Kewajiban Mengqadha Puasa dan Membayar Kafarat bagi Suami Istri yang BerJima’ Siang Ramadhan

 

• Perempuan yang wajib puasa jika disetubuhi oleh suaminya pada siang hari Ramadhan dengan kerelaannya maka hukum baginya adalah sama dengan hukum suaminya. Tetapi jika ia dipaksa maka ia harus berusaha menolaknya, dan ia tidak wajib membayar kaffarat karenanya.

(Dinukil dari 70 Mas’alatan fish Shiyam, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid/ain).

Oleh : Al-Sofwah Rabu, 07 April 04

 

Kewajiban Mengqadha dan Membayar Kafarat

Para ulama sepakat atas kewajiban mengqadha puasa (mengganti puasa di hari lain) disertai membayar kafarat yang diberatkan dalam kondisi melakukan Jima’ ‘ (bersetubuh) dengan sengaja di siang bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadits

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ . قَالَ « مَا لَكَ » . قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَأَنَا صَائِمٌ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا » . قَالَ لاَ . قَالَ « فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ » . قَالَ لاَ . فَقَالَ « فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا » . قَالَ لاَ . قَالَ فَمَكَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِىَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ – وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ – قَالَ « أَيْنَ السَّائِلُ » . فَقَالَ أَنَا . قَالَ « خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ » . فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا – يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ – أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى ، فَضَحِكَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ « أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak“. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak“. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak“.

Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111).
https://rumaysho.com/3476-hubungan-intim-di-siang-hari-bulan-ramadhan.html

Hadits ini menunjukkan kewajiban membayar kafarat atas orang yang bersetubuh secara sengaja di siang bulan Ramadhan menurut urutannya alias wajib membebaskan budak dulu; bila tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut; bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin. Tidak boleh berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lain, kecuali bila tidak mampu melakukan-nya.

Terkait dengan kafarat ini, maka tidak boleh diberikan kepada keluarga yang mampu, tetapi wajib diberikan kepada kaum fakir dan miskin. Demikian pula, wajib melakukan puasa selama dua bulan berturut-turut, bila terputus karena ada ‘udzur, maka setelah ‘udzur itu hilang, ia dapat memulai berdasarkan jumlah puasa yang sebelumnya. Adapun jika terputus karena tanpa ‘udzur, maka ia harus mengulangi puasa dari awal dan puasa yang telah dilakukannya itu tidak dianggap.

http://www.alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=403

Posted on 2 Mei 2019

by Nahimunkarcom

(nahimunkar.org)

***


Jima’ yang Haram untuk Suami Istri

By Rizkia Laely


Jima’ ‘ antara sepasang suami istri mendatangkan pahala jika diniatkan beribadah kepada Allah SWT. Bagaimana tidak, jika keduanya ridho, selain mendapatkan kenikmatan badaniah, Jima’ ‘ yang dilakukan oleh sepasang suami istri sah juga memberikan banyak keutungan secara medis.

Tapi dalam Islam, ternyata ada kalanya sebuah Jima’ ‘ menjadi haram untuk suami istri. Lho kok? Mari kita simak.

1. Haram Jima’ ketika isteri haid, nifas dan wiladah. Jika bersetubuh pastikan putus haid, nifas dan wiladah dan selepas mandi hadas besar.

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci, apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri,” (Surah Al-Baqarah : Ayat 222).

Dari Masruuq b. Ajda’i berkata: “Aku telah bertanya kepada ‘Aisyah tentang sesuatu yang boleh dilakukan seorang suami terhadap istrinya yang sedang Haid.” ‘Aisyah menjawab, Apa saja boleh, kecuali kemaluannya (bersetubuh),'” (Riwayat Bukhari).

2. Haram Jima’ melalui jalan belakang (melalui dubur) walau pun isteri. “Terkutuklah orang yang menyetubuhi istri di duburnya,” (Hadits Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah).

3. Haram Jima’ membawa ayat-ayat Al-Quran, nama-nama Allah, Nabi, Malaikat dan lain lain seperti azimat.

4. Haram Jima’ dalam masjid / surau.

5. Haram Jima’ sedang berpuasa di (siang) bulan Ramadhan.

6. Haram Jima’ sedang dalam ihram haji atau ihram umrah.

7. Haram Jima’ di tempat terbuka (tempat umum). []/ rumahkeluargaindonesia.com

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 214 kali, 1 untuk hari ini)