Foto imgrum.net


Masyarakat awam maupun intelektual telah diformat untuk sesat. Sehingga yang masih tetap berIslam sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah yang dirahmati Alah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu perlu banyak bersyukur.

Hal itu disampaikan oleh Hrtono Ahmad Jaiz (penulis buku-buku Islam dari Jakarta) dalam seminar Intelektual Studi Islam Intensif di Gedung Renald, Tasikmalaya Jawa Barat, Rabu 17 Ramadhan 1437/ 22 Juni 2016. Acara ini diselenggarakan oleh PC Pemuda Persatuan Islam Cihideung Tasikmalaya bekerjasama dengan sejumlah lembaga Islam setempat, Bandung dan lainnya.

Masyarakat diibaratkan lahan yang akan ditanami. Ketika mau ditanami maka dibuat leleran (gadangan) sesuai dengan tanaman yang akan ditanamkan. Misalnya mau ditanami padi (yang tahan air) maka berbeda lelerannya dibanding lahan yang mau ditanami jagung (yang tidak tahan genangan air), ungkap Hartono Ahmad Jaiz. Nah masyarakat yang mau ditanami kesesatan itu diformat sedemikian rupa agar tidak cocok untuk ditanami Islam yang benar (murni).

Dijelaskan, Islam yang benar itu apa-apa rujukannya pasti dalil yaitu wahyu (Al-Qur’an dan Hadits/ As-Sunnah). Karena Nabi saw pun hanya mengikuti wahyu dan hanya menyampaikannya dengan memberi contoh mempraktekkannya. Di antara ayat yang menjelaskannya:

{إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ} [الأحقاف: 9]

 Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku (QS Al-Ahqaf/46:9).

Oleh karena itu, umat Islam yang mengikuti Nabi saw ya hanya mengikuti wahyu, hingga segalanya merujuk kepada wahyu tersebut (Al-Qur’an dan As-Sunnah).

Sayangnya, lanjut Hartono Ahmad Jaiz, justru masyarakat diformat untuk tidak merujuk kepada wahyu. Baik kaum awam maupun kalangan terpelajar intelektualnya.

Caranya, untuk kaum awam/ tradisional dibuat bahkan dikukuhkan untuk cukup ikut saja kepada tokoh agama. Apa-apa yang dilakukan oleh tokoh agama itulah yang perlu diikuti, apalagi banyak tokoh agama yang mengamalkannya, maka itulah agama. Akibatnya, ketika ternyata apa yang dilakukan oleh tokoh agama itu menyeisihi dalil (wahyu), maka masyarakat yang sudah diformat seperti itu, ramai-ramai berkata: Kalau itu salah, kenapa Pak Kyai Anu juga melaksanakan, Kyai Anu di sana juga melaksanakan, dan seterusnya. Jadi dalil pun ditolak. Itulah, karena formatnya memang untuk ditanami bahwa agama itu lakon tokoh agama, bukan dalil. Hingga dalil tidak bisa ditanamkan di masyarakat yang telah diformat seperti itu.

Celakanya, lanjut Hartono, ada rekayasan pula dari pihak yang ingin merusak Islam, dari non Islam. Dicontohkan, ada tokoh yang sengaja dipiara oleh media katolik selama 30 tahun lebih. Apa-apa yang dilakukan sang tokoh piaraan itu selalu diberitakan. Hingga suatu ketika sang tokoh berziarah ke kuburan tua yang tak begitu dikenal, disebut Kuburan Joko Tingkir. Sang tokoh menghadiri kuburan Joko Tingkir di Lamongan Jawa Timur yang tak banyak dikenal orang, maka dengan sigapnya, media katolik yang memiaranya itu menyebarkan beritanya. Akibatnya praktek rawan kemusyrikan dengan berduyun-duyun ke kuburan yang dianggap keramat itu marak kembali sejak Juli 1999.

Rekayasa antara pihak orang-dalam Islam dan orang-luar Islam telah sebegitu rupa, sehingga ketika diajukan dalil kepada masyarakat Islam yang telah terekayasa itu maka tidak mempan.

Untuk menjelaskan masalah yang melanda Umat Islam itu, Hartono Jaiz telah memberitahukan kepada masyarakat dengan menulis buku yang telah beredar luas berjudul Bila Kyai Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU.

bila kiyai dipertuhankan

Format untuk menanamkan kesesatan juga dilancarkan kepada kaum intelektual Islam, lanjut Hartono.

