عندما ظهرت أي فرق ضالة  وزعم
يتم الاحتفاظ بوجودها

Ketika sembarang aliran sesat bermunculan, tahu-tahu di satu daerah ada kejadian, di lain tempat pun muncul pula kejadian lain. Masyarakat pun resah. Itu bukan hanya di satu wilayah tapi di berbagai wilayah. Sedang dalam satu wilayah pun bukan sekadar satu dua aliran sesat.

Dengan tidak dibubarkannya induk aliran sesat seperti syiah dan juga aliran sesat yang sudah diketahui umum bahwa itu memang sesat seperti Ahmadiyah, dan aliran sesat LDII yang telah dinyatakan sesat oleh MUI dalam rekomendasinya dan disejajarkan dengan aliran sesat Ahmadiyah; maka ada pihak-pihak yang menduga bahwa justru aliran sesat ini keberadaannya dipiara terutama oleh tingkat pusat.

Untuk apa?

Diduga Untuk menutupi borok-borok yang ada, dan agar Ummat Islam lebih sibuk kepada urusan itu. Istilahnya untuk mengalihkan isu.  Kalau aliran sesat dibubarkan, kan ketika ada borok menganga, Ummat Islam yang menjadi penduduk mayoritas negeri ini langsung mengetahuinya. Di samping itu kalau Ummat Islam tenang menjalankan Islamnya, maka kafirin yang menjadi boss dari antek-antek di sini tentu saja tidak rela. Jadi pemeliharaan aliran sesat itu diduga memang sebagai dagangan, lagi pula sekaligus untuk menutupi borok. Faham?

Hus, kenapa ada dugaan begitu?

Kenapa tidak ada dugaan begitu. Lha wong sudah jelas aliran sesat itu menodai agama, tetapi dibiarkan, itu apa bukan namanya memelihra?

Bukankah yang namanya PKI yang relatif sangat lebih besar dibanding aliran sesat di Indonesia dan bahkan tingkatnya internasional dan pernah legal sebagai peserta pemilu 1955 saja dapat dilarang. Lha kok aliran sesat yang jelas-jelas meresahkan masyarakat dan telah menodai agama bahkan timbul konflik bukan hanya satu kali, kenapa tidak dilarang? Itu mustahil kalau tidak ada niatan untuk ini dan itu. Sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap para pemegang amanah kekuasaan ini perlu dikembalikan dengan di antaranya memberantas aliran sesat secara sungguh-sungguh, bila tidak ingin semakin luntur. Atau kepingin agar para pentolan dari aliran sesat seperti Jalaluddin Rakhmat yang berani terang-terangan mengaku diutus oleh presiden untuk mewakili syiah dari Indonesia, agar semakin banyak yang mengaku?

Walau demikian, kalau toh terhadap yang di tingkat pusat semakin luntur kepercayaan dari masyarakat, paling kurang yang tingkat daerah mungkin masih dapat diharapkan.

Demikian pula terhadap MUI tingkat pusat tampaknya kepercayaan masyarakat dapat semakin turun apabila kenyataannya lebih penakut bahkan kemungkinan rawan hubungannya dengan alian sesat didanding sebagian MUI daerah. Buktinya, MUI Jawa Timur dengan Islaminya berani memfatwakan Syiah itu sesat dan menyesatkan, namun MUI Pusat sampai dilabrak oleh MUI Jawa Timur dan Madura masih pula justru sebagian oknum MUI Pusat membela aliran sesat syiah dan LDII namun tidak ditindak dengan sangsi apapun.

Bukan berarti tingkat daerah lebih baik, tetapi kenyataannya seperti itu, sedang sebenarnya justru tingkat pusat itulah yang memegang kendali terpenting untuk memberantas penodaan agama yang dilakuan oleh aliran-airan sesat. Tidak enak kan kalau dikata: yaa, beraninya hanya melawan PKI, kalau melawan aliran sesat mah, takut. Ada apa ya?

Makin bermunculannya aliran sesat, sebagai gambaran di satu daerah saja seperti berikut ini.    

***

Elemen Ormas Islam Jabar Laporkan Dugaan Aliran Sesat

Sabtu, 08 September 2012

Hidayatullah.com–Kemunculan aliaran sesat  dalam masyarakat sepertinya tidak pernah berhenti dan jera. Puluhan orang dari perwakilan ormas Islam Jum’at (7/9/2012) melaporkan Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsabandiyah sebuah aliran Islam kepada Kepolisian Daerah (Polda) Jabar.

