘amil (petugas memungut dan membagi zakat). Itu contoh-conloh di bidang rohani atau kewajiban agama, namun pada hakekatnya mencakup pula kemaslahatan (kepentingan) dunia. Sedang di bidang jasmani atau material, sultan atau khalifah juga membangun sarana-sarana kehidupan, memperlancar perdagangan, membangun sarana-sarana pasar, pos. perhubungan dsb.

Bukan hanya melindungi Muslimin

Kepemimpinan itu bukan hanya melindungi ummat Islam, namun juga melindungi non Muslim yang tidak memusuhi. Tidak ada perbedaan perlindungan antara warga Muslim dan non Muslim, dengan syarat tidak memusuhi. Bahkan ada jaminan dari Nabi Muhammad SAW.

 “Barangsiapa mengganggu dzimmi (non Muslim yang tunduk pada kekuasaan Islam) maka sungguh ia mengganggu saya (Muhammad}, dan siapa mengganggu saya maka sungguh ia mengganggu Allah.” (Hadits riwayai Thabrani).

“Barangsiapa berlaku dzalim terhadap seorang kafir ‘ahdi (yang ada ikatan janji dengan kekuasaan Islam) atau mengurangi haknya atau memberi beban melebihi kemampuannya atau mengambil sesuatu daripadanya dengan niat tidak baik, maka saya (Muhammad) adalah pembelanya nanti di Hari Qiyamat.” (Hadits Riwayat Abu Daud).

Terhadap non Muslim itu mereka dikenai jizyah (upeti) sebagai jaminan keamanan bagi mereka dari penguasa. Mereka ini dalam tanggungan penguasa dari segi keamanannya, yang istilahnya kafir dzimmi, artinya warga kafir tetapi mendapatkan perlindungan hidup karena tidak memusuhi Islam. Sedang yang memusuhi Islam disebut kafir harbi (musuh) artinya memusuhi Islam, maka halal bahkan wajib diperangi karena membahayakan Islam alias membahayakan masyarakat dan pemerintahan.

Posisi penguasa dalam Islam cukup jelas, yakni hanya sebagai pembawa amanat Allah berupa syari’atnya untuk diterapkan di hadapan manusia. Sehingga kedudukan penguasa sama saja dengan warga yang lain, hanya saja perlu ditaati selama perintahnya sesuai dengan aturan Allah SWT. Bila tidak, maka tak ada ketaatan padanya. Dan kalau pelanggaran dilakukan oleh pemimpin, maka pengadilan pun akan mengadilinya dan menentukan hukuman bagi sang pemimpin. Anak-anak dan warga pemimpin, apalagi hanya relasi-relasinya yang sering disebut bangsawan atau kini disebut kaum elit; maka hukum dan pengadilan tetap diberlakukan kepada mereka. Tidak ada yang kebal hukum sama sekaii. Hatta Fatimah binti Muhammad SAW pun kalau mencuri maka Nabi SAW sendiri akan memotong tangan anaknya itu.

Jihad terhadap penguasa dhalim dan ocehan munafiq

Apabila ada kebijakan yang merugikan rakyat, maka kritikan tajam pun perlu dilontarkan kepada penguasa bila ia menyalahi aturan Allah SWT. Hanya saja mesti melalui cara-cara kritik yang dibenarkan oleh Islam. Di antaranya, kritik itu kalau mengamuk kepada rakyat dan mengakibatkan banyak kerusakan, maka sementara kritik itu jangan disampaikan dulu. Cari jalan lain yang tidak besar mafsadatnya (akibat rusaknya). Kalau kritikan itu disampaikan kemudian yang terkena akibat hanya orang yang menyampaikan kritik itu sendiri, tidak menimpa pada ummat, maka bagus sekali kritikan itu disampaikan. Dan itulah yang memiliki nilai sangat tinggi, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

Afdholul jihaadi, kalimatu haqqin ‘inda sulthoonin jaair.