Cara memahami Islam di tingkat perguruan tinggi yang berlabel Islam dialihkan dari merujuk kepada dalil menjadi merujuk kepada fenomena sosial. Pemahaman ini mengikuti Kristen dengan memahami agama pakai metode sosiologi agama. Padahal sosiologi agama itu sendiri pelopornya yang terkemuka Émile Durkheim (Paris, France April 15, 1858 – November 15, 1917) menganggap agama itu hanya gejala sosial, dan yang namanya Tuhan itu hanya ada bagi yang menganggapnya ada. Sehingga, dari metode itu, apapun yang menggejala di masyarakat itulah agama, dan semuanya sah-sah saja. Sehingga antara yang kafir dengan yang mu’min tidak ada bedanya. Hingga arah Pendidikan tinggi Islam di Indonesia untuk menghasilkan manusia-manusia yang pemahaman Islamnya terbalik. Seharusnya makin dididik itu makin mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil, namun sebaliknya justru menyamakan antara yang mukmin dengan yang kafir. Lebih dari itu justru menjadi pembelaIa orang kafir yang merusak Islam. Contohnya Azyumardi Azra dari UIN Jakarta sangat membela Ahmadiyah ciptaan nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad. Dia tidak sayang terhadap Umat Islam yang dimurtadkan oleh Ahmadiyah, tapi justru lebih sayang kepada Ahmadiyah yang merusak itu. Itulah perusakan Islam yang sebenar-benarnya, bahkan lebih dahsyat dibanding pembunuhan fisik, karena yang dibunuh adalah imannya diganti dengan kemusyrikan baru yang disebut pluralisme agama dan ditingkatkan jadi multikulturalisme. Itulah yang sejatinya pemurtadan, bahkan secara sistematis lewat pendididkan tinggi Islam.

Untuk menjelaskan bahwa kaum intelektual Islam diformat agar hanya bisa ditanami ajaran sesat, dan bahkan menolak dalil atau ajaran Islam yang murni berdasarkan dalil, maka sampai ditulis buku “Ada Pemurtadan di IAIN” (Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta), maksudnya adalah perguruan tinggi Islam di Indonesia.

jil

Rawan penyesatan dan pembantaian

Dengan kenyataan format masyarakat dibuat kondusif untuk ditanami kesesatan seperti itu, maka akibatnya masyarakat sangat rawan untuk digarap aliran sesat, apalagi yang sifatnya ganas bahkan pembantai. Apalagi dalam sejarahnya, di Indonesia terbukti ada PKI pembantai terhadap Umat Islam dan tentara, di antaranya persitiwa pemberontakan PKI Madiun 1948 dan pemberontakan PKI 1965 yang membunuhi umat Islam secara sangat sadis.

Di samping itu, di Dunia Islam, Syiah bekerjasaman dengan kafir Tartar Mongol dalam sejarahnya telah membantai dua juta Umat Islam di Baghdad tahun 656H (Ahad, 4 Shafar 656 H/10 Februari 1258 M). Pengkhianatan terbesar kelompom Rafidhah (Syiah) melalui pemimpinnya, Nashiruddin ath-Thusi dan Ibnu Alqami, yang bersekongkol dengan pasukan Mongol sehingga pasukan Mongol dipimpin Hulakho Khan berhasil meruntuhkan kerajaan Abbasiyah dan menghancur leburkan ibukota Baghdad. Pasukan Mongol membantai dua juta muslim, termasuk kalangan ahlul bait yang kelompok Rafidhah mengklaim secara dusta sebagai pecinta dan pembela mereka. Pada tahun ini pula muncul kelompok Nushairiyah Rafidhah di bawah pimpinan Muhammad bin Nuhsair ar-Rafidhi.

Syiah Nushairiyah yang terinspirasi berdirinya saat pembantaian di Baghdad 656H itu kini ternyata di Suriah mereka di bawah pimpinan Bashar Assad telah membantai 250 ribu umat Islam. Pembantaian terhadap ratusan ribu Muslimin itu kejahatan kerjasama syiah Suriah, Syiah Iran, Syiah Irak, Syiah Libanon, kafir Rusia, dan Kafir China serta kafir-kafir lainnya.

Di balik itu, Syiah punya pola penyebaran dengan iming-iming nikah mut’ah, hingga sebagian pemuda dan mahasiswa terseret padanya. Padahal, syiah punya ajaran sadis pula mengenai nikah mut’ah. Yaitu wanita perawan Ahlussunnah (Sunni) yang ditawan dalam penjara, ketika akan diekskusi mati maka dinikah mut’ah dulu agar masuk neraka. Karena kalau tidak, maka perawan Sunni yang dibunuh itu dipercayai akan masuk surga. Agar masuk neraka maka dinikah mut’ah dulu. Jadi nikah mut’ah yang syiah anggap berpahala besar itu, kalau diperuntukkan ahlussunnah justru agar masuk neraka.1)  Agama apa itu, tanya Hartono dalam seminar itu kepada para hadirin.

