Assalamu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Kepada Saudara Kami Aswaja Sufi dan Tradisionalis ketika kami sesama Muslim mengingatkan kalian tentang amalan ini syirik amalan itu bid’ah, maka reaksi yang berlebihan muncul. Seperti Wahabi tukang mengkafirkan, bener sendiri, kayak yang punya sorga, mencela, membuat perpecahan umat dan berbagai macam hujatan lainnya.

Kalaulah amalan itu shahih sebenarnya cukup kalian sajikan saja dalilnya dan persoalan selesai. Sekarang yang jadi pertanyaan ana, oleh karena kami mengingatkan amalan itu syirik atau bid’ah sementara kalian tidak mempunyai dalil, hal itu yang membuat kalian kesal dan sakit hati ? Padahal kami hanya menyampaikan dari nash yang shahih !!.

Yang kami ingatkan diantaranya meliputi hal-hal berikut :

* Allah ingatkan jangan meyisipkan kesyirikan dalam beribadah (QS 18:110), kalian berdo’a kepada yang telah mati dengan alasan tawasul.
* Allah perintahkan hamba-Nya untuk mengikuti Nabi-Nya (QS 3:31), kalian mendahului atau tidak mengikuti. Contoh : Nabi tidak merayakan Maulid, kalian merayakan Maulid. Nabi memelihara jenggot, kalian mencukur jenggot. Nabi tidak isbal, kalian isbal. Nabi tidak tahlil kematian, kalian mengerjakan.
* Allah perintahkan hamba-Nya untuk mengikuti Jalan Sahabat (QS 4:115), kalian mengikuti Jalan Sufi dan Jalan Tradisi Nenek Moyang.
* Nabi bersabda “Kullu bid’ahtin dholalah (semua bid’ah sesat)”, kalian bilang ada bid’ah hasanah.
* Nabi bersabda : “amalan yang bukan berasal dari kami, maka tertolak”, kalian senang dengan amalan yang bukan berasal dari Nabi. Contoh : Maulid Nabi, Tahlil Kematian, 7 bulan kehamilan dan 1001 macam amalan lain.
* Sahabat/Khalifah Ali bin Abi Thalib memerangi Syi’ah, kalian membela mereka dan menganggap mereka bagian dari Islam.
* Kalian sering meneriakkan persatuan Islam, tapi dalam sholat jama’ah kalian tidak mau bersatu dalam barisan yang rapat dan lurus. Kalian membuat celah antara satu dan yang lain.

Cobalah kalian renungi kalau kalian merasa benar.

Wassalam.

# Abu Ridho 2013-03-15 10:56

[Dalam komentar artikel ASWAJA SUFI MENIRU-NIRU SYIAH..?? ATAUKAH SEBALIKNYA..??!!
(studi banding antara aqidah tokoh syi’ah :Al-Khumaini dan aqidah kaum sufi : At-Tijaani, Alwi Al-Maaliki, Habib Al-Jufri, dan Habib Munzir) firanda.com,
Diterbitkan pada 13 February 2012].

***

Allah Ta’ala menegaskan :

{ وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ (47) وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48) وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ (49) أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (50) إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [النور: 47 – 51]

47. dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya).” kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

48. dan apabila mereka dipanggil kepada Allah[1044] dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

49. tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh.

50. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.

51. Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[1045] ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (QS An-Nur/24: 47-51).

[1044] Maksudnya: dipanggil untuk bertahkim kepada Kitabullah.

[1045] Maksudnya: di antara kaum muslimin dengan kaum muslimin dan antara kaum muslimin dengan yang bukan muslimin.

***

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.384 kali, 1 untuk hari ini)