Kesaksian Eks Tahanan: Wanita Muslimah Uighur Diperkosa Secara Sistemik di Kamp Xinjiang

Aljaizy

https://www.facebook.com/hartonoahmadjaizy

 


Tursunay Ziawudun menceritakan pengalamannya selama berada di kamp penahanan di Xinjiang. (Foto: BBC)

SEORANG mantan penghuni kamp penahanan Uighur China mengungkapkan praktik perkosaan sistematis di dalam tempat tersebut. Dia mengatakan bahwa para wanita di kamp mengalami penyiksaan pemerkosaan, dan pelecehan seksual.

Tursunay Ziawudun menghabiskan sembilan bulan di dalam sistem kamp penahanan China di wilayah Xinjiang. Menurut perkiraan independen, lebih dari satu juta pria dan wanita telah ditahan di jaringan kamp yang luas, yang menurut China didirikan untuk “pendidikan ulang” orang Uighur dan minoritas lainnya.

BACA JUGA: Mantan Penghuni Kamp Xinjiang: Muslim Uighur Dipaksa Makan Daging Babi Setiap Jumat

Dia mengungkapkan praktik perkosaan, pelecehan, dan penyiksaan sistematis terhadap para wanita di kamp tersebut. Dia mengatakan bahwa setiap malam para wanita dikeluarkan dari sel tahanan mereka dan diperkosa oleh satu atau lebih pria China yang mengenakan masker.

Dia mengatakan dia disiksa dan kemudian diperkosa beramai-ramai sebanyak tiga kali, setiap kali oleh dua atau tiga pria.

“Mungkin ini bekas luka yang paling tak terlupakan bagi saya selamanya,” katanya kepada BBC.

“Saya bahkan tidak ingin kata-kata ini keluar dari mulut saya.”

Ziawudun yang melarikan diri dari Xinjiang setelah dibebaskan dari kamp tersebut saat ini tinggal di Kazakhstan. Dia mengatakan bahwa dia selalu ketakutan akan dikirim kembali ke China, yang kemungkinan akan membuatnya dihukum lebih berat setelah menceritakan pengalamannya.

“Mereka tidak hanya memperkosa tetapi juga menggigit seluruh tubuh Anda, Anda tidak tahu apakah mereka manusia atau hewan,” katanya sambil mengusap air matanya.

BACA JUGA: AS Sanksi 3 Pejabat Partai Komunis China Terkait Pelanggaran HAM di Xinjiang

“Mereka tidak meninggalkan bagian tubuh mana pun, mereka menggigit di mana-mana meninggalkan bekas yang mengerikan. Menjijikkan untuk dilihat.

“Aku sudah mengalaminya tiga kali. Dan bukan hanya satu orang yang menyiksa Anda, bukan hanya satu predator. Setiap kali mereka adalah dua atau tiga orang.”

BBC mengatakan bahwa pihaknya tidak mungkin memverifikasi keterangan Ziawudun sepenuhnya karena pembatasan ketat yang diberlakukan China pada wartawan. Tetapi dokumen perjalanan dan catatan imigrasi yang dia berikan kepada BBC cocok dengan garis waktu ceritanya.

Seorang wanita etnis Kazakh dari Xinjiang yang ditahan selama 18 bulan di sistem kamp tersebut mengatakan bahwa dia dipaksa menelanjangi wanita Uighur dan memborgol mereka, sebelum meninggalkan mereka sendirian dengan pria China.

“Orang-orang China akan membayar uang untuk memilih narapidana muda tercantik,” kata Gulzira Auelkhan.

“Mereka memaksa saya melepas pakaian wanita itu dan menahan tangan mereka dan meninggalkan ruangan,” katanya.

Seorang mantan penjaga di salah satu kamp, yang berbicara tanpa menyebut nama, menggambarkan penyiksaan dan tindakan pengurangan makanan bagi para narapidana.

Laporan tentang perkosaan sistemik di kamp penahanan di Xinjiang tersebut telah mendapat reaksi keras dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris.

“Kekejaman ini mengejutkan hati nurani dan harus dihadapi dengan konsekuensi serius,” kata seorang juru bicara departemen luar negeri AS pada Kamis (4/2/2021).

Sementara menteri Inggris Nigel Adams mengatakan bahwa laporan tersebut menunjukkan ” tindakan jahat yang jelas”.

BACA JUGA: ICC Tolak Selidiki China Terkait Pengaduan Genosida Uighur

Kementerian luar negeri China membantah tuduhan tersebut, menuduh BBC membuat “laporan palsu”.

“Tidak ada serangan dan pelecehan seksual sistemik terhadap wanita” dan China mengoperasikan semua fasilitasnya sesuai pedoman tentang hak asasi manusia,” kata Juru bicara Kemlu China Wang Wenbin.

“China adalah negara (diatur) oleh hukum, konstitusi kami menjamin dan melindungi hak asasi manusia, dan itu diwujudkan dalam sistem hukum kami di mana pemerintah bekerja,” katanya.

China dituduh menahan jutaan warga Uighur dan minoritas lainnya di kamp-kamp “pendidikan ulang” di Xinjiang. Sejumlah laporan menyebutkan telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia terhadap para tahanan di kamp-kamp tersebut.

Pada Desember, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menolak permohonan dari Uighur di pengasingan untuk menyelidiki China atas tuduhan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. ICC mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat bertindak karena China berada di luar yurisdiksinya.

(dka)

news.okezone.com, Rahman Asmardika, Okezone · Jum’at 05 Februari 2021 14:16 WIB

(nahimunkar.org)

(Dibaca 337 kali, 1 untuk hari ini)