Ilustrasi sesajen/ foto ahmadzain.com

Ada pejabat yang begitu terpilih, maka program 100 hari yang dicanangkannya adalah menebang pohon tempat kemusyrikan di alun-alun Purwokerto Jawa Tengah.

Reaksi para pendukung kemusyrikan pun berdatangan dari berbagai kalangan, dari DPRD, Keuskupan Purwokerto, seniman budayawan, dan aneka macam orang yang mendukung kemusyrikan dengan dalih cagar budaya dan semacamnya. Tetapi  Bupati Banyumas, Drs. H. Mardjoko, M.M. tetap tegas:

’’Ada kepercayaan dua pohon beringin itu tak boleh ditebang. Itu tidak mutlak benar. Sekarang perlu disesuaikan,’’ kata Mardjoko di depan peserta dialog kampus di gedung rektorat Unsoed, Sabtu lalu (16 Mei 2008).  Dialog bertema ’’Banyumasku Kampusku Ukir Prestasi, Sejahterakan Rakyat Pribumi’’ itu digelar bersamaan dengan peluncuran USP Koperasi Kampus. Bupati Mardjoko menegaskan kawasan alun-alun Purwokerto tetap akan ditata. Jalan tengah disatukan, dua pohon beringin ditebang.  (Warta Purbalanjar, Mon May 19, 2008 10:30 pm)

Apakah benar, keberatan mereka itu dilatar belakangi pelestarian kemusyrikan?

Ya. Buktinya, apa yang ditulis di situs Keuskupan Purwokerto sebagai berikut:

Rupanya ribut-ribut soal pohon beringin alun-alun itu menyusup dan menjadi perbincangan warga Wisma Kasepuhan. Kang Warto ikutan mendengarkan dan mencermati. ”Waktu saya kecil, setiap kali wetonan, Simbok saya membuat bubur abang putih,” begitu Romo Sepuh memulai bercerita.”Simbok bilang, Le, iki gawa lan dekek ngisor wit ringin kana,” tambahnya. (Sesaji Romo Sepuh untuk Pohon Beringin, Selasa, 25 November 2008 05:45:31 – oleh: kangwarto, Keuskupan Purwokerto, keuskupan%20protes%20beringin%20ditebang.htm).

Perkataan “Le, iki gawa lan dekek ngisor wit ringin kana” (Nak, ini bawa dan taruh di bawah pohon beringin sana) itu adalah praktek sesaji. Judulnya itu sendiri adalah cerita tentang sesaji. Jelas itu adalah kemusyrikan, dosa terbesar yang tak diampuni, bila pelakunya belum bertaubat benar-benar dan tak mengulanginya.

Menghadapi halangan dan protes yang mengusung kemusyrikan semacam itu, perlu ada landasan legalnya. Dalam kasus ini, ternyata kemudian ada surat dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah.

Dalam surat dari BP3 Jawa Tengah tentang alun-alun Purwokerto menyebutkan bahwa (1) Alun-alun Purwokerto Kabupaten Banyumas merupakan Benda Cagar Budaya yang dilindungi UU No 5/1992 sehingga dalam upaya revitalisasinya memperhatikan nilai penting sebagai simbolisme religius, nilai penting kota bersejarah, dan nilai penting sebagai landmark kota. (2)Revitalisasi alun-alun dapat dilaksanakan sesuai gambar perencanaan landscape alun-alun Purwokerto Kabupaten Banyumas Tahun 2008 dengan memperhatikan: a. Jalan aspal ditengah alun-alun dihilangkan dan dapat dibuat akses tapak jalan dari coneblock dengan ketinggian yang selaras dengan lahan alun-alun; b. Pohon beringin kurung dan beringin batur tetap dipertahankan, dalam arti beringin kurung yang mati diganti baru; c. Pagar beringin kurung dapat diganti dengan bentuk yang dikonsultasikan lebih dahulu dengan BP3 Jateng; d. Jika ada perubahan-perubahan dari rencana supaya dikonsultasikan dengan BP3 Jateng. (kamar Puisi, ALUN-ALUN YANG UNIK ITU KINI TELAH HILANG, di 03:57Diposkan oleh Ryan Rachman )

Ketika ada tekad bulat, ternyata ada jalan pula. Tidak mudah memang, untuk menyingkirkan daki-daki yang mengotori bahkan merusak keimanan di negeri ini. Tetapi kalau saja ada pejabat yang berani bertindak, walau bukan karena memberantas kemusyrikan, tetapi untuk menata kota agar lebih baik, ternyata bisa berjalan pula, bahkan ada pula yang mendukungnya. Dalam kasus ini, Muhammadiyah Purwokerto mendukungnya:

PURWOKERTO (KR)