Artinya, Jihad yang paling utarna itu adalah (menyampaikan} ucapan yang benar di sisi penguasa yang dhalim. (Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Abi Sa’id; riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Thabrani dan Al-Baihaqi dari Abi Umamah; riwayat Ahmad, An-Nasai, dan Al-Baihaqi dari Thoriq bin Syihab, berderajat shahih).

Resikonya, penyampai kritik berupa kata-kata yang benar di sisi penguasa dhalim itu bisa dipenjarakan, disiksa, dihilangkan nyawanya, dimatikan usahanya atau mata pencariannya. Tidak mustahil, keluarganya diteror, diancam, diganggu keamanannya dsb. Meskipun demikian, sebenamya semua teror dan ancaman itu kalau keluarga tersebut telah siap maka mereka mampu menahan beban.

Di situlah perlunya kerjasama, tolong-menolong sesama muslim. Apabila ada yang diteror, bahkan dimatikan mata pencariannya maka ummat Islam lainnya mesti membantu memberikan jalan keluarnya. Hanya saja, kadang justru berbalik; orang-orang yang mengaku Muslim tapi penakut, apalagi yang ada bibit-bibit kemunafikan, maka mereka ikut menyalahkan orang yang berani berjihad dengan menyampaikan kalimat yang haq itu tadi.

Ini ibarat orang-orang munafiq yang tak ikut perang di zamanNabi Muhammad SAW dalam menghadapi orang kafir –wal hal mereka mengaku Muslim– lalu ketika ummat Islam pimpinan Nabi SAW itu pulang dalam keadaan kalah maka munafiqin itu menyalahkan Muslimin, kenapa ikut Nabi SAW. Kalau tidak ikut perang bersama Nabi SAW dan pilih duduk-duduk di rumah seperti munafiqin itu maka menurut munafiqin, pasti akan selamat, tidak mati, tidak luka, dan tidak kalah segala. Ocehan munafiqin yang menyakiti hati Mukminin itu langsung dibantah oleh Allah SWT. Karena walaupun di rumah, kalau Allah SWT mematikan mereka maka sama sekali mereka tidak akan bisa mengelak dari kematian.

Tampaknya hanya mengatakan sesuatu yang bernada menyalahkan, namun masalah itu bagi Allah adalah masalah besar. Dan itu adalah cerminan munafiq pengecut yang menggejala sejak zaman Nabi Muhammad SAW yang disandang oleh munafiqin penghalang Islam.

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu;  sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mcndengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang dzalim. (QS At-Taubah/ 9:47).

Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mcngatur pelbagai macam tipu daya untuk (kerusakan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya. (QS At-Taubah/ 9:48).

Di antara mereka ada orang yang berkata: Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah. Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. (QS At-Taubah/ 9:49).

Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan Jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang). Dan mereka berpaling dengan rasa gembira. (QS At-Taubah/ 9:50).

Katakanlah: sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal. (QS At-Taubah/ 9:51).

Orang-orang munafiq itu apabila Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya memperoleh kenikmatan seperti ghanimah, kemenangan dan lain-lain, seperti dalam perang Badar, lalu munafiqin menggerutu, gelisah, kecewa, dan iri hati. Sebaliknya jika Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya mendapat kesulitan dan kekalahan, sebagaimana yang dialami di perang Uhud, lalu munafiqin berbangga. Munafiqin berkata: “Memang setiap menghadapi sesuatu, kami sangat hati-hati dan mempertimbangkan masak-masak jauh sebelumnya.”

Masing-masing munafiqin membanggakan pikiran dan pertimbangan yang telah dikemukakannya. Memuji-muji perbuatannya, merasa beruntung tidak ikut pergi berperang dan tidak mengalami kesulitan dan kebinasaan. Akhimya mereka bubar dalam keadaan senang dan merasa gembira atas bencana yang telah menimpa Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya. (Lihat Al-Quran dan Tafsirnya, Depag RI, juz 10. hal 157).

