Terkait sikap MUI terhadap Syiah, menurut Wakil Sekjend MUI Pusat Syaikh Tengku Zulkarnain sudah sangat jelas.

Pada tahun 1984, pada Munas MUI, diputuskanlah bahwa MUI menolak paham Syiah masuk ke Indonesia.

“Itu keputusan Munas. Keputusan itu di atas ketentuan fatwa,” tegasnya.

Ditambah lagi dengan MUI Jatim yang sudah mengeluarkan fatwa sesatnya Syiah.

“Fatwa MUI daerah itu berlaku untuk seluruh Indonesia selagi kasusnya sama,” tegasnya.

Demikian penjelasan Wakil Sekjend MUI Pusat dalam Multaqa (Pertemuan Akbar) Ulama dan Cendikiawan berlangsung di Bogor, Selasa-Rabu, 28-29 April 2015, dihadiri beberapa ulama. Acara ini diselenggarakan oleh Forum Seruan Al-Haq.

Penolakan MUI terhadap syiah yang keputusan itu kedudukannya lebih tinggi dibanding fatwa sesatnya syiah tersebut semakin penting untuk disosialisasikan, karena kini Indonesia di Ambang Revolusi Syiah. Syiah IranSudah Punya Pengalaman Merevolusi Negara Lain

Ustadz Zulkifli Muhammad Ali, Lc., MA., dari Payakumbuh menjelaskan, Indonesia di ambang revolusi Syiah. “Syiah sudah punya pengalaman merevolusi negara yang sudah mereka masuki,” tegasnya.

 

Menurut Ketua PWNU Jatim Habib Ahmad bin Zein Al-Kaff, untuk mengadu-domba umat Islam, Syiah sering sekali memainkan isu Wahabi. “Wahabi disebut kelompok Takfiri. Padahal, yang pantas disebut kelompok takfiri adalah Syiah. Sebab, merekalah yang mengkafirkan shahabat nabi,” imbuhnya.

 

Karena itu, menurut Habib Zein, para da’i harus menjelaskan kepada umat tentang kesesatan Syiah dan apa itu ahlus sunnah. Ahlus sunnahlah yang mencintai ahlul bait dan shahabat nabi. Sebaliknya, Syiahlah yang mengkafirkan sebagian shahabat Nabi. Selain menyadarkan masyarakat, tugas kita juga melobi aparat. “Orang Syiah sudah masuk ke DPR, ormas Islam, partai, menteri bahkan melobi presiden,” tegasnya.

 

Bagaimana Syiah bisa berkembang di Indonesia? Menurut Wakil Sekjend MUI Pusat Syaikh Tengku Zulkarnain,MA ,Syiah tidak bisa masuk melalui akidah karena masyarakat tidak bisa menerima shahabat Nabi dikafirkan. Mereka juga tidak bisa masuk lewat Syariah karena kita tidak menerima nikah Mut’ah. “Beberapa aliran Syiah masuk melalui tasawuf, tidak melalui akidah dan syariah,” ujarnya.

***

 

Rekomendasi MUI Tentang Syi’ah


Faham Syiah

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut:
Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.
Perbedaan itu di antaranya :
1. Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.
5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).
Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah

Ditetapkan : Jakarta, 7 Maret 1984 M
4 Jumadil Akhir 1404 H
KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua
ttd
Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML
Sekretaris
ttd
H. Musytari Yusuf, LA
Sumber: http://mui.or.id/index.php?option=com_docman&task=search_result&Itemid=73
Fatwa MUI/Bidang Aqidah dan Aliran Keagamaan
http://faisalchoir.blogspot.com/2011/12/fatwa-mui-tentang-syiah.htm

 

(nahimunkar.com)