• Bagian bawah, kami sajikan Fatwa Haramnya Musik dan Bukti Joroknya Dangdut

Berikut ini ada berita tentang penyanyi yang diangkat untuk memimpin apa yang disebut  Forum Silaturrahmi Takmir Masjid dan Mushola  Indonesia (Fahmi Tamami).

Bagaimana jadinya, ibaratnya pelanggar hukum diangkat sebagai coordinator penegakan hukum. Pasti amburadul. Demikian pula, penyanyi yang jelas alat-alat musiknya saja sudah diharamkan, dan pengharamannya pun digandengkan dengan zina dan sutera (laki-laki haram pakai sutera); lalu pelaku keharaman itu memimpin forum untuk mengurusi tempat-tempat ibadah Ummat Islam. Ini sudah jelas aneh. Dan itu terkena hadits tentang bahaya menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, telah ditegaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ( البخاري)

 “Idzaa wussidal amru ilaa ghoiri ahlihi fantadziris saa’ah.”  Apabila perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat. (HR Al-Bukhari dari Abi Hurairah).

Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan: Apabila hukum yang berkaitan dengan agama seperti kekhalifahan dan rangkaiannya berupa kepemimpinan, peradilan, fatwa, pengajaran dan lainnya diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, yakni apabila (pengelolaan urusan) perintah dan larangan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat, sebab hal itu sudah datang tanda-tandanya. Ini menunjukkan dekatnya kiamat, sebab menyerahkan urusan dalam hal amar (perintah) dan nahi (larangan) kepada yang tidak amanah, rapuh agamanya, lemah Islamnya, dan (mengakibatkan) merajalelanya kebodohan, hilangnya ilmu dan lemahnya ahli kebenaran untuk pelaksanaan dan penegakannya, maka itu adalah sebagian dari tanda-tanda kiamat. (Al-Munawi, Faidhul Qadir, juz 1, Darul Fikr, Beirut, cetakan 1, 1416H/ 1996M, hal 563-564).

Ada peringatan yang perlu diperhatikan pula, yaitu keadaan lebih buruk lagi di mana pendusta justru dipercaya sedang yang jujur justru didustakan, lalu pengkhianat malah dipercaya. Dan di sana berbicaralah ruwaibidhah, yaitu Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan umum. Itulah yang diperingatkan dalam Hadits:

حَدِيث أَنَس ” أَنَّ أَمَام الدَّجَّال سُنُونَ خَدَّاعَات يُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق وَيُصَدَّق فِيهَا الْكَاذِب وَيُخَوَّن فِيهَا الْأَمِين وَيُؤْتَمَن فِيهَا الْخَائِن وَيَتَكَلَّم فِيهَا الرُّوَيْبِضَة ” الْحَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَأَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّار وَسَنَده جَيِّد , وَمِثْله لِابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة وَفِيهِ ” قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة “( فتح الباري).

   Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan –di mana saat itu– orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan umum. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84  ).

Selanjutnya, inilah berita penyanyi dangdut berpidato tentang agama, selaku ketua umum Forum Silaturrahmi Takmir Masjid dan Mushola  Indonesia (Fahmi Tamami). Di bagian bawah adalah fatwa Haramnya Musik dan Bukti Joroknya Dangdut.

***

Rhoma Irama Minta Umat Islam Mewaspadai Kelompok Wahabi

Abdul Halim | Senin, 19 Maret 2012 | 07:11:37 WIB

Jakarta (SIONLINE)- Musisi kondang sekaligus mubaligh, Rhoma Irama, diprediksi akan menjadi Ketua Umum Forum Silaturrahmi Takmir Masjid dan Mushola  Indonesia (Fahmi Tamami), sebuah ormas Islam yang dibentuk untuk melindungi masjid dan mushola dari intervensi faham Wahabi Salafi dan perpecahan umat Islam.

