Oleh  Rachmat Ramdan

Keberadaan Amar Ma’ruf Nahi Munkar menegaskan bahwa Agama Islam tidak terbatas hanya di ranah individu saja, sebagaimana dugaan beberapa orang sekuler.

Orang-orang sekuler memahami bahwa agama hanyalah urusan individu sehingga memperbolehkan maksiat asalkan tidak merugikan masyarakat. Mereka juga memperbolehkan pelacuran dengan alasan demi kemaslahatan para pria hidung belang. Miss world dengan alasan buat mendongkrak ekonomi. Mereka juga memperbolehkan minum khamr di tempat-tertentu dengan alasan bahwa itu hak asasi manusia yang dilindungi undang-undang.

Padahal, seandainya Agama Islam memang hanya terbatas untuk individu-individu saja tentu tidak akan ada Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Bukankah setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri? Ya, tapi, jelas bahwa Allah menjadikan kedua tugas ini (amar ma’ruf dan nahi munkar) sebagai fardhu kifayah.

Sebahagian ada yang berperang, dan sebahagiannya lagi menuntut Ilmu Din (agama Islam).

{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ } [آل عمران: 104]

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3] 104)

[217] Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Ayat ini pun menjadi landasan bagi berdirinya ormas-ormas Islam atau jamaah seperti yang aktif dalam kegiatan Amar Ma’ruf dan Nahi munkar, tentunya adab-adab harus diprioritaskan.

Seandainya tidak seorang pun melakukan aktivitas Amar Maruf Nahi Munkar, niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala akan menimpakan Adzabnya yang pedih secara merata pada seluruh manusia.

«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْمُنْكَرَ لَا يُغَيِّرُونَهُ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ» سنن ابن ماجة [حكم الألباني] صحيح

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran kemudian mereka tidak mengubahnya (tidak mencegahnya), maka hampir saja Allah akan meratakan siksa kepada mereka semua.” (HR. Ibnu Majah nomor 4005 shahih menurut Al-Albani) (Edt.: Br)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.015 kali, 1 untuk hari ini)