Dikhawatirkan, dengan manganggap hari Rabu terakhir bulan Shafar (mereka sebut Rebo pungkasan, Rebo wekasan, Rebo kasan) sebagai hari turunnya bala’, itu merupakan suuddhon (buruk sangka) terhadap Allah Ta’ala. Gawat. Dari mana mereka bisa menentukan hari Rebo terakhir bula shafar itu sebagai hari turunnya bala’?

Kemudian dari mana pula mereka mengada-adakan ibadah/ ritual begini begitu untuk menghindari bala’ yang mereka tuduhkan itu?

Dikhawatirkan, itu merpakan warisan dari adat buruk jahiliyah yang menganggap bulan shafar bulan sial.

Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meniadakan keyakinan thiyarah dan semisalnya;

عن أَبَي هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ. رواه البخاري و مسلم

Artinya: ” Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hammah, Shofar dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa”. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

‘Adwaartinya: keyakinan penularan penyakit dengan sendirinya tanpa kehendak dan takdir Allah Ta’ala.

Thiyarah artinya: merasa bernasib sial karena melihat burung, binatang atau apapun

Hammah artinya: keyakinan jika burung hantu  hinggap di atas rumah maka akan ada yang mati

Shofar artinya: keyakinan bahwa bulan Shofar adalah bulan sial dan tidak menguntungkan

Maksud dari hadits shahih di atas adalah peniadaan semua keyakinan yang menyatakan bahwa ada pengaruh buruk yang timbul tanpa kehendak dan izin dari Allah ta’ala.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata:

وهذا يحتمل أن يكون نفيا وأن يكون نهيا أى لا تطيروا ولكن قوله في الحديث ولا عدوى ولا صفر ولا هامة يدل على أن المراد النفى وإبطال هذه الأمور التى كانت الجاهلية تعانيها والنفي في هذا أبلغ من النهى لأن النفي يدل على بطلان ذلك وعدم تأثيره والنهى إنما يدل على المنع منه

Artinya: “Dan Hadits ini dimungkinkan bermaksud peniadaan atau bisa bermaksud pelarangan, yaitu janganlah kalian bersikap pesimis, akan tetapi sabda beliau di dalam hadits tidak ada ‘Adwa, shafar, hammah menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah peniadaan dan pembatilan setiap perkara ini yang diyakini oleh Arab Jahiliyyah. Dan Peniadaan lebih dalam maknanya daripada pelarangan karena peniadaan menunjukkan akan batilnya hal tersebut dan tidak memberikan pengaruh, adapun larangan hanya menunjukkan kepada larangan untuk berbuat seperti itu.” Lihat kitab Miftah Dar As Sa’adah.

Kenapa Thiyarah dikategorikan sebagai kesyirikan:

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ.

Artinya: “Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan.” Hadits riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di As Silsilah Ash Shahihah, no: 429.

Kenapa bisa demikian?

Kenapa meyakini bahwa ada penyakit menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah, termasuk kesyirikan?

Kenapa meyakini bahwa jika ada burung hantu atau gagak di atas rumah pertanda buruk, termasuk kesyirikan?

Kenapa meyakini bahwa bulan shafar adalah bulan sial dan panas maka tidak dikerjakan segala macam hajat dan rencana, ini termasuk kesyirikan?

Kenapa meyakini bahwa jika singgah disebuah tempat harus minta izin kepada jin penguasa di tempat itu agar tidak diganggu, ini termasuk kesyirikan?

Kenapa meyakini bahwa jika di pagi hari melihat kucing picak matanya dan pincang kakinya pertanda buruk dan sial, ini termasuk kesyirikan?

Kenapa meyakini bahwa suami dilarang memancing ketika istri hamil, termasuk kesyirikan?

Kenapa meyakini bahwa menyapu atau memotong kuku malam hari tidak baik, itu termasuk kesyirikan?

Kenapa meyakini bahwa memakai baju hijau di pantai selatan mendatangkan kesialan dan keburukan, ini termasuk keyirikan?

Kenapa meyakini beberapa mitos pamali, kualat, merasa bernasib sial dengan melihat sesuatu atau mendengar sesuatu, ini termasuk kesyirikan?  

Jawaban semua pertanyaan di atas adalah: Karena Allah-lah satu-satu-Nya Yang Mengatur, Mencipta, Berkuasa. Semua yang terjadi tidak ada yang keluar dari kehendak-Nya dan ciptaan-Nya. Maka jika ada keyakinan bahwa ada yang mengatur, mencipta dan berkuasa selain Allah, disinilah letak kesyirikannya. Yaitu dengan MENYAMAKAN SELAIN ALLAH DENGAN ALLAH TA’ALA DI DALAM PERKARA YANG KHUSUS  MILIK ALLAH TA’ALA, dalam hal ini pengaturan, penciptaan dan kekuasaan.

Allah ta’ala berfirman:

{ قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (31) فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ (32) كَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوا أَنَّهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (33)} [يونس: 31 – 33]

Artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?.” “Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?.””Demikianlah telah tetap hukuman Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman.” “Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?.” QS. Yunus 31-33.

(Ayat dan Hadits serta penjelasannya ini diambil dari  /http://dakwahsunnah.com ).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 556 kali, 1 untuk hari ini)