Ahmad Surkati/ foto ahmadsurkati.com, wafat Kamis, 6 September 1943, jam 10.00 pagi, di kediaman dia Jalan Gang Solan (sekarang Jl. KH. Hasyim Asy’ari no. 25) Jakarta


(Membincang Islam Liberal, Pluralisme Agama, Islam Nusantara, dan Syiah)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Ahmad Surkati/ foto ahmadsurkati.com, wafat Kamis, 6 September 1943, jam 10.00 pagi, di kediaman dia Jalan Gang Solan (sekarang Jl. KH. Hasyim Asy’ari no. 25) Jakarta

Kyai Haji Ahmad Dahlan

 Ahmad-Dahlan0001
Lahir 1 Agustus 1868
Yogyakarta
Meninggal 23 Februari 1923
Yogyakarta/ foto id.wikipedia.org

Kyai Haji Imam Zarkasyi

Kyai Haji Imam Zarkasyi, Pendiri Pesantren Gontor. wafat 30 April 1985

Pembicaraan tentang bagaimana Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah awal mula ketemu dengan Ahmad Surkati,  tiba-tiba muncul dalam obrolan ketika para pemuda yang jadi panitia pengajian di Surabaya mengajak saya makan malam saat saya baru tiba dari Jakarta, malam Ahad awal November 2015.

Mereka menceritakan, zaman dulu, dalam perjalanan kereta ada seorang (Ahmad Dahlan) bukan keturunan Arab tetapi membaca kitab Tafsir Al-Manar-nya Rasyid Ridha berbahasa Arab utuh. Lalu didekati oleh Syekh Ahmad Surkati, dia diajak ngobrol pakai bahasa Arab, ternyata mampu dengan baik. Nah, dari situlah Ahmad Dahlan diharapkan, hendaknya membentuk badan dakwah untuk memperjuangkan Islam di negeri ini. Yang bukan asli pribumi, Ahmad Surkati, mengaku sudah punya wadah bernama Jami’at Khair (beridri 1905), maka hendaknya yang asli pribumi (Ahmad Dahlan) mengadakannya. Dari situ kemudian Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912.

Dalam sejarahnya menurut id.wikipedia.org (dalam judul Al-Irsyad, dapat dilihat bahwa kedatangan Syekh Surkati ini atas undangan Jami’at Khair).

Disebutkan,  Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad adalah Al-‘Alamah Syeikh Ahmad Bin Muhammad Assoorkaty Al-Anshary, seorang ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan. Pada mulanya Syekh Surkati datang ke Indonesia atas permintaan perkumpulan Jami’at Khair -yang mayoritas anggota pengurusnya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan Arab golongan sayyid, dan berdiri pada 1905.

Syekh Ahmad Surkati tiba di Indonesia bersama dua kawannya: Syeikh Muhammad Tayyib al-Maghribi dan Syeikh Muhammad bin Abdulhamid al-Sudani. Di negeri barunya ini, Syeikh Ahmad menyebarkan ide-ide baru dalam lingkungan masyarakat Islam Indonesia. Syeikh Ahmad Surkati diangkat sebagai Penilik sekolah-sekolah yang dibuka Jami’at Khair di Jakarta dan Bogor.

Berkat kepemimpinan dan bimbingannya, dalam waktu satu tahun sekolah-sekolah tersebut maju pesat. Namun Syekh Ahmad Surkati hanya bertahan tiga tahun di Jami’at Kheir, karena perbedaan faham yang cukup prinsipil dengan para penguasa Jami’at Kheir, yang umumnya keturunan Arab sayyid (alawiyin).

Sekalipun Jami’at Kheir tergolong organisasi yang memiliki cara dan fasilitas modern, namun pandangan keagamaannya, khususnya yang menyangkut persamaan derajat, belum terserap baik. Ini nampak setelah para pemuka Jami’at Kheir dengan kerasnya menentang fatwa Syekh Ahmad Surkati tentang kafaah (persamaan derajat). Karena tak disukai lagi, Syekh Ahmad memutuskan mundur dari Jami’at Kheir, pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Dan dihari itu juga Syekh Ahmad bersama beberapa sahabatnya dari golongan non-Alawi mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, serta organisasi untuk menaunginya: Jam’iyat al-Islah wal-Irsyad al-Arabiyah dan mendapat pengakuan hukum dari Gouvernuer-General Hindia Nederland No 47  pada 11 Agustus 1915. https://id.wikipedia.org/wiki/

