Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Ustadz, kebetulan Jumat kemarin tanggal 24 Agustus 2011 saya sholat Jumat di Masjid Raya Bengkulu. Dalam khotbah Jumat waktu itu khotib menyatakan hal-hal yang sudah dapat saya pastikan dia orang liberal. Misalnya dengan mengatakan bahwa Muslim yang baik sama dengan Kristen yang baik dan banyak hal lain yang bikin saya muak mendengarnya. Nah, bagaimana nih hukumnya sholat Jumat kalau khotibnya dari kalangan Sepilis? Apa yang harus kita lakukan kalau kita terjebak dalam sholat Jumat seperti itu. Terima kasih.

“zarwin sabar” zarwinsabar@yahoo.com

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Setiap orang yang bisa disebut muslim secara syar’i, boleh menjadi imam shalat dan sah pula bermakmum kepadanya. Tidak dibedakan apakah imam tersebut shalih ataukah fasik, satu madzhab ataukah beda madzhab. Selama imam tersebut masih bisa disebut muslim secara syar’i, maka keimamannya sah dan bermakmum kepadanya pun juga sah. Dalil yang menunjukkan keabsahan setiap muslim menjadi imam adalah hadis berikut;

صحيح مسلم (3/ 365)

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا قَالَ قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي قَالَ صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ

Dari Abu Dzar, beliau berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku; “Bagaimana keadaanmu jika engkau dipimpin oleh para penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktunya, atau mematikan  Shalat dari waktunya?” Abu Dzar berkata; aku bertanya; “lantas apa yang engkau perintahkan kepadaku?” beliau bersabda; “lakukanlah Shalat tepat pada waktunya, jika kamu mendapati bersama mereka, maka lakukanlah lagi, sebab hal itu dihitung pahala Shalat sunnah bagimu.” (H.R. Muslim)

Dalam hadis di atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengizinkan bermakmum kepada pemimpin yang mengakhirkan Shalat dan mematikannya. Jadi, hadis ini menjadi dalil keabsahan Shalat yang dilakukan dibelakang Imam yang Fajir,Zalim, dan Fasik selama mereka masih bisa disebut Muslim secara Syar’i.  Dalam riwayat yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  menegaskan, jika Imam berbuat dengan benar maka pahalanya didapatkan Imam dan Makmum sementara jika Imam berbuat salah maka dosanya hanya ditanggung Imam. Makmum mendapat pahala saja tanpa dosa. Imam Ahmad meriwayatkan;

مسند أحمد – مكنز (18/ 428، بترقيم الشاملة آليا)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُصَلُّونَ بِكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَأُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ »

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: “mereka (para Imam) Shalat bersama kalian, jika mereka benar maka kalian mendapatkan pahala Shalat kalian dan mereka akan mendapatkan pahala Shalat mereka, dan jika mereka salah maka kalian mendapatkan pahala Shalat kalian dan mereka mendapatkan dosa Shalat mereka.” (H.R. Ahmad)

Yang lebih menguatkan adalah Shalatnya sejumlah Shahabat dengan menjadi Makmum di belakang Imam-Imam yang menyimpang. Perbuatan sebagian Shahabat itu menunjukkan bahwa mereka memahami -berdasarkan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-  bahwa Shalat dibelakang Imam yang menyimpang hukumnya sah. Al-Baihaqi meriwayatkan;

السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (3/ 122)
عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْبَكَّاءِ قَالَ : أَدْرَكْتُ عَشْرَةً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- كُلُّهُمْ يُصَلِّى خَلْفَ أَئِمَّةِ الْجَوْرِ

“Dari Abdul Karim Al-Bakka’ beliau berkata; Aku mendapati sepuluh orang dari Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  semuanya Shalat di belakang para pemimpin yang menyimpang” (H.R. Al-Baihaqi)

Adapun larangan mengimami orang lain di daerah kekuasaanya (seperti di rumah orang lain, di majlis orang lain, di masjid kampung tertentu dll), atau larangan mengimami suatu kaum yang tidak suka dia maju menjadi Imam, maka hal ini tidak bermakna tidak sahnya keimaman mereka atau tidak sahnya bermakmum kepada mereka, tetapi hanya menunjukkan dibencinya (makruhnya) saja. Demikian pula perintah menjadikan orang yang paling faqih menjadi Imam tidak bermakna tidak sahnya keimaman orang yang tidak fakih, tapi hanya menunjukkan keutamaan menjadikan orang fakih menjadi Imam.

