Ilustrasi: by google

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْأَحَدُ الْحَقُّ الْمُبِينُ . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا . أَمَّا بَعْدُ :

Ada contoh yang Allah sebut sebagai uswah hasanah (teladan yang baik) mengenai sikap menghadapi kekafiran. Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS Al-Mumtahanah/ 60: 4).

Dalam kenyataan hidup sekarang, kalau kita merujuk kepada ayat tersebut, maka kita temui ada yang sangat berbalikan. Padahal ayat itu bukan sekadar diakui sebagai kalamullah, firman Allah ‘Azza wa Jalla, namun perlu diterapkan dalam hidup ini dalam menjaga keimanan. Namun sebagian dari orang yang mengaku dirinya Islam, bahkan sebagai tokoh Islam, namun bisa dilihat secara lahiriyah sangat berseberangan dengan ayat. Inilah contohnya dalam sebuah berita berikut ini.

***

Pemilihan Gubernur DKI

Hidayat dan Semua Kandidat Minta Dukungan Umat Katolik

JAKARTA – Berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bernapaskan Islam, calon gubernur (cagub) Hidayat Nur Wahid mengaku butuh dukungan suara dari umat Katolik DKI Jakarta, agar bisa memenangkan Pilgub pada 11 Juli nanti.

Hal itu disampaikan Hidayat saat acara tatap muka dengan umat Katolik, yang bertajuk ‘Dialog Anak Bangsa Bagi Negeri, Partisipasi Umat Kristiani dalam Pembangunan DKI Jakarta’, di Aula Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Sabtu (19/5/2012).

Menurut Hidayat, umat Katolik juga merupakan bagian warga Jakarta, yang berkepentingan menyukseskan pilgub.

“Sudah sangat sewajarnya saya dan calon lainnya mengharapkan dukungan dari teman-teman umat Katolik,” ujar Hidayat.

Bagi Hidayat, harmoni dan sinergi antarumat bukan hanya diajarkan agama Islam, melainkan juga agama lain. Karena itu, PKS pun menerima bantuan sosial dari sejumlah gereja untuk dibagikan ke warga, saat Jakarta dilanda banjir pada 2002 silam.

“Begitu pun saat banjir Bohorok, kami di PKS menerima bantuan dengan tangan terbuka tanpa melihat agamanya,” tutur Hidayat.

Harapan dukungan umat Katolik juga disampaikan cagub dan cawagub lain, yang ikut dalam acara tersebut.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, cawagub yang berpasangan dengan Joko Widodo (Jokowi), meminta warga Jakarta memilih pemimpin dengan melihat latar belakangnya, baik dan bersih atau tidaknya dari korupsi, hingga profesionalisme sebagai pemimpin.

“Jangan lihat dia Katolik atau tidak, Jawa atau bukan. Tapi, lihat rekam jejaknya,” pinta Ahok.

“Kalau ada yang lebih baik dari kami, tolong jangan pilih kami. Tapi, kalau yang lebih baik memang kami, ya, pilih kami. Karena, Anda baru akan memilih untuk lima tahun lagi,” papar mantan Bupati Belitung Timur dan anggota DPR RI.

Hendardji Soepandji, cawagub yang berpasangan dengan Riza Ahmad Patria dari jalur independen, ikut menyuarakan hal yang sama kepada ratusan umat Katolik yang hadir dalam dialog tersebut.

“Saya sangat mengharapkan dukungannya, karena seluruh bangsa Indonesia adalah saudara kandung saya sendiri,” tegas adik kandung mantan Jaksa Agung Hendarman Soepandji.

Nono Sampono, cawagub yang berpasangan dengan Alex Noerdin dari Partai Golkar, menganggap keaktifan dan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk umat Katolik, membuktikan dirinya butuh dukungan.

Ia mengatakan, sejak 22 tahun lalu sampai saat ini, masih menjadi Ketua Alumni SMA Xaverius di Ambon.

“Latar belakang saya bisa dilihat bagaimana saya berinteraksi dengan teman-teman. Bagi saya, satu suara berarti, apalagi umat Katolik banyak,” kata Nono.

Sementara, cawagub yang berpasangan dengan Faisal Basri dari jalur independen, Biem Benyamin menuturkan, perbedaan adalah suatu keindahan.

Ia pun tak sungkan mengharapkan dukungan suara sekaligus doa dari umat Katolik Jakarta, pada Pilgub 11 Juli mendatang.

“Saya tidak hanya mengharapkan dukungan umat Katolik, tapi juga doanya,” cetus Biem. (*)

Oleh Abdul Qodir | TRIBUNnews.com Tribunnews.com – Sabtu, 19 Mei 2012 23:52 WIB

***

Termasuk golongan mereka

Ayat-ayat lain yang memperingatkan tentang itu sebenarnya banyak juga. Di antaranya:

] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ[

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai teman setia, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (Al-Maidah: 51)

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآْخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَِ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. “ (Al-Mujadilah : 22).

] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ[

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. “ (Al-Mumtahanah: 1)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang wajibnya wala’ dan bara’ yakni loyalitas kepada orang-orang mukmin Dan memusuhi orang-orang kafir.

