Ketua MUI: Buzzer Hukumnya Sama Seperti Memakan Bangkai Saudaranya

  • Fatwa MUI Tentang Media Sosial, Apa Saja yang Haram?


Screen video ytb/ twtr

Jakarta – Ketua Komisi Dakwah MUI KH Buzzer Hukumnya Sama Seperti Memakan Bangkai Saudaranyamemperingatkan para buzzer di media sosial yang menebar informasi menyesatkan atau hoaks, ghibah, fitnah, namimah atau adu domba, dan keburukan lainnya, itu diharamkan.

Buzzer yang selalu bikin resah semacam ini, termasuk keberadaan buzzer bayaran atau buzzerrp sama halnya seperti memakan bangkai bangkai saudaranya.

“Hukumnya sama dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati,” kata Kiai Cholil di Twitternya, dikutip Jumat(12/2).

Keberadaan buzzer bayaran atau buzzerrp yang semakin marak di masa kepemimpinan Presiden Jokowi terbukti menimbulkan keresahan. Keberadaan buzzer tersebut juga memecah belah keutuhan bangsa dan melahirkan sikap radikalisme.

KH Cholil Nafis mengatakan, MUI sudah mengeluarkan Fatwa Nomor 24/2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Tetapi buzzer makin merajalela.

“Fatwa itu untuk menjawab keresahan masyarakat yang meminta kepastian, sekaligus ini bagian dari menjaga umat agar tetap lurus, tak tersesat, agar tidak seenaknya melakukan ghibah (menggunjing),” katanya.

MUI mengeluarkan fatwa tersebut juga untuk menjaga negara. Agar NKRI tetap utuh dan masyarakat bisa bijak bermedia sosial. Ada sisi positif dan negatif medsos, seperti munculnya paham liberalisme, radikalisme ekstrem kiri dan kanan yang menyebarkan pahamnya melalui medsos.

“Juga kita menjaga agama, bagaimana agama itu menjiwai kenegaraan kita, pemerintahan kita, dan kebangsaan kita, sekaligus untuk menjaga umat,” tuturnya.

Menurut Kiai Cholil Nafis, aktivitas buzzer kalau untuk menyampaikan hal-hal yang baik, misalnya promosi produk dan informasi baik lainnya maka tidak menjadi persoalan. Tetapi jika yang disampaikan itu fitnah, ghibah dan lain-lain, apalagi untuk membunuh karakter orang, hal itu diharamkan.

“Orang kalau mengkritik bukan substansi kritiknya yang dikejar, tapi

karakter orangnya yang dibunuh,” katanya.(EP)

Indonesiainside.id, Oleh Eko Pujianto

Jumat, 12/02/2021 – 08:13 WIB

 

***

Ini Fatwa MUI Tentang Media Sosial, Apa Saja yang Haram?


Posted on 5 Juni 2017

by Nahimunkar.org

  •  


BANDUNG, (PRFM) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mengeluarkan fatwa haram mengenai penggunaan media sosial. Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat Hasanudin AF kini keberadaan media sosial sudah salah arti sehingga sering disalahgunakan menjadi perantara untuk menebar hal-hal yang bersifat negatif atau mudarat.

“Banyak hal yang dilansir di medsos itu terkait ujaran kebencian, berita bohong, pornografi dan itu menyebar luas itu di masyarakat,” ujarnya saat on air di Radio PRFM, Senin (5/6/2017).

Menurutnya MUI pun tidak gegabah dalam pengambilan keputusan ini. Pasalnya sudah melalui berbagai kajian termasuk masukan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Secara moral sudah tentu sebagai seorang muslim harus mengikuti ajaran agama yang ada di Al-quran dan sunnah rosul. Media sosial itu ibarat pisau bermata dua tergantung digunakannya.  Kalau digunakan positif ya akan positif kalau negatif yang akan negatif. Saya kira yang sifatnya negatif dan memberikan mudarat ke orang lain itu haram kalau jadi tuntunan sudah barang tentu itu hukumnya halal,” tuturnya.

Berdasarkan dari pendapat para ulama dan pleno, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk:

  1. Melakukan ghibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusuhan.
  2. Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan.
  3. Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.
  4. Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i.
  5. Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.

Selain itu juga, beberapa aktifitas yang diharamkan di media sosial adalah:

• Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat hukumnya haram.

• Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya haram.

• Memproduksi dan/atau menyebarkan konten/informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan tujuan menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak hukumnya haram.

• Menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat, hukumnya haram.

Aktifitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram.Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.

Redaksi Oleh : Asep Yusuf Anshori
Sumber Foto : Istimewa

Sumber: prfmnews.com

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 197 kali, 1 untuk hari ini)