Negeri ini semakin tampak adanya gejala aneh yang mengherankan.

Kenyataan aneh, miras (minuman keras alias haram) yang seharusnya diberantas justru tampaknya bagai dibela. Hingga petinggi yang bertekad menjalankan tugas untuk melindungi masyarakat dengan memberantas miras, justru kenyataannya dibredel dari kedudukannya.

Aneh, setidaknya sudah dua petinggi yang didepak dari jabatannya ditengarai setelah menjalankan kebijakan memberantas miras. Masih ingat Menteri Rachmat Gobel?

Inilah beritanya.

***

Ternyata Benar, Rachmat Gobel Diganti Karena Desakan Mafia Miras

Redaksi – Selasa, 2 Zulhijjah 1436 H / 15 September 2015 09:00 WIB

Desakan Mafia Miras

Eramuslim.com – Desas-desus yang mengatakan diberhentikannya pengusaha nasional pribumi, Rachmat Gobel, sebagai Menteri Perdagangan antara lain karena memperketat peredaran dan penjualan minuman keras (miras) boleh jadi ada benarnya. Karena, begitu Rachmat Gobel pun diberhentikan Jokowi dan diganti oleh Thomas Trikasih Lembong alias Tom Lembong.

Ketika orang ini jadi menteri, tiba-tiba saja Kementerian Perdagangan merencanakan melonggarkan Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen Dagri) Nomor 04/PDN/PER/4/2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengendalian Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A.

Kontan, rencana itu menuai banyak tentangan dari berbagai pihak. Karena, bila rencana itu diwujudkan, itu artinya akan akan memberikan keleluasaan kepada kepala daerah untuk menentukan lokasi mana saja yang diperbolehkan menjual miras jenis bir di daerahnya masing-masing, sehingga dikhawatirkan akan membuat penjualan miras kembali marak.

Terkait hal itu, Wakil Ketua Komite III DPD yang juga Ketua Umum Gerakan Nasional Antimiras (Genam) Fahira Idris mengatakan, dirinya berniat menemui Thomas Lembong untuk menanyakan secara langsung soal rencana tersebut./ eramuslim.com.

Kasus pencopotan pejabat yang baru saja memberantas miras pun terjadi lagi. Maka akun twitter satu gerakan Islam menulis:

  1. Setelah menteri Rachmat Gobel dicopot krn kebijakannya larang miras, kini Kapolda NTT dicopot krn razia miras. pic.twitter.com/fuN0zZfy9X

pengusaha miras

Reply RT Like

  1. Kapolda NTT, Brigjen Endang Sonjaya dicopot dr jabatannya, hanya bbrp stlh gelar razia miras. Salah satunya menyasar milik Herman Heri.
  1. Siapa Herman Heri? Ia Tionghoa kerurunan, anggota DPR dr partai juara korupsi, PDIP. (foto sebelah kiri) pic.twitter.com/soiE8XsajF

 

Tulisan itu rupanya menyoroti kenyataan, tampaknya kasus miras memanas pula, dengan adanya pencopotan pejabat setelah merazia miras.

Sebagaimana diberitakan berikut ini.

***

Gara-gara Kasus Razia Minuman Keras Kapolda NTT Dicopot?

 3 Januari 2016 Muhammad Ikhlas

Inilahjambi, JAKARTA – Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Brigjen Endang Sonjaya dicopot dari jabatannya dan dipindahkan ke Inspektorat Wilayah (Irwil) III Itwasum Mabes Polri. Pencopotan ini hanya beberapa hari pasca merebaknya kasus razia minuman keras milik anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Herman Hery.

Menjelang Natal kemarin, personel Polda NTT melakukan razia minuman keras.

“Razia sebelum Natal memang dilakukan di tempat usaha yang menjual bir. Razia ini terkait surat menyurat. Mereka ada izin Pemda tapi departemen lainnya nyatakan izin sudah habis. Razia dilakukan di beberapa tempat,” jelas Kapolda NTT Brigjen Pol Endang Sunjaya, dikutip rimanews./ inilahjambi.com

***

Didukung para pembenci Islam

Negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini belakangan muncul suara-suara para pembenciIslam yaitu orang fasik ataupun munafik yang menghalangi untuk dibelanya Islam. Sehingga adonan dari dua arah: membela minuman haram dan bersuara menghalangi dibelanya Islam, menjadikan resahnya Umat Islam.