Kembali ke para pemuda pantia pengajian di Surabaya, memang mereka ini adalah “anak-anak” Al-Irsyad. Ketua panitia yang masih bujang adalah cucu dari Ustadz Ali bin Mahfudh sekretaris Syekh Ahmad Surkati yang kini masih hidup umur 99 tahunan. Masih sehat dan mampu berkomunikasi dengan cukup baik, bahkan punya aneka macam arsip serta saksi sejarah, ungkap mereka. Maka saya langsung minta agar besok siang bisa ketemu beliau.

Pemuda lainnya, yang di depan saya, mengenalkan diri, sebagai cucu Ustadz Umar Hubeis. Bahkan kemudian saya diberi buku Ulama Al-Irsyad itu terbitan (ulang) berjudul “Fatawa Ustadz Umar Hubeis”, murid Syekh Surkati. Maka saya katakan, saya di Solo dulu belajar memakai buku Bahasa Arab karangan Ustadz Umar Hubeis, “Fiqhul Lughah Al-‘Arabiyah, mungkin guru saya itu (Ustadz Said Marzuq w 1972an) adalah teman Ustadz Umar Hubeis w 1979. (Sayangnya, hal itu tidak bia saya tanyakan kepada Ust Ali bin Mahfudh yang sekretaris Syekh Surkati yang masih hidup di Surabaya, karena ternyata saya qadarullah tidak sempat bertemu). Pemuda-pemuda lainnya bercerita juga tentang Ulama seperti Ustadz Salim Bahreisy yang menerjemahkan kitab-kitab, di antaranya Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier.

Dari obrolan itu, maka siangnya ketika diadakan pengajian di Masjid Mujahidin Surabaya, saya agak kaget, kenapa yang hadir banyak banget, sedangkan panitia pengajian adalah anak-anak muda dan ta’mir masjid tersebut. Masjid sebesar itu bisa penuh. Sedang pengajian tentang syiah dan Islam Nusantara toh bukan hal yang sangat istimewa. Penyelenggaranya pun masih anak-anak muda. Dan malamnya lagi, pengajian di masjid Jami’ Makkah di Surabaya pula, judulnya pun sama, kok ya penuh orang.  Padahal panitianya juga mereka yang muda-muda tadi ditambah dengan ta’mir setempat.

Kepantiaan pengajin berupa anak-anak muda keturunan ulama dan pejuang Islam dari kalangan Al-Irsyad ini mengingatkan saya untuk mengingatkan jasa Pak HM Rasjidi tokoh Dewan Dakwah yang anti sekali terhadap syiah dan pemikiran-pemikiran merusak Islam yang kini dikenal dengan kelompok liberal, sekuler, pluralisme agama, dan terakhir ada yang disebut Islam Nusantara. HM Rasjidi menteri agama pertama RI ini  memang murid Syekh Surkati.

Menurut sejarah, Awal tahun 1929 Syech Ahmad Surkati membuka madrasah barunya berikut asrama di Lawang, Jawa Timur. Salah seorang muridnya adalah Saridi, putera Pak Atmosudigdo dari kota gede Yogyakarta, yang kemudian diganti namanya oleh Surkati menjadi Rasyidi dan kemudian kita kenal sebagai Prof. DR.H.Muhammad Rasyidi, mantan menteri Agama RI pertama/ demikian sejarah ringkas di  facebook.com/Prof-DR-H-M-Rasjidi.

Nah, dalam pengajian di Surabaya itu  saya kutip-kutip pula perkataan Prof HM Rasjidi dalam menyerang pikiran orang-orang nyeleneh seperti Nurchlish Madjid, menurut HM Rasyidi: Pikirannya berbahaya karena sederhana.

Contohnya, Nurcholish Madjid menirukan Darmogandul Gatoloco, memlesetkan Islam dengan mengkutak-katik. Di antaranya Darmogandul Gatoloco menambahi huruf a di tengah lafal Mekkah maka menjadi Mekakah (wanita ngangkang). Jadi dari lafal Mekkah kota suci diplesetkan jadi Mekakah bermakna (wanita) mengangkangkan kaki ketika mau disetubuhi. Itu pelecehan terhadap Islam oleh Darmogandul Gatoloco.

