• Apakah mereka memang menjunjung aturan dari syetan?
  • Dahsyatnya dampak buruk media liberal dan anti Islam
  • Berikut ini ada bukti, bagaimana negeri yang tadinya dikenal sebagai negeri anti Tuhan alias ateis saja mereka tidak terdengar banyak mulut ketika ada aturan tidak boleh pakai rok mini di parlemen. Tapi bandingkan dengan orang Indonesia, ketika ada aggota DPR yang menginginkan agar wanita tidak pakai rok mini di lingkungannya, ternyata banyak mulut yang bicara sesuai nafsunya belaka, termasuk yang dari kalangan anggota DPR itu sendiri, tanpa menjunjung akhlaq mulia. Lalu media massa liberal dan anti Islam kebanyakan “mengompori” untuk melawan suara yang menjunjung moral dengan aneka cara. Itulah jahatnya media massa liberal dan anti Islam di Indonesia!

Kalau kita membaca perkataan orang Indonesia kini, baik yang disebut anggota dewan yang terhormat maupun masyarakat umum, kita akan mengelus dada. Betapa jauhnya otak mereka dan moral mereka dari tuntunan agama. Bahkan lebih buruk dibanding orang di negeri yang tadinya dikenal ateis sekalipun.

Lebih mengerikan lagi, media massa pada umumnya, kalau ada tokoh Indonesia sampai yang nomor satu sekalipun, kalau “keceplosan” bicara menjunjung moral, misalnya agar wanita menutupi pusarnya yakni udelnya agar jangan diumbar; serentak sontak langsung ramai-ramai media massa bahkan sampai penyanyi pun berreaksi mengecamnya.

Astaghfirullah… mereka ramai-ramai menjadi pendukung udel dibuka. Mereka anti akhlaq mulia, hingga bila ada orang yang “kewetu” (terlanjur ngomong) menganjurkan untuk tidak pakai rok mini, agar tidak terjadi perkosaan, walau itu yang ngomong gubernur, langsung dicela ramai-ramai. Sampai kemudian sang gubernur pun minta maaf.

Astaghfirullah… apakah ini negeri, orang-orangnya sudah tidak pakai otak dan tidak menjunjung moral?

Berikut ini ada bukti, bagaimana negeri yang tadinya dikenal sebagai negeri anti Tuhan alias ateis saja mereka tidak terdengar banyak mulut ketika ada aturan tidak boleh pakai rok mini di parlemen. Tapi bandingkan dengan orang Indonesia, ketika ada aggota DPR yang menginginkan agar wanita tidak pakai rok mini di lingkungannya, ternyata banyak mulut yang bicara sesuai nafsunya belaka, termasuk yang dari kalangan anggota DPR itu sendiri, tanpa menjunjung akhlaq mulia.

Inilah, mari kita bandingkan.

***

Anggota Parlemen Dilarang Pamer Paha!

Fajar Nugraha

Rabu, 30 Maret 2011 07:06 wib

MOSKOW – Para anggota parlemen Rusia dan ajudan perempuan dilarang untuk menggunakan rok mini. Ini diatur dalam aturan kode etik yang baru disusun.

Aturan kode etik yang baru ini dikabarkan berlaku untuk semua yang bekerja di Majelis Rendah Duma Rusia. Aturan ini harus diikuti oleh siapapun termasuk oleh anggota parlemen, ajudan serta para stafnya. Demikian diberitakanTelegraph, Rabu (30/3/2011).

Menurut Suratkabar Moskovsky para anggota parlemen ini diharuskan untuk menggunakan pakaian formal dan rapih. Tentunya hal ini mengakhiri masa-masa kebebasan para anggota parlemen khususnya yang perempuan, yang biasa mengenakan rok mini.

Selain itu, aturan ini juga mengharuskan para anggota Parlemen Duma untuk meminimalisir kontak dengan jurnalis. Mereka menegaskan segala bentuk pekerjaan yang berkaitan dengan media, harus diserahkan kepada divisi media parlemen tersebut.

Hebatnya, para anggota parlemen juga diatur dalam bertutur kata. Mereka diharuskan untuk menghindari bahasa yang kasar dan arogan saat bersentuhan dengan pihak lain.

Bila ditelaah aturan ini memang cukup ketat. Mungkin saja hal ini dapat merubah paradigma anggota parlemen yang kerap dianggap arogan dan bertindak semaunya saja.

(faj) http://international.okezone.com/read/2011/03/29/214/440238/anggota-parlemen-dilarang-pamer-paha

***

HEBOH ROK MINI: Guncang DPR Dan Twitterland

Oleh Arif Pitoyo

Kamis, 08 Maret 2012 | 17:12 WIB

JAKARTA: Wacana mengenai rok mini kini ramai di kalangan anggota dewan dan bahkan mengguncang dunia twitterland.

