Kesan-kesan Seputar Gerhana

Ilustrasi. Shalat Khusuf di Bawah Gerhana Bulan Total di Langit Mekah. Shalat gerhana dimulai pukul 22.00 malam waktu setempat, Jumat (27/7/2018). Shalat dipimpin langsung oleh imam Masjidil Haram. Shalat gerhana dua rakaat ini berlangsung selama 1 jam 18 menit dilanjut khutbah./ Fajar Pratama – detikNews

Sabtu, 28 Jul 2018 06:10 WIB. (Foto: Media Center Haji 2018)

Begitu akan terjadi gerhana, rasanya ada sedikit penyesalan di dada. Kenapa ketika terjadi gerhana matahari 26 Desember 2019, kami dengan istri dan satu anak yang sedang berada di hotel depan Masjidil Haram tidak bisa ikut shalat gerhana di Masjidil Haram tempat suci Makkah itu.

Rasa ada penyesalan tersendiri. Apalagi anak saya sebagai pembimbing jamaah Umrah dari Jakarta itu mengaku, sebenarnya sudah berupaya dengan bilang ke Ustadz pembimbing yang dari Madinah bahwa di saat gerhana matahari pagi itu perlu kita ikut shalat gerhana. Namun dijawab bahwa programnya sudah ditentukan. (kalau ga’ salah) saat itu mau berangkat ke Masjid Quba’ dan seterusnya. Kami pun dengan jelas mendengar dari takbir shalat gerhana sampai awal khutbahnya ketika persiapan mau ke bus untuk jalan itu. Karena hotelnya memang di depan Masjidil Haram.

Jauh sebelum peristiwa tersebut, pernah terkesan pula dan cukup gembira ketika shalat gerhana matahari di Masjid Istiqlal Jakarta 11 Juni 1983.

Kenapa?

Pertama, ‘provokasi’ yang kami sampaikan lewat media Islam, koran Pelita di Jakarta yang tingkatnya nasional tampaknya cukup berhasil. Hingga jamaah shalat gerhana di Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu penuh jamaah sahalat gerhana, bagai shalat jum’at.

Kedua, walau kami hanya kebagian di bagian shaf agak belakang, namun tetap gembira, karena kami tidak mampu mengejar waktu dari awal, lantaran harus mengikuti/ meliput kedatangan tamu penting dari Afghanistan di MUI yang berkantor di lingkungan Masjid Istiqlal itu. Saat itu MUI dipimpin KH Syukri Ghazali. Pertemuan pun agak dipercepat, karena semuanya segera bertandang ikut shalat gerhana. Gaung shalat gerhana saat itu bagaikan shalat idul Fitri, karena media2 cukup gencar menda’wahkan sebelumnya. (lihat: Shalat Gerhana Matahari 1983 bagai Jum’atan di Masjid Istiqlal Jakarta dan Ada Tamu dari Afghanistan, Posted on 25 Mei 2021 by Nahimunkar.org)

Di balik yang menggembirakan itu, di lain waktu, sebagai pemburu berita yang bertugas di koran Islam tingkat nasional (yang saat itu surat kabar cukup berpengaruh ke masyarakat, belum datang era internet dan medsos), pernah kecewa sekali/ sangat kecewa. Begitu akan ada gerhana, dan media2 tampaknya lagi sibuk soal berita tertentu yang lagi hangat, kami menelepon seorang tokoh yang memimpin lajnah falakiyah di ormas besar yang suka tahlilan. Eh, sang tokoh itu malah ga’ ngeh, dan kaget ketika saya akan wawancara lewat telepon soal akan adanya gerhana, sekligus bagaimana tatacara shalat dan khutbah gerhana. Kekecewaan saya ini mungkin lebih dibanding seorang Kyai besar dari Kudus punya pesantren pusat menghafal Al-Qur’an ketika berkunjung ke kantor pusat Ormas besar itu, di saat mau shalat zuhur dia thingak-thinguk toleh2 kanan kiri ga’ ada orang berdatangan di mushalla kecil kantor pusat itu. Bahkan dia lihat di depan mushalla kecil itu ada sangkar2 yang di dalamnya ada burung2nya. Begitulah kondisinya, saya lihat thingak-thinguknya seorang kyai besar saat itu, ketika kantor tersebut belum dibangun/ belum direnovasi, karena dibangun jadi gedung megah baru ketika petinggi Ormas itu jadi wong gedean di negeri ini tahun 2000.

Lhah, kesan soal gerhana kok ke mana2?

Ya, ga’ apa-apalah. Kan kaitannya dengan shalat2 juga.