Anehnya, cara itu ditirukan oleh Nurcholish Madjid, dengan cara yang hampir sama. Kalau Darmogandul Gatoloco menambahi huruf a di tengah lafal Mekkah – hingga jadi Mekakah, maka Nurcholish Madji membuang huruf a di tengah lafal azab (siksa), maka jadi azb (tawar). Lalu dimaknakan, manusia kelak kalau diazb maka jadi tawar semua dan semua masuk surga. Itu terdapat di buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid yang tebalnya 4000 halaman (terbitan kemungkinan dari kalangan syiah atau liberal yang kaitannya dengan orang Paramadina dan Mizan).

Dalam buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid ada judul SETIAP ORANG AKAN MASUK SURGA. Dengan merujuk kepada Ibnu Arabi (tokoh sufi, bukan Ibnul ‘Arabi ulama Ahlussunnah, red nm), azab itu asalnya dari bahasa Arab Adzab. Tetapi harus diketahui bahwa azab dalam bahasa Arab itu ‘adzbun yang artinya tawar… implikasinya bersifat spiritual bahwa sebetulnya yang dimaksud ‘adzab oleh Tuhan adalah suatu proses penyucian. Jadi, orang yang mendapat ‘adzab itu sebenarnya disucikan oleh Tuhan untuk nanti kembali kepada surga sehingga ‘adzab itu “tidak berarti apa-apa”. (Ensiklopedi Nurcholish Madjid buku ke-4 halaman 3002, entri SETIAP ORANG AKAN MASUK SURGA, Buku yg diterbitkan oleh Yayasan Wakaf Paramadina bekerja sama dengan Penerbit Mizan dan Center for Spirituality and Leadership (CSL) cetakan 1, 2006).

Itu mirip dengan Dharmo Gandul Gato Loco. Gatoloco bilang Mekkah artinya mekakah (wanita melebarkan kakinya waktu mau disetubuhi lelaki), Nurcholish Madjid bilang Adzab (siksa) jadi Adzb (tawar) lalu diarahkan kepada kemauannya, yaitu orang yang mendapat ‘adzab itu sebenarnya disucikan oleh Tuhan untuk nanti kembali kepada surga sehingga ‘adzab itu “tidak berarti apa-apa”.

Mengotak-atik kata untuk memenuhi hawa nafsunya. Kalau Gato Loco bermaksud melecehkan Islam dijuruskan kepada yang jorok-jorok. Sedang Nurcholish Madjid menjuruskan orang kafir pun masuk surga bahkan semua orang masuk surga. Padahal sudah jelas ayatnya, orang kafir dari ahli kitab dan musyrikin di neraka jahannam selama-lamanya. ( lihat QS Al-Bayyinah: 6):

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦ [سورة الـبينة,٦]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk [Al Bayyinah: 6]

Benar lah penilaian Prof HM Rasjidi yang murid ulama besar Al-Irsyad itu. Pikiran yang memasukkan semua manusia ke surga tersebut sangat berbahaya, dan itu karena sederhana, hanya menirukan pembenci Islam yaitu Darmogandul Gatoloco. Hanya beda tipis, yaitu menambahi a dan membuang a di tengah lafal.

Masalah itu saya uraikan dalam pengajian.

***

Sepulang dari Surabaya, saya mau mampir ke desa di daerah Solo dengan naik kereta pagi jurusan Jogjakarta. Di stasiun Madiun, saya lihat ada seorang keturunan Ulama sedang berdiri di peron, tampaknya mau naik kereta yang saya tumpangi. Qadarullah, saya duduk di gerbong pertama depan, hingga melihat sosok itu. Maka buru-buru saya berjalan ke gerbong-gerbong sampai lima gerbong. Ketemulah dengan Dr Hamid Fahmi Zarkasyi petinggi MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) seorang anak Ulama, yaitu Kyai Imam Zarkasyi pendiri Pesatren Gontor Ponorogo. Kaget, dikira tempat duduk saya memang di situ, di sampingnya, yang memang kursinya kosong. Lalu saya dan dia asyik ngobrol, termasuk tentang Gatoloco itu tadi, kaitannya dengan liberal, Islam Nusantara, dan aliran sesat syiah. Saya ucapi selamat atas perjuangannya merintis sekolah kader ulama di Darus Salam Gontor dengan cara, saya menananyakan perkembanannya.