Munafiqin masa kini

Munafiqin masa kini lebih tidak punya aturan lagi dalam membuka mulut. Mereka tidak doyan memperjuangkan Islam tetapi mereka menolak kalau dikatakan sebagai orang yang tidak berjuang Islam. Lalu mereka membuat alasan macam-macam. Misalnva, mereka mengatakan: Kalau kita hanya memperjuangkan Islam, itu artinya kita ini tidak nasionalis, tidak toleran, tidak memikirkan umat lain. Kalau kita hanya ingin mengangkat pemimpin yang Islam itu tidak sesuai dengan perpolitikan. Dalam perpolitikan, yang penting itu kepemimpinannya, bukan dari agama apa dia. Kalau kita hanya mau memilih pemimpin yang Islam itu tidak demokratis dsb. Itulah ungkapan kaum munafiqin.

Kata-kata itu masih dilanjutkan dengan pengelabuan yang lebih sadis lagi. Misalnya, kata mereka, kalau kita ini menggunakan Islam untuk berpolitik, maka akibatnya rusak semua. Itu Soeharto menggunakan Islam untuk berpolitik, akibatnya rusak semua kita ini.

Waduh, waduh… makin ngawur saja ungkapan-ungkapan orang yang tidak doyan berjuang Islam itu. Sampai-sampai untuk memprovokasi orang agar tidak memakai aturan Islam, ia menempelkan Islam itu pada politik Soeharto yang ia sebut menggunakan Islam untuk politiknya maka jadi rusak semuanya. Padahal, siapapun tahu, bagaimana Soeharto itu tidak doyannya terhadap politik dengan aturan Islam. Sampai-sampai asas organisasi yang bukan politik saja, apa lagi organisasi politik, semuanya dibredel dari Islam. Tak boleh bahkan sangat dilarang untuk menggunakan asas Islam. Wajib menggunakan asas tunggal Pancasila. Itu belum masalah adanya pembantaian terhadap ummat Islam (500-an?) diTanjung Priok Jakarta 1984, (5000-an korban tcwas?) di Aceh selama 10 tahun, di Lampung, di kasus Haur Koneng Jawa Barat dll. (Lihat buku Di Bawah Bayang-bayang Soekarno-Soeharto, Tragedi Politik Islam Indonesia…. Darul Falah Jakarta, 1420H). Lha kok orang yang berkecimpung di bidang politik –dan mengaku sebagai orang dari organisasi Islam lagi– tahu-tahu dengan mudahnya membalik lidah bahwa Soeharto menggunakan Islam untuk berpolitik. Mempecundangi Islam dalam berpolitk, ya. Paling tidak, sangat berupaya mengalahkan orang yang dari politik Islam dengan aneka paksaan dsb. Apakah orang yang ngomong itu tadi belum lahir ketika Soehano bertingkah memepetkan tokoh-tokoh Islam, politik Islam, bahkan ummat Islam secara keseluruhan di Indonesia?

Rupanya, kalau dia (yang ngomong) itu sudah lahir sebelum Orde Baru yang merusak semua-muanya itu, justru ingin bernostalgia, ingin mewujudkan kembali masa Orde Lama yang juga tak kalah merusak Islamnya, yakni mengaku sebagai Muslim namun bergandengan tangan dengan PKI (Komunis) dan Marhaenis/Nasionalis. Sehingga tercipta apa yang disebut Nasakom (Nasional, Agama (NU dkk), dan Komunis -anti Tuhan).

Pengalaman masa lalu yang mengakibatkan pihak agama (NU-dkk) diupayakan untuk dibabat pula oleh Komunis –walhal sudah berkarib-karib dengan aneka slogan– itu ingin diulangi lagi. Terakhir (20/6 1999), seorang kiai Jawa Timur model Nasakom dulu mendoakan mendiang Soekarno, memimpin kirim Al-Fatihah segala. Satu contoh nyata menjual ayat dengan harga murah. Tidak kapok (jera). Dianggapnya musuh Islam itu lebih jinak, lebih lunak, lebih toleran, lebih pantas untuk dijadikan pemimpin dsb. Karena memang masa lalu itu dia anggap bukan pelajaran sama sekali nilainya, bagi orang-orang buta terhadap keadaan.

