KH Ma’ruf Amin dan Oknum MUI telah mengingkari Fatwa MUI yang mereka keluarkan sendiri, yang dalam fatwa itu telah tegas mencantumkan haramnya Mengucapkan Selamat Natal. Diantaranya dicantumkan:

“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan…”. Bahkan pelakunya dikenai hukuman ta’zir.

Mengenai haramnya ucapan selamat natal, dalam fatwa MUI itu, judul fatwanya adalah

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 56  Tahun 2016
Tentang
HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM.

Fatwa itu Ditetapkan di :   Jakarta, 14 Rabi’ul Awwal 1437 H/ 14 Desember  2016 M

Di dalam Fatwa  itu dicantumkan di antaranya:

Dalam poin

MEMPERHATIKAN :

  1. Pendapat Imam Khatib al-Syarbini dalam kitab “Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj”, Jilid 5 halaman 526, sebagai berikut:

ﻭَﻳُﻌَﺰَّﺭُ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻴَﺎﺩِﻫِﻢْ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻤْﺴِﻚُ ﺍﻟْﺤَﻴَّﺔَ ﻭَﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺬِﻣِّﻲٍّ ﻳَﺎ ﺣَﺎﺝُّ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻫَﻨَّﺄَﻩُ ﺑِﻌِﻴﺪِﻩِ….

“Dihukum ta’zir terhadap orang-orang yang menyamai dengan kaum kafir dalam hari-hari raya mereka, dan orang-orang yang mengurung ular dan masuk ke dalam api, dan orang yang berkata kepada seorang kafir dzimmi ‘Ya Hajj’, dan orang yang mengucapkan selamat kepadanya (kafir dzimmi) di hari raya (orang kafir)…”.

(Kemudian poin MEMPERHATIKAN pada butir ke-6):

  1. Pendapat Imam Ibnu Qoyyim al Jauzi dalam kitab Ahkam Ahl al-Dzimmah, Jilid 1 hal. 441-442:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari raya ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan “selamat pada hari raya ini” dan yang semacamnya. Maka ini, jika orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, maka ini termasuk perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka setara dengan ucapan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”

Berita dan sorotannya sebagai berikut:

 ***

MUI dan Haramnya Ucapan Selamat Natal

Posted on 27 Desember 2017 – by Nahimunkar.com

(MUI lempar batu sembunyi tangan?)

Ramai di media, soal ucapan selamat natal.

Sejatinya, MUI telah mengeluarkan

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 56  Tahun 2016
Tentang
HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM.

Fatwa itu Ditetapkan di :   Jakarta

Pada tanggal :

14 Rabi’ul Awwal 1437 H
14 Desember  2016 M

MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOMISI FATWA

Ketua

PROF. DR. H. HASANUDDIN AF, MA 

Sekretaris

Intinya:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM

Pertama  :  Ketentuan Umum

Dalam Fatwa ini yang dimaksud dengan :

Atribut keagamaan adalah sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan/atau  umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu.

Kedua  : Ketentuan Hukum 

  1. Menggunakan atribut keagamaan non-muslim adalah haram.
  2. Mengajak dan/atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-muslim adalah haram.

Mengenai ucapan selamat natal, dalam fatwa MUI itu dicantumkan di antaranya:

Dalam poin

MEMPERHATIKAN : 

  1. Pendapat Imam Khatib al-Syarbini dalam  kitab “Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Jilid 5 halaman 526, sebagai berikut:

ﻭَﻳُﻌَﺰَّﺭُ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻴَﺎﺩِﻫِﻢْ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻤْﺴِﻚُ ﺍﻟْﺤَﻴَّﺔَ ﻭَﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺬِﻣِّﻲٍّ ﻳَﺎ ﺣَﺎﺝُّ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻫَﻨَّﺄَﻩُ ﺑِﻌِﻴﺪِﻩِ….

“Dihukum  ta’zir terhadap orang-orang yang menyamai dengan kaum kafir dalam hari-hari raya mereka, dan orang-orang yang mengurung ular dan masuk ke dalam api, dan orang yang berkata kepada seorang kafir dzimmi  ‘Ya Hajj’, dan orang yang mengucapkan selamat kepadanya (kafir dzimmi) di hari raya (orang kafir)…”.

(Kemudian poin MMEMPERHATIKAN pada butir ke-6):

  1. Pendapat Imam Ibnu Qoyyim al Jauzi dalam kitab Ahkam Ahl al-Dzimmah, Jilid 1 hal. 441-442:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari raya ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan “selamat pada hari raya ini” dan yang semacamnya. Maka ini, jika orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, maka ini termasuk perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka setara dengan ucapan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”

***

Walaupun fatwa MUI itu mengenai HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM, namun jelas-jelas mencantumkan dua poin fatwa ulama yang tegas-tegas mengharamkan ucapan selamat untuk perayaan agama selain Islam.

Oleh karena itu kalau MUI menyatakan belum pernah mengeluarkan fatwa haramnya ucapan selamat natal (namun kenyataannya mencantumkan/ mengutip fatwa yang sangat tegas:

Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari raya ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan “selamat pada hari raya ini” dan yang semacamnya. Maka ini, jika orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, maka ini termasuk perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka setara dengan ucapan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” ), maka MUI ibarat lempar batu sembunyi tangan.

