Spanduk/ foto kks

Ada kasus hangat, sejumlah wong NU di Sidoarjo Jawa Timur menolak didiriknnya sekolah SMPIT di desa Sumber Rejo, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Rencana pendirian Sekolah Menengan Pertama Islam Terpadu (SMP IT) akan dikelola oleh Yayasan Pondok Pesantren Attoyyibah Nurul Fikri. Yayasan yang mau mendirikan MPIT itu yayasan Islam yang sudah memiliki sekolah TK dan SD di wilayah itu juga. Tapi sejumlah wong NU ngotot menolak rencana pendirian SMPIT. Sampai-sampai mereka pasang spanduk berbunyi:

“Ansor, Banser, Pagar Nusa, dan Warga Desa Sumber Rejo Menolak Berdirinya Lembaga yang Tidak Sefaham dan Seaqidah dengan NU (Nadhatul Ulama).“

Kenapa sejumlah wong NU sampai menolak berdirinya SMPIT, padahal sekolahan tingkat TK dan SD yang dimiliki yayasan Islam itu sudah berlangsung di wilayah itu?

Secara kurun waktu, berarti ini ada pengaruh baru hingga mereka bertandang menolak itu. Lantas, dari mana dan bagaimana bentuknya pengaruh baru itu?

Perlu diingat, wong NU biasanya bisa dipengaruhi dengan mudah kalau kyainya atau orang yang mereka hormati sudah dipegang kepalanya alias ditundukkan, lalu sang kyai atau orang yang dihormati di NU itu memerintahkan sesuatu kepada nahdliyin (para pengikut NU); maka kaum nahdliyin akan nggih sendiko (ya oke). Kyainya bilang ngalor ya mereka ngalor, bilang ngidul ya mereka ngidul. Sampai-sampai pernah ada tokoh politik (NU) mengaku, walaupun langit itu biru tapi kalau Gus Dur (tokoh NU) bilang kuning maka kami ya akan bilang kuning.

Itulah gambaran wong NU atau nahdliyin.

Lha kira-kira dari mana mereka sampai menolak didirikannya SMPIT itu padahal kan jelas-jelas Islam dan tidak terlarang?

Kita ingat, sejak beberapa waktu lalu, itu petinggi NU (SAS) yang sampai dua kali memimpin NU sering sekali bicara soal deradikalisasi bersama konco-konconya, blusukan ke mana-mana. Omongannya pun sering kasar sekali. Contohnya ini, yang bisa disimak dari konconya yang sedang beraksi dalam apa yang disebut deradikalisasi ini:

Tabligh Akbar Forum Nahdliyin Caci Maki Ulama, Salafi dan PKS

by Nahimunkar.com, 24 November 2011

Tragedi Kiyai Nahdliyin Menghujat Salafi dengan Data Palsu & Fitnah!

BEKASI– Kebencian para kiyai Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam FOSWAN (Forum Silaturrahmi Warga Nahdliyin) terhadap Salafiyun sudah sampai di ubun-ubun. Data salah dan fitnah pun ditempuh untuk membleceti citra Salafi sebagai kelompok yang hobi berkelahi sesama Salafi.

Tragisnya, fitnah dan data yang salah itu diumbar secara terbuka di Rumah Allah, dalam acara tabligh akbar “Ulama Sejagad Menggugat Salafi-Wahabi” di Masjid Nurul Ikhwan Perumnas III Bekasi, Ahad (20/11/2011).

Salah satu tokoh Salafi yang paling dibenci kiyai FOSWAM adalah Ustadz Zainal Abidin Lc. Di hadapan ratusan jamaah warga NU, Ketua Lembaga Bahsul Masail FOSWAN, Drs Muhammad Bukhori Maulana MA mengumbar cerita bahwa Ustadz Zainal Abidin pernah dipukuli oleh sesama Ustadz Salafi usai shalat Jum’at, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

“Zainal Abidin Lc, gembongnya Salafi di Bekasi, bapak-bapak perlu tahu. Zainal Abidin Lc itu pernah punya pengalaman masuk rumah sakit pak. Apakah kena bisul? Tidak! Apakah kena demam berdarah? Tidak! Apakah kena gula? Tidak juga! Dia masuk rumah sakit babak belur dipukuli oleh Salafi juga, itulah akhlak Salafi pak,” paparnya berapi-api.