Oleh karena itu Shalat dibelakang Imam yang Shalih adalah sah sebagaimana Shalat dibelakang Imam yang Fajir, Zalim, Fasik, dan menyimpang juga sah karena mereka semua masih bisa disebut Muslim secara Syar’i.

Demikian pula bermakmum kepada Imam yang berbeda Madzhab. Makmum bermadzhab Syafi’i boleh bermakmum kepada Imam bermadzhab Hanafi dan sebaliknya. Makmum bermadzhab Maliki boleh bermakmum kepada Imam bermadzhab Hanbali dan sebaliknya demikian seterusnya. Bermakmum beda Madzhab boleh karena mereka semua masih bisa disebut Muslim secara Syar’i. Lagipula, semua ijtihad adalah hukum syara’ bagi Mujtahid dan tidak terhitung dosa meskipun salah.
Adapun pelaku Bid’ah (الْمُبْتَدِعُ), maka perlu dirinci. Jika Bid’ah yang dilakukannya tidak sampai menjatuhkannya ke dalam kekufuran seperti Mu’tazilah dan Khowarij, maka bermakmum kepada mereka masih dihitung sah karena meskipun mereka berbuat Bid’ah namun masih bisa disebut Muslim secara Syar’i. Namun, jika Bid’ah yang dilakukannya menjatuhkannya kepada kekufuran, seperti sekte yang meyakini  bahwa Allah telah bersemayam dan bersatu di dalam tubuh Ali Bin Abi Thalib, maka bermakmum kepada mereka hukumnya tidak sah karena mereka telah terhitung Kafir sementara bermakmum kepada orang Kafir tidak sah.

Bermakmum kepada Muslim yang telah terinfeksi ide-ide liberal, bermakna bermakmum kepada Muslim yang terkategori pelaku Bid’ah. Oleh karena itu perlu diteliti status orang tersebut apakah Bid’ah yang dilakukannya tidak menjatuhkannya kepada kekufuran atau sudah menjatuhkannya kepada kekufuran. Tokoh liberal seperti Nashr Hamid Abu Zaid asal Mesir memang telah jelas divonis Kafir oleh ulama-ulama Al-Azhar, namun “santri-santri”  tokoh liberal di berbagai dunia Islam perlu diteliti lebih lanjut karena level “terinfeksinya” mereka dengan ide-ide liberal boleh jadi bertingkat-tingkat. Harus ada kehati-hatian dalam hal Tahqiq (penelitian) mengingat adanya ancaman dalam Hadis kepada orang-orang yang memberikan label Kafir kepada seorang  Muslim, padahal dia belum layak disebut Kafir. Dalam sistem Islam, Tahqiq terhadap orang yang dituduh Kafir dilakukan di dalam mahkamah dengan menerapkan sistem pembuktian (Bayyinah) yang Syar’i.

Sebagai informasi, dalam hal vonis, Al-Lajnah Ad-Daimah Lil-Buhuts Wal Ifta’ telah memfatwakan bahwa orang yang mempropagandakan kesatuan agama (وَحْدَةُ اْلأَدْيَانِ), maka dia dipandang telah Murtad secara telanjang (رِدَّةٌ صَرِيْحَةٌ)