“Pada April 2012 nanti Fahmi Tamami akan resmi dideklarasikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta,” ujar Rhoma Irama di hadapan ribuan santri dan umat Islam serta tokoh masyarakat pada peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang diadakan di Pondok Pesantren (PP) Daarul Rahman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (18/3). Peringatan juga dihadiri Menag Suryadharma Ali dan sejumlah ulama dan habaib.

Rhoma Irama menjelaskan, dirinya tergerak untuk membentuk Fahmi Tamami setelah mengetahui banyak Masjid dan Mushola bahkan Rumah Sakit dan Perguruan Tinggi milik Muhammadiyah, NU dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) ingin dikuasai kelompok  Wahabi  yang sering membidahkan bahkan mengkafirkan sesama umat Islam.

“Saya telah telephone KH Hasyim Muzadi, Prof Dr Din Syamsuddin dan Dr Tarmizi Taher, jawaban semuanya membenarkan kalau Masjid, Mushola bahkan Rumah Sakit dan PT miliknya ingin dikuasai kelompok Wahabi dan ini harus dicegah, maka didirikanlah Fahmi Tamami,” ungkap Rhoma Irama.

Rhoma Irama menjelaskan, saat ini kondisi umat Islam persis seperti yang digambarkan Rasulullah Muhammad SAW, bahwa umat Islam nanti seperti buih di lautan yang terombang-ambing ombak kesana kemari tanpa adanya suatu persatuan umat meski jumlahnya banyak. Pasalnya, umat Islam takut berjuang bahkan takut bicara yang benar. Perpecahan umat Islam selama ini diakibatkan politik devide et impera dari pihak musuh Islam.

“Jika umat Islam ingin bangkit kembali maka syaratnya ada tiga., yakni menjalin kembali ukhuwah Islamiyah, orientasi hidupnya selalu pada akhirat bukan dunia dan selalu menegakkan amar makruf nahi munkar,” tegas tokoh yang sering dipanggil Bang Haji dan Pemimpin Soneta Group tersebut. (*)

Rep: Abdul Halim/ suaraislam online.

***

Fatwa Haramnya Musik dan Bukti Joroknya Dangdut

Fatwa tentang Haramnya Musik

وقد دلت السنة الصريحة الصحيحة عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ على تحريم سماع آلات الموسيقى .

روى البخاري تعليقاً أن النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : (لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ . . .) . والحديث وصله الطبراني والبيهقي .

والمراد بـ (الحر) الزنى .

والمعازف هي آلات الموسيقى .

والحديث يدل على تحريم آلات الموسيقى من وجهين :

الأول : قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (يستحلون) فإنه صريح في أن الأشياء المذكورة محرمة، فيستحلها أولئك القوم .

الثاني : قرن المعازف مع المقطوع حرمته وهو الزنا والخمر ، ولو لم تكن محرمة لما قرنها معها .

انظر : السلسلة الصحيحة للألباني حديث رقم (91) . فتاوى الإسلام سؤال وجواب بإشراف : الشيخ محمد صالح المنجد المصدر : www.islam-qa.com سؤال رقم 12647(

Sunnah yang jelas lagi shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan atas haramnya mendengarkan alat-alat musik. Al-Bukhari telah meriwayatkan secara mu’allaq (tergantung, tidak disebutkan sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari). Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.

Yang dimaksud dengan الْحِرَ al-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَ al-ma’azif adalah alat-alat musik.

Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:

Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam يَسْتَحِلُّونَ menghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.

Kedua: Alat-alat musik itu disandingkan dengan yang sudah pasti haramnya yaitu zina dan khamar (minuman keras), seandainya alat musik itu tidak diharamkan maka pasti tidak disandingkan dengan zina dan khamr itu.

(Fatawa Islam, Soal dan Jawab juz 1 halaman 916, dengan bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid. Sumber: www.islam-qa.com, soal nomor 12647).

