Ketua MUI KH Cholil Nafis Kritik Keras SKB 3 Menteri Soal Seragam Sekolah Negeri

  • “Mewajibkan yang wajib menurut agama Islam kepada pemeluknya saja tak boleh. Lalu pendidikannya itu di mana?” kata Cholil Nafis, Jumat (5/2).
  • Model pendidikan pembentukan karakter itu karena ada pembiasaan dari pengetahuan yang diajarkan diharapkan menjadi kesadaran (KH Cholil Nafis)
  • Yang tak boleh itu mewajibkan jilbab kepada non muslimah atau melarang muslimah memakai jilbab (KH Cholil Nafis)


Ketua Komisi Dakwah MUI Cholil Nafis. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

 

Kritik keras datang dari Ketua MUI KH Cholil Nafis soal SKB 3 Menteri terkait seragam sekolah negeri. Pengasuh Ponpes Cendekia Amanah ini mengingatkan memakai jilbab bagi muslimah wajib dalam Islam.

“Mewajibkan yang wajib menurut agama Islam kepada pemeluknya saja tak boleh. Lalu pendidikannya itu di mana?” kata Cholil Nafis, Jumat (5/2).

Model pendidikan pembentukan karakter itu karena ada pembiasaan dari pengetahuan yang diajarkan diharapkan menjadi kesadaran

(KH Cholil Nafis)

Cholil Nafis memberi contoh, misalnya dalam pendidikan dasar, ketika seorang anak masuk sekolah dia wajib berseragam dan wajib bersepatu.

“Lah giliran mau diwajibkan berjilbab bagi yang muslimah kok malah tidak boleh,” urai dia.

Yang tak boleh itu mewajibkan jilbab kepada non muslimah atau melarang muslimah memakai jilbab

(KH Cholil Nafis)

Karena itu, lanjut Cholil Nafis, agak aneh juga reaksinya ketika ada satu kasus siswa nonmuslimah di sebuah sekolah negeri (SMKN 2 Padang-Red) dipaksa memakai jilbab.


Semestinya cukup bikin aturan bagi siswa nonmuslimah dipersilakan mengikuti aturan sesuai ajaran agamanya. Tapi jangan kemudian reaktif dengan bikin aturan siswa muslimah jadi tak wajib berjilbab.

“Baiknya memang mengurus gimana memaksimalkan belajar daring di pelosok yang tak terjangkau atau yang tak punya perangkatnya,” ujar dia.

Tiga menteri menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) mengenai seragam sekolah negeri. SKB itu disahkan pada Rabu (3/1) oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Surat itu mengatur penggunaan pakaian seragam dan atribut bagi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah yang diselenggarakan pemerintah daerah (pemda) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Dalam keputusan tersebut, pemda dan sekolah tidak boleh mewajibkan ataupun melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama.

“Tiga pertimbangan penyusunan SKB Tiga Menteri mengenai penggunaan seragam sekolah ini adalah sekolah berfungsi membangun wawasan, sikap dan karakter peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Mendikbud Nadiem Makarim.

SKB 3 Menteri tidak berlaku di Aceh yang menganut Syariat Islam.

Kumparan, ·

5 Februari 2021 6:21

 

***

Bahaya manusia-manusia munafik telah diperingatkan dalam Al-Qur’an

Bagi yang faham ayat-ayat suci Al-Qur’an, maka gejala tingkah manusia-manusia munafik yang bekerjasama untuk memnerintahkan kemunkaran dan bahkan melarang kema’rufan itu sudah berani terang-terangan bahkan membonceng suasana yang dianggap efektif.

Sejak awal sudah Allah Ta’ala peringatkan bahaya tingkah mansia-manusia munafik.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَهُمۡۚ نَسُواْ ٱللَّهَ فَنَسِيَهُمۡۚ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat mungkar dan melarang berbuat makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah: 67)

 

Apabila kemungkaran yang tersebar di masyarakat diabaikan, tanpa ada upaya pencegahan dan pengingkaran; tidak hanya dianggap tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, munafik, dan fasik; tetapi juga akan memunculkan dampak negatif bagi individu dan masyarakat. Berikut ini uraiannya.

