gal851891036Di Bandung, kisah Athian, Syiah mulai bangkit 28 tahun lalu, 1985. Sejak itu, ia sudah menegaskan, Syiah dengan Islam  itu tak bisa bertemu, tak bisa disatukan, jadi buat apa didiskusikan.

Pada saat itu, katanya, ada orang yang menyebarkan paham Syiah tapi menolak dikatakan sebagai penganut Syiah.

Tahukah setelah 24 tahun kemudian? “24 tahun kemudian, sekitar tahun 2009, orang ini mengaku sebagai penganut Syiah. Artinya, selama 24 tahun, orang ini hidup dalam kemunafikan, baru 4 tahun lalu yang bersangkutan mengaku sebagai Syiah, setelah dia merasa sudah banyak orang yang dia sesatkan…,” beber KH Athian.

***

BANDUNG- Kali ini giliran Bandung menggelar bedah buku ‘Zionis & Syiah Bersatu Hantam Islam’. Divisi Syakhshiyyah Islamiyyah – Forum Ulama Ummat Indonesia (DSI-FUUI) menyelenggarakan acara ini di Masjid Al Fajr Jl Cijagra Raya Buah Batu, Bandung, Sabtu (14/9/), dihadiri seribuan jamaah yang memadati dua lantai Masjid tersebut.

Tampil sebagai pembicara, penulis buku Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi dan Ketua FUUI KH Athian Ali M. Da’i, MA, dengan moderator Ketua Divisi Syakhshiyyah Islamiyyah FUUI, Tardjono Abu Muas.

Bandung adalah salah satu kota basis Syiah di Indonesia. Beberapa lembaga-lembaga Syiah pun tegak di Bandung. Untuk mengantisipasi bahaya Syiah merusak akidah umat.

Bedah buku ini mendapatkan respon besar dari Umat Islam di Bandung yang sangat resah dengan ajaran sesat Syiah. Hal itu terlihat dari animo 1000-an jamaah yang memenuhi masjid dua lantai tersebut. Selain itu banyak jamaah dari kota-kota di luar Bandung turut menghadiri bedah buku ini.

Dalam paparannya, Pizaro menjelaskan tujuan ditulisnya buku ini adalah upaya meruntuhkah retorika palsu permusuhan antara Syiah dan Zionis. Padahal di bawah meja, mereka justru melakukan kerjasama secara sistematis untuk membunuh umat Islam.

Di Irak, misalnya, secara jelas Syiah bekerjasa sama dengan Amerika untuk membentuk pemerintahan Syiah. Peran itu dimainkan oleh Achmad Chalabi. Pizaro menuturkan Chalabi adalah otak di balik isu adanya senjata pemusnah massal di Irak, yang belakangan terbukti hanyalah omong kosong.

“Menariknya Chalabi adalah seorang Syiah sekaligus agen CIA,” paparnya. “Dia kemudian bertemu Ahmadinejad untuk meneruskan keinginan Amerika untuk menghabisi Mujahidin di Irak,” ungkap Sekjen Jurnalis Islam Bersatu (JITU) ini.

Invasi Amerika ke Irak juga tidak bisa dilepaskan dari campur tangan para tokoh-tokoh Syiah. Meski Moqtada Al Sadr selalu mengklaim anti Amerika, uniknya tokoh Syiah ini justru berhasil masuk kembali ke Irak setelah invasi AS ke ke negeri 1001 malam ini.

“Brigade Syiah Sadr ikut membekingi masuknya pasukan Amerika dari Kuwait ke Baghdad lewat gurun pasir An-Nashiriyah,” terang Pizaro. “Menariknya setelah Saddam jatuh, kota Saddam City diganti menjadi Sadr City,” ujarnya.

Pasca invasi AS, masyarakat Irak tidak menyangka, seorang tokoh Syiah bernama Nouri Al Maliki malah menerima mandat menjadi Perdana Menteri Irak. Perdana menteri yang berada di bawah bayang-bayang George Bush itu mengubah peta politik dalam negeri Irak dengan memainkan kepentingan Syiah dan AS sekaligus.