Hingga, kini pun mereka lebih sreg (merasa pas) kalau memutar balikkan pengalaman yang dianggap sebagai memusuhi. Sebaliknya, lebih percaya kepada musuh-musuh Islam yang mereka anggap tidak pernah memusuhi, karena tak pernah memberikan nasihat yang lurus, dan memang menyembunyikan permusuhannya di depan mereka, karena memang mereka (walau secara formal beragama Islam) tapi sudah dianggap sebarisan dengan yang memusuhi Islam. Paling tidak, adalah barisan yang memusuhi pihak keislaman. Sami mawon (sama saja), artinya. Makanya, dedengkot mereka mengatakan, kalau seorang tokoh (AR) yang tadinya bersama-sama mereka tetapi tarnpaknya kembali kepada keislaman lagi (ungkapan keislaman itu asli dari mulut dedengkot mereka) maka dedengkot itu akan membuat perhitungan kembali. Ini apa artinya, tak lain adalah menolak apapun yang masih ada bau-baunya Islam.

Mengaku pembangun padahal perusak

Itulah pemikiran perusak Islam yang sejati, namun mereka tidak mau kalau disebut sebagai perusak, dan tak mau pula berhenti dari merusak. Kalau diingatkan jangan merusak, maka mereka berbalik bahwa diri mereka bukan merusak, namun membangun. Itu seperti yang ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah dalam rangkatan ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat orang munafik.

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang mmebuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS Al-Baqarah: 10-11).

Di dalam hati mereka ada penyakit, yaitu penyakit merusak Islam, namun mereka tidak mau kalau disebut tidak termasuk barisan Islam, walau lebih sreg berbaris dengan orang yang tidak Islam sambil mengambil jarak kepada barisan Islam. Penyakit itu Allah tambahi. Hingga, mereka sakit hati ketika Islam marak. Islam bersatu padu, Islam bisa bicara untuk menyuarakan agar hukum Islam diterapkan lewat instrumen negara. Sakiit benar hati mereka kalau mendengar perkataan itu. Biarlah Allah menambah sakitnya dengan makin banyaknya orang yang berani mengemukakan pendapat pentingnya penerapan hukum Islam –yang memerlukan penanganan negara– oleh negara.

Mengingkari perilakunya sendiri

Mereka akan lebih tambah sakit hati lagi bila ternyata mengalami nasib serupa dengan masa lalu, sudah berkarib-karib dengan kafirin, musyrikin, dan lan-lain sambil mensinisi Muslim selain golongannya, lalu mereka justru ikut diancam bantai pula oleh kafirin komunis di tahun 1965. Setelah komunis jatuh, lalu tak malu-malu mereka mengumumkan diri bahwa pihaknya lah yang nomor satu mengusulkan agar dibubarkannya PKI. Lha yang gandeng renteng kemarin siapa, kok tahu-tahu mengaku sebagai pengusul pertama untuk dibubarkannya PKI itu? Bukankah sampeyan yang gandeng renteng itu?

Lebih aneh lagi, mereka berebut dengan anaknya. Anaknya yang muda mengatakan: “Saya yang nomor satu usul untuk dibubarkannya PKI!”

Bapaknya lebih kencang lagi teriaknya: “Saya lah yang usul pertama kali untuk dibubarkannya PKI!!”