  1. Tidak ditegakkannya nahi mungkar akan menjadi sebab turunnya laknat Allah, yakni dijauhkan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ٧٩

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (al-Maidah: 78—79)

 

Laknat adalah dijauhkannya seseorang dari rahmat Allah subhanahu wa ta’alawal ‘iyadzu billah (kita memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala). Laknat akan diberikan kepada orang yang melakukan dosa besar. Demikian uraian Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadh ash-Shalihin (hlm. 410).

 

Ayat di atas mengandung beberapa hukuman dan celaan akibat perbuatan mengabaikan nahi mungkar, di antaranya:

  1. Mendiamkan kemungkaran adalah perbuatan orang-orang kafir dari Bani Israil.
  2. Mendiamkan kemungkaran adalah perbuatan yang paling buruk. Dalam pandangan Islam, pelakunya disebut setan bisu شَيْطَانٌ أَخْرَسُ.
  3. Mendiamkan kemungkaran adalah sebab datangnya hukuman, di antaranya adalah laknat.

Ada dua pendapat di kalangan ahli tafsir tentang makna laknat yang menimpa Bani Israil.

  • dijauhkan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Pendapat ini yang masyhur di kalangan ulama. Ini merupakan asal makna laknat, seperti yang diuraikan oleh Ibnu Utsaimin rahimahullah di atas.

  • perubahan bentuk penciptaan.

Mereka dilaknat oleh Dawud alaihis salam dan berubah menjadi monyet. Kemudian mereka dilaknat oleh Isa alaihis salam dan berubah menjadi babi, seperti yang terjadi pada kisah Ashab as-Sabti dan Ashab al-Maidah yang kafir. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, Mujahid, Qatadah, dan Hasan al-Bashri rahimahumullah. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi, pada tafsir surah al-Maidah: 78)

Kedua makna di atas tidak bertentangan karena kedua hal tersebut terjadi pada Bani Israil.

Al-Allamah al-Mufassir Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ragam mafsadat besar akibat mendiamkan kemungkaran padahal mampu untuk melarangnya, di antaranya:

  1. Semata mendiamkan kemungkaran adalah perbuatan maksiat walaupun dia tidak melakukannya. Sebab, sebagaimana wajibnya meninggalkan kemaksiatan, dia juga berkewajiban mengingkari orang yang melakukan kemaksiatan.
  2. Mendiamkan kemungkaran adalah bukti bahwa dia meremehkan kemaksiatan dan jarang mencegahnya.
  3. Tindakan ini bisa membuat pelaku maksiat dan orang fasik semakin berani dan lancang berbuat kemaksiatan karena tidak ada yang mencegah. Akibatnya, kejelekan semakin banyak. Musibah dunia dan agama semakin meluas. Akhirnya orang-orang fasik itu akan memiliki massa dan kekuatan. Setelah itu, orang-orang baik menjadi lemah tak berdaya menghadapi orang-orang jahat sehingga tidak lagi memiliki kemampuan mencegah kemungkaran.
  4. Mendiamkan kemungkaran menyebabkan ilmu akan hilang dan kebodohan semakin merajalela.

Sebab, apabila sebuah kemaksiatan terjadi berulang kali dan sudah dikerjakan oleh banyak orang tanpa ada tokoh agama dan ulama yang mengingkari, kemaksiatan tersebut sudah tidak dianggap sebagai kemaksiatan lagi. Orang-orang jahil bisa jadi menduga tindakan tersebut adalah ibadah yang dianggap baik. Tidak ada mafsadat yang lebih besar dibandingkan dengan meyakini halalnya sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan benarnya sesuatu yang batil.

Masih banyak lagi mafsadat lain yang akan mendatangkan hukuman berupa laknat dari Allah subhanahu wa ta’ala. (Tafsir as-Sa’di surah al-Maidah: 78—79)

( Dikutip seperlunya dari sini: https://asysyariah.com/bila-nahi-mungkar-diabaikan/ )

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 128 kali, 1 untuk hari ini)