عندما القسوة تصير الدعامة الأساسية الممارسة في إندونيسيا

Tampaknya kekejaman sudah merasuk ke relung-relung hati masyarakat, bahkan “menguasai” pula di sebagian orang-orang yang berbaju resmi atas nama penegakan hukum.

Hukum apa yang sebenarnya mereka terapkan, bila hanya mengandalkan kekejaman?

Padahal dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, tidak usah yang dikejami itu sampai mati pun para pelakunya sudah diancam siksanya di neraka sangat dahsyat dan tidak mendapatkan baunya surga. Percaya atau tidak, ancaman neraka itu adalah kebenaran mutlak, yang kelak pasti akan terjadi.

Berikut ini contoh kasus kekejaman yang terjadi di Indonesia secara keroyokan. Yang satu oleh masyarakat, dan yang satu oleh orang-orang yang berbajau atas nama penegak hukum.

Betapa kejamnya. Anehnya sudah sekitar lima puluh enam kali menghabisi nyawa Muslimin tanpa proses hukum yang jelas dan hanya mengandalkan kekejaman. Padahal harga satu nyawa Muslim yang tidak bersalah tetapi dibunuh itu masih lebih berat nilainya dibanding hilangnya dunia dan seisinya ini, menurut Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena membunuh satu nyawa yang tidak bersalah berarti bagai membunuh manusia semuanya.

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا [المائدة : 32]

32. Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain [411], atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya[412]. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS Al-Maaidah: 32).

[411] Yakni: membunuh orang bukan karena qishaash.

[412] Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

 وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا [النساء : 93]

93. Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS An-Nisaa’: 93).

Apakah masih menganggap bahwa kekejaman bahkan pembunuhan itu masalah biasa saja?

Sekali lagi, betapa kejamnya!

***

Purnomo Dikeroyok dan Diceburkan ke Kali Hingga Tewas

JAKARTA –Sekelompok orang di RT 1 RW 1 Kelurahan Makasar, Jakarta Timur tega mengeroyok Purnomo hingga tewas.

Purnomo tewas usai ditolong warga pasca pengeroyokan terjadi. Wajah Purnomo yang memar akibat pengeroyokan kemudian diceburkan ke kali oleh para pelaku.  Dua dari lima penggeroyok korban dapat diamankan petugas Polsektro Makasar, Jakarta Timur.

Informasi yang dihimpun dari Humas Polda Metro Jaya menyebutkan, pengeroyokan dan penganiayaan terhadap korban terjadi sehari sebelumnya, yakni Sabtu (22/9/2012) malam. Polisi kini masih meneliti motif sesungguhnya sampai korban di keroyok.

Suyono (64), ayah korban, kepada polisi menuturkan, keluarga menerima korban dari warga yang menolong Purnomo yang diangkat dari kali. Saat itu, korban masih bisa bernafas dan sadar.

Naas, nyawa Purnomo tak dapat tertolong dan meninggal dunia di teras samping rumah orang tuanya di Jalan Masjid Al Munir, Kelurahan Mekasar, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Minggu (23/9/2012) kemarin.

Selain memar-memar, terdapat luka sobek pada kepala korban. Oleh sang ayah, korban dibaringkan di samping teras rumahnya. Pagi harinya, saat akan membersihkan tubuh korban, ia mendapatkan anaknya sudah meninggal dunia.

Sang ayah itu pun melaporkan peristiwa yang menimpa anaknya ke polisi. Diduga pengeroyoknya lima orang. Dua dari lima pelaku pengeroyokan berhasil ditangkap yaitu Hendri Apriyadi dan Herman. Sedangkan tiga pelaku lainnya masih dalam pengejaran.

Tribunnews.com – Senin, 24 September 2012 09:53 WIB

***

Dul Rahman Sempat Alami Penyiksaan, JAT Tuntut Densus 88 Minta Maaf

SOLO – Dul Rahman yang merupakan korban salah tangkap Densus 88 saat penggerebekan di sekitar Solo Square Solo pada Sabtu (22/09/2012) pukul 10.30 WIB pagi hari,  akhirnya dibebaskan Sabtu malam itu juga sekitar pukul 19.30 WIB.

Dul Rahman adalah anggota Jamaah Ansharut Tauhid yang saat itu ditugaskan melakukan peliputan berita mingguan Koran Dinding (Kording) Risalah Tauhid yang merupakan bagian dari program Sariyah Dakwah Wal I’lam JAT.

Terkait hal itu JAT Solo menilai bahwa apa yang dilakukan Densus 88 Anti Teror terhadap Dul Rahman jauh dari prpfesional dan tidak lagi proporsional. Setelah melalui tahap investigasi terhadap Dul Rahman, diperoleh fakta-fakta sebagai berikut:

Pertama, Dul Rahman bukan bagian dari Target Operari Densus 88 Anti Teror, namun ditangkap tanpa memberikan alasan penangkapan maupun Surat Penangkapan

Kedua, saat Penangkapan Densus 88 Anti Teror sempat melakukan kekersaan dan pemukulan terhadap korban, yaitu memaksa korban masuk ke mobil hingga celana panjang yang dipakai Dul Rahman sobek hingga setengah meter, serta lehernya dipukul dari belakang.

Ketiga, pada saat interogasi di Mapolres Solo, Dul Rahman juga mengalami kekerasan fisik dan intimidasi. Saat itu Dul Rahman diancam serta mengalami kekerasan verbal dengan kata-kata,”mati kamu, mati kamu!” Pipinya juga ditampar berulang kali hingga terjadi pendarahan bagian di mulutnya.

Untuk itu, pengurus Jamaah Ansharut Tauhid Solo meminta kepada aparat kepolisian:

  1. Kepada Kapolri meminta maaf kepada korban salah tangkap dan merehabilitasi nama baiknya di masyarakat. Kami juga kami minta kepada Provost Mabes Polri untuk pro aktif mengusut para pelaku penganiayaan terhadap korban.
  2. Kepada Presiden RI untuk mengevaluasi keberadaan Densus 88 Anti teror di Indonesia, karena sudah tidak independen, sering melakukan tembak mati korban, melakukan penganiayaan saat 7 x 24 jam, tidak ada kebebasan menentukan penasihat hukum dan salah tangkap.
  3. Kepada Komnas HAM untuk menyeret dan mengadili oknum Densus 88 Anti Teror yang terlibat dalam pelanggaran HAM.

Demikian pernyataan sikap JAT atas terjadinya insiden salah tangkap oleh Densus 88 terhadap Dul Rahman. Surat tertanggal 23 September 2012 itu ditandatangani Amir Mudiriyah JAT Solo ustadz Sholeh Ibrahim dan Katib (sekretaris) Abu Hafshoh. [Widad/Endro. S] (voa-islam.com) Ahad, 23 Sep 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 429 kali, 1 untuk hari ini)