Mengingat celoteh kaum munafik dan fasik itu sangat berbahaya, maka ada yang sudah bertandang menulis kritikan tajamnya, sebagai berikut.

***

 

Inilah Ucapan Kaum Fasik Liberal: “Islam dan Tuhan Tak Perlu Dibela”

Posted by: Detik Islam-26 July 2012

JAKARTA (Detikislam.com) – Kaum fasik liberal belakangan ini kembali mengusung kembali pernyataan mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang ditulis dalam sebuah artikel yang diterbitkan Majalah Tempo (bisa dibaca di wahidinstitute.org), 28 Juni 1982. Artikel itu berjudul “Tuhan Tidak Perlu Dibela”.

Di majalah tersebut, (alm) Gusdur menulis uraiannya tentang ketidakperluan kita membela Tuhan. Dengan gamblang ia menulis: “Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.”

Lebih lanjut, Gus Dur menulis: “…Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.”Dalam hal ini Gus Dur mengutip Al-Hujwiri, seorang sufi dari Persia.

Lalu Gus Dur menyimpulkan bahwa, “Benar Islam perlu dikembangkan, tapi tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka ia pun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak  dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.

Ungkapan Gus Dur tersebut pun dijadikan pembenaran, bukan hanya oleh kaum liberal, tapi juga sejumlah tokoh yang mengklaim dirinya sebagai tokoh Islam. Bukan sesekali, beberapa diskusi publik dan dialog pun digelar dengan tagline “Allah dan Islam Tak Perlu Dibela”. Sejumlah tokoh lintas agama dan budayawan pun diundang sebagai narasumber untu menyampaikan pandangannya.

Inspirasi Kaum Fasik

Voa-Islam juga mencatat pernyataan budayawan Emha Ainun Najib alias Cak Nun yang nampaknya terinspirasi dari statemen Gus Dur. Islam sesungguhnya hadir justru untuk melindungi Islam, bukan sebaliknya. “Islam itu baik sekali, sangat besar, dan sangat indah. Kenapa dibela? Islam hadir membela manusia, bukan sebaliknya. Saya ini bau, hatinya kotor apa pantas bela Islam?” ungkapnya.

Cak Nun berpendapat bahwa orang-orang yang mengatasnamakan diri untuk membela Islam justru terkesan merasa lebih hebat, bahkan lebih mulia daripada Islam. “Islam itu sangat mulia. Kalau kita bela, kesannya kita itu lebih hebat, lebih mulia daripada Islam,” ujar budayawan asal Jombang ini.

Tokoh liberal yang berpandangan sama dengan Gus Dur adalah Saidiman Ahmad (Tokoh JIL). Ia mengatakan dalam sebuah artikelnya, Umat Islam tak perlu dibela. Yang mesti diperjuangkan adalah tegaknya nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan kebebasan. “Ketika sejumlah tokoh Muslim melakukan pembelaan terhadap jemaat HKBP atau Ahmadiyah yang didiskriminasi, tantangan pertama yang mereka terima adalah dituding tidak pro terhadap Islam.”

Di sebuah situs Kompasiana, seseorang menulis:“…Maka sayapun tertunduk malu, menyesal, dan mohon ampunan-Nya karena saya begitu lancang mengatakan, “Sayalah pembela Allah! Sayalah pembela Islam!”.Bukan! Sayalah yang selama ini justru begitu manja menikmati pembelaan Allah.”

Ia juga menulis, ketika kita berbicara tentang Tuhan yang tidak perlu dibela, maka kita yakin betul bahwa Allah adalah mahabesar, mahakuat, mahaperkasa. Dengan kemahaan-Nya, maka Dia tak butuh apapun. Dengan kemungkaran seluruh manusia di muka bumi, tak akan sedikit pun mengurangi kemuliaan-Nya.