Ada yang terkesan pula hingga kini. Waktu hadir di pengajian Ustadz Abul Hakim Abdat, ngaji Kitab Shahih Bukhari dengan Syarahnya (Fathu Bari) di Jakarta, 24 oktober 1995, beliau mengimami shalat gerhana dan berkhutbah. Makmumnya semasjid penuh, karena memang pengajian beliau ini banyak dihadiri para penuntut ilmu, terutama anak-anak muda. Ruku’nya lama, sujudnya lama, bacaan surat2nya panjang. Rupanya ilmu dari hadits yang diajarakan itupun diterapkan. Ini haditsnya.

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْأُولَى ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mendirikan shalat bersama orang banyak. Beliau berdiri dalam shalatnya dengan memanjangkan lama berdirinya, kemudian ruku’ dengan memanjangkan ruku’nya, kemudian berdiri dengan memanjangkan lama berdirinya, namun tidak selama yang pertama. Kemudian beliau ruku’ dan memanjangkan lama ruku’nya, namun tidak selama rukuknya yang pertama. Kemudian beliau sujud dengan memanjangkan lama sujudnya, beliau kemudian mengerjakan rakaat kedua seperti apa yang beliau kerjakan pada rakaat yang pertama. Saat beliau selesai melaksanakan shalat, matahari telah nampak kembali. Kemudian beliau menyampaikan khutbah kepada orang banyak, beliau memulai khutbahnya dengan memuji Allah dan mengangungkan-Nya, lalu bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak terjadi gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka banyaklah berdoa kepada Allah, bertakbirlah, dirikan shalat dan bersedekahlah.” Kemudian beliau meneruskan sabdanya: “Wahai ummat Muhammad! Demi Allah, tidak ada yang melebihi kecemburuan Allah kecuali saat Dia melihat hamba laki-laki atau hamba perempuan-Nya berzina. Wahai ummat Muhammad! Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.” (HR. Al-Bukhari no. 1044 dan Muslim no. 1499)

Kesan yang lain lagi, malam-malam agak jauh dari isya’ telah diberitakan akan terjadi gerhana bulan. Saya masih di kantor, karena memang ngantornya pemburu berita saat itu sampai malam. Lantas meluncur ke Masjid Al-Furqon Dewan Dakwah di Jakarta. Jamaah masih ada, hanya saja, perlu diketahui, masjid Dewan Dakwah itu di Jakarta Pusat yang dekat perkantoran dan sebagainya. Jadi orang2 yang tadinya ada di sekitarnya tentunya sudah pulang. Tapi ternyata masih banyak juga orang yang akan shalat gerhana. Eh, pemimpin Majalah Sabili, Zainal Muttaqin dan beberapa orang lainnya malah meminta saya untuk mengimami dan berkhutbah gerhana. Ya dilaksanakan lah. Alhamdulillah. Bisa menyampaikan hal2 yang kurang sesuai dengan Islam. Misalnya, di Jawa dulu kalau ada gerhana, maka masyarakat memukul kentongan, bedug dan sebagainya. Hewan2 dan wanita2 yang hamil dibangunkan dngan perkataan: bangun2 ada gerhana… (perkaaan itu konon mengandung maksud agar nanti anak bayinya tidak lahir cacat). Semua itu tidak benar menurut Islam. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِىَ

Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdo’alah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir).” (HR. Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 904).

Di lain waktu, kesan soal gerhana ada yang rasanya begaimana gitu. Soalnya, shalat gerhana itu kan baca suratnya panjang2, ruku’nya panjang2, sujudnya lama2. Tapi di antara jamaahnya ada mertua anak saya alias besan saya yang sudah agak sulit berdiri lama. Tapi ya tidak apa-apa. Karena beliau bawa kursi, jadi shalat dengan duduk di kursi. Sehingga perasaan tidak enak kalau dilaksanakan dengan lama2 itu pun sirna. Maka kami yang diminta jadi imam dan khatib gerhana malam itu ya melaksanakan tanpa ragu2, dengan waktu panjang atau lama. Ternyata beliau yang sudah tua itu baik2 saja, bahkan masih tampak sumringah. Mungkin juga terkesan hingga kini shalat gerhana yang dimami dan dikhutbahi oleh besannya itu.

Semoga Allah karunia keberkahan atas amal2 ibadah kita dan amal2 shalih lainnya. Maka jangan sia2kan kesempatan untuk beribadah dan beramal shalih. Di antaranya saat ada gerhana. Ketika terlewat, ternyata nyesal juga. contohnya yang kami alami, sedang di depan Masjidil Haram Makkah waktu ada shalat gerhana, tapi tidak bisa ikut itu tadi. Semoga Allah ganti kesempatan yang lebih baik lebih mashlahat, dan lebih terkesan lagi. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin.

Jakarta, 14 Syawal 1442H/ 25 Mei 2021, saat dikhabarkan akan gerhana bulan 15 Syawal esok.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)


(Dibaca 113 kali, 1 untuk hari ini)