densus88_8234725348

Ilustrasi: indonesiarayanews.com

  • Perang melawan terorisme di Indonesia berdiri diatas paradigma (ideologi) yang tendensius terhadap Islam dan umatnya. Para pengemban kontra-terorisme berdiri diatas mindset yang sentiment terhadap Islam ideologis dan pengusungnya. Karenanya orentasi perang melawan terorisme kehilangan arah dan tidak murni sebuah perang melawan terorisme. Namun mindset ini terus berusaha dipertahankan oleh pihak-pihak yang phobi Islam.
  • Persoalan intinya, terorisme adalah hanya propaganda dan “bayang-bayang” spiral kekerasan akibat dari treatment Densus 88 dilapangan yang kurang professional. Selama ini tidak ada mekanisme yang bisa kontrol langkah Densus88, bahkan Kompolnas juga mandul terhadap Densus 88.
  • Indonesia sudah terlalu dalam terjebak dalam proyek global melawan terorisme ala Amerika Serikat dan sekutunya. Dan politikus di Senayan juga mengakomodir dalam wujud lahirnya beragam undang-undang yang menjaga kontinuitas kepentingan politik global Amerika Serikat (dari UU Terorisme sampai yang terakhir UU terkait pendanaan Terorisme). Penguasa berdiri di satu sisi dan rakyat (umat Islam) berdiri disisi yang lain.
  • Persoalannya bukan sekedar menuntut seorang Kapolri untuk bubarkan Densus88, atau bahkan menuntut oknum-oknum jendral Polri yang tangannya berdarah-darah dalam kasus terorisme ini (seperti Goris Mere, Suryadarma, Petrus Golose, Ansyad Mbai etc). Tapi juga menuntut sikap adil seorang Presiden RI, apakah ia akan bijak mengapresiasi keresahan umat Islam atau sebaliknya; makin loyal kepada kepentingan asing hanya karena imbalan kemaslahatan dunia tapi melupakan besarnya tanggungjawab kelak di akhirat.

Inilah sorotannya

***

Bubarnya Densus 88, Logis?

Harus di akui bukan persoalan mudah untuk menghadirkan data pembanding sebagai langkah advokasi atas kedzaliman Densus 88 dihadapan pihak-pihak terkait. Kenapa demikian, satu contoh saja kita bisa berangkat dari kasus terbunuhnya Abu Uswah (Asmar) dan Kholil  (Kholid) di teras masjid Nurul Afiyah komplek RS Wahidin Makassar-Sulsel (Jumat, 4 Januari 2013) lalu. Banyak bukti dan kesaksian yang mengendap, dua orang terbunuh tanpa ada perlawanan. Kejadian cukup singkat, aparat Densus 88 begitu selesai eksekusi dua orang kemudian segera membersihkan jejak tindakan mereka. Darah yang menggenang di teras segara di siram bersih tanpa jejak, seluruh selongsong peluru disekitar kejadian di pungut bersih termasuk proyektil yang tidak bersarang di tubuh korban .Semua jejak berusaha dihilangkan. Namun di hadapan publik pihak Humas Polri menyampaikan secara sepihak tentang sebab tewasnya dua orang tersebut, dengan cerita mereka melawan dan membahayakan bahkan di TKP ditemukan barang bukti berupa senjata (senpi).Keterangan ini diaminkan oleh media tanpa ada informasi pembanding yang di gali secara obyektif. Semua pernyataan aparat tidak pernah bisa di konfirmasi kebenarannya, kebenaran yang tersimpan di balik mulut-mulut saksi mata yang terkunci karena rasa takut tidak pernah di gali dan terungkap kepublik.Dan pihak Densus 88 juga tidak pernah melakukan rekonstruksi ulang atas apa yang mereka lakukan. Densus 88 melakukan apa yang mereka inginkan dan kemudian membuat cerita (dramatisasi) yang bisa membenarkan tindakan tersebut. Inilah salah satu contohnya, dan masih banyak realitas serupa dalam kasus ekstra judicial killing oleh Densus 88 atas terduga “teroris”.