Asal mula tercetusnya isu tersebut bermula daripada Naora Dian Hattarony, Anggota Komisi VIII DPR RI dari partai Gerindra. Dia meminta kepada DPR RI agar secepatnya mengeluarkan aturan pelarangan kaum wanita berpakaian seksi atau rok mini di lingkungan DPR RI.

Menurut Naora memakai rok mini atau berpakaian sensual di lingkungan DPR RI itu tidak mencerminkan kualitas bangsa Indonesia.

“Saya tidak setuju ada orang-orang ataupun staf yang mengenakan rok mini atau berpakaian sensual di lingkungan DPR RI karena DPR RI mencerminkan kualitas dari bangsa ini. Jadi perlu ada aturan khusus di DPR RI,” kata Naora.

Berbagai tanggapan pun meledak di Twitterland, seperti kicauan Sudjiwo Tedjo dalam akunnya@sudjiwotedjo: “Yg anti rok mini pasti lupa semboyan MINI VIDI VICI, Aku pakai rok mini, aku datang, aku menaaaaaaang….”

Lain lagi dengan Thrio haryanto dalam akun @thriologi: “!!! RT @Kabar24: “Bukan Salah Rok Mini Tapi Otakmu yang Mini!’ bit.ly/Ak3X1I”

Kicauan lucu dan bernada menyindir diungkapkan Ade Ayu Sasmita (@TrioMacan2000) : ““@RosiSilalahi:@gm_gm: Saya yakin Marzuki Ali & bapak2 di DPR akan penuhi komitmennya u/ tdk pake rok mini waktu sidang. Entah di rumah”

Namun, ada juga sejumlah tokoh yang mencibir bahwa isu rok mini hanya untuk menutupi persoalan besar, seperti misalnya kenaikan harga BBM.

Nukman Luthfie berkicau dalam @nukman : “setiap ada isu besar, spt kenaikan BBM, selalu ada isu kecil yg dibesar2kan, spt rok mini. Knp?”

Sementara itu, tokoh pengamat masalah sosial Fadjroel Rachman @fadjroel : “Rok Mini Bukan Urusan DPR.”(api)

http://www.bisnis.com/articles/heboh-rok-mini-guncang-dpr-dan-twitterland

***

Rok mini urusan yang remeh temeh

Selasa, 6 Maret 2012 11:46 wib

Sindonews.com – Sikap pimpinan yang melarang staf dan anggota DPR berpakaian seksi mendapatkan banyak reaksi negatif banyak politikus wanita. Setelah politikus PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka, kini giliran politikus dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Chusnunia.

Chusnunia mengimbau agar anggota dewan tidak terjebak dengan urusan pakaian stafnya. Apalagi sampai menjadi perdebatan.

“Saya tidak sepakat jika perihal rok mini jadi perdebatan atau fokus dewan. Ini urusan remeh temeh, jangan dijadikan pengalihan isu,” tutur Chusnunia saat dihubungi wartawan, Selasa (6/3/2012).

Lanjut politikus muda dari Daerah Pemilihan Lampung ini, berpakaian sopan tidak hanya di DPR, namun juga di mana pun. “Di mana pun kantornya, bukan sekedar di DPR, selayaknya jika ada imbauan untuk berpakaian sopan,” ucapnya.

“Hal normal saja jika diharapkan sopan. Seperti aturan di kampus, mahasiswa saja diharapkan berpakaian sopan,” tuturnya lagi.

Namun dia mencermati agar pimpinan DPR tidak menerapkan aturan yang kaku. Karena penerapan ini hanya akan menyedot tenaga dan pikiran.

Diingatkannya, anggota dewan bukan bekerja untuk mengurusi rok mini, tapi legislasi, budgetting dan pengawasan. “Itu masih menumpuk untuk diselesaikan,” tukasnya. (wbs) .sindonews.com

***

Apakah mereka memang menjunjung aturan dari syetan?

Betapa jauh bedanya. Antara orang Rusia yang negerinya itu tadinya dikenal tidak beragama, dan Indonesia yang berketuhanan yang maha esa, bahkan beragama Islam. Tetapi sama sekali jauh dari tuntunan Islam dalam berkata-kata maupun berpandangan hidup. Sedang media massa di Indonesia pun mencari-cari dan menampil-nampilkan suara orang yang meremehkan aturan moral dengan aneka dalih. Peran buruk media massa di sini sangat menjerumuskan manusia. Berita-berita itu tadi jelas dicari secara aktif untuk membantah orang yang masih menjunjung moral, demi menyeret manusia ke neraka dengan mengikuti ajaran syetan yang mereka jajakan yakni mendorong manusia untuk mengumbar aurat.