Rawannya kesesatan bahkan sejarah pembantaian yang telah dilakukan oleh PKI dan syiah merupakan masalah yang serius yang perlu dihadapi oleh Uma Islam, tandasnya.

Untuk mengingatkan bahaya aliran-aliran sesat, Hartono juga sudah mengingatkan masyarakat dengan menulis buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.

aliran sesat

Jadi, kondisi awam/ tradisional yang diformat untuk kondusif bagi aliran sesat diingatkan dengan buku Bila Kyai Dipertuhankan. Kaum intelektual yang digarap untuk kondusif ditanami aliran sesat diingatkan dengan buku Ada Pemutadan di IAIN. Sedang tanaman kesesatan yang akan ditanam kepada masyarakat yang telah diformat untuk kondusif disesatkan itu diberitahu dengan buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.

Demkian hasil seminar.

(nahimunkar.com)

  =========

  • Mut’ah agar Masuk Neraka

Dalam jenis-jenis nikah mut’ah, pemerkosaan terhadap perawan yang akan dihukum mati di Iran itu digolongkan dalam apa yang disebut Mut’ah agar Masuk Neraka. Syi’ah di Iran mempercayai bahwa tidak boleh menghukum mati perawan, maka apabila dikehendaki untuk ekskusi perawan diadakanlah akad nikah mut’ah salah seorang keamanan dengan perawan itu, dan setelah pemangsaan (pemerkosaan) atas perawan itu maka mereka membunuhnya. (Ahwal Ahlis Sunnah fi Iran halaman 213).

Setelah mengekskusi maka petugas keamanan mendatangi ibu bapak si perawan dengan memberi mahar sangat sederhana senilai 10 dolar seraya berkata kepada kedua orang tuanya dengan sangat menghinakan: Inilah mahar puterimu yang telah dihukum mati, dan aku telah menikahinya secara kawin kontrak (nikah mut’ah) sebelum dibunuh sehingga ia tidak masuk surga, karena kami mendengar dari pembesar-pembesar kami bahwa perawan tidak masuk neraka, maka mesti harus menyingkirkan dari rintangan itu agar memasukkan puterimu ke neraka. (Ats-Tsaurah al-Baaisah halaman 196).

Teks tentang nikah mut’ah agar masuk nereka, sebagai berikut:

  • – متعة من أجل دخول النار !!

بعد ثورة الخميني تم سجن الآف النساء وكان بينهن مئات من الأبكار بحجة أن أحد أقاربهن من أعداء الثورة !! وأعدم من هؤلاء العذراوات العشرات وقبل إعدامهن كان يتم اغتصابهن قسرا باسم زواج المتعة حتى يدخلن النار !! وكان يقوم بهذا العمل الحرس الثوري !! بل أنه بعد اغتصاب وإعدام المرأة العذراء المسكينة يذهب مغتصبها أو زوجها المؤقت بالقوة والإكراه إلى أهلها أتدرون لماذا ؟! استمعوا معي إلى العلامة الدكتور الشيعي موسى الموسوي يخبرنا بالجواب يقول : ( والوقاحة الأشد والأنكى هي أن حرساً ثورياً يذهب إلى أم الضحية وأبيها ويقدم لهما مبلغاً زهيداً يعادل عشرة دولارات ويقول لهما متبجحاً ساخراً شامتاً هذا مهر أبنتكم ألتي أعدمت وأنا تزوجتها زواجاً مؤقتاً قبل الإعدام حتى لا تدخل الجنة لأننا سمعنا من كبرائنا أن البكر لا تدخل النار فكان لا بد من إزاحة هذه العقبة لدخول أبنتكم النار ) ( الثورة البائسة ص196 ) ويقول احد النادمين الشيعة من الذين شهدوا العشرات من هذه الحالات ( والسبب أن الشيعة يعتقدون أنه لا يجوز إعدام الأبكار فإذا أريد أن تعدم بكر عقد عليها لأحد الحراس عقد متعة وبعد الاعتداء عليها يعدمونها ) ( أحوال أهل السنة في إيران ص213 للشيخ محمد سرور )

Sumber: edharalhaq.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 310 kali, 1 untuk hari ini)