Rebutan untuk memenangkan nomor satu antara anak dan bapak itu tidak ada selesainya, kemudian masa pun berubah, lalu buru-buru dedengkot bapaknya menyuarakan: Kalau bapakmu ini menang, maka pertama-tama yang akan kita jadikan sekutu adalah Cina yang komunis itu, dan India yang tak henti-hentinya membantai dan memusuhi ummat Islam Kashmir itu. Juga bapakmu ini akan lebih mengintensifkan hubungan yang selama ini telah bapakmu jalin yaitu dengan Israel pembantai ummat Islam Palestina dan perampok negeri Palestina serta perampas Masjid Al-Aqsho, qiblat ummat Islam yang pertama, atau masjid paling utama bagi ummat Islam setelah Masjid Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah. Kalau ada yang berkomentar macam-macam tentang hubunganku dengan Israel, katakanlah wahai anakku, siapa yang bodoh… lha wong kepada Cina dan Rusia yang undang-undang dasar negaranya jelas meniadakan Tuhan saja kita berhubungan, kok kepada Israel yang masih percaya kepada Tuhan (bahkan memepercayai lebih dari satu Tuhan, Uzair pun disebut anak Tuhan) kok kita tidak mengadakan hubungan, ini siapa yang goblok, wahai anakku?

Si Anak pun menyahut: Tanya, Pak. Bapak tadi mengatakan, kalau Bapak menang, maka buru-buru akan mengadakan hubungan dengan Cina Komunis, bahkan bersekutu dengan yang anti Tuhan itu, dan bersekutu dengan India. Ini bukankah dua bangsa manusia yang memusuhi bangsanya sendiri di antaranya selalu menggencet ummat Islam di negeri mereka. Kisah-kisah penderitaan Muslimin Cina dan sekitarnya, dari Turkestan Timur yang telah hapus Musliminnya sampai di Cina sendiri yang kini tinggal terkonsentrasi di wilayah Yunan, Xinjiang dsb itu sangat memilukan ummat Islam. Cina itu adalah negeri Timur yang pertama-tama berkembang Islam di sana. Namun komunis Cina telah membabat itu semua hingga hampir habis sama sekali. Apakah pengalaman semacam itu yang akan Bapak ambil dari mereka? Juga kondisi Muslimin Kashmir yang selama ini India gencet terus, bahkan ketika Bapak ngomong ini, India sedang intensif membomi Muslimin Kashmir, Masjid Babri di India pun dihancurkan ramai-ramai, Desember 1992. Bapak sebagai orang yang memimpin organisasi besar dari kalangan Muslimin tidak pernah bersuara sepatah katapun untuk membela Muslimin yang mereka tindas itu. Tetapi justru “mengancam” untuk bersekutu dengan para penggencet Muslimin itu. Ini sebenarnya Bapak ini mau cari apa?

Dengan wajah mengerut dan memerah, sambil mengacungkan tangannya yang sebenarnya telah lemah namun dikuat-kuatkan. Sang Bapak bersuara keras: Kamu ini pertanyaannya macam-maeam. Apa kamu tidak tahu, di Cina itu orangnya satu miliyar lebih. Mereka itu banyak yang mampu mengelola ini dan itu. Dari tentang administrasi sampai tentang bakso dan bakpao, merekalah ahlinya. Sedang di India, kamu mau tahu? Mereka itu jumlahnya hampir satu miliar orang, sebentar lagi satu miliar. Dan mereka bisa membikin obeng yang murah. Itu kita perlu belajar kepada mereka.

Si anak pun bengong. Walah… walah Bapak…. di jaman teknologi canggih sekarang ini, Bapak seleranya baru sampai pada obeng saja yang murah. Bukan masalah mutu yang Bapak kejar. Apakah Bapak ini tidak salah omong….? Apa gunanya kalau obeng murah itu digunakan sekali saja sudah patah, Pak…? Lebih berharga mana, Pak,  nyawa Muslimin, aqidah Islam yang selalu diupayakan untuk mereka gusur itu, ataukah sekadar obeng murahan?

Sang Bapak pun sewot. Kalau bicara Islam, itu urusanmu. Pokoknya aku akan belajar bikin obeng yang harganya murah. Ini urusanku. Perkara kamu mau memperjuangkan Islam, saya tidak usah kamu ajak untuk cawe-cawe (ikut campur). Saya sudah Islam dari dulu.