Pertanyaan yang perlu diajukan, apakah kenyataan wanita mengumbar aurat di antaranya pakai rok mini itu masalah remeh temeh?

Kalau itu masalah remeh temeh, tentu tidak ada ancaman siksa dalam agama mengenai itu. Padahal ancaman siksa dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat dahsyat terhadap wanita yang kaasiyaatun ‘aariyaatun (berpakaian tapi telanjang), yakni ketat, atau transparan, atau pendek tidak sempurna menutup aurat.

Tetapi kenapa ancaman semacam itu justru mereka remehkan. Apakah memang mereka sudah menjunjung  aturan dari syetan perusak moral sebagai ganti dari agama?

Dalam agama (Islam), betapa kerasnya ancaman siksa kelak di akherat bagi wanita yang berpakaian tapi telanjang (kaasiyaatun ‘aariyaatun). Artinya, berpakaian tapi ketat hingga bentuk lekuk-lekuk tubuhnya kelihatan atau transparan nerawang, atau pendek tidak sampai menutupi seluruh badannya, maka akan disiksa –yang siksanya itu– sangat dahsyat. Inilah haditsnya, yang tentunya akan mengenai pula bagi laki-laki yang mendukung wanita yang berpakaian tapi telanjang yang diancam siksa dahsyat itu. Termasuk pula orang-orang yang mengangkat berita di berbagai media massa yang misinya mendukung rok mini dan semacamnya itu, mereka di barisan depan dalam menyeret manusia ke neraka, bila tidak bertaubat. Makanya harus hati-hati bicara. Jangan asal menuruti hawa nafsu mumpung masih hidup dan bisa ngomong.

Inilah haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

(MUSLIM – 3971) : Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat. (1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang. (2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang (karena pakaiannya terlalu minim, terlalu tipis atau tembus pandang, terlalu ketat, atau pakaian yang merangsang pria karena sebagian auratnya terbuka), berjalan dengan berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari begini dan begini.”

Sabdanya,” kasiyat ‘ariyat,” telah ditafsirkan:

  1. Bahwa mereka itu berpakaian dengan pakaian pendek yang tidak menutupi aurat yang harus ditutup,
  2. dan ditafsirkan bahwa mereka mengenakan pakaian tipis yang tidak menutupi kulitnya dari pandangan di baliknya,
  3. dan ditafsirkan juga bahwa mereka mengenakan pakaian ketat yang  memang menutupi kulit dari pandangan namun tetap menampakan lekuk dan bentuk kemolekan tubuh wanita.

فيض القدير – (ج 4 / ص 276)

(وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا) كناية عن خمسمائة عام أي يوجد من مسيرة خمسمائة عام كما جاء مفسرا في رواية أخرى.

Imam Al-Munawi menjelaskan dalam Faidhul QadirPadahal bau surga itu dapat tercium dari begini dan begini  adalah kiasan dari 500 tahun. Artinya bau surga itu didapati (tercium bau wanginya) dari jarak perjalanan 500 tahun sebagaimana telah datang penjelasan dalam riwayat yang lain. (Faidhul Qadir juz 4 halaman 276).

Oleh sebab itu tidak boleh bagi wanita mengenakan pakaian-pakaian ketat/sempit seperti apa yang kini disebut celana lejing atau celana potlot yang mepet melekat pada kulit hingga lekuk-lekuknya pun kelihatan membentuk, dan juga rok mini ataupun atasan yang pendek dan sebagainya, kecuali hanya di hadapan suaminya saja, karena di antara suami isteri tidak ada aurat, berdasarkan firman-Nya  :

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ

 المؤمنون 5-6

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela (Al Mu’minun 5-6).

Dahsyatnya dampak buruk media liberal dan anti Islam

Rusaknya moral dan otak serta pandangan hidup bangsa Indonesia kebanyakan dipicu oleh derasnya media-media massa liberal bahkan anti Islam, yang itu justru kebanyakan media massa (televise, koran, majalah, internet, dan sebagainya) di sini kebanyakan ya begitu itu. Oleh karena itu, Ummat Islam Indonesia wajib menjaga diri dari aneka media yang menyeret ke neraka itu, agar diri kita selamat. Biar mereka saja yang kelak ke neraka bersama nara sumber-nara sumbernya yang liberal, anti Islam dan sebagainya serta para pendukungnya itu, bila mereka tidak mau bertobat.

Sekali lagi, mari kita jauhi media-media yang menyeret manusia ke neraka itu, yang hingga menjadikan Ummat Islam Indonesia ini lebih buruk sikapnya dalam hal moral dibanding orang di negeri yang tadinya dikenal tidak beragama sekalipun, seperti dalam perbandingan berita itu tadi.

Masih kurang bukti?

Alhamdulillah, sudah jelas.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.312 kali, 1 untuk hari ini)