Alamdulillah, dia katakan, para kader ulama yang digemblengnya itu ditugasi untuk menulis, di antaranya ya tentang liberal, Islam Nusantara, dan tentu saja aliran sesat syiah. Bahkan telah terbit buku yang memblejeti kesesatan syiah berjudul Syiah menurut Buku-buku Syiah, ditulis oleh sepuluhan orang dari mereka. Itu tampaknya membuat kelabakan bagi syiah pula, ungkapnya.

Begitu pembicaraan lagi asyik, terpaksa kami harus berpisah. Saya katakan, saya harus turun di Solo. Dia katakan, “Saya juga turun di Solo, untuk kemudian naik pesawat ke Jakarta, untuk rapat MIUMI.”

Ya, tapi sebenarnya gerbong saya di gerbong satu, barang-barang saya di sana, jadi saya harus segera ke depan, sahutku, yang menjadikan sepertinya dia baru tahu bahwa saya sengaja menemui dia dari gerbong yang jauh.

Tidak sempat saya kemukakan, bahwa pertemuan singkat pun kadang dapat terkesan, sebagaimana sejarah tentang kembalinya Kyai Imam Zarkasyi ke pesantren, dan pilih keluar dari Kemeterian Agama karena pendapat Kyai Zarkasyi itu dtolak oleh pihak Kemenag dulu. Yaitu pendidikan agama hendanya 100 persen, dan pelajaran umum 100 persen yang diusulkan Imam Zarkasyi ditolak. Dan hanya dibolehkan 30 persen pendidikan agama, sedang 70 persen pelajaran umum. Sejarah itu dikemukakan oleh Kyai Haji Muslih pelaku sejarah dari kalanga NU ketika berkisah di Kementerian Agama waktu menterinya Munawir Sadzali 183-1993, lalu saya tulis di Harian Pelita, dan belakangan dimuat utuh di Buku Sejarah Pesantren Gontor. Sejarah penting itu saya dapatkan hanya karena pertemuan sebentar pula dulu di Kemenag.

Kyai Imam Zarkasyi lebih pilih mundur dari Kementerian Agama daripada di akherat kelak harus menanggung beban pertanggung jawaban yaitu mengurangi porsi pendidikan agama, tinggal 30 persen. Kyai ini lebih pilih menyajikan pendidikan agama Islam 100 persen dan umum 100 persen, walau hanya di pondok pesantren yang dia dirikan, bukan untuk se-Indonesia.

Demikian lah sikap tegas Kyai Imam Zarkasyi. Bagaimana pula bila dibandingkan dengan keadaan sekarang?

Bahwa kini bukan hanya sekadar mengurangi porsi pendidikan agama Islam, tetapi sudah diarahkan ke arah lain, entah itu ke jalur liberl, pluralisme agama, Islam Nusantara, bahkan aliran sesat syiah dan sebagainya yang sangat merusak bahkan menodai Islam alias menista agama. Dan itu sudah terbukti dalam kitab-kitab syiah yang tidak mengakui bahwa Al-Qur’an itu murni wahyu Allah yang tidak diubah.

Syiah menuduh Al-Qur’an telah diubah-ubah oleh para sahabat Nabi saw. Terbukti pula syiah memang menodai Islam seperti itu, dan sudah difatwakan oleh MUI Jawa Timur sebagai aliran sesat menyesatkan. Dan sudah divonis oleh Mahkamah Agung bahwa Tajul Muluk pemimpin syiah Sampang Madura itu terbukti menodai agama, melanggar pasal 165A KUHP, karena menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi, maka tetap divonis penjara 4 tahun penjara oleh Mahkamah Agung.

Kalau ada yang berkilah bahwa ada syiah yang tidak sesat

Syiah sudah jelas menodai agama, bahkan telah terbukti secara hukum, pentolan syiah Sampang Tajul Muluk menodai agama hingga divonis hukuman penjara (4 tahun) sampai ke tingkat MA (Mahkamah Agung).