Ust. Hartono AJ_8653723482

Si Anak pun klimpungan (salah tingkah). Punya Bapak kok seperti itu. Si Anak merenung. Dia berpikir, kembali ke persoalan awal, Si Anak berebut nomor satu dengan Sang Bapak dalam hal untuk dicatat sejarah sebagai pengusul agar dibubarkannya PKI 1966. Menurut perhitungan Si Anak, seharusnya Sang Bapak tidak pantas untuk mengaku sebagai pengusul pertama. Karena, sejak awal mereka sudah gandeng renteng dengan PKI. Yang pantas itu adalah Si Anak, karena belum berkarib-karib dengan PKI. Kalau seandainya sudah, itu hanya karena ikut-ikutan. Jadi kalau ditimbang-timbang secara dosanya, mungkin lebih banyak Sang Bapak. Dan lebih aneh lagi, perebutan itu pun kemudian buru-buru dicabut lagi ketika komunis mulai ada gejalanya akan bangkit lagi dan ummat Islam mulai bersuara lantang. Lalu sang Bapak buru-buru mencabut usulnya yang untuk menomor satukan dirinya agar diakui sebagai pengusul pertama dibubarkannya PKI itu. Pencabutan itu dengan cara mengancam bahwa kalau Bapak menang maka pertama-tama yang diprogramkan adalah akan bersekutu dengan Cina Komunis.

Si anak pun lebih tak bisa mengerti lagi ketika Sang Bapak justru lebih gawat lagi sikapnya sekarang-sekarang ini. Sama sekali jauh dari perjuangan Islam. Justru yang dikejar adalah hal-hal yang menjauhkan umat ini dari Islam. Bahkan lebih jauh lagi, ingin bersekutu dengan bangsa-bangsa yang telah berhasil menghapus Islam dari negeri mereka secara hampir total, setengah total atau paling tidak. sangat menderitakan ummat Islam di sana-sana.

Ingin menghapus Islam?

Jangan-jangan…. jangan-jangan… Sang Bapak ini diam-diam akan meniru pengalaman bangsa-bangsa yang jumlahnya miliaran orang itu dalam hal menghapus Islam di negeri mereka. Jangan-jangan… sebenarnya alasan yang bapak kemukakan berupa ingin belajar administrasi, belajar membikin obeng murahan dsb itu hanya alasan yang dibikin-bikin untuk menutupi tujuan aslinya yakni belajar tentang kaifiyyaat (cara-cara) dan manhaj (pola, metode, jalan yang mesti ditempuh) untuk menghapus Islam secara sistematis.

Waduh… waduh… Kalau justru sebenarnya yang ini yang menjadi tujuan Sang Bapak, maka benarlah yang pernah kewetu (terlontarkan) dari mulut Sang Bapak sendiri bahwa musuh besar Sang Bapak adalah Islam kanan.

Bagaimana ini ya? Saya punya saudara kandung justru sudah ikut-ikutan manhaj berpikirnya Sang Bapak. Kadang bahkan tanpa reserve alias hantam kromo. Bahkan sampai-sampai saudara kandung saya itu ada yang ramai-ramai memakai kaos ABB (Anak Buah Bapak). Bahkan ketika muktamar untuk mensukseskan terpilihnya Sang Bapak untuk jadi ketua umum organisasi, barisan sekandung saya itu ramai-ramai kliwar-kliwir (mondar-mandir dengan sikap ragu-ragu) dengan pakaian seragam kaos yang dipunggungnya bertulisan Bapak Oke. Mereka di arena Muktamar itu sering mengerumuni Mbah Dukun dari Jawa Tengah yang dianggap wali oleh sebagian besar tetangga-tetangga saya. Barisan sekandung saya itu kliwar-kliwir ke sana-sini di arena itu untuk mengontrol aneka macam. Di kala ada koran-koran Islam yang mengemukakan kritikan-kritikan terhadap Bapak atau beritanya dinilai tidak mendukung Bapak, maka begitu koran itu datang, langsung barisan sekandung saya menyambut setumpuk koran itu dengan mencemplungkannya ke empang. Terendam airlah setumpuk koran itu, hingga tak terbaca lagi oleh hadirin muktamar. Lalu Sang Bapak pun menggemakan istilah baru saat itu bahwa dalam peliputan muktamar itu ada yang Bapak sebut koran Fitnah Pagi (terbit pagi hari) dan koran Fitnah Sore (terbit sore hari). Anehnya, yang di sebut koran fitnah itu ternyata adalah koran Islam semua. Ada tiga koran Islam yang dikategorikan fitnah itu (Republika, Pelita, Harian Terbit).

