Kolase foto Brigadir J dan Irjen Ferdy Sambo yang berpelukan dengan Kapolda Metro Jaya

(Foto: ist.)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Polemik kasus tembak-menembak antara polisi yang menewaskan Brigpol Nopryansah Yosua Hutabarat (Brigadir J) turut disoroti oleh akademisi Cross Culture Institute, Ali Syarief.

Adapun, Ali Syarief menyamakan peristiwa penembakan Brigadir J dan peristiwa KM 50 yang menewaskan laskar Front Pembela Islam (FPI).

Akademisi itu menyoroti bahwa peristiwa KM 50 dan pembunuhan Brigadir J adalah potret nyata akhlak polisi yang menyimpang.

Pernyataan itu ia sebutkan lewat akun Twitter pribadinya @alisyarief pada Kamis (21/7/2022).

 “Perisitwa KM50 dan Pembunuhan Birgadir J, adalah potret nyata Ahklaq Polisi yg menyimpang dari Nurture-nya,” ucap Ali Syarief.

Lebih lanjut, Ali Syarif menurutkan bahwa pihak kepolisian harusnya memegang teguh sikap sebagai pengayom masyarakat dan penegak hukum. Sikap itu menurutnya adalah ruh kepolisian.

‘Penegak Hukum dan Pengayom Masyarakat’, sudah tepat. Ia harus menjadi Ruh kerja Kepolisian. Harus dikikis habis watak pembunuhnya,” lanjut Ali Syarief.

Di sisi lain, sebelumnya Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah menonaktifkan Kepala Biro Paminal Divisi Propam Brigjen Hendra Kurniawan serta Kapolres Jaksel Kombes Budhi Herditu.

Keputusan Kapolri sebagai buntut dari kasus kematian Brigadir J di kediaman mantan Kadiv Propam yang lebih dulu diberhentikan, Irjen Ferdy Sambo. Hal itu disampaikan oleh Kadiv Humas Polri  Irjen Dedi Prasetyo

POSKOTA.CO.ID, Kamis, 21 Juli 2022 16:23 WIB