Bukti Joroknya Dangdut

DANGDUT merupakan salah satu jenis musik yang diakui sebagai musik khas Indonesia. Konon, musik dangdut merupakan generasi lanjutan dari musik Melayu yang berpusat di Sumatera. Sejak sebelum dan sesudah kemerdekaan, istilah dangdut atau musik dangdut sama sekali belum dikenal. Bahkan hingga tahun 1960-an, selain musik ngak-ngik-ngok –begitu Soekarno memberikan istilah kepada musik barat ala the Beatles dan sejenisnya– masyarakat Indonesia masih belum jauh beranjak dari musik melayu.

Musik irama melayu, biasanya menonjolkan lirik atau syair seputar perjuangan atau asmara. Boleh dibilang, musik irama melayu merupakan musikalisasi syair. Instrumen musik yang digunakan dalam musik irama melayu biasanya terdiri dari gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, suling, dan biola. Tidak ada gendang.

Barulah di tahun 1970-an kosakata dangdut mewarnai dunia musik Indonesia. Istilah dangdut diambil dari salah satu instrumen musik yang dimainkan dan menjadi ciri khas jenis musik ini yaitu gendang yang bila dipukul akan menghasilkan suara ndang ndut. Alat musik gitar yang dimainkan juga tidak sekedar gitar akustik, tetapi gitar listrik.

Perkembangan musik dangdut berikutnya, digerakkan oleh Oma Irama, yang memasukkan unsur musik rock dan menjadikan musik dangdut sebagai media berdakwah, katanya.

Ketika kita merujuk kepada para ulama yang menegaskan bahwa musik itu haram, maka berdakwah dengan musik dangdut tidak hanya aneh, tetapi sudah menyimpang karena memadukan dua hal yang bertolak belakang. Apalagi, dakwah melalui dangdut yang diekspresikan melalui syair atau lirik yang mengandung nasehat (agama) seperti larangan berjudi, diragukan efektivitasnya.

Tidak hanya mempelopori apa yang dianggap sebagai dangdut-rock-dakwah, Oma Irama juga memodifikasi namanya menjadi RHOMA IRAMA setelah menunaikan ibadah haji. RHOMA merupakan singkatan raden haji oma. Rhoma Irama melalui usahanya itu (memasukkan unsur rock dan dakwah) telah mengangkat derajat musik dangdut yang semula kampungan dan berputar di kawasan bordil (pelacuran) tingkat rendahan, menjadi sesuatu yang dianggap lebih atraktif, lebih enerjik dan seakan lebih bermoral.

Sesuatu yang atraktif ada masa berlakunya. Bila sudah lewat masanya, maka muncullah atraksi yang lebih baru, seperti memasukkan unsur tari jaipong di dalam pementasan musik dangdut. Jaipong adalah seni tari rakyat, yang biasanya digelar malam hari, dengan lampu minyak secukupnya, menjual erotisme (rangsangan syahwat). Maka, tidak hanya dangdut yang naik pangkat, juga jaipong.

Ketika dangdut dan jaipong sudah naik pangkat, dan bisa dinikmati kalangan menengah ke atas, maka media elektronik pun mulai tertarik. Ketika media elektronik mulai tertarik, dan penonton kian tersihir, maka pemasang iklan pun memperhitungkannya sebagai media yang efektif. Maka, yang terjadi adalah budaya baru yaitu menjajakan erotisme (rangsangan syahwat) dengan iringan musik dangdut melalui media elektronik dan dibiayai oleh produsen.

Kalau jaipong bisa naik pangkat, maka erotisme yang lebih parah pun bisa diangkat derajatnya. Maka, goyang erotis bernama goyang ngebor yang diprakarsai Inul pun mulai ditampilkan di media elektronik. Ternyata berhasil. Suguhan dangdut dengan atraksi erotisme goyang ngebor menarik banyak penonton, sehingga menarik banyak pengiklan. Maka muncul kreasi baru yang menawarkan erotisme, yaitu goyang dombret, goyang gergaji, goyang patah-patah, goyang ngecor.