Kalau ada yang berkilah seperti Muhyiddin Junaidi orang MUI bahwa ada syiah yang tidak sesat (di Indonesia ini) maka tentu menimbulkan rekasi Umat Islam, dan pantas dianggap bahwa dia itu membela syiah. Karena ternyata pentolan syiah Jalaluddin Rakhmat dan konco-konconya sampai membela Syiah Sampang lewat media Katolik, Kompas TV Senin malam (16/9 2013). Juga haddad Alwi yang penyanyi dan ditengarai sebagai penyebar nyanyian Ya Thaiba yang ghuluw (melampaui batas) ala syiah itu mengunjungi orang syiah Sampang. Dalam kunjungannya ke pengungsian Syiah di Sampang, 29/9/2012, ia (Haddad Alwi) mengatakan, “Nggak ada orang mau masuk surga tidak diuji, Rasulullah tidak jauh dari kita, dan jangan ragu Rasullulah tidak sayang sama kita. Penderitaan Rasullulah lebih berat ujiannya daripada ujian kita.”

Dari fakta-fakta itu, Syiah di Indonesia adalah yang seperti syiahnya Tajul Muluk yang telah terbukti secara hukum, menodai agama. Kalau tidak, kenapa yang sudah jelas (bahwa syiah itu menodai agama) masih pula dibela?

Syiah Menodai Agama, Mengingkari Otentisitas Al-Qur’an.

Telah terbukti, Tajul Muluk Pentolan Syiah Sampang divonis penjara 4 tahun karena menodai agama Islam (menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi), melanggar pasal 156A KUHP.

Syiah jelas-jelas menodai agama (Islam) itu sudah tidak kurang data dan fakta. Di antaranya.

  1. Fatwa MUI Jawa Timur tentang sesatnya Syiah lihat di siniFatwa MUI Jawa Timurtentang Kesesatan Ajaran Syi’ah
  2. MUI Pusat menilai fatwa MUI Jawa Timur itu sah. Lihat ini MUI Pusat mensahkan dan mendukung Fatwa MUI Jatimtentang kesesatan syiah.
  3. Tajul Muluk pentolan syiah dari Sampang telah divonis 4 tahun penjara karena terbukti  melanggar pasal 156a tentang penodan agama, karena Tajul Muluk menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi. Vonis Pengadilan itu sampai diketok palu oleh tiga jenis pengadilan yakni Pengadilan Negeri Sampang dengan Nomor 69/Pid.B/2012/PN.SPG pada Juli 2012 lalu memvonis Tajul  Muluk hukuman penjara 2 tahun karena menodai agama, melanggar pasal 156a. Lalu Tajul Muluk naik banding ke pengadilan Tinggi Surabaya, divonis 4 tahun penjara karena terbukti menodai agama. Putusan PT Surabaya yang tertuang dalam surat bernomor 481/Pid/2012/PT.Sby pada 21 September 2012 itu memutuskan terdakwa Tajul Muluk alias Ali Murtadha terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perbuatan yang bersifat penodaan agama. Kemudian ia mengajukan kasasi dan putusannya, kasasi ditolak MA, maka tetap Tajul Muluk wajib menjalani hukuman 4 tahun penjara. Keputusan itu tertuang dalam petikan putusan MA dengan Nomor 1787 K/ Pid/2012 yang dikirim oleh MA ke Pengadilan Negeri (PN) Sampang tertanggal 9 Januari 2013. Hal itu diungkapkan oleh Humas PN Sampang Shihabuddin saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Madura terkait kasasi Tajul Muluk ke MA, kemarin (16/1 2013). Jadi jelas-jelas syiah telah terbukti sesat bahkan menodai agama (Islam).  Lihat ini https://www.nahimunkar.org/kejahatan-syiah-dari-mazdak-hingga-tajul-muluk-sampang
  4. Apabila masih ada yang berkilah bahwa itu hanya Tajul Muluk saja, sedang syiah yang lainnya di Indonesia ini tidak begitu, maka coba lihat bagaimana Jalaluddin Rakhmat dengan konco-konconya dari Ijabi bahkan didukung pula oleh penghalal homseks Musdah Mulia membela syiah sampang dengan “menyerang” MUI dalam dialog di tv kompas Senin malam (16/9 2013).
  5.  Dr. Haidar Bagir  seorang syiah yang dikenal dari penerbit Mizan juga melontarkan tuduhan seputar adanya TAHRIF Al Qur’an (perubahan teks  dari aslinya). Itu dia tuangkan dalam tulisan opini di Republika, edisi 27 Januari 2012, Dr. Haidar Bagir menulis artikel berjudul, “Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat“. Artikel ini merupakan jawaban atas tanggapan yang diberikan oleh Hamid Fahmi Salim, MA dan Prof. Dr. Muhammad Baharun yang mengkritik tulisan Haidar Bagir di media yang sama, pada edisi-edisi sebelumnya. https://www.nahimunkar.org/haidar-bagir-dan-tuduhan-tahrif-al-quran/