Wala’ dan bara’ yakni loyalitas kepada orang-orang mukmin dan memusuhi orang-orang kafir adalah bagian dari iman bahkan syarat sahnya iman, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala:

] تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ !وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ[

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 80-81)

Ibn Taimiyah berkata tentang ayat ini: “Penyebutan jumlah syarat mengandung konsekuensi bahwa apabila syarat itu ada, maka yang disyaratkan dengan  kata “seandainya” tadi pasti ada, Allah berfirman:

] وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ[

“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong”.

Ini menunjukkan bahwa iman tersebut menolak penobatan orang-orang kafir sebagai wali-wali (para kekasih dan penolong), tidak mungkin iman dan sikap menjadikan mereka sebagai wali-wali bertemu dan bersatu dalam hati. Ini menunjukkan bahwa siapa yang mengangkat mereka sebagai wali-wali, berarti belum melakukan iman yang wajib kepada Allah, Nabi dan apa yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an)”. (Ibn Taimiyah, Kitab al-Iman, 14, sebagaimana dikutip Ustadz Agus Hasan Bashari dalam makalahnya, Aqidah Wala’ dan Bara’).

Melirik kesenangan dunia

Syeikh Fauzan menguraikan, di antara sikap wala’ (loyal) terhadap orang kafir adalah:

Memuji dan membanggakan keadaan mereka seperti kagum terhadap peradaban, akhlak dan kemajuan teknologi mereka tanpa memperhatikan akidah mereka yang keliru dan agama mereka yang rusak.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى} (131) سورة طـه.

“Dan janganlah kamu tunjukkan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya, dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Toha: 131).

Yang demikian itu bukan berarti orang Islam tidak boleh mencari tahu tentang sebab-sebab kekuatan mereka, seperti: kemajuan teknologi, teknik militer dan keberhasilan ekonomi mereka, akan tetapi yang demikian itu justru dituntut.

Allah Ta’ala berfirman:”Bersiaplah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa yang kamu sanggupi” (QS. Al-Anfaal: 7).

Pada dasarnya beberapa hal yang bermanfaat dan rahasia-rahasia alam semesta yang ada adalah untuk kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman:

{قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ …} (32) سورة الأعراف.

“Katakanlah:’Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan juga rejeki yang baik?’. Katakanlah:’Semua itu disediakan bagi orang-orang yang beriman di dunia dan khusus untuk mereka saja di hari kiamat…” (QS. Al-A’raf: 32).

Firman Allah Ta’ala:

{وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لَّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ} (13) سورة الجاثية.

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS. Ak-Jatsiyah: 13).

Allah Ta’ala berfirman:

{هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً …} (29) سورة البقرة.

“Dialah yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu…” (QS. Al-Baqoroh: 29).

Oleh karena itu kaum muslimin wajib saling berlomba dalam usaha memperoleh beberapa teknologi dan potensi yang ada, jangan sampai detemukan orang kafir agar mereka tidak tergantung kepada orang kafir dalam memperoleh teknologi tersebut. Bahkan dianjurkan agar mereka memiliki industri-industri dan menciptakan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan. Syaikh Shalih bin fauzan bin Abdullah alu fauzan, madhahir Muwalat alkuffar, dalam kitab Al-Irsyad ila shahihi al-I’tiqad warred ‘ala ahlis syirki wal ilhad 1/287).

Dalam kenyatan hidup ini, apakah yang dipelajari dan dilirik itu teknologi yang dimiliki kaum kafir untuk ditekuni sehingga Ummat Islam mampu mengelola kehidupan dunia ini dan tidak tergantung kepada kaum kuffar, atau justru hanya mendekat-dekat kepada kafirin agar mendapatkan restunya bahkan ada yang jelas-jelas minta doanya seperti para calon gubernur Jakarta itu?

Astaghfirullah… doa orang kafir pun diminta.

Sudah sebegitu wala’nya kah calon-calon yang melamar jadi pejabat itu kepada orang-orang kafir? Lantas ke mana keimanan yang dalam Islam harus senantiasa dijaga itu, apakah  disingkirkan begitu saja?

Semoga ini menjadi bahan pertimbangan benar-benar bagi orang Muslim, siapa saja. Sebab, kalau mati dalam keadaan imannya sudah disingkirkan atau bahkan sudah hilang –na’udzubillah min dzalik— maka sama sekali tidak beruntung.

Makanya Allah Ta’ala berwasiat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران : 102]

102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Qs Ali ‘Imran: 102).

Artinya  janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan  mukmin (orang yang beriman) menurut Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya. Sedangkan dalam peringatan ayat tadi:

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai teman setia, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (QS Al-Maidah: 51).

Semoga Allah Ta’ala melindungi Ummat Islam dari hal yang demikian. Amien ya Rabbal ‘alamien.

وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَإِلَيْهِ الْمَرْجِعُ وَالْمَآبُ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ رُسُلِهِ وَأَنْبِيَائِهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَأَنْصَارِهِ وَأَشْيَاعِهِ وَخُلَفَائِهِ صَلَاةً وَسَلَامًا نَسْتَوْجِبُ بِهِمَا شَفَاعَتَهُ ” آمِينَ “ .

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 976 kali, 1 untuk hari ini)