Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Haikal Hassan mengaku telah menemui tiga pelaku dari anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang membakar bendera tauhid di Polres Garut.

“Mereka menyatakan menyesal dan mengaku tidak ada maksud untuk membakar bendera tauhid. Itu tadi ada rekamannya,” kata Haikal, Selasa (23/10/2018).

Selain itu, Haikal juga mengungkapkan ketiga pelaku mengaku melakukan pembakaran bendera berdasarkan instruksi dari atasan mereka. Kendati demikian Haikal mengatakan tidak mendapatkan nama atasan tersebut.

“Ada perintah dari atasan untuk membakar semua bendera selain merah putih,” ujar Haikal.

Lebih dari itu, Haikal mengapresiasi langkah Kapolres Garut yang kooperatif dan cepat menangkap pelaku pembakaran bendera tauhid. Haikal bercerita kepolisian Garut juga bersedia menampung aspirasi umat Islam yang hari ini melakukan aksi di depan Mapolres Garut.

Berikut ini berita selengkapnya.

***

Temui Pelaku Pembakaran Bendera Tauhid, Ini Kata Haikal Hassan

Wartawan: H. Dicky Aditya

PENASEHAT Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Haikal Hassan mengaku telah menemui tiga pelaku dari anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang membakar bendera tauhid di Polres Garut.

Didampingi oleh Kapolres Garut Ajun Komisaris Besar Polisi Budi Satria Wiguna, Haikal mengaku menemui ketiga pelaku sebagai perwakilan ulama dan habaib yang tergabung dalam Badan Koordinasi Penanggulangan Penodaan Agama (Bakorpa).

Menurut Haikal, ketiga pelaku yang masih berstatus sebagai saksi itu sudah menyesali perbuatannya. Ketiga pelaku juga mengaku tidak bermaksud membakar bendera tauhid.

“Mereka menyatakan menyesal dan mengaku tidak ada maksud untuk membakar bendera tauhid. Itu tadi ada rekamannya,” kata Haikal, Selasa (23/10/2018).

Selain itu, Haikal juga mengungkapkan ketiga pelaku mengaku melakukan pembakaran bendera berdasarkan instruksi dari atasan mereka. Kendati demikian Haikal mengatakan tidak mendapatkan nama atasan tersebut.

“Ada perintah dari atasan untuk membakar semua bendera selain merah putih,” ujar Haikal.

Lebih dari itu, Haikal mengapresiasi langkah Kapolres Garut yang kooperatif dan cepat menangkap pelaku pembakaran bendera tauhid. Haikal bercerita kepolisian Garut juga bersedia menampung aspirasi umat Islam yang hari ini melakukan aksi di depan Mapolres Garut.

“Tadi saya juga sempat orasi, datang ditemui pak Kapolres Garut dan mengajak untuk ketemu pelaku pembakaran. Semua kooperatif,” tutur Haikal.

Haikal kemudian meyakini akan mengawal kasus ini sampai tuntas. Ia meminta kepolisian tidak berhenti memeriksa tiga pelaku yang sudah ditangkap. Ia juga mendesak kepolisian segera memeriksa pelaku lain yang tampak dalam video pembakaran yang sudah menjadi viral.

“Kita terus kawal. Polisi harus menemukan aktor intelektualnya,” ujar dia.

Sebelumnya Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqur Cholil Qoumas meminta kepada seluruh anggotanya termasuk Banser NU untuk tidak lagi membakar atribut yang identik dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Ya pasti dong. Sebelumnya kita juga sudah sampaikan protap (prosedur tetap),” ucap Yaqut, Senin (22/10).

Tanpa mau meminta maaf, Yaqut mengklaim dirinya telah menginstruksikan kepada seluruh anggota untuk tidak melakukan hal-hal ganjil terhadap atribut yang mirip identitas HTI. Jika ada atribut-atribut seperti itu, lanjutnya, lebih baik diserahkan ke pihak kepolisian.

“Tidak, kemudian bertindak sendiri,” ucap Yaqut.

Editor: H. Dicky Aditya / galamedianews.com

***

MUI: Bendera Tauhid yang Dibakar Anggota Banser Bukan Lambang HTI

Photo : VIVA/Anwar Sadat

Konferensi pers Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait pembakaran bendera berlafal tauhid oleh Banser

VIVA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) memastikan bendera dengan lafaz Tauhid yang dibakar oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama di Garut, Jawa Barat, bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). MUI menganggap bendera tersebut adalah bendera berkalimat Tauhid.

Disampaikan oleh Wakil Ketua MUI, Yunahar Ilyas, dalam video yang beredar tidak terlihat ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia dari bendera yang dibakar itu.

“Karena tidak ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia, maka kita menganggap itu kalimat tauhid. Jadi memang dalam sejarah ada versi kalimatnya yang latarnya putih dan ada yang hitam. Dua-duanya itu adalah bendera Rayah dan Liwa di zaman Rasulullah SAW,” kata Yunahar, di Kantor MUI, Selasa, 23 Oktober 2018.

Maka dari itu, MUI menyayangkan peristiwa pembakaran bendera dengan tulisan Tauhid tersebut. Menurut Yunahar, semestinya bendera Ar Rayah dan Liwa ini tidak digunakan sebagai identitas kelompok tertentu.

“Karena ini menjadi milik umat Islam sedunia. Saya tadi ngomong-ngomong mestinya ini organisasi kerja sama Islam atau OKI mempatenkan, sehingga di manapun menjadi milik kita bersama, tidak boleh menjadi milik partai,” ujarnya.

Menurut Yunahar, jika sebuah kelompok ingin menggunakan bendera tersebut, maka harus di desain secara berbeda. Tidak boleh sama persis dengan Ar Rayah atau Liwa.

“Kalau menjadi milik partai atau kelompok, harus ada desain yang berbeda atau warna yang berbeda. Tidak persis mengkopi seperti di dalam sejarah,” kataYunahar. (ase)/ https://www.viva.co.id Tim VIVA » Selasa, 23 Oktober 2018 | 13:47 WIB

***

Berikut ini video aksi #AKSIBELATAUHID DI GARUT BERSAMA UST HAIKAL HASSAN #GREBEKWARTA

(nahimunkar.org)

(Dibaca 797 kali, 1 untuk hari ini)