Ada apa?

Semoga jadi pelajaran berharga bagi Umat Islam.

(nahimunkar.org).

***

Disamping itu, KH Ma’ruf Amin selaku Rais Aam PBNU telah menyatakan haramnya mengucapkan selamat natal.

Inilah beritanya.

***

Rais Am PBNU KH Maruf Amin Haramkan Ucapkan Selamat Natal

Posted on 23 Desember 2017 – by Nahimunkar.com

by Nahimunkar.com16 Desember 2015

Rais Am Pengurus Besar NU (PBNU) KH Makruf Amin menegaskan keharaman mengucapkan dan ikut perayaan Natal.

Menurut Kiai Maruf Umat Islam haram mengikuti perayaan Natalan bersama, Karena mengandung unsur ibadah, Sehingga akan merusak aqidah dan keimanan umat Islam.

“Bahkan ucapan Selamat Hari Natal, jangan sampai diucapkan oleh umat Islam,” ungkap Kiai Maruf.

Selain itu, Kiai Maruf mengungkapkan, adapun yang diperbolehkan adalah ucapan Selamat Tahun Baru dan itu saja masih diperselisihkan (boleh dan tidaknya).

By: suaranasional.com/16/12/2015

(nahimunkar.org)

 ***

Aneh bin ajaib. Kini tersebar berita Ma’ruf Amin dan orang penting di MUI mengingkari fatwa MUI tersebut, dan berdalih bahwa MUI belum mengeluarkan fatwa tentang mengucapkan selamat natal. [Kilah itu menyembunyikan makna. Karena judul fatwa MUI memang tentang HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM, namun dalam poin-poin fatwa itu ada penegasan tentang haramnya mengucapkan selamat natal secara kesepakatan (ulama)].

Kilah, ingkar, plus ketularan bohong (?) itu demi membela perbuatannya yang bernilai rusak pikirannya sekaligus mempermainkan agama, yaitu ketika Ma’ruf Amin (selaku dari kaum Kristiani? ) beredar videonya dengan perkataan, “kepada saudara-saudara, kami dari kaum Kristiani, kami sampaikan selamat Hari Natal dan Tahun Baru, semoga berbahagia,” ucap Ma’ruf Amin.

Video:

Keruan saja kemudian Ma’ruf Amin dinilai sebagai rusak pikirannya dan sekaligus mempermainkan agama. Inilah beritanya.

***

Omongan Ma’ruf Amin Soal Ucapkan Selamat Natal, Rusak Cara Berfikirnya Sekaligus Mempermainkan Agama

Ma’ruf Amin berkilah, yang diharamkan MUI itu ikut/ menghadiri perayaan natal. Kalau soal mengucapkan selamat natal, tidak.

Ma’ruf Amin saat menjadi bintang tamu dalam acara talkshow Rosi bertajuk ‘Jalan Politik Ma’ruf Amin’ mengatakan:

“Tidak ada fatwa MUI yang menyatakan (mengucapkan selamat natal) itu (haram). Yang MUI itu tidak boleh mengikuti upacara peribabadatannya,” ucap Ma’ruf Amin saat menjawab pertanyaan dari pemandu acara, Rosiana Silalahi, diberitakan pojoksatu.id, Rabu, 26 Desember 2018 | 13:11 WIB.

Heboh! Ucapan Natal Ma’ruf Amin: Kami dari Kaum Kristiani, Selamat Natal dan Tahun Baru

Lewat sebuah video singkat, Ma’ruf Amin menyampaikan selamat Natal dan Tahun Baru 2019. Namun, kalimat Ma’ruf Amin dipertanyakan warganet lantaran seolah-seolah memposisikan diri sebagai umat Kristiani.

“Saudara-saudara, kami dari kaum Kristiani, kami sampaikan selamat Hari Natal dan Tahun Baru, semoga berbahagia,” ucap Ma’ruf Amin.

Video tersebut diunggah di akun Instagram Mohamad Guntur Romli, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang juga pendukung setia pasangan capres dan cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Ucapan Selamat Natal dari Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin,” tulis Guntur Romli di keterangan video.

Gara-gara video tersebut, Ma’ruf Amin dikecam banyak orang. Pasalnya, selain terkesan memposisikan diri sebagai umat Kristiani, dia juga membolehkan umat Islam mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani. (pojoksatu.id, Rabu, 26 Desember 2018 | 13:11 WIB).

Faham Ma’ruf Amin Sangat Parah

Mengenai heboh Ma’ruf Amin ucapkan selamat natal itu ramai dibicarakan di medsos. Lalu ada yang tanya di medsos, mana yang lebih besar madharatnya, menghadiri/ mengikuti upacara natalan ataukan mengucapkan selamat natal.

Ada yang menjawab,

Menghadiri ataupun mengucapkan selamat natal dua2nya madharat. Yang lebih berat adalah yang mengakui bahwa ikut/ hadiri natalan itu haram, tapi ucapkan selamat natal itu tidak haram. Itu yang paling parah secara agama maupun akal. Karena menghalalkan ngucapin selamat kepada acara perayaan natal yang diyakini haram untuk dihadiri, itu jelas rusak cara berfikirnya, sekaligus mempermainkan agama.

Foto ytb

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.192 kali, 1 untuk hari ini)