“Khalifah Jokowi”

 


 

Oleh: M. Rizal Fadillah

 

KADANG puja-puji pada penguasa itu berlebihan. Budaya menjilat itu sebenarnya menghinakan. Di samping merusak reputasi sendiri juga kadang itu masuk dalam kategori dusta nyata.

 

Biasanya jilatan itu palsu dan sarat kepentingan. Yang menarik adalah Presiden Jokowi yang disamakan dengan sifat khalifah penerus Nabi.

 

Jokowi itu lembut mirip Abu Bakar Shiddiq, kepemimpinan mirip Umar bin Khattab, dermawan mirip Usman bin Affan, dan cerdik mirip Ali bin Abi Thalib.

 

Di tengah kebencian pada sistem dan terma khilafah, Presiden Indonesia dimirip-miripkan dengan khalifah. Ada nuansa keterlaluan dan kemunafikan.

 

Membandingkan itu harus jelas indikator pembandingnya. Menyederhanakan untuk nuansa kepentingan politik adalah mengada ada dan tercela. Bahkan bisa menjadi menghina para shahabat utama. Perendahan derajat namanya.

 

Abu Bakar digelari shiddiq karena keimanannya tinggi. Ia figur yang jujur dan tidak pernah bohong atau membohongi umat. Ia keras pada kekafiran, mereka yang tak membayar zakat karena anti syari’at diperangi. Begitu juga yang mencoba menjadi “mirip” Nabi diperanginya pula. Lembut pada sesame, keras pada orang orang kafir.

 

Umar ibnul Khattab semua tahu ketegasannya bukan peragu. Ditakuti karena selalu jelas akan sikapnya. Belum pernah melakukan politik pencitraan. Jika “blusukan” ikhlas karena Allah, bukan untuk pujian. Memanggul sendiri gandum tidak dengan membawa pencatat agar dipublikasikan. Jauh dari kepura-puraan.

 

Utsman bin Affan orang kaya dan dermawan. Kekayaan didapat dari usaha sendiri. Ketika menjadi khalifah tidak memperkaya diri dari jabatan. Beli sumur Yahudi untuk kepentingan umat. Membeli gandum 1000 unta dibagikan untuk siapapun yang perlu. Santun, bukan membagi dengan cara melempar-lempar. Utsman figur jujur dan pemalu. Malaikat pun malu kepada Utsman, begitu menurut hadits.

 

Ali bin Abi Thalib seorang pemberani, cerdas dan gudang ilmu. Intelektual di zamannya. Sangat hormat kepada pendahulunya. Pemuda masuk Islam pertama. Pedang dan pena adalah senjata bagi dakwahnya.

 

Dengan sekilas profil empat Khalifah ini rasanya jauh jika Presiden Jokowi dimirip-miripkan dengan keempat shahabat mulia Nabi tersebut. Ada pemaksaan yang sungguh dinilai tak tahu malu.

 

Sebaiknya puja-puji tak harus sampai pada mengaitkan dengan kekhalifahan segala. Fakta pemerintahan Jokowi yang membenci khilafah tak pantas menyebut Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dalam konteks kebijakan dan sifat. Ambivalensi jadinya.

 

Bisa saja jika ada orang yang justru membuat kemiripan lain. Misalnya Jokowi mirip Abu Lahab atau Abu Jahal. Bapak dari kebodohan. Nah repot nantinya.

 

Oleh karena itu meskipun wajar saja jika pemuja atau pendukung melakukan kampanye membantu promosi, akan tetapi jangan berlebihan lah.

 

Jokowi itu mirip dirinya sendiri. Ada yang suka tetapi banyak juga yang tidak. Clean and clear! (*)

 

@geloranews 
5 Mei 2020

 

***

Jokowi Dimiripkan Khalifah Umar, ‘Raja Antek Penjajah Amangkurat 1 Pembantai Ribuan Ulama’ Dijuluki Sunan Tegal Wangi, ‘Lia Eden yang Mau Hapus Islam’ Disamakan dengan Nabi


https://www.nahimunkar.org/jokowi-dimiripkan-khalifah-umar-raja-antek-penjajah-amangkurat-1-pembantai-ribuan-ulama-dijuluki-sunan-tegal-wangi-lia-eden-yang-mau-hapus-islam-disamakan-dengan/

Belajar dari Sejarah.

Penjajah kafir belanda dan antek2nya yg anti Islam telah berhasil memutar balikkan fakta hingga diikuti bahkan jadi materi pelajaran sejarah untuk anak2 sekolah hingga kini. Yaitu Amangkurat 1 Raja Mataram di Jogja disebut sebagai Sunan Tegal Arum. Hingga terkesan sebagai raja yang begitu baik, karena julukannya saja Arum alias bau wangi. Padahal ia itu pembantai ribuan ulama karena mereka memprotes / tidak setuju tingkah sang raja yg pro penjajah kafir Belanda. (tipuan licik spt itu jangan sampai terjadi lagi, maka penulis2 yg obyektif dan adil hendaknya menulis ketika ada pemutar balikan fakta spt dalam sejarah itu. semoga disadari). https://www.nahimunkar.org/amangkurat-membantai-ribuan…/


NAHIMUNKAR.ORG

Amangkurat I Membantai Ribuan Ulama

 

***

Pernah Lia Eden disamakan dengan Nabi oleh pentolan JIL (Jaringan Islam Liberal)

Pernah Lia Eden disamakan dengan Nabi oleh pentolan JIL. telah dilakukan oleh tokoh JIL ketika di Mahkamah Konstitusi ketika menginginkan Undang-Undang Penodaan Agama dicabut (yang akhirnya tuntutan JIL dan lainnya itu kalah, sedang UU Larangan Penodaan Agama tetap diberlakukan) beberapa waktu lalu. Pentolan JIL itu menyamakan Lia Eden pentolan sesat yang ingin menghapus Islam justru disamakan dengan Nabi Muhammad shallalhu ‘alaihi wa sallam, hanya karena awalnya sama-sama ditolak masyarakat. tokoh JIL itu berarti ibaratnya tidak mampu membedakan emas dengan kotoran manusia hanya karena sama-sama kuningnya. https://www.nahimunkar.org/bukti-bukti-rawannya…/


NAHIMUNKAR.ORG

Bukti-Bukti Rawannya Penyimpangan Aqidah, baik di Kalangan Tradisional…



(nahimunkar.org)

 

 

(Dibaca 814 kali, 1 untuk hari ini)