Ritual Sesajen (kemusyrikan, red nm) Iringi Kereta Kencana ke Istana Presiden Jokowi di Jakarta/ foto poskota

 

Ketahuilah, kemusyrikan dapat diusung lewat politik kekuasaan. Lihat saja betapa maraknya apa yang disebut sedekah bumi, larung laut, labuh sesaji/ sesajen, sedekah laut dan sebagainya berupa sesajen untuk setan, warisan kepercayaan kemusyrikan dibesar-besarkan di mana-mana oleh para pejabat atas nama ini itu, ulang tahun cikal bakal berdirinya kota dan sebagainya.

Bahkan untuk upacara peringatan kemerdekaan RI pun diadakan dengan rangkaian kemusyrikan, dengan mengarak kereta kencana pakai sesajen (untuk setan) segala. Itu terjadi tahun 2016 lalu dalam kekuasaan Presiden Jokowi . (Simak tulisan di bawah, ‘Ritual Sesajen Iringi Kereta Kencana ke Istana Presiden Jakarta’).

Mereka yang termakan oleh pengaruh penjajah kafir Belanda yang menjauhkan politik dari Umat Islam agar tidak punya kekuatan, antek2nya masih bergentayangan, bahkan mungkin merasa benar. Hingga kejadian politik dicampuri kemusyrikan pun tidak tahu dan mungkin tak mau tahu. Kadang bahkan nyinyir kepada orang yang berusaha memberantas kemusyrikan di kancah politik itu (dengan dalih tidak taat pemimpin dsb), padahal kadang megaku bahwa mereka memberantas kemusyrikan di barisan depan.

Ketahuilah bahwa Islam ini sempurna, sebagaimana yang sering kita gembar-gemborkan. Jangan malah kita kerdilkan sendiri, dengan tidak mau tahu bahaya2 kemusyrikan lewat politik kekuasaan di depan kita. Semoga faham. Ini maksudnya bukan menyeret agama ke politik, tapi agar bersikap agamis sesuai dengan ajaran agama itu. Mendudukkan persoalan secara semestinya, semampunya. Hal-hal yang tidak benar, perlu diluruskan, termasuk hal yang tidak benar dalam politik kekuasaan, apalagi yang merupakan kemusyrikan.

Penting untuk diingatkan. Siapa saja yang mendukung orang yang terbukti menghidupkan kemusyrikan dengan memberi peluang terang2an pempopuleran kemusyrikan itu dalam moment terpenting secara nasional, sama dengan ikut mendukung kemusyrikan secara sungguh2. Tidak takutkah bila kalian yang mengaku Muslim tapi tercatat sebagai pendukung kemusyrikan?

(Sebelum hal itu terlanjur, maka tulisan ini sebagai bukti bahwa kami telah memperingatkan kalian. semoga sampai, dan berkenan untuk bertaubat serta menjauhi benar2 dari mendukung pihak yang terbukti mendukung kemusyrikan itu).

 

***

Ritual Sesajen Iringi Kereta Kencana ke Istana Presiden Jakarta

Kamis, 11 Agustus 2016 — 16:56 WIB

   
 


Pelepasan Kereta Kencana Ki Jaga Raksa untuk dipinjam sementara ke Jakarta. Ritual khusus digelar pada pelepasan kereta kencana tersebut.

PURWAKARTA (Pos Kota) – Ada yang berbeda di Pendopo Pemkab Purwakarta, Kamis (11/8) pagi. Sejumlah orang menari diiringi lantunan gamelan dan ritual sesajen
bertabur bebungaan beragam warna.

Red karpet (karpet merah) tergelar sepanjang tempat mengantornya Bupati Purwakarta. Para pegawai negeri berdiri berjajar di sepanjang tergelar karpet merah hingga pintu gerbang Pemkab Purwakarta.

Ada apa gerangan? Ya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi secara khusus menggelar ritual penurunan Kereta Kencana yang dinamai Ki Jaga Raksa untuk dilepas keluar kantornya dibawa ke Jakarta, yakni ke Istana Presiden untuk ikut upacara tradisi militer yang digagas Presiden Jokowi.

“Saya mengapresiasi Presiden Jokowi yang pada Hari Kemerdekaan RI tahun ini memadukan tradisi militer kekinian dan kerajaan. Ini sejarah baru,” ujarnya.

Kereta Kencana Ki Jaga Raksa miliknya itu, untuk sementara dipindah ke Jakarta, akan digunakan membawa replika bendara merah putih dari Monas menuju Istana Presiden.


Menurutnya, peminjaman kereta kencana tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Purwakarta. Pasalnya, kereta dari Solo yang telah menetap di Kantor Bupati sejak 2009 tersebut merupakan ikon Purwakarta yang menjadi cerminan refleksi sejarah kebudayaan di Purwakarta.

Dedi menilai, Presiden Jokowi telah berhasil memadukan unsur tradisi dan unsur kekinian dalam tatanan kenegeraan. Ini penting karena Indonesia memiliki tradisi kebudayaan yang kuat.

“Pak Jokowi memiliki intuisi kebudayaan yang luar biasa. Intuisi ini mulai muncul dalam tatanan kenegaraan. Saya kira ini bagus karena Indonesia ini kaya akan kebudayaan Nusantara. Nanti itu dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan, beliau ingin memadukan budaya militer kerajaan dan budaya militer kekinian,” jelasnya.

Dedi pun berencana akan membuat upacara peringatan Hari Kemerdekaan yang serupa. Karena menurut dia masih sangat jarang upacara bendera yang memadukan unsur militer tradisional dan unsur militer modern.

“Bukan tidak mungkin kita di Purwakarta melakukan hal yang sama seperti Pak Jokowi lakukan. Selama ini SOP upacara bendera selalu dinilai kaku dan membosankan. Kalau kita tambahkan ornamen tradisional tentu ini perubahan terhadap sejarah. Patut kita apresiasi tentunya,” pungkasnya. (dadan/win)/ http://poskotanews.com

***

Ritual Kemusyrikan dengan Sesajen Kepala Kerbau di Tasikmadu Karanganyar Solo

Posted on 7 September 2018

by Nahimunkar.com


Ritual kemusyrikan dengan sesajen kepala kerbau itu masih dilakukan di tahun 2018. Foto di atas merupakan RITUAL JULEN/Ritual Julen Cembrengan di Pabrik Gula Tasikmadu digelar Kamis sore ini (12/5/2016)./foto Karanganyar Tenteram 12 Mei 2016 · 


Pada tahun 2018, Solopos memberitakan, Cembrengan (selamatan giling) 2018 di Pabrik Gula Tasikmadu, Karanganyar, dilaksanakan Kamis (12/4 – 2018). (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu) 12 April 2018 17:48 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar:

Tahun-tahun sebelumnya juga dilaksanakan upacara kemusyrikan itu.

***

Ritual Syirik, Sesajen untuk Setan

Posted on 15 Mei 2016 – by Nahimunkar.com

Karanganyar Tenteram

RITUAL JULEN

Ritual Julen Cembengan di Pabrik Gula Tasikmadu digelar Kamis sore ini (12/5/2016). Ritual Julen atau pemasangan sesaji berupa 7 kepala kerbau yang di arak kemudian ditempatkan di dalam pabrik gula.

Ritual ini digelar untuk memohon keselamatan selama proses penggilingan tebu yang dimulai pada keesokan harinya. Setelah dilakukan pembacaan doa, aneka sesaji, terutama tujuh kepala kerbau, diletakkan di bagian bawah mesin produksi.

Ritual ini mengawali rangkaian upacara adat Cembengan pembukaan musim Giling Tebu 2016 di Pabrik Gula Tasikmadu peninggalan Mangkunegara IV abad 19.

Puncak ritual cembengan hari Jumat, digelar prosesi kirab tebu temanten dan pertunjukan reog . Malamnya pentas wayang kulit.

Foto by Yoyok Sunaryo

***

Ndak boleh ini ya, ini perbuatan syirik yakni membuat sesembahan sembelihan selain Allah.

Dalil yg melarang :

Firman Allah :

وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

(Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,) (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah… [QS.al-Maidah:3]

Juga sabda Nabi  :

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah [HR. Muslim no. 1978]

Kalau mau selamat ya hati hati kerjanya harus pakai safety keamanan mengikuti SOP, kalau mau doa ya doa aja kapan saja terutama diwaktu mustajab tanpa perlu potong kepala kerbau, kalau takut diganggu makhluk gaib ya baca di dalam pabrik situ surat al baqarah dan disamping itu juga masing2 pekerja pabrik membentengin diri dgn membaca dzikir pagi sore, islam ini mudah tidak memberatkan, 1 kerbau itu mahal loh.

Semoga Allah memberikan petunjuk pada kita semua untuk senantiasa berada di atas tauhid dan menjauhi kesyirikan.

Via FB Hadis Shahih

(nahimunkar.org)

***

Tuntunan Islam.


MENYEMBELIH TUMBAL ADALAH KESYIRIKAN .

Tumbal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki 2 makna:

  1. sesuatu yang dipakai untuk menolak (penyakit dan sebagainya); tolak bala;
  2. kurban (persembahan dan sebagainya) untuk memperoleh sesuatu (yang lebih baik); .

 Keduanya jika ditujukan kepada selain Allah maka merupakan syirik akbar. Karena menyembelih yang demikian merupakan ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah semata. .

 Allah Ta’ala berfirman: .

 فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ .

“Shalatlah untuk Rabb-mu dan menyembelihlah (untuk Rabb-mu)” (QS. Al Kautsar: 2) .

 Semestinya yang dilakukan oleh seorang Muslim adalah:

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .

 “Sesungguhnya shalatku, sembelihan, hidupkan dan matiku, hanya untuk Rabb semesta alam” (QS. Al An’am: 162) .

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

. لعن اللهُ مَن ذبح لغيرِ اللهِ .

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR. Muslim no. 1978) .

 Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: .

 الذبح لغير الله منكر عظيم وهو شرك أكبر سواء كان ذلك لنبي أو ولي أو كوكب أو جني أو صنم أو غير ذلك .

“Menyembelih untuk selain Allah adalah kemungkaran yang besar dan termasuk syirik akbar. Baik sembelihan tersebut dipersembahkan untuk Nabi, atau untuk wali, atau untuk bintang-bintang, atau untuk jin, atau untuk berhala, atau untuk makhluk yang lain” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 6/360) .

 Wallahu a’lam. .

  Yulian Purnama .

#instagram  #islam  #kajianislam    @riandisaputrash . follow : . @ryan_abu_zahroh_sh . ?

12:09am 08/29/2018 https://www.picbon.com/media  ryan abu zahroh sh dtt ( @ryan_abu_zahroh_sh )

***

Kamis, 26 Zulhijjah 1439 H / 1 Maret 2012 14:25 wib

Dosa Syirik Masih Bisa Diampuni Jika Pelakunya Bertaubat Sebelum Mati

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Syirik merupakan dosa yang sangat besar dan bentuk kezaliman yang paling sangat terhadap Allah Ta’ala. Bagaimana tidak, makhluk yang lemah, senantiasa butuh kepada rizki Allah, tidak kuasa atas hidup dan matinya sendiri disamakan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala sang pencipta semua makhluk, pemberi rizki, menghidupkan dan mematikan mereka, dan Maha kuasa atas segala sesuatu.

Seorang musyrik menyamakan sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan atas apapun jua dengan Dzat yang semua urusan berada ditangan-Nya. Menyamakan orang fakir dari segala sisi dengan Zat yang Mahakaya dari berbagai sisi. Menyamakan yang tidak memberikan rizki sedikitpun dengan Zat yang telah menciptakan apa yang menjadi rizki bagi manusia dan menganugerahkan semua itu kepadanya. Maka adakah kezaliman yang lebih dahsyat dari ini?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Sehingga patutlah jika orang-orang musyrik dihinakan di neraka dan bertengkar sendiri dengan apa yang mereka jadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka: “Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Syu’ara’: 96-98)

Begitu kurang ajarnya tindakan syirik, maka sangat wajar jika Allah ancam keras pelaku kemusyrikan dengan terhapus semua amal shalihnya, tidak diberi ampunan, haram masuk surga, dan pasti kekal di neraka.

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ باللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.  Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. Al-Nisa’: 48)

Perlu dipahami, kedua ayat di atas yang menerangkan ancaman perbuatan syirik berlaku di akhriat. Yakni orang yang bertemu Allah Ta’ala dengan membawa dosa syirik dan belum bertaubat darinya, maka ia tidak akan disucikan, tidak diampuni dosa dan kesalahannya, dan diharamkan atasnya masuk surga sehingga ia kekal di neraka.

Maka siapa yang saat ia mati masih membawa dosa syirik dan tidak bertaubat darinya sebelum wafatnya, maka ia tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah telah haramkan ampunan bagi dosa syirik yang pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggalnya. Hal ini berbeda, -sebagaimana disebutkan pada ayat yang kedua- dengan dosa selain syirik yang dibawa mati pelakunya, ia berada di bawah Masyi-Ah (kehendak) Allah. Artinya, jika Allah berkenan maka akan mengampuninya, dan jika berkehendak lain akan menyiksanya sesuai dengan banyaknya dosanya lalu akan mengelurkannya dari neraka dan memasukkannya ke dalam surga. Sehingga tempat singgah terakhirnya adalah di surga. Ini berlaku bagi seorang Muwahhid yang mati membawa dosa yang tingkatannya di bawah syirik.

Adakah Taubat Bagi Pelaku Kesyirikan?

Seseorang yang telah terjerumus ke dalam kesyirikan lalu sadar akan kesalahannya dan besarnya dosa yang telah diperbuat, ia tidak boleh berputus asa dari ampunan dan taubat Allah Ta’ala, “Karena sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.  Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Zumar: 53)

Ayat ini berbicara tentang pelaku dosa dalam hukum dunia, sebagai kabar gembira bagi pelaku maksiat bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk diampuni dosa jika bertaubat sebelum wafat. Bukan hanya dosa yang kategorinya maksiat saja, bahkan syirik pun masih ada kesempatan mendapat ampunan jika bertaubat sebelum wafat. Karena Allah menyebutkan, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

Perlu dicamkan, ayat ini tidak berlaku di akhirat. Karena jika diterapkan demikian pastinya akan membatalkan sejumlah nash Al-Qur’an dan sunnah yang berisi ancaman terhadap dosa syirik yang dibawa mati. Ia juga akan menggugat kesepakatan umat, tidak ada ampunan bagi pelaku dosa syirik pada hari kiamat di mana ia belum bertaubat darinya saat masih di dunia. Jika ayat ini dibawa kepada hukum akhirat, maka batallah keyakinan kaum muslimin bahwa surga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa muslimah atau mukminah. Maka sesatlah pemahaman orang yang membawa QS. Al-Zumar: 53 ini kepada hukum di akhirat.

Dalil Adanya Taubat Bagi Pelaku Kesyirikan   

Pelaku kesyirikan masih memiliki kesempatan untuk dihapuskan dosanya selama ia masih hidup, yakni dengan bertaubat darinya sebelum wafat. Hal ini dikuatkan oleh beberapa nash Al-Qur’an dan Sunnah Shahihah, antara lain:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهاً آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً . يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً  إِلاَّ مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُوراً رَحِيماً

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)

Ayat di atas sangat jelas menunjukkan adanya ampunan Allah Ta’ala bagi semua dosa, sampai syirik, selama ia bertaubat sebelum wafat. Bahkan ayat menerangkan keutamaan besar bagi mereka yang bertaubat, yakni diganti keburukannya dengan kebaikan.

Dari Abu Farwah rahimahullah, dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata: “(Ya Rasulullah!) bagaimana menurutmu, jika ada seseorang yang mengerjakan semua perbuatan dosa dan tidak meninggalkan satu perbuatan dosa pun serta tiada keinginan untuk berbuat dosa kecuali ia lakukan. Apakah ada taubat baginya  untuk semua itu?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya: “Apakah kamu sudah masuk Islam?”

Ia menjawab, “Adapun saya bersaksi tiada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Beliau bersabda: “Berbuat baiklah dan tinggalkan perbuatan buruk, maka Allah akan menjadikan semua perbuatan buruk itu sebagai kebaikan bagimu.” Ia berkata: “penghianatan dan kejahatanku?” Beliau menjawab: “ya.” Ia terus menerus bertakbir hingga tidak terlihat lagi.”  (HR. Thabrani)

Hal ini berbeda dengan orang yang memberikan sesembahan kepada selain Allah dan tidak bertaubat darinya hingga wafat. Ia berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa syirik tersebut, maka bagiannya adalah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.” (QS. Al-Nisa’: 48)

Adapun Hadits, sangat banyak sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menjelaskan adanya harapan ampunan bagi pelaku kesyirikan yang bertaubat sebelum wafat. Di antaranya, hadits Qudsi yang dikeluarkan Imam al-Tirmidzi,

يا ابنَ آدم إنَّك لو أَتَيتَني بِقُرابِ الأرضِ خَطايا ، ثمَّ لَقِيتَني لا تُشركُ بي شَيئاً ، لأتيتُكَ بِقُرابها مغفرةً

Wahai Anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, lalu engkau berjumpa dengan-Ku tanpa menyekutukan sesuatu dengan-Ku, pasti Aku akan datangkan kepadamu ampunan sebanyak itu.

Sahabat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu bertanya, “Ya Rasulallah, apa dua hal yang paling menentukan?” Beliau menjawab,

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللهُ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

Siapa yang mati sedangkan ia tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga, pasti ia masuk surga. Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka.” (HR. Muslim)

Sedangkan diketahui, seseorang yang bertaubat dari dosa, ia laksana orang yang tidak melakukan dosa tersebut,

اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Penutup

Setiap muslim yang menyadari keagungan Tuhan-Nya pastilah akan menganggap besar dosa kesyirikan terhadap Allah, sampaipun syirik kecil. Sehingga ia benar-benar menjauhi kesyirikan, takut kepadanya, berlindung dari terjerumus ke dalamnya, dan meminta ampun atas kesyirikan yang tidak disadarinya. Dan jika pernah terjerumus ke dalamnya, ia bertaubat kepada Allah darinya. Dan siapa yang bertaubat dari salah satu bentuk dosa, maka ia laksana orang yang tak pernah melakukan dosa tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Sumber : voa-islam.com

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 386 kali, 1 untuk hari ini)