Ketika berhasil menduduki posisi pimpinan Irak, kata Pizaro, perdana menteri yang menghalau lemparan sepatu ke George Bush itu langsung menerapkan kebijakan pro Syiah-nya. Ribuan umat Islam dibantai. Para Muslimah dipenjara. Mereka yang setia mengajarkan Islam ditangkap. Para ulama itu tidak sedikit yang dibunuh oleh rezim bengis Syiah pimpinan Nouri Al Maliki.

“Di Irak, Syiah dan Zionis bersatu menghantam umat Islam,” tandasnya.

Di sesi berikutnya, KH Athian Ali M. Da’i, MA, menyinggung kitab suci versi Syiah. Menurut KH Athian, meskipun di atas permukaan kaum Syiah masih menggunakan kitab Qur’an seperti halnya umat Islam, tetapi sejatinya itu harus disertai tafisr versi Imam mereka. Kitab suci menurut (tafsir dari Imam mereka), misalnya, versi Khomeini. Itu (tasirnya) berbeda dengan tafsir Qur’an umat Islam. Bahkan sekarang ini mereka menunggu kemunculan Imam yang mereka yakini dengan tafsir kitab suci versi mereka itu.

KH Athian mengatakan, ada orang yang masih ragu tentang kesesatan Syiah, ada pula yang memang tak tahu tentang Syiah—sekaligus tidak tahu Islam (tak bisa membedakan  antara Al-Haq dengan Al-Bathil)—lalu ada juga orang yang tahu, tapi mempunyai penyakit al-wahn, yaitu hubbuddun-ya wakarahiyatul maut (cinta dunia benci mati), sehingga gagap, tak berani menyatakan yang sesat itu sesat. Tak berani menyatakan Al-Haq dan menegaskan bahwa itu bathil, karena ada kepentingan pribadi dan pragmatis, ini sangat berbahaya. “Jadi, ini susahnya kalau kita berhadapan dengan orang munafiq,” tandasnya.

Menutup paparannya, KH Athian Ali menegaskan, dalam kasus Syiah ini siapa yang paling banyak dosanya atas tersesatnya sebagian umat, ialah para ulama,  jika ulama itu tidak berani menyatakan sesatnya Syiah.

“Kalau umat tersesat karena tidak mengerti, itu wajar…,” ujar alumnus Al Azhar Kairo ini. Tetapi bagaimana ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang hingga kini secara resmi belum juga tegas?

KH Athian menyatakan, seluruh ulama dalam mazhab Islam, ulama Rabithah Alam Islami, Ulama Al Azhar, dan masih banyak lagi yang lainnya, termasuk ulama kontemporer, sudah mengeluarkan fatwa sesatnya Syiah, Syiah adalah di luar Islam, “Syiah bukan Islam.” (salam-online) Redaksi Salam-Online – Senin, 11 Zulqaidah 1434 H / 16 September 2013 05:57

***

KH Athian Ali: “24 Tahun dalam Kemunafikan, Baru 4 Tahun Lalu Mengaku Syiah”


Redaksi Salam-Online – Senin, 11 Zulqaidah 1434 H / 16 September 2013 04:02

BANDUNG (SALAM-ONLINE): Seribuan umat Islam menyesaki lantai pertama dan lantai utama Masjid Al Fajr Jl Cijagra Raya Buah Batu Bandung, Sabtu (14/9). Jamaah dengan antusias menyimak paparan dua pembicara dalam Bedah Buku ‘Zionis & Syiah Bersatu Hantam Islam’ yang dipandu oleh Ketua Divisi Syakshiyyah Islamiyyah-Forum Ulama Ummat Indonesia (DSI-FUUI) ini.

Pembicara pertama, penulis buku, Muhammad Pizaro Nvelan Tauhidi, mengungkap persekongkolan rezim laknat Syiah Nushairiyah Basyar Asad  di Suriah dengan Zionis, Iran dan AS.

Menurut Koordinator Kajian Zionisme ini, ketika Tim Media Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) mengirimkan tiga jurnalisnya ke medan Jihad Suriah belum lama ini, diperoleh dokumen kesepakatan antara rezim Suriah dengan “Israel”, dimana rezim Syiah Nushairi menyerahkan dan mengamankan Dataran Tinggi Golan untuk kepentingan Zionis “Israel”.