Maka tereksposnya video menjadi konfirmasi kebenaran cerita tindakan luar biasa biadabnya yang dilakukan oleh aparat.Dan sekali lagi ini menjadi starting point bagi semua pihak yang terkait untuk berani evaluasi kinerja Densus 88 selama ini.Dan ini sangat logis, tidak perlu menunggu sampai satu demi satu kedzaliman ini terpampang dihadapan publik secara telanjang.Sekecil apapun kedzaliman adalah kedzaliman yang harus disikapi sebagaimana mestinya. Bukan berusaha ditutupi dan dibela dengan berbagai cara dan upaya. Apakah jika evaluasi dilakukan itu bisa berujung kepada pembubaran Densus88? Kita harus obyektif juga, ada faktor kendala yang perlu di pahami.

Beberapa faktor atau kendala tersebut, pertama;kendala ideologis, artinya perang melawan terorisme di Indonesia berdiri diatas paradigma (ideologi) yang tendensius terhadap Islam dan umatnya. Para pengemban kontra-terorisme berdiri diatas mindset yang sentiment terhadap Islam ideologis dan pengusungnya. Karenanya orentasi perang melawan terorisme kehilangan arah dan tidak murni sebuah perang melawan terorisme. Namun mindset ini terus berusaha dipertahankan oleh pihak-pihak yang phobi Islam. Kedua; kendala institusional, artinya seolah-olah jika tidak ada Densus88 maka Indonesia tidak mampu menghadapi terorisme. Ini terkesan klise, tanpa memahami akar masalah dan konteks lahirnya “terorisme”. Polri masih punya Brimob dengan unit Gegananya, Densus 88 bisa saja kalau perlu dilikuidasi dan di masukkan dalam unit-unit regular Polri yang sudah ada. Bisa masuk di Brimob, serse, reskrim atau lainya. Di awal kehadiranhya wajar untuk di apresiasi karena dianggap berhasil tuntaskan kasus bom Bali dan JW Mariot, tapi kedepannya kehadirannya tidak lagi relevan. Karena persoalan intinya, terorisme adalah hanya propaganda dan “bayang-bayang” spiral kekerasan akibat dari treatment Densus 88 dilapangan yang kurang professional. Selama ini tidak ada mekanisme yang bisa kontrol langkah Densus88, bahkan Kompolnas juga mandul terhadap Densus 88.

Ketiga; kendala politik dan regulasi, artinya Indonesia sudah terlalu dalam terjebak dalam proyek global melawan terorisme ala Amerika Serikat dan sekutunya. Indonesia sudah meratifikasi banyak resolusi PBB dan politikus di Senayan juga mengakomodir dalam wujud lahirnya beragam undang-undang yang menjaga kontinuitas kepentingan politik global Amerika Serikat (dari UU Terorisme sampai yang terakhir UU terkait pendanaan Terorisme). Bahkan pemerintah Indonesia melembagakan proyek kontra-terorisme ini dengan dibentuk BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Hibah dana dan peralatan serta kapasitas building bagi aparat Densus 88 dan BNPT diberikan oleh negara-negara Barat. Pusat pelatihan juga di resmikan (seperti yang di belakang Akpol Semarang). Tentu ini menjadi persoalan yang tidak mudah kecuali top leader dari negara ini punya sikap politik yang independen dan bersanding dengan kepentingan  rakyatnya. Realitanya, penguasa berdiri di satu sisi dan rakyat (umat Islam) berdiri disisi yang lain.

