Ilustrasi


Oleh : Dr. Slamet Muliono[1]

Ketangkatasan dan keperkasan Khalid bin Walid Rhadhallahu ‘Anhu telah teruji dan diakui sejarah. Berbagai perang yang dipimpinnya, baik di era sebelum atau sesudah masuk Islam, bisa dikatakan selalu menang dan tidak pernah kalah. Berbagai penaklukan yang dipimpinnya selalu berhasil, sehingga sangat layak bila diia disebut Syaifullah (Pedang Allah). Meskipun hidupnya sebagian besar untuk jihad, dan keinginannya yang besar untuk mati di medan perang, namun Allah menakdirkan dia meninggal di atas ranjang setelah sekian lama dalam keadaan lemah. Ada hikmah di balik tidak meninggalnya Khalid di medan perang. Julukan Syaifullah yang keluar dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berlaku selamanya dan tidak akan tercabut. Andaikata Khalid mati di medan jihad, dan dia mati dalam situasi perang maka gelar Syaifullah akan tercabut.

Ketangguhan Khalid Rhadhallahu ‘Anhu Dalam Peperangan

Sebelum Islam, prestasi Khalid Rhadhallahu ‘Anhu sudah tampak, dimana dia sempat menghancurkan mental pasukan Islam dan mengalahkannya. Pada perang Uhud, dia berhasil memporak-porandakan pasukan kaum muslimin yang awalnya menguasai peperangan. Pada awal perang, kaum muslimin  menang, tetapi karena ada pasukan pemanah yang berada di atas bukit turun, karena tidak tahan godaan ketika melihat harta rampasan yang banyak. Kemenangan pasukan Islam membuat lengah dan mereka berebut ghanimah. Saat pasukan itu turun, maka Khalid bin Walid Rhadhallahu ‘Anhu memutar pasukannya dan merebut posisi yang ditinggalkan pasukan Islam. Setelah sampaai di bukit, pasukan Khalid balik menyerang kaum muslimin, dan mereka berhasil memukul mundur pasukan Islam.

Setelah masuk Islam, Khalid Rhadhallahu ‘Anhu memiliki tekad yang lebih kuat dalam membela Islam. Hidupnya dihabiskan untuk berperang di jalan Allah. Kesuksesan Khalid yang tergolong gemilang saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup, ketika dua sukses menyelamatkan pasukan Islam dan berhasil menjatuhkan mental pasukan Romawi dalam perang Mu’tah. Dalam perang itu gugur 3 syuhada sekaligus panglima kaum muslimin, yakni Ja’far bin AbiThalib, Zain bin Haritsah, dan Abdullah bin Rawahah. Khalid berhasil menyelamatkan pasukan Islam dan meminimalisir korban, namun musuh berhasil terhalau pergi ke negaranya. Khalid berhasil membawa pulang pasukannya dengan korban yang sangat minim.

Di awal kepemimpinan Abu Bakar Rhadhallahu ‘Anhu, Khalid berperan besar dalam memerangi “kaum penolak zakat” dan “pengaku nabi palsu”. Oleh karena itu, stabilitas negara yang sempat goncang dengan dua masalah ini bisa segera pulih dan sehingga ketika peralihan dari Abu Bakar kepada kepemimpinan Umar berjalan dengan mulus.

Di era kepemimpinan Umar, peran Khalid juga besar. Kepemimpinan Khalid di medan benar-benar terbukti berhasil. Sebagai panglima dalam perang untuk menaklukkan Romawi dan Persia membuat wilayah Islam semakin meluas. Dalam perang Yarmuk dan Qadisiyyah, telah mencatat peran Khalid demikian besar, sehingga dia benar-benar pantas menyandang pedang Allah. Karena ketangguhan Khalid yang demikian besar, hingga Umar bin Khaththab mencopotnya. Karena umat sedemikian besar keyakinannya bahwa kemenangan pasukan Islam disebabkan leh Khalid, bukan karena pertolongan Allah. Untuk menjaga akidah umat ini, maka Khalid dilepass jabatannya sebagai panglima.

Khalid Rhadhallahu ‘Anhu dan Kecintaan pada Jihad    

Keinginan dan kecintaan Khalid terhadap mati di medan jihad bisa dilihat dari pernyataannya yang terkenal : “ Penantian di suatu malam yang sangat dingin di saat menunggu datangnya pagi hari untuk menyambut perang menghadapi musuh, lebih aku cintai daripada menunggu datangnya suatu malam pengantin atau mendengar lahirnya anak pertama.”

Disinilah menunjukkan kualitas Khalid sebagai seseorang yang senang dalam berperang dalam rangka untuk mendapatkan kematian secara mulia. Namun menakdirkan yang lain hingga mati di tempat tidur. Di akhir hayatnya, Khalid pernah mengatakan : Aku telah mengikuti perang ini dan perang itu, tidak ada sela di seluruh tubuhku bekas sabetan pedang, tusukan panah, sayatan pisau, atau tombak. Namun saat ini, aku dalam kondisi lemah seperti seekor unta tua di atas tempat tidur.

Ini menunjukkan spirit agung singa Allah untuk menghadapi musuh Islam dan mimpi besarnya untuk mati di jalan Allah. Keinginannya untuk mati syahid tidak dikabulkan Allah. Kalau Khalid memiliki ketangkasan melawan musuh, kecerdasan mengatur strategi perang, hingga Abu Bakar sangat percaya pada kemampuannya. Abu Bakar bahkan menolak nasehat Umar untuk mengganti Khalid dengan orang lain. Abu Bakar tidak mau mencopot Khalid, karena Rasulullah telah menjuluki sebagai pedang Allah, dan Abu Bakar tidak ingin menyelisihi perintah Rasulullah. Sementara Umar juga mengakui kemampuan Khalid dalam memenangkan peperangan. Namun Umar memiliki kehawatiran bahwa kaum muslimin telah bersandar pada Khalid bukan kepada Allah.

Sejarah telah membuktikan bahwa Khalid memiliki keinginan yang kuat untuk membela Islam dengan menghabiskan seluruh hidupnya di medan jihad. Namun julukan sebagai syaifullah telah membuat dirinya harus mati di tempat tidur dalam keadaan yang lemah sebagaimana unta yang renta dan tak berdaya. Namun jasa Khalid dalam penaklukan wilayah Islam telah menempatkan dirinya sebagai seorang syuhada yang tetap berkeinginan mati dalam medan jihad membela Islam. Mudah-mudahan Allah menempatkannya di surga bersama para syuhada. Amiin.

[1] Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

Surabaya, 20 Pebruari 2019

(nahimunkar.org)

(Dibaca 450 kali, 1 untuk hari ini)