Dalam laporannya yang dibacakan Andi Mulya selaku Ketua Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (Gapas) Cirebon menjelaskan bahwa ajaran Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsabandiyah yang dipimpin Tarkum dinilai telah menyebarkan dan mengajarkan Islam secara sesat dan menyesatkan.

Menurut hasil investigasinya, thoriqoh yang beralamat di Desa Dukuh Kec.Kapetakan Kabupaten Cirebon ditemukan beberapa kejanggalan. Antara lain sang pimpinan thoriqoh yakni Tarkum (50) mengaku sebagai Rasulullah dan Imam Mahdi dan meyakini adanya kawin roh.

“Kawin roh adalah ajaran bahwa Tarkum secara otomatis telah melakukan nikah secara rohani dengan pengikutnya (jama’ahnya) yang perempuan sehingga boleh melakukan hubungan suami istri,”papar Andi.

Selain itu menurut Andi ,Tarkum juga mengaku telah melakukan Isra’ Mi’raj dan telah bertemu langsung dengan Allah SWT untuk menerima wahyu. Kegiatan Isra’ Mi’raj sendiri menurut pengakuan Tarkum bisa dilakukan kapan saja dia mau.

“Ajaran sesat lainnya sudah kita tulis dan bisa dipelajari,”ujarnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Somad (45) yang hadir dalam kesempatan tersebut sebagai saksi sekaligus mantan pengikut Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsabandiyah. Somad yang mengaku telah menjadi pengikut toriqoh selama 12 tahun tersebut mengaku banyak menemukan keganjilan dan penyimpangan dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

“Pak Tarkum dalam pengajian terkadang tanpa berpedoman pada kitab dan menafsirkan Al Qur’an semaunya sendiri seperti peristiwa Nuzulul Qur’an setiap bulan Ramadhan selalu turun di rumahnya,”ujar Somad yang keluar tahun 2011.

Sementara itu Direktur Intelejen dan Keamanan (Dirintelkam) Polda Jabar Kombes Pol.M.Syamsul Hidayat yang menerima laporan tersebut mengatakan pihaknya akan segera mempelajari laporan tersebut  dan meneruskan kepada atasannya.

“Kami sangat mengapreasiasi dan menghargai laporan bapak-bapak sekalian.Langkah bapak-bapak ini sudah tepat kami mengucapkan terima kasih,namun bukan wewenang polisi untuk menyatakan aliran atau ajaran tersebut sesat atau tidak.Kita akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menentukan langkah dan penanganan selanjutnya,”ujarnya.

Untuk itu pihaknya menghimbau kepada masyarakat melalui ormas Islam agar tetap menjaga situasi kondusif,aman,tenang dan tidak menghakimi sendiri yang bisa menimbulkan tindakan anarkis.Menurutnya jika terjadi tindakan anarkis maka yang rugi adalah masyarakat khususnya umat Islam sendiri.

Sementera itu keterangan yang dihimpun hidayatullah.com menyebutkan bahwa Tarkum selaku pimpinan toriqoh tersebut saat ini tengah menjalani proses hukum dengan dakwaan pelecehan seksual yang dilakukannya kepada beberapa  perempuan yang ikut dalam jemaatnya.

Dalam tuntutannya, elemen ormas Islam menginnginkan agar Tarkum bisa dijerat hukum dengan pasal penodaan dan penistaan agama.

“Kita akan upayakan agar yang bersangkutan bisa dijerat hukum dengan mengacu pada PNPS No.1 tahun 1965 tentang penodaan dan penistaan agama,”ujar Suryana Nurfatwa dari Pagar Aqidah (Gardah) kepadahidayatullah.com.*

Rep: Ngadiman Djojonegoro

Red: Cholis Akbar

***

Tangkal Aliran Sesat, MGMP PAI Adakan Seminar

CIBINONG-KAB. BOGOR
Maraknya aliran sesat di wilayah Bumi Tegar Beriman seperti kemunculan Imah Mahdi di Kecamatan Cisarua dan Panjalu Pajajaran Siliwangi membuat miris beberapa organisasi kemasyarakat maupun organisasi profesi. Tak terkecuali Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (MGMPPAI) tingkat SMP, SMA dan SMK Kabupaten Bogor yang langsung bergerak dengan menggelar seminar dan diskusi bertajuk Peran Strategis Guru PAI dalam menangkal Aliran Sesat di Kabupaten Bogor, di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Kamis (06/9).

“Kita gelar kegiatan ini untuk menyikapi berbagai persoalan yang muncul saat di ditengah-tengah masyarakat seperti adanya aliran menyimpang atau sesat, dan hal ini tentunya menjadi perhatian guru agama di sekolah-sekolah,”kata Ketua MGMP PAI Kabupaten Bogor Ijen Zainal Abidin.

