Dari tahun 2004, Keraton Solo Jawa Tengah kisruh berkepanjangan hingga kini. Beitu Pakubuwono XII mangkat pada 11 Juni 2004, sejak itu muncullah dua raja. Kubu pertama di bawah Pakubuwono XIII Hangabehi yang berkedudukan di Keraton Kasunanan Surakarta. Sedangkan kubu ke dua dipimpin Pakubuwono XIII Tedjowulan dengan basis di Kota Barat, Solo.

Sejak 2004 itu, Pakubuwono XIII Hangabehi dan Pakubuwono XIII Tedjowulan saling klaim.

Terakhir, putri raja pun terusir, sedang pembantunya diusir paksa kemarin.

Inilah beritanya.

***

‘Terusir’, Putri Raja pun tak Lagi Tinggal di Keputren

Rep: Adrian Saputra/ Red: Agus Yulianto

Antara/Keraton Surakarta

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO — Sejak beberapa bulan terakhir Putri Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Timoer Rumbai, tak lagi tinggal di keputren. Kompleks perumahan yang diperuntukan bagi putri-putri raja itu, kini tak berpenghuni.

“Sejak gegeran (ribut) keraton itu saya tak bisa lagi masuk ke Keputren, padahal ituhak saya, saya putri raja,” tutur Timoer pada Rabu (19/10) sore.

Timoer mengatakan, dirinya sulit mengakses Keputren lantaran pintu gerbang masuk selalu digembok dan mendapat penjagaan. Menurut keterangan penjaga pintu Kaputren yang pernah ditemuinya, penggembokan pintu kaputren atas perintah ayahnya yakni Pakubuwana XIII.

Ia pun kemudian meminta abdi pribadinya untuk masuk dan tinggal di kaputren. Tujuannya, untuk menjaga barang-barang pribadinya serta membersihkan lingkungan kaputren.

“Kaputren sudah tidak ada kegiatan, tak ada lagi ritual tiap Senin-Kamis di sana, pintunya selalu dikunci, saya tak boleh masuk,” tuturnya.

Puncaknya, Rabu (19/10) sore, abdi pribadi Gusti Timoer diusir paksa oleh sejumlah orang yang diketahuinya merupakan orang suruhan pamannya yakni Gusti PangeranHaryo Benowo. Orang-orang tersebut merangsak masuk ke dalam keputren dan mengusir abdi pribadi putri raja keraton.

Gusti Timoer pun kecewa dengan haltersebut. “Saya juga tak tahu mengapa mereka seperti itu, saya ini masih anakraja, dan saya masih (pejabat) bebadan Keraton karena belum mendapat suratketerangan pemberhentian,” tuturnya.

Saat ini, dia dan abdi pribadinya itu menetap di kediaman GKR Wandasari Koes Moertiyah yang juga merupakan adik raja keraton Solo. Sementara itu Gusti Benowo hingga saat ini belum dapat dikonfirmasi terkait pengosongan Keputren.

Kamis , 19 October 2017, 09:08 WIB

***

Gonjang-ganjing Keraton Solo

Posted on 1 September 2013 – by Nahimunkar.com

Prahara ini terjadi sejak 9 tahun lalu. Sejak Pakubuwono XII mangkat pada 11 Juni 2004. Sejak itu, muncullah dua raja. Kubu pertama di bawah Pakubuwono XIII Hangabehi yang berkedudukan di Keraton Kasunanan Surakarta. Sedangkan kubu ke dua dipimpin Pakubuwono XIII Tedjowulan dengan basis di Kota Barat, Solo.

Sejak 2004 itu, Pakubuwono XIII Hangabehi dan Pakubuwono XIII Tedjowulan saling klaim.

Prajurit Keraton yang pro Dewan adat sempat mengambil senjata tajam perlengkapannya setelah terdesak oleh massa pendukung PB XIII Hangabei saat bersitengang di depan kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (26/8/2013). (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)

Kyai Slamet kerbau Keraton Solo

Bagaimanapun gerahnya kekisruhan dua kubu Keraton Solo tidak akan menjadikan kerbau yang dikeramatkan dengan adat kemusyrikan, dijuluki dengan kyai slamet, akan mampu menyelamatkan mereka. Tidak akan.

Yang kisruh ya tegang dengan kekisruhannya, sedang sang kerbau yang dikeramatkan hanya menambah deretan batilnya keyakinan, bahkan dosa terbesar yakni kemusyrikan.

Hendaknya manusia menyadari, kembali kepada ajaran Allah Ta’ala yang telah dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taati.

Selayaknya mereka berdamai, bertaubat dari segala kesalahan apalagi kemusyrikan, dan tunduk taat kepada aturan Allah Ta’ala. Insya Allah baik.

(nahimunkar.com)