…Merekayasa data dan fitnah untuk mendiskreditkan kelompok lain adalah perkara yang seratus persen salah dan berbahaya….

Dengan gaya seperti orang bijak, Bukhori Maulana menambahkan bahwa ia sangat prihatin dengan insiden perkelahian fisik itu, karena terjadi pada hari Jum’at usai pengajian. “Yang saya sesalkan harinya hari Jum’at. Habis ngaji turun babak belur masuk Rumah Sakit Mekar Sari. Jadi Salafi versus Salafi,” ujar dosen Perbandingan Mazhab di salah satu kampus di Bekasi ini.

Paparan KH Drs Muhammad Bukhori Maulana MA yang katanya Lulusan S-2 Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Ciputat ini jelas dusta dan fitnah. Berdasarkan data voa-islam.com dari berbagai sumber, insiden cekcok yang dialami Ustadz Zainal Abidin itu bukan terjadi pada hari Jum’at, melainkan hari Ahad tanggal 6 Desember 2009, tepatnya di Masjid Amar Ma’ruf Bulak Kapal Bekasi. Juga tidak ada pemukulan apapun terhadap Ustadz Zainal Abidin dalam insiden tersebut, apalagi sampai babak belur sampai masuk rumah sakit.

…Jika masih beriman kepada Al-Qur’an, bukankah fitnah lebih kejam daripada pembunuhan?…

Entah pikiran apa yang ada di kepala KH Drs Muhammad Bukhori Maulana MA. Menyerang Salafi dengan merekayasa data dan fitnah. Soal bahaya Salafi yang mereka tuduhkan masih perlu diuji ilmiah. Tapi merekayasa data dan fitnah untuk mendiskreditkan kelompok lain, adalah perkara yang seratus persen salah dan berbahaya. Jika masih beriman kepada Al-Qur’an, bukankah fitnah lebih kejam daripada pembunuhan? [taz, ahmed widad] Selasa, 22 Nov 2011(voa-islam.com). Selengkapnya ada di link ini:

https://www.nahimunkar.org/tabligh-akbar-forum-nahdliyin-c…/

***

Kembali ke kasus sejumlah warga NU Sidoarjo menolak didirikannya SMPIT sebagaimana diberitakan, Pendirian SMP IT di Sidoarjo Ditolak Ratusan Warga NU Posted on 31 Juli 2017 by Nahimunkar.comhttps://www.nahimunkar.org/pendirian-smp-di-sidoarjo-ditol…/
Mari kita analisa.

Mungkin itu korban dari deradikalisasinya SAS dan kawan-kawannya seperti dalam contoh berita di atas yang sebegitunya dalam menyerang sesama Muslim, tanpa landasan yang jelas; namun itu dalam rangka apa yang disebut deradikalisasi dan dijadwalkan dihadiri oleh ketua BNPT saat itu. Deradikalisasi yang kebablasan itu di antara buahnya justru mewujudkan adanya radikal NU.

Apa itu radikal NU?

Yaitu sikap wong NU yang menolak wong Islam ataupun lembaga Islam selain NU atau yang dianggap tidak sepemahaman dengan NU.

Lha NU sendiri Islam bukan?

Ya Islam, bahkan namanya saja Nahdlatu Ulama, artinya kebangkitan ulama.

Kalau NU itu ya Islam, apakah Islam menolak wong Islam selain NU?

Ya tidak! Kecuali yang jelas2 sesat menurut Islam atau difatwakan sesatnya oleh ulama terpercaya.

Kalau begitu NU merasa lebih tinggi dibanding Islam, hingga berani menolak wong atau lembaga yang tidak sefaham dengan NU.

Nah, itulah yang namanya radikal NU. Dan itu mungkin merupakan korban pengais-ngais proyek apa yang disebut deradikalisasi yang dilakukan secara kebablasan, hingga membuahkan radikal NU.

Kasihan… sebagian teman-teman NU di daerah jadi korban tukang golek proyek ternyata hasilnya mbubrahi Islam.

Jadi NU dijadikan kerudung untuk cari makan oleh wong-wong sing mbubrahi Islam, begitu?

Wallahu a’lam kalau soal itu. Wong NU yang arif mungkin lebih tahu tentang itu.

Via Fb Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.821 kali, 1 untuk hari ini)