Sedangkan Kepala Kemenag Kab Bogor Drs, H. Suhendra, MM, menyatakan bahwa Kemenag Kab Bogor bersama MUI Kabupaten Bogor terus mengadakan koordinasi dan kajian terkait persoalan-persoalan aliran menyimpang tersebut. “Kita terus berkoodinasi dan lakukan kajian terutama adanya aliran-aliran yang terus berkembang dan diduga menyimpang,” ujarnya.

Mengenai pencegahan, lanjut dia, tidaklah mudah karena ini menyangkut keyakinan untuk itu diperlukan berbagai upaya salah satunya dengan melibatkan berbagai pihak seperti memperkuat pendidikan Agama di sekolah-sekolah. “MGMPA PAI mempunyai peran strategis untuk mencegah benih-benih aliran menyimpang maupun deradikalisasi yang kerap terjadi pada anak-anak usia sekolah,”tegasnya.

Sementara itu, kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Didi Kurnia,SH, M.Si mengatakan, kegiatan semacam ini perlu diperbanyak dan bisa menjadi ajang diskusi bagaimana penanganan aliran-aliran yang biasanya terjadi pada anak-anak usia sekolah. “Kami mendukung kegiatan ini, apalagi mengandeng berbagai narasumber yang berkompeten seperti MUI Kab Bogor yang memang memiliki data serta aliran-aliran apa saja yang biasanya berkategori menyimpang,”imbuhnya.

REPORTASE : ADE IRAWANhttp://jabar.kemenag.go.id 7 sept 2012

***

Muncul Banyak Aliran Sesat MUI Jabar Bentuk Tim Investigasi

Muncul Banyak Aliran Sesat MUI Jabar Bentuk Tim Investigasi

Bandung, Pelita

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat (Jabar) sejak Jum\’at lalu membentuk tim investigasi, untuk menyelidiki keberadaan aliran sesat yang berdasarkan laporan banyak bermunculan di wilayah Jawa Barat.

Tim investigasi MUI Jabar kini tengah menyelidiki keberadaan beberapa aliran sesat di wilayahnya, di antaranya keberadaaan aliran Islam Suci, aliran yang diduga sesat. Tim sejak Jum\’at sudah diterjunkan di Kota Bandung bersama tim serupa bentukan MUI Pusat.

Sekretaris Umum MUI Jawa Barat, H Rafani Akhyar kepada wartawan Sabtu (3/11) di Bandung mengatakan, berdasarkan laporan sementara, tim yang beranggotakan tujuh orang itu, Sabtu pagi kemarin mendapat titik terang. Menemukan suatu lokasi yang diduga sebagai pusat kegiatan aliran sesat Al Quran Suci, setelah tim tersebut bertemu dengan Fitri, salah seorang jamaah aliran Al Quran Suci, yang sudah keluar, dan sudah berkumpul kembali dengan keluarganya.

Lokasi aliran sesat Al Quran Suci berada di Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung. Dalam merekrut anggotanya berfokus kepada perempuan. Menurut Rafani, sampai saat ini timnya masih terus mengintip dan memperdalam kegiatan pengajian, yang biasanya dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu. Para jamaahnya kebanyakan pelajar putri, mahasiswi dan karyawati
Aliran Al Quran Suci mulai mencuat ke permukaan sekitar September lalu, menyusul hilangnya Yulvie, mahasiswa Politeknik Bandung dari tempat kostnya di sekitar Jalan Kiaracondong, Bandung.

Warga Telukjambe, Karawang yang sampai saat ini belum kembali kepada keluarganya, sempat memberitahu keluarga, bahwa kehilangan dirinya jangan dirisaukan keluarga, karena sedang memperdalam ilmu agama.

Sekretaris Umum MUI Jabar juga mengungkapkan, berdasarkan laporan MUI Kabupaten dan Kota di Jawa Barat, saat ini pihaknya menemukan sedikitnya lima aliran keagamaan yang diduga sesat. Aliran tersebut adalah Al Quran Suci yang berpusat di Bandung, Al Qiyadah al Islamiyah di Bogor, Al Wahidiyah di Tasikmalaya, Komunitas Suku Dayak Hindu Buda Bumi Segandu Losarang, di Indramayu dan Hidup di Balik Hidup di Cirebon. (ksm) Edisi Jum’at, 07 September 2012

***

Potensi Aliran Sesat di Jabar Masih Ada

Senin, 27 Agustus 2012, 16:18 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -— Masyarakat Jawa Barat (Jabar) hingga saat ini belum terbebas sepenuhnya dari aliran sesat. Menurut Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Sonny Widjaja, potensi penyebar aliran sesat untuk mengembangkan ajarannya di Jabar sampai sekarang masih ada. Salah satunya, terjadi di Sukabumi yang disebarkan oleh Sumarna.