Ketika erostisme yang dijajakan melalui musik dangdut berhasil dibenamkan ke dalam benak masyarakat, maka dangdutnya sudah kehilangan bentuk. Masyarakat tidak lagi menikmati dangdut tetapi menikmati erotisme. Sejalan dengan itu, sekelompok orang tidak lagi menjajakan dangdut tetapi menjajakan erostisme. Erotisme dijajakan melalui organ tunggal, melalui gerobak dorong yang memutarkan lagu-lagu dangdut dilengkapi dengan penari erotis wanita, keluar masuk kampung dengan bayaran sekedarnya.

Dengan organ tunggal dan gerobak dorong, erotisme (rangsangan syahwat) dijajakan di mana-mana. Tidak hanya di kampung-kampung, dan di pinggir jalan, tetapi juga di depan masjid. Hal ini sebagaimana terjadi di Serang pada hari Sabtu malam Minggu hingga minggu dini hari (13-14 Juni 2009) lalu.

Atraksi musik dangdut dengan suguhan erotisme di depan masjid Desa Lebak Gempol, merupakan salah rangkaian acara pernikahan anak seorang Ketua RW di lokasi itu. Aparat kepolisian tidak membubarkan acara dangdutan yang menampilkan biduan berpenampilan seronok, dengan alasan tidak ada peraturan daerah (perda) yang melarang pentas dangdut depan Masjid. Apalagi, penyelenggara hajat sudah mengantongi izin untuk mengadakan pentas dangdut dari aparat kepolisian Polsek Cipocok, dan meski atraksi itu berlangsung di depan masjid, namun menurut pengakuan aparat, tidak ada satu pun warga di sekitar itu yang berkeberatan.

(http://regional.kompas.com/read/xml/2009/06/14/02330660/Ya.Ampun..Dangdut.Erotis.Depan.Masjid)

Ketika itu, aparat kepolisian dan petugas satpol PP setempat, hanya menegur penampilan sang penyanyi agar mengenakan pakaian yang lebih sopan. Teguran itu dituruti, namun, ketika petugas beranjak dari tempat itu, para penyanyi dangdut tadi kembali mengenakan busana seronoknya, dan kembali bergoyag seronok, di depan mesjid, di depan sejumlah penonton anak-anak di bawah umur yang kembali menghampiri panggung setelah sang biduan kembali berkostum seronok dan bergoyang seronok.

Alasan aparat kepolisian yang tidak bisa melarang acara seronok di depan mesjid itu berlangsung karena tidak ada perda yang melarangnya, sebenarnya terlalu mengada-ada. Karena, Undang-undang Pornografi yang disahkan sejak 30 Oktober 2008, memungkinkan dijadikan landasan bertindak.

Definisi pornografi menurut UU no. 44 tahun 2008 adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.

Dari definisi di atas, aksi seronok di depan mesjid seperti tersebut di atas, sudah termasuk perbuatan melanggar undang-undang dimaksud. Bahkan bila hal itu dibiarkan oleh aparat pemerintah, maka pembiaran itu melanggar pasal 17 UU No. 44/2008 tentang Pornografi: “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pencegahan pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.”

Kalau yang punya hajatan baru ‘pejabat’ setingkat Ketua RW saja sudah tidak bisa diatasi oleh aparat, bagaiman pula bila yang punya hajatan pejabat beneran yang pangkatya jauh lebih tinggi dari Ketua RW?

Kenyataannya, para pejabat itu sendiri yang justru menjadikan dangdut erotis sebagai daya tarik pada masa kampanye. Contohnya, sepanjang masa kampanye pemilu legislatif yang berlangsung 9 April 2009, dangdut erotis justru menjadi menu utama hampir semua parpol. (lihat tulisan di nahimunkar.com berjudul Goyang Erotis Untuk Apa edisi April 7, 2009 5:53 am)

(nahimunkar.com, June 27, 2009 4:55 am admin Artikel )

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.337 kali, 1 untuk hari ini)