Jika dalam pandangan seorang Muslim ada seorang Khatib liberal yang sudah terkategori Murtad, maka Shalat Jumat yang dilakukannya tidak sah karena Shalat yang diimami Khatib Kafir tidak sah. Dia harus keluar dari tempat tersebut dan mencari Jamaah lain yang menyelenggarakan Shalat Jumat. Jika dalam pandangannya Khatib tersebut tidak sampai Murtad, tetapi hanya pelaku Bid’ah, maka Shalat Jumatnya masih sah karena Khatib tersebut masih bisa disebut Muslim. Dalam kondisi Khatib Murtad sementara dia tidak sanggup keluar dari tempat tersebut, atau bisa keluar tapi tidak mendapatkan Jamaah Jumat yang baru, atau mendapatkan Jamaah Jumat yang baru tetapi sudah terlambat, maka shalat Jumat diganti dengan Shalat dhuhur empat rakaat.

Ketentuan ini juga berlaku jika Khatib tersebut tidak mengimami Shalat (hanya berkhutbah saja). Khutbah Jumat termasuk syarat sah Shalat jum’at, oleh karena itu jika Khutbah Jumat tidak sah karena Khatibnya Murtad, maka Shalat Jumatnya juga tidak sah. Wallahua’lam.

Diasuh oleh:

Ust. Muhammad Muafa, M.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI, Malang, Jawa Timur

Shodiq Ramadhan | Senin, 23 Januari 2012 | 08:22:28 WIB (suara-islam.com)

Ilustrasi nm/ dok dari pencarian di google

***

Tentang yang mereka sebut Islam Liberal, artikel lawas berikut ini insya Allah masih bermanfaat. Selamat menyimak.

***

Kesesatan faham liberal dan  berbagai aliran dapat dibaca di buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.  Sesatnya seberapa kelompok liberal itu sampai Islam dan Al-Qur’an pun diserang, dapat dibaca di buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Islam dan Al-Qur’an pun Diserang terbitan Pustaka Nahi Munkar. (Pustaka Nahi Munkar Surabaya, 031 70595271, 5911584 atau 08123125427, dan Jakarta Toko Buku Fithrah 021 8655824, 71490693, HP. 081319510114).

Tuesday, October 28, 2008

Islam Liberal, Pemurtadan Berlebel Islam

Islam Liberal atau JI(Jaringan Islam Liberal) adalah kemasan baru dari kelompok lama yang orang-orangnya dikenal nyeleneh. Kelompok nyeleneh itu setelah berhasil memposisikan orang-orangnya dalam jajaran yang mereka sebut pembaharu atau modernis, kini melangkah lagi dengan kemasan barunya, JIL. Mula-mula yang mereka tempuh adalah mengacaukan istilah. Mendiang Dr Harun Nasution direktur Pasca Sarjana IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jakarta berhasil mengelabui para mahasiswa perguruan tinggi Islam di Indonesia, dengan cara mengacaukan istilah. Yaitu memposisikan orang-orang yang nyeleneh sebagai pembaharu. Di antaranya Rifa’at At-Thahthawi (orang Mesir alumni Paris yang menghalalkan dansa-dansi laki perempuan campur aduk) oleh Harun Nasution diangkat-angkat sebagai pembaharu dan bahkan dibilang sebagai pembuka pintu ijtihad.

Hingga posisi penyebar faham menyeleweng itu justru didudukkan sebagai pembaharu atau modernis (padahal penyeleweng agama). Akibatnya, dikesankanlah bahwa posisi Rifa’at At-Thahthawi itu sejajar dengan Muhammad bin Abdul Wahab pemurni ajaran Islam di Saudi Arabia. Padahal hakekatnya adalah dua sosok yang berlawanan. Yang satu mengotori pemahaman Islam, yang satunya memurnikan pemahaman Islam. Pemutar balikan fakta dan istilah itu disebarkan Harun Nasution secara resmi di IAIN dan perguruan tinggi Islam se-Indonesia lewat buku-bukunya, di antaranya yang berjudud Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, terbit sejak 1975.