Namun, kata dia, untuk menjerat mereka ke jalur hukum terkendala, karena tidak ada pasal dan dasar hukumnya. ‘’Sumarna kan bilang malam ini mau kiamat, kalau tidak potong leher saya. Itu mendahului Allah. Tapi, omongan mereka tak ada pasal dan dasar hukumnya, jadi tak bisa kita jerat,’’ ujar Sonny di sela-sela acara Peringatan Hari Jadi Jabar ke 67, Senin (27/8).

Sonny menjelaskan, pada kasus Sumarna tersebut aparat bisa menjeratnya ke ranah hukum karena dia membunuh seorang ustadz. Namun, untuk ucapannya sendiri tak bisa dibawa ke ranah hukum. Aparat, hanya bisa mengingatkan agar pelaku aliran sesat itu tersebut tak membuat masyarakat resah dan membiarkan masyarakat bekerja dengan tenang. ‘’Hanya itu yang bisa kami lakukan,’’ tegas Sonny.

Menurut Sonny, dalam memberantas aliran sesat di Jabar, aparat menghadapi tantangan, karena aliran tersebut dinamis. Jadi, untuk mengatasinya membutuhkan seni, kesabaran, dan ketekunan. Kalau ditemukan aliran sesat di Jabar, sambung dia, tugas Kodam III Siliwangi sebenarnya sifatnya hanya mencatat, memonitor, mendata, dan menahan agar mereka tidak berbuat anarkis serta membuat keresahan di masyarakat. Karena, hingga saat ini belum ada payung hukum untuk jadi dasar penindakannya.

Kewenangan tentang aturan tersebut, kata Sonny, berada di wilayah  Kementerian Agama dan MUI. Aparat, sifatnya hanya membantu meredam penganut aliran sesat agar tidak anarkis dan berkelahi. Karena, bagaimana pun mereka masih bagian dari NKRI.

Redaktur: Dewi Mardiani

Reporter: Arie Lukihardianti

***

Ahmad Heryawan: Otak Aliran Sesat Harus Dihukum Pelaku Penistaan Agama

Minggu , 02 September 2012 15:33:36

Oleh : Sonni Agung Saputra

KBRN, Bogor : Adanya aliran sesat yang meresahkan masyarakat harus diambil tindakan tegas dengan memproses hukum.

Selama ini di Bogor sudah banyak sekali aliran sesat yang berkembang, mulai dari penganut satu dua orang sampai ribuan orang dengan mengaku sebagai Nabi utusan Tuhan. Bahkan beberapa diantaranya berani mengganti dua kalimat syahadat yang dasar umat Islam.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menegaskan kondisi ini harus dihentikan dengan meminta perhatian dari semua pihak untuk melakukan pengawasan dan penindakan. Untuk menindak aliran sesat harus ada dua langkah yang dilakukan untuk otak intelektual dan penganutnya. Sehingga harus ada pemisahan cara bertindak.

Menurut Ahmad Heryawan untuk penganut atau simpatisan harus mendahulukan tindakan persuasif dengan mengembalikan pada akidah melalui pertobatan.

“Untuk otak intelektual aliran sesat harus ditangkap dan diproses sesuai hukum karena sudah melakukan penistaan agama,” ujarnya kepada RRI di Bogor, Minggu (2/9).

Dengan pemisahan cara bertindak itu maka memungkinkan memutus mata rantai penyebaran aliran sesat. Sementara itu Wakapolda Jabar Brigjen Pol Hengkie Kaluara menjelaskan tindakan Polri harus didukung semua pihak terutama Alim Ulama. Sehingga dalam penindakan harus terlebih dahulu diawali dengan peran serta penyadaran Alim Ulama dan Tokoh Masyarakat, sebab mereka lebih mengetahui watak dari warga.

“Penindakan kepolisian harus dimulai dengan peran serta tokoh masyarakat dan agama untuk memberikan penyadaran kepada warga baik pro maupun kontra aliran sesat,” jelasnya.

Dengan cara itulah maka cara bertindak polri akan lebih mumpuni, termasuk penyadaran masyarakat untuk tidak main hakim sendiri.  Terlebih saat ini masyarakat mudah terprovokasi dengan adanya aliran sesat. (Sonni/WDA)(Editor : Waddi Armi)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.102 kali, 1 untuk hari ini)