Jadi syiah itu secara bukti hukum telah menodi agama, menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi, hingga pentolan syiah Tajul Muuk divonis Mahkamah Agung 4 tahun penjara. Dan itu bukan hanya syiah Sampang pimpinan Tajul Muluk saja yang menodai agama, tetapi juga lain-lainnya, dengan bukti pembelaan-pembelaan dari syiah IJABI, Jalaluddin Rakhmat, Haidar Baqir, Haddad Alwi dan lainnya itu tadi. Di samping itu, kenyataan adanya berbagai gejolak baik secara nasionl maupun internasional dunia Islam telah menimbulkan banyak korban jiwa bahkan lenyapnya aqidah Islamiyah.

Tentang menyimpangnya syiah secara hukum, berita singkat berikut ini cukup penting untuk disimak:

SNH Advocacy Centre: Mahkamah Agung Telah Putuskan Syiah Menyimpang

Posted on Okt 30th, 2015

by nahimunkar.com

Tajul-Muluk0002

Pimpinan Syiah Sampang Tajul Muluk saat menjalani persidangan pasal penodaan agama

DIREKTUR Eksekutif SNH Advocacy Center, Sylviani Abdul Hamid menilai Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Walikota Bogor sudah tepat dan benar sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sylviani mengingatkan kepada para pejabat agar tidak lupa ingatan dan keluar dari konteks hukum di mana Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa ajaran syiah menyimpang dari agama Islam sebagaimana tertuang dalam Putusan Mahkamah Agung No.1787 K/Pid/2012 dengan terpidana Tajul Muluk yang merupakan salah seorang petinggi Syiah.

“Kasus Tajul Muluk jelas terbukti ajaran Syiah menyimpang dari Islam dan merupakan penodaan terhadap Agama Islam sebagaimana disebutkan dalam Pasal 156 huruf a KUHP. Kasusnya tersebut sudah inkracht van gewijsde, artinya sudah berkekuatan hukum tetap,” ujar Sylvi kepada Islampos, Kamis (29/10).

Sylvi mensinyalir adanya desakan dari kelompok internasional yang mendorong oknum Wantipres dan Komnas HAM serta organisasi-organisasi yang mengecam terbitnya Surat Edaran Walikota Bogor.

“Mengapa sigap sekali respon atas Surat Edaran Walikota Bogor tentang pelarangan asyura oleh kalangan istana dan Komnas HAM, jelas masyarakat sudah tahu itu, Syiah inikan skupnya bukan lokal, akan tetapi internasional. Syiah ini gerakan internasional,” sambung Sylvi.

Sylvi mengingatkan bahwa Indonesia adalah Negara hukum, maka segala tindakan harus sesuai dengan hukum.

“Kita harus hormati Putusan Mahkamah Agung sebagai panglima tertinggi. Ketika Mahkamah Agung telah menetapkan dalam putusannya Syiah ini merupakan penyimpangan dan penodaan terhadap agama Islam sebagai agama yang diakui di Indonesia, maka pemerintah harus patuh atas putusan itu,” tutup Sylvi. [rn/Islampos]

Sumber : islampos.com – Kamis 15 Muharram 1437 / 29 October 2015 (nahimunkar.com)

***

Perjuangan Islam seberapapun dicatat sebagai amal kebaikan

Dalam pertemuan di kereta dengan Dr Hamid Fahmi Zarkasyi putra dan penerus Kyai Imam Zarkasyi ini, saya sendiri terilhami oleh cerita dari anak-anak Al-Irsyad tersebut di atas mengenai Ahmad Dahlan dan Syekh Ahmad Surkati. Walau saya bukan apa-apa, tetapi ternyata, keturunan Ulama dan pejuang Islam, ketika mereka berjuang untuk Islam pula, tampaknya diberkahi Allah. Dan itu memang untuk siapapun, kalau berjuang untuk Islam itu tidak disia-siakan, tetap dicatat sebagai pahala kebaikan di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana ditegaskan dalam QS At-Taubah: 120.