Keempat; kendala sosiologis, ini terkait munculnya polarisasi ditengah umat Islam. Terminologi Islam moderat-Islam fundamentalis, Islam liberal-Islam radikal sebagai contoh tolak ukur lahirnya polarisasi. Sejatinya kondisi sosiologis umat Islam seperti itu juga karena ada kontribusi desain para pengemban kontra-terorisme yang hendak menciptakan musuh bersama terhadap kelompok Islam yang di cap radikal-fundamentalis. Karena paradigmanya, ideologi radikal dan kelompok pengusungnya adalah hulu dari terorisme.Tentu ini masalah tersendiri, seperti halnya hari ini ada sebagian tokoh umat yang membeo membela mati-matian kerja BNPT (karena sebab imbalan maslahat), dan ada sebagian tokoh umat yang masih hanif (bersih) malakukan muhasabah (koreksi) atas tiap kedzaliman dan ketidak adilan yang menimpa umat Islam.

Oleh karena itu, pola-pola advokasi yang harus dilakukan oleh element umat Islam harus terukur dan stretegis sesuai dengan posisi dan kapasitas masing-masing. Namun yang paling penting dalam realitas politik segalanya serba mungkin terjadi, berapa dan apapun faktor kendalanya. Sebuah lidi tidak akan memiliki kekuatan berarti, tapi segenggam lidi yang terikat akan jauh lebih kuat. Artinya jalinan komunikasi dan kordinasi serta menyamakan sebuah visi dengan beragam teknik harus dilakukan.

Karena “kebenaran yang tidak terorganisir akan kalah oleh kebatilan yang terorganisir”. Sementara menggugat keberadaan Densus 88 itu berarti menggungat dominasi dan hegemoni politik negara teroris Amerika atas Indonesia dengan bendera Global War on Terrorism (GWOT).

Bukan sekedar persoalan regulasi yang jadi payung Densus88 dan BNPT, juga bukan sekedar menggugat dan menasehati politisi senayan yang mengaminkan kepentingan Asing dengan cara mengakomodir dalam tiap produk Undang-undang.

Dan bukan sekedar menuntut seorang Kapolri untuk bubarkan Densus88, atau bahkan menuntut oknum-oknum jendral Polri yang tangannya berdarah-darah dalam kasus terorisme ini (seperti Goris Mere, Suryadarma, Petrus Golose, Ansyad Mbai etc).Tapi juga menuntut sikap adil seorang Presiden RI, apakah ia akan bijak mengapresiasi keresahan umat Islam atau sebaliknya; makin loyal kepada kepentingan asing hanya karena imbalan kemaslahatan dunia tapi melupakan besarnya tanggungjawab kelak di akhirat.

Diluar itu semua, kedepan kita akan melihat dan menunggu apa yang dihasilkan dari investigasi Komnas HAM atas pelanggaran HAM serius yang dilakukan aparat Densus 88. Dan waktu akan menjawab benarkah keadilan akan berpihak kepada Islam dan umatnya, atau akankah umat ini dibuat frustasi yang akhirnya mengambil jalan pintas sendiri-sendiri untuk menuntut keadilan yang menjadi haknya. Wallahu a’lam bisshowab[] (dikutip bagia bawah dari artikel Dampak Video dan Pembubaran Densus 88, Logis? Oleh : Harits Abu Ulya Oleh : Harits Abu Ulya Pemerhati Kontra-Terorisme & Direktur CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst) di situs arrahmah.com, Rabu, 23 Rabiul Akhir 1434 H / 6 Maret 2013 14:34).

***

Ancaman terhadap mereka yang dhalim dan keselamatan bagi orang yang iman lagi bertaqwa.

{ وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (50) فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ (51) فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (52) وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ } [النمل: 50 – 53]

50. Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.

51. Maka perhatikanlah betapa Sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.

52. Maka Itulah rumah-rumah mereka dalam Keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.

53. Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman[1100] dan mereka itu selalu bertakwa. (QS An-Naml/27: 50-53)

[1100] Yaitu Shaleh a.s. dan orang-orang yang beriman kepada Allah yang bersama dengan Dia.

Laknat Allah untuk mereka yang menyulitkan Ummat Islam

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

***

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim. ( HR. An-Nasa-i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul Maraam fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS An-Nisaa’/4: 93)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 572 kali, 1 untuk hari ini)