Diam dalam Kemungkaran

Menyimak apa yang dinyatakan oleh lisan maupun tulisan kaum liberal tersebut, mengisyaratkan, bahwa ketika kemungkaran, kemaksiatan, kezaliman, kesewenang-wenangan, dan kebobrokan ada di depan mata, umat ini diminta untuk bersikap manis, diam terpaku, tanpa ada reaksi sedikitpun.

Sebagai contoh, ketika ada yang melecehkan Allah dengan ucapan “anjinghu akbar dalam sebuah forum di Bandung, kaum liberal meminta umat Islam untuk terdiam. Tatkala ada yang menghina nabi Muhammad Saw, cukup tenang-tenang saja. Atau bila ada yang bilang, ada nabi setelah Nabi Muhammad saw, cukup dihormati saja pendapat itu karena hanya beda tafsir dalam memandang suatu dalil.

Lebih dari itu, jika ada mushaf Al Qur’an yang dibakar, umat ini juga diminta untuk tidak bereaksi. Atau disaat kaum muslimin dibelahan dunia dizalimi, dibunuh, dibantai dengan keji, kita dituntut cukup berpangku tangan saja, sekalipun kaum liberal kerap berteriak soal Hak Asasi Manusia (HAM) dan perdamaian. Bahkan, disaat generasi muda terlibat pergaulan seks bebas, menenggak miras, hingga dipengaruhi narkoba, lagi-lagi kita diminta untuk terdiam. Naudzubillah!

Setelah Islam, Allah dan Rasul-Nya dilecehkan, kaum muslimin dibantai, pemikiran batil dilontarkan, kaum liberal mendesak umat ini agar tidak memberikan stigma sesat. Jika tidak berubah, biarkan Allah saja yang memberikan hidayah. Kaum liberal itu berdalih dengan menggunakan dalil QS. Al-Maidah ayat 105.

Dengan ayat itu, maka kalau ada aliran-aliran yang dianggap sesat oleh umat Islam, ya biarkan saja, cukup didakwahi, karena Allah sudah menjamin, bahwa orang yang beriman itu tidak akan pernah terjerumus dalam kesesatan karena dijaga Allah. Ini menjadi dalil implisit bahwa Allah tidak perlu dijaga, karena Allah lah yang menjaga manusia dari setiap kesesatan.

Begitulah kebusukan pemikiran kaum fasik liberal yang begitu bodoh memahami ayat yang sebetulnya begitu jelas dan gamblang untuk dipahami. “Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. (QS.Al Baqarah: 9-10).

Allah berfirman: ”Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (QS. Al-Baqarah: 12).

Mereka menyembunyikan hadits Nabi Muhammad Saw yang menyatakan: “Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh, apabila satu organya merasa sakit, seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).

Juga ingatlah dengan sabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya aku telah mendapat berbagai teror dan ancaman karena membela agama AllahDan tidak ada seorang pun yang mendapat teror seperti itu. Aku telah mendapat berbagai macam gangguan karena menegakkan agama Allah. Dan tidak ada seorang yang mendapat gangguan seperti itu. Sehingga pernah kualami selama 30 hari 30 malam, aku dan Bilal tidak mempunyai sepotong makanan yang layak dimakan, kecuali sedikit makanan yang hanya dapat dipergunakan untuk menutupi ketiak Bilal.” (HR. Turmudzi dan Ahmad)

Patut digarisbawahi kalimat membela agama Allah dan menegakkan agama Allah. Jika Rasulullah melakukan hal itu dengan segala pengorbanannya, maka begitu naïfnya ketika kaum fasik liberal dengan bangganya melontarkan ungkapan batilnya, bahwa “agama Allah tak perlu dibela”, “Tuhan tak perlu dibela”, dan seterusnya. Ucapan seperti itu menunjukkan, mereka adalah kaum yang bodoh dan tak berakal.Desastian (voaislam)/ http://detikislam.com/

***

Doa Nabi Saw, Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.139 kali, 1 untuk hari ini)