مَا كَانَ لِأَهۡلِ ٱلۡمَدِينَةِ وَمَنۡ حَوۡلَهُم مِّنَ ٱلۡأَعۡرَابِ أَن يَتَخَلَّفُواْ عَن رَّسُولِ ٱللَّهِ وَلَا يَرۡغَبُواْ بِأَنفُسِهِمۡ عَن نَّفۡسِهِۦۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ لَا يُصِيبُهُمۡ ظَمَأٞ وَلَا نَصَبٞ وَلَا مَخۡمَصَةٞ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَطَ‍ُٔونَ مَوۡطِئٗا يَغِيظُ ٱلۡكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنۡ عَدُوّٖ نَّيۡلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٞ صَٰلِحٌۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٢٠ [سورة التوبة,١٢٠]

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik “[At Tawbah:120]

Pengaruh yang agak berbeda, ketika yang berjuang itu keturunan Ulama dan Pejuang, entah itu berupa bobot, atsar, dan gaungnya lebih luas; tampaknya bisa juga terlihat, baik itu berjuangnya dengan ilmu, dengan ketrampilan mengatur, kepanitiaan, atau sokongan harta dan apa saja, kalau itu dilakukan oleh para pewaris ulama dan pejuang Islam, kemungkinan ada bedanya. Wallahu a’lam.

Yang terpenting, sejatinya para penerus ulama dan pejuang Islam itu mengemban tanggung jawab yang relatif lebih dibanding lainnya. Bila perjuangan hidupnya memang untuk Islam, maka disamping menjadi catatan amal baik, insya Allah berkah pula. Contoh yang saya kemukakan tadi di antara secuil bukti.

Sebaliknya, bila itu berupa penentangan terhadap Islam, penyelewengan, penjerumusan, penyesatan dan sebagainya; maka daya rusaknya pun kemungkinan cukup dahsyat, bahkan bisa mencapai tingkat nasional atau sebagian belahan jagat. Lihat saja, betapa dahsyatnya daya rusak keturunan Ulama yang (kakeknya) anti syiah dan anti kesesatan, tahu-tahu (cucunya) menjajakan kesesatan hingga menyeruak ke seantero belahan negeri, gara-gara kebesaran nama kakeknya, lalu banyak orang yang mengikutinya. Padahal ajaran yang dia “perjuangkan” justru faham yang sangat merusak Islam yaitu seputar keliberalan, aliran sesat syiah, dan bahkan sampai membela komunis PKI. Sampai mati belum terdegar bertobat, dan tampak banyak pengikutnya. Na’udzubillaahi min dzaalik!

Ingat, Tajul Muluk pentolan syiah itu sendiri konon juga anak pemuka agama Islam di Madura, yang kemudian disyiahkan ketika belajar di Yapi Bangil Jawa Timur pimpinan Husein Al-Habsyi yang dikabarkan berbaiat ke Khumeini di Iran. Hingga Tajul Muluk menjadi penista agama Islam, dan itu dibela oleh pentolan-pentolan syiah di antaranya Jalaluddin Rakhmat dengan Ijabinya lewat TV Kompas dalam membantah MUI, Haidar Baqir-bos Mizan dengan menulis di Koran Republika, Haddad Alwi –penyanyi dengan mengunjungi murid-murid Tajul Muluk. Berarti syiah-syiah di tempat lain di Indonesia ini jelas penoda-penoda agama pula, kalau tidak, tentu mereka akan mengutuk Tajul Muluk yang telah menodai Islam itu. Tapi buktinya justru syiah di selain Sampang juga membela Tajul Muluk. Berarti syiah di Indonesia ini ya jelas menodai agama Islam sebagaimana yang terbukti, Tajul Muluk itu.

Dengan kenyataan seperti ini, kembali kepada para keturunan Ulama yang masih hidup, dari sini kami mengimbau, hendaknya waspada, hidup ini mengincar kalian, mau jadi pembela Islam (dengan apa saja yang jadi kemampuan kalian) atau sebaliknya jadi musuh Islam. Dua-duanya menjanjikan di dunia ini, hanya saja yang satu jurusannya surga dan yang lain neraka. Tinggal pilih mana.

Jakarta, Rabu 22 Muharram 1437H/ 4 November 2015

(nahimunkar.com)