Tidak Sudi Bersalaman dengan Gus Dur

Di suatu acara ke-NU-an (waktu Gus Dur masih hidup), demi menghindar agar tidak bersalaman dengan Gus Dur (yang baru datang), maka seketika itu KH. Muhammad Subadar minta diantarkan ke toilet, dan akhirnya beliau  tidak bersedia kembali ke tempat musyawarah bahkan memutuskan untuk pulang.

***

Imam Besar NU Garis Lurus KH. Luthfi Bashori bercerita bahwa KH. Mas Muhammad Subadar (Rois Syuriah PBNU) adalah ulama yang pernah mengucapkan talaq (cerai) atau putus hubungan terhadap tokoh liberal Gus Dur hingga talaq sembilan.

Kiai Subadar ternyata meneruskan jejak para ulama dulu yang juga pernah mufaroqoh terhadap Gus Dur seperti KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Idris Marzuki Lirboyo, KH. Hamid Baidlowi Lasem, KH. Abdurrahman Chudlori Tegalrejo Magelang, dan para ulama sepuh yang telah wafat mendahului kita.

Kaum Nahdliyyin sangat kehilangan atas wafatnya KH Muhammad Subadar Bin KH. Mas Subadar/Baqir. Beliau adalah salah seorang ulama kharismatik NU yang lurus dan sangat berpengaruh di kalangan jam’iyyah NU. KH Muhammad Subadar menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (30/7/2016) sekitar pukul 19.43 WIB.

Berikut ini perbincangan talaq 9 KH. Mas Subadar dengan KH. Luthfi Bashori sebelum meninggalnya Gus Dur sebagaimana yang disampaikannya kepada redaksi.

Redaksi (R): Apakah boleh cerita panjenengan kami masukkan di website?

Kyai Luthfi (KL): Boleh, karena beliau sudah wafat. Beliau menyampaikan langsung kepada saya (KH. Luthfi Bashori) saat sama-sama menghadiri undangan pernikahan salah satu keluarga pesantren di Jawa Timur berapa bulan sebelum Gusdur meninggal dunia.

Beliau saat itu duduk bersebelahan dengan saya. Terus bertanya dengan bisik-bisik kepada saya, karena banyak tamu yang lainnya:

  1. SUBADAR:“Apa ada ya *Talaq Sembilan* itu ?
  2. LUTHFI BASHORI:“Ya nggak ada Kyai kalau *Talaq Sembilan*, yang ada kan maksimal *Talaq Tiga*, memang ada apa Kyai?
  3. SUBADAR:“Soalnya saya mau *TALAQ SEMBILAN* dengan Gusdur”.

Maka saya (KH Luthfi) pun tersenyum dan akhirnya sama-sama membahas kesalahan Gus Dur dalam tinjauan Syariat Islam, termasuk membahas pernyataan Gusdur: “Alquran adalah kitab suci paling porno se dunia”. Sekaligus membahas langkah KH. Hamid Baidhowi, Lasem (Rembang, Jawa Tengah), yang ketika itu juga melaporkan Gus Dur ke Mabes POLRI karena pernyataannya itu dinilai telah melecehkan agama Islam.

Beliau (KH Subadar) juga cerita ke saya, setelah memutuskan talaq dengan Gus Dur, suatu saat beliau ada undangan bersama dengan Gus Dur di salah satu acara ke-NU-an.

Almarhum (KH Subadar) datang lebih dulu,  setelah duduk agak lama dan sempat ikut bermusyawarah, kemudian datanglah Gus Dur.

Demi menghindar agar tidak bersalaman dengan Gus Dur, maka seketika itu KH. Muhammad Subadar minta diantarkan ke toilet, dan akhirnya beliau tidak bersedia kembali ke tempat musyawarah bahkan memutuskan untuk pulang.

Anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) Muktamar Jombang

KH. Mas Muhammad Subadar termasuk 9 ulama kharismatik yang menjadi anggota AHWA pada muktamar NU Jombang yang digelar beberapa waktu yang lalu. Selain aktif sebagai syuriah PBNU, Kiai Subadar juga merupakan Wakil Ketua Majelis Syariah DPP PPP, yang diketuai oleh  ulama’ sepuh kharismatik, KH. Maimoen Zubair.

Semoga segera muncul lagi 1000 Muhammad Subadar yang lain melalui generasi Nahdliyyin lurus yang siap meneruskan perjuangan beliau untuk Izzul Islam wal muslimin. Aamiin ya robbal ‘Alamiin.

Wallahu Alam

diringkas dari situs http://www.nugarislurus.com/ 31/07/2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.407 kali, 1 untuk hari ini)