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Banyumas secara resmi telah menyampaikan surat dukungan atas rehab Alun-alun Purwokerto oleh Pemkab/Bupati Banyumas, Mardjoko, Kamis (28/8). Alasan Muhammadiyah Banyumas mendukung rehab alun-alun tersebut karena secara kemanfaatan, alun-alun yang sekarang telah 90 persen direhab lebih bermanfaat bagi sebagian besar masyarakat Banyumas ketimbang sebelumnya.
Dalam surat tersebut diuraikan kemanfaatan yang bisa diambil dari rehab tersebut antara lain, luas alun-alun menjadi bertambah dan memudahkan masyarakat untuk menggunakannya dalam berbagai kepentingan, seperti untuk Salat Idul Fitri maupun Idul Adha. Selain itu, setelah rehab dilakukan sebagai area publik alun-alun tak lagi menjadi seperti pasar yang semrawut karena banyaknya Pedagang Kaki Lima (PKL).
Ketua PDM Kabupaten Banyumas H Ahmad Kifni yang menandatangani surat tersebut mengatakan, wajah Alun-alun Purwokerto sebagai kawasan publik sekarang ini sudah lebih baik dari sebelum direhab. Dengan begitu maka rehab yang dilakukan Pemkab Banyumas dinilai sebagai upaya positif untuk terciptanya revitalisasi fungsi alun-alun yang sesungguhnya, yakni sebagai kawasan publik. Adanya rehab tingkat kenyamanan alun-alun menjadi tampak dibanding sebelumnya yang terkesan kumuh. (kedaulatan rakyat online, 30/08/2008 07:29:52 ).

Apakah karena Bupati itu dari Muhammadiyah?

Wallahu a’lam. Yang jelas, beliau kabarnya dari hasil pemilihan, sedang bendera yang beliau bawa saat itu adalah PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang notabene bukan partai Islam.

Bukan dari partai Islam saja bisa berbuat dalam hal ini walau tidak untuk menghilangkan kemusyrikan, namun punya akibat baik bagi Islam; apalagi mestinya dari partai-partai Islam atau bahkan yang menyebut diri partai da’wah. Seharusnya lebih teguh lagi.

Mudah-mudahan pelaksanaan dan dukungan itu merupakan perbuatan yang termasuk dipuji oleh Allah Ta’ala, kebalikan dari kecaman yang tersebut di atas:

وَاْلمُؤْمِنُوْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِياَءُ بَعْضٍ يَأْمُرُوْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَيُطِيْعُوَنَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ أُوْلَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS At-taubah/ 9: 71).

Bibit-bibit dan potensi iman untuk menegakkan kebenaran dan memberantas keburukan masih ada. Pendukungnya pun ada. Semoga potensi iman itu tidak tertelan oleh hingar bingar dunia yang amat menggoda ini, hingga justru –yang tampaknya ngetren kini—potensi iman itu  digadaikan demi sesuap nasi. Makanya hanya pohon beringin ditebang saja ributnya memenuhi bumi Banyumas –bahkan mungkin Indonesia–, sampai keuskupan pun ikut bicara. Sementara itu keimanan manusia ini dicabuti dari dada-dada Muslimin setiap saat, diganti dengan kemusyrikan ditambah dengan kemusyrikan baru (sepilis – sekulerisme, pluralisme agama alias menyamakan semua agama, dan liberalisme–) dan aneka perangkat kemaksiatan serta perusakan iman lewat televise dan aneka media massa bahkan lewat pendidikan tinggi Islam se-Indonesia dan pendidikan umum; mereka diam saja, sampai ulama-ulamanya. Kecuali hanya sedikit orang saja.

Mereka yang memprotes-protes atas ditebangnya pohon beringin itu, karena membela keyakinan syetan, maka akal sehatnya tidak dipakai. Sehingga walaupun dengan dalih yang dicanggih-canggihkan, maka tetap saja tidak memakai akal dan tak konsisten. Kalau memang konsisten, mestinya mereka setiap hari mengajukan protes dan menjadi penunggu hutan-hutan di Indonesia. Pohon-pohon yang umurnya ratusan tahun, dengan alasan cagar budaya atau benda purbakala, maka mesti mereka tunggui, siapa saja tidak boleh menebangnya. Juga pohon-pohon tua yang ada di pinggir-pinggir jalan. Tidak boleh ada petugas yang menebangnya. Siapa yang menebangnya, walau petugas, akan diadukan ke polisi untuk diadili dan dipenjarakan.

Kalau itu diberlakukan, maka akibatnya, di sana-ini akan banyak pohon tumbang, jalanan terhalang, dan para pengikut ajaran syetan itu akan dikutuk manusia di mana-mana, sekaligus bersama syetan-syetannya.

Oleh karena itu, mereka yang mempertahankan pohon beringin (dengan latar belakang demit-demitnya yang dipertahankan) itu, mereka sebenarnya tidak lebih dari orang-orang yang berebut tai kerbau di Solo Jawa Tengah setiap malam tanggal satu Suro (Muharram) itu. Sesama rekannya pun mereka berebut tai, sampai-sampai air bekas cucian kereta kuda pun diperebutkan. Itulah sebenarnya mutu mereka. Sehingga ketika duduk di DPRD misalnya, ataupun jadi seniman, budayawan, wartawan, dan bahkan menguasai media massa, bahkan mungkin memimpin masyarakat, ya akan berlaku seperti para perebut air bekas cucian kereta itu, kalau memang keyakinan kemusyrikannya sama. Hanya saja ucapannya dicanggih-canggihkan, agar kelihatannya pakai otak gitu lho.  (haji/tede)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.136 kali, 1 untuk hari ini)