Pengacauan istilah itu dilanjutkan pula oleh tokoh utama JIL yakni Nurcholish Madjid. Dia menggunakan cara-cara Darmogandul dan Gatoloco, yaitu sosok penentang dan penolak syari’at Islam di Jawa yang memakai cara: Mengembalikan istilah kepada bahasa, lalu diselewengkan pengertiannya. Darmogandul dan Gatoloco itu menempuh jalan: Mengembalikan istilah kepada bahasa, kemudian bahasa itu diberi makna semaunya, lalu dari makna bikinannya itu dijadikan hujjah/ argument untuk menolak syari’at Islam.

Coba kita bandingkan dengan yang ditempuh oleh Nurcholish Madjid: Islam dikembalikan kepada al-Din, kemudian dia beri makna semau dia yaitu hanyalah agama (tidak punya urusan dengan kehidupan dunia, bernegara), lalu dari pemaknaan yang semaunya itu untuk menolak diterapkannya syari’at Islam dalam kehidupan. Kalau dicari bedanya, maka Darmogandul dan Gatoloco menolak syari’at Islam itu untuk mempertahankan Kebatinannya, sedang Nurcholish Madjid menolak syari’at Islam itu untuk mempertahankan dan memasarkan Islam Liberal dan faham Pluralismenya. Dan perbedaan lainnya, Darmogandul dan Gatoloco adalah orang bukan Islam, sedang Nurcholish Madjid adalah orang Islam yang belajar Islam di antaranya di perguruan tinggi Amerika, Chicago, kemudian mengajar pula di perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia. Hanya saja cara-cara menolak Syari’at Islam adalah sama, hanya beda ungkapan-ungkapannya, tapi caranya sama.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak kutipan tulisan Nurcholish Madjid sebagai berikut: Kutipan: “…sudah jelas, bahwa fikih itu, meskipun telah ditangani oleh kaum reformis, sudah kehilangan relevansinya dengan pola kehidupan zaman sekarang. Sedangkan perubahan secara total, agar sesuai dengan pola kehidupan modern, memerlukan pengetahuan yang menyeluruh tentang kehidupan modern dalam segala aspeknya, sehingga tidak hanya menjadi kompetensi dan kepentingan umat Islam saja, melainkan juga orang-orang lain. Maka, hasilnya pun tidak perlu hanya merupakan hukum Islam, melainkan hukum yang meliputi semua orang, untuk mengatur kehidupan bersama.” (Artikel Nurcholish Madjid).

Tanggapan:

Kalau Gatoloco menolak syari’at dengan cara mengkambing hitamkan kambing curian, maka sekarang generasi Islam Liberal menolak syari’ah dengan meganggap fiqh sudah kehilangan relevansinya. Sebenarnya, sekali lagi, sama saja dengan Gatoloco dan Darmogandul itu tadi.

Tuduhan bahwa fiqh telah kehilangan relevansinya, itu adalah satu pengingkaran yang sejati. Dalam kenyataan hidup ini, di masyarakat Islam, baik pemerintahnya memakai hukum Islam (sebut saja hukum fiqh, karena memang hukum praktek dalam Islam itu tercakup dalam fiqh) maupun tidak, hukum fiqh tetap berlaku dan relevan. Bagaimana umat Islam bisa berwudhu, sholat, zakat, puasa, nikah, mendapat bagian waris, mengetahui yang halal dan yang haram; kalau dia anggap bahwa fiqh sudah kehilangan relevansinya? Bahkan sampai di zaman modern sekarang ini pun, manusia yang mengaku dirinya Muslim wajib menjaga dirinya dari hal-hal yang haram. Untuk itu dia wajib mengetahui mana saja yang haram. Dan itu perinciannya ada di dalam ilmu fiqh. Seorang ahli tafsir, Muhammad Ali As-Shobuni yang jelas-jelas menulis kitab Tafsir Ayat-ayat Hukum, Rowaai’ul Bayan, yang dia itu membahas hukum langsung dari Al-Qur’an saja masih menyarankan agar para pembaca merujuk kepada kitab-kitab fiqