• Wallahi…, Petinggi LDII Akui Membeginikan MUI

Ilustrasi Suap_83465273648

Ilustrasi

Oleh Abdullah bin Tamyiz

Seorang mantan pentolan aliran sesat mengemukakan, ada lafal sandi yang dijadikan jargon dan dilaksanakan dengan seksama oleh aliran sesat yang telah dia tinggalkan. Di antara lafal yang digunakan adalah   bahwa siapapun terutama para pemimpin dan tokoh diusahakan untuk dapat didekati dengan “dihargai dan disegani” pakai “uang merah”. Sehingga mereka akan diam, tidak mengungkit-ungkit aliran sesat itu.

Ungkapan mantan pentolan aliran sesat itu disampaikan dalam kongkow-kongkow antara para mantan suatu aliran sesat dengan para pemerhati dan tokoh umat di Jakarta baru-baru ini. Kebanyakan yang hadir tidak tahu maksudnya. Maka perlu dia jelsakan.

Lafal « dihargai » bukan berarti dihormati tetapi dinilai dengan harga, kira-kira berapa dia harus diberi « uang merah » untuk membungkam. Dan juga perlu « disegani », bukan berarti perlu diberlakukan dengan penuh sopan, tetapi itu dari kata sega yang artinya nasi. Jadi disegani di situ dari Bahasa Jawa (di-sega-ni, diberi sega, diberi nasi atau makanan). Itu juga pakai « uang merah ».

Apa itu uang merah ? Itu bukan uang yang warnanya merah, tetapi maksudnya adalah uang haram, di antaranya para anggota aliran sesat tersebut yang menyimpan uang di bank-bank yang ada bunganya, maka jangan dimakan itu bunga, tetapi setorkan ke amir. Lalu amir menggunakan uang merah yakni uang haram dari riba dan sebagainya itu untuk « menghargai dan menyegani » para tokoh yang perlu dibungkam.

Dengan cara itu apakah mereka yang sesat itu sudah merasa aman ?

Belum juga. Karena tidak semua orang mau untuk “dihargai dan disegani”. Di antaranya adalah kelompok para mantan aliran sesat yang dipimpin oleh orang yang bercerita tentang sandi ini. Dan juga orang-orang dan tokoh yang teguh dalam memberantas aliran sesat.

Dalam acara ini, setelah mereka faham maksud lafal-lafal sandi itu, lalu ada seorang yang mungkin tahu siapa-siapa yang sudah jadi korban akibat “dihargai dan disegani pakai uang merah” itu. Lalu dia nyeletuk: kalau begitu Majelis (tak usah disebut di sini) itu perlu dibubarkan saja.

Belum sampai pembicaraan berakhir, tampaknya di antara yang kongkow-kongkow itu yatasallalu  (berangsur-angsur pergi diam-diam) dan sudah tidak ada di tempat tanpa banyak yang memperhatikan, tahu-tahu sudah tidak ada.

Dalam Al-Qur’an ada juga orang-orang yang berangsur-angsur pergi diam-diam.

قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ } [النور: 63]

Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS An-Nur: 63).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsirnya: As-Suddi berkata: “Dahulu apabila kaum munafik duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah majelis, sebagian mereka berlindung di balik yang lainnya kemudian menghilang tanpa terlihat oleh beliau.” (Tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat 63 Surat An-Nur).

Setelah acara tersebut selesai, salah satu dari yang hadir itu berkata kepada temannya bahwa sebelum acara itu tadi dia makan di warung bersama dengan beberapa orang yang juga kemudian hadir. Salah satu dari mereka mengaku, yang kalau dikaitkan dengan uraian tersebut di atas, dia telah “dihargai dan disegani pakai uang merah”.

Berapa?

10 juta….

Pantas… dia diam-diam beringsut, tak ketahuan perginya.

Demiianlah sekelumit kejadian, betapa rentannya bahkan kroposnya di antara para tokoh di Indonesia ini. Bahkan kadang sampai diceritakan di Tanah Suci. Contohnya berikut ini.

***

 Wallahi…, Petinggi LDII Akui Membeginikan MUI

Ilustrasi Suap_83465273648

ilustrasi

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : (Ch H)

Julukan : (disimpan redaksi)

Tempat/tgl lahir : Rembang, 10 November 1978

Alamat :(disimpan redaksi)

No. HP : (disimpan redaksi)

Status : mantan anggota LDII

Dengan ini kami menyatakan WALLAHI, WALLAHI, WALLAHI

Telah mendengar langsung ucapan seorang tokoh dari jama’ah LDII yaitu kyai  KSMD[i] yang saat ini menjabat sebagai salahsatu dari wakil Amir …., sehubungan dengan berhasilnya LDII menjalin hubungan baik dengan MUI. Namun tanpa disadari atau mungkin karena berbangga hati Kyai KSMD telah menodai hubungan itu dengan perkataannya sendiri yang dia ucapkan di sela-sela nasehatnya pada bulan Ramadhan pada tahun 2006, di sebuah rumah yang dikontrak TKI Jama’ah LDII di Madinah, Saudi Arabiah, yang mana waktu itu Kyai KSMD sedang bertugas memimpin jama’ah umroh dari yayasan tertentu dan seperti biasa dia menyempatkan untuk mampir ke Madinah untuk memberikan nasehat kepada Jama’ah LDII yang bekerja di Madinah.

Adapun kalimat itu adalah “Alhamdulillah hubungan LDII dan MUI sudah baik.., tapi ya dikasih duit..!” (dengan nada menghina). Kemudian peserta pengajian tertawa dan di sela-sela peserta tertawa, Kyai … menambahkan “tapi ya ojo rame-rame (bahasa Jawa)…, kemudian dia melanjutkan nasehat sampai selesai.

Demikianlah penyataan pernyataan kami agar MUI memperhatikan dan selanjutnya tidak menerima hadiah apapun dari orang-orang yang bermuka manis seperti orang-orang LDII.

Jakarta, 18 Juli 2010

Meterai Tempel 6000

Tanda tangan

(nama kun-yah, disimpan redaksi)

Catatan nahimunkar.com:

Pernyataan ini dimuat, karena keluarnya pernyataan ini berkaitan dengan hal-hal yang penting hingga menjadi pertimbangan untuk dimuatnya. Di antaranya:

1. Pernyataan itu disertai sumpah Wallahi sampai tiga kali.

2. Peristiwa itu terjadi di:

a. Kota Suci yakni Madinah.

b. Bulan ibadah yakni Bulan Ramadhan yang pahalanya bagi orang yang beramal dilipatgandakan.

c. Pada hari-hari terbaik, bahkan ada malam lailatul qadar yang lebih baik daripada 1000 bulan, karena saat itu puluhan terakhir Ramadhan, menurut pengakuan pembuat pernyataan ini.

3. Peristiwa itu beriringan waktunya dengan Rekomendasi MUI tahun 2005 yang mendesak pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak berikut ini.

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Peringatan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا [النساء/105]

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (QS An-Nisaa’: 105).

عَنْ كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ. (أحمد ، والترمذى – حسن صحيح غريب – وابن سعد ، والحاكم ، والطبرانى عن كعب بن عياض) تعليق شعيب الأرنؤوط : حديث صحيح وهذا إسناد قوي

Dari Ka’ab bin ‘Iyadh ia berkata, aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Sesungguhnya bagi setiap ummat ada fitnah (ujian)nya, dan fitnah ummatku adalah harta (uang). (Hadits riwayat Ahmad, At-Tirmidzi dengan berkata shahih gharib, Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, dan Thabrani). Shahih menurut Syu’aib Al-Arnauth.

Peringatan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam itu untuk semua mu’minin mu’minat, muslimin muslimat, wabil khusus para ulamanya yang dalam hadits disebut warotsatul anbiyaa’, para pewaris nabi-nabi.

Ingatlah wahai saudara-saudara se-Islam! Duit (harta) adalah sesuatu yang di akherat kelak akan dipersoalkan dari dua jurusan: dari mana diperoleh, dan untuk apa digunakannya. Belum lagi ilmu pun dipersoalkan: untuk apa ilmunya itu digunakan waktu di dunia.

Kalau pernyataan yang disertai sumpah, di Tanah Suci, di penghujung akhir Ramadhan itu memang benar-benar terjadi, maka orang-orang yang terlibat dalam kasus itu betapa mengerikannya kelak di akherat untuk mempertanggung jawabkannya: Untuk apa ilmumu wahai oknum yang disebut dikasih duit oleh aliran sesat? Dari mana uang itu kau peroleh? Dan untuk apa uang itu kau gunakan?

Lebih mengerikan lagi ketika isi jawabannya –misalnya– untuk membela dan melindungi aliran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan sangat meresahkan masyarakat.

Betapa mengerikannya… (nahimunkar.com/ ilustrasi diambil dari tribunnews.com).

(nahimunkar.com)



[i] Lihat Video Testimoni Warga LDII : Kasmudi Terlibat Penipuan Trilyunan Rupiah https://www.nahimunkar.org/video-testimoni-warga-ldii-kasmudi-terlibat-penipuan-trilyunan-rupiah/

(Dibaca 1.120 kali, 1 untuk hari ini)