Alm. Gusdur_8634327842

Si anak yang merenung itu telah ditinggalkan oleh Sang Bapak. Entah ke mana. Si Anak kurang tahu. Namun dugaan Si Anak, biasanya ada janjian dengan Cina di suatu tempat. Kalau sudah begini, janjian dengan yang lain mesti dibatalkan. Bahkan ulama besar seperti almarhum KH Abdullah bin Nuh pun yang sudah sampai di rumah Sang Bapak dan ketemu muka karena sudah ada janji sebelumnya. tetap langsung Bapak tinggalkan berjam-jam. Memang Sang Bapak bisa dikatakan sebagai orang yang hanya semaunya sendiri. Mending kalau kemauannya itu ndalan (wajar, sesuai dengan aturan). Lha ini sudah tidak ndalan, namun tetap ia pertahankan dan dipaksakan kepada anak buah Bapak. Anehnya, para anak buah Bapak itu kok banyak yang fanatiknya bukan main. Sampai bangga segala, bahkan pakai kaos cap ABB {anak buah bapak) segala. Mengherankan memang. Wal hal sebenarnya memuakkan.

Sekali lagi yang terngiang di telinga Si Anak: Jangan-jangan… Sang Bapak kalau menang ingin buru-buru bersekutu dengan mereka yang sudah berpengalaman dalam hal menghancurkan Islam itu memang untuk diterapkan di sini…

Pantas saja sejak awal Sang Bapak berkarib-karib dengan partai yang pernah mengusulkan agar pelajaran agama di sekolah dihapus, mengganjal rancangan undang-undang peradilan agama (RUUPA) dan terbukti pula kini calegnya disinyalir banyak non muslimnya.

Secara langsung atau tidak langsung, “dosa” Sang Bapak di mata ummat Islam adalah andilnya dalam menggedekan partai yang mengganjal aspirasi ummat Islam itu. Sampai-sampai Sang Bapak mencak-mencak ketika mendengar ada barisan ulama yang menasihati Muslimin agar memilih yang menyalurkan aspirasi Islam. Bahkan Sang Bapak mengancam, kalau nanti menang, maka akan merombak barisan penasihat Muslimin yang berani-berani menghalangi klien Sang Bapak yang kerjanya mengganjal aspirasi Islam itu.

Jangan-jangan….   itu   semua  memang  Bapak  sengaja  untuk mempersiapkan dalam menghapus Islam dari negeri ini. Apalagi, terakhir Bapak bicara; “Kita harus mempraktekkan sekulerisme tanpa mengatakan hal itu sebagai sekuler.” (Republika, Selasa 15 Juni 1999 hal. 3).

Kalau tak ada maksud tertentu maka takkan tempua bersarang rendah, kata pepatah. Kalau tak ada maksud tertentu maka apa perlunya Sang Bapak gandrung (sangat ingin) bersekutu dengan negeri-negeri yang berpengalaman menggencet Islam, sedang di dalam negeri juga berangkulan dengan partai yang sejak awal dikenal sebagai pengganjal aspirasi Islam? Nahnu nahkumu biddhowaahir, walloohu ya’lamu bissarooir. Kita menghukumi dengan gejala yang nampak, sedang Allah lah yang mengetahui hal-hal yang rahasia. Secara gejala lahiriyah semuanya sudah tampak. Mau bukti apa lagi? (HartonoAhmad Jaiz)

Sumber:

Majalah Media Dakwah no. 301 edisi Rabiul Awal 1420 H (Juli 1999), hal. 33-37.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 534 kali, 1 untuk hari ini)