“Dokumen ini diperoleh Mujahidin Suriah dari tentara rezim Asad yang berhasil ditangkap Mujahidin,” ungkap Sekjen Jurnalis Islam Bersatu (JITU) ini.

Tak hanya itu. Dalam catatan Pizaro, ada banyak persekongkolan antara rezim Syiah Nushairiyah pimpinan Asad, rezim Republik Syiah Iran, Zionis dan AS, dalam upayanya menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Pizaro memaparkan beberapa fakta dokumen, termasuk fakta kerjasama AS dan Iran untuk menempatkan rezim Syiah di Irak.

Sementara Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M. Da’i, MA, yang tampil sebagai pembicara pembanding dalam acara yang diselenggarakan Divisi Syakhshiyyah Islamiyyah FUUI ini  mengisahkan saat dua tahun lalu ia berkunjung ke Republik Syiah Iran untuk memenuhi undangan Kedubes RI di negara yang didapati Sinagog Yahudi itu.

Di kota-kota di Iran, negara penganut Syiah, ungkap KH Athian, tak ada masjid umat Islam, kecuali di pinggiran, terpencil. Ironisnya, di negeri Syiah ini ada banyak komunitas Yahudi berikut Sinagog, tempat ritual mereka.

Masjid kaum Muslimin tak diperkenankan di Republik Syiah Iran ini. Dalam kunjungan selama sepekan, KH Athian Ali berkesempatan mengetahui lebih banyak perihal Syiah di Iran.

Ketika KH Athian menjadi Khatib shalat Idul Fitri di Kedubes RI di Teheran, dentuman “bom” sejenis mercon sangat mengganggu pelaksanaan ibadah Idul Fitri.

“Dentuman-dentuman itu sengaja dilemparkan di sekitar kedutaan RI oleh aparat mereka, karena mereka memang tak suka umat Islam melaksanakan ibadah Idul Fitri, meskipun itu adalah Kedutaan (area diplomatik) dari negara lain yang semestinya mendapat hak perlindungan,” ungkap alumnus Al Azhar Kairo ini.

Di Bandung, kisah Athian, Syiah mulai bangkit 28 tahun lalu, 1985. Sejak itu, ia sudah menegaskan, Syiah dengan Islam  itu tak bisa bertemu, tak bisa disatukan, jadi buat apa didiskusikan.

Pada saat itu, katanya, ada orang yang menyebarkan paham Syiah tapi menolak dikatakan sebagai penganut Syiah. Ia  menolak, mengaku bukan syiah. Seiring berjalannya waktu, ketika orang ini kian gencar menyampaikan ajaran Syiahnya, maka ia pun dipanggil oleh seorang tokoh Islam di Bandung untuk dimintai keterangannya, apakah dia sudah menganut Syiah, lantas ia menjawab, “Belum.” Jawaban yang membuat jamaah Masjid Al Fajr tertawa terkekeh. Artinya, kata Athian, ia akan menjadi Syiah?

KH Athian melanjutkan kisahnya. Ketika dalam sebuah forum, orang ini menyampaikan makalahnya tentang Syiah, setelah itu ia ditanya, apakah ia Syiah? Orang ini, kata Athian, menjawab, ”Syiah saya berbeda dengan yang ada di makalah yang saya sampaikan ini…” Jamaah pun tertawa riuh. Lantas, menurut Athian, mengapa (makalah) itu disampaikan?

Dalam sebuah forum kembali yang bersangkutan didesak dengan pertanyaan, apakah penganut Syiah? Jawabnya, “Saya ini ‘Susi’, Sunah dan Syiah,” jawabnya seperti dikisahkan KH Athian yang disambut gelak hadirin.

Tahukah setelah 24 tahun kemudian? “24 tahun kemudian, sekitar tahun 2009, orang ini mengaku sebagai penganut Syiah. Artinya, selama 24 tahun, orang ini hidup dalam kemunafikan, baru 4 tahun lalu yang bersangkutan mengaku sebagai Syiah, setelah dia merasa sudah banyak orang yang dia sesatkan…,” beber KH Athian di hadapan massa jamaah yang antusias menyimak paparannya. (salam-online)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.339 kali, 1 untuk hari ini)