Perlu diingat, pemegang kepemimpinan Islam = ulil amri minkum

Petugas partai ataupun pemegang kepemimpinan (dengan sistem) sekuler dan semacamnya adalah bukan termasuk yang tersebut di atas.

Perlu diketahui pula, ulil amri minkum, kepemimpinannya itu dalam kerangka (sistem) Aywy (Al-Islaamu Ya’luu walaa yu’laa, Islam itu tinggi dan tidak diungguli).

Sebaliknya, kepemimpinan yang bukan sistem Aywy maka dalam kerangka selain Aywy yang garisnya termasuk maghdhub dan dhallin, sedang sifatnya dalam kerangka walan tardho (QS 2: 120).

Umat Islam ketika di bawah kepemimpinan Aywy maka diperintahkan taat fil ma’ruf, dan tidak boleh melawannya, karena kepemimpinannya itu dalam kerangka Aywy, yang kalau dilawan berarti melawan sistem itu. Sehingga walau pemimpin Aywy itu berlaku zalim, maka umat ditekankan untuk bersabar.(Di sini tidak berlaku dalam menyikapi petugas partai atau pemimpin sekuler dan semacamnya itu. Namun sayangnya, banyak orang yang menganggap petugas partai atau pemimpin dengan sistem sekuler sama dengan pemimpin Aywy. Pemahaman itu lebih buruk dibanding menyamakan emas dengan perunggu, hanya sama-sama kuning, hanya sama-sama pemimpin).

Dalam berhadapan dengan pemegang sistem yang sifatnya walan tardho, maka posisi pemegang sistem yang sifatnya seperti itu hanyalah sebagai pemegang janji untuk sama-sama ditepati.

Ketika pemegang sistem yang sifatnya walan tardho yang sudah pegang janji itu ternyata merusak pejanjian, maka harus menanggung resiko.

Bila umat Islam memiliki pemimpin Aywy, maka perusak janji itu disikapi sebagaimana telah ada contohnya yaitu para pengkhianat Yahudi dari Bani Nadhir, Bani Qainuqa’, dan Bani Quraidhah. (Bagi yang faham Tarikh Islam tentunya faham. Sehingga para penjilat sekarang yang membela pengkhianat pengingkar janji bahkan penista Islam itu betapa buruknya, sekelas dengan penjilat terhadap Bani Quraidhah dll yang telah khianat hingga dihukum bunuh itu).

Ketika Umat Islam tidak memiliki pemimpin Aywy, maka petunjuk ulama yang terpercaya, yang sesuai dengan Islam perlu ditaati demi kemaslahatan.

Ketika pemegang janji itu merusak janjinya, menzalimi Umat Islam, menista Islam, atau membela penista Islam, maka tidak ada kompromi lagi. Karena Al-Islaamu Ya’luu walaa Yu’laa. Keadilan harus ditegakkan.

Satu hal yang perlu dicermati pula adalah bermunculannya manusia-manusia penjilat yang menjual agamanya demi membela kebohongan pihak yang dijilat. Padahal sudah ada peringatan keras dari Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut.

Pendukung Pemimpin Bohong Lagi Zalim Bukan Golongannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

الراوي جابر بن عبدالله المحدث الألباني

المصدر صحيح الترغيب الصفحة أو الرقم: 2242 خلاصة حكم المحدث صحيح لغيره

/Dorar.net

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ka’b bin’ Ujroh, “Semoga Allah melindungimu dari Imaratis Sufahaa’ (pemerintahan orang-orang yang bodoh)”, (Ka’b bin ‘Ujroh Radliyallahu’anhu) bertanya, apa itu pemerintahan orang-orang bodoh? (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Yaitu para pemimpin (kekuasaan) sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku, dan aku juga bukan termasuk golongannya, mereka tidak akan datang kepadaku di atas telagaku, barang siapa yang tidak membenarkan mereka atas kebohongan mereka, serta tidak menolong mereka atas kedholiman mereka maka mereka adalah golonganku dan aku juga golongan mereka serta mereka akan mendatangiku di atas telagaku. (Musnad Ahmad No.13919, shahih lighairihi menurut Al-Albani dalam Shahih at-Targhib).

Allahul Musta’an. Wa laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adhiim.

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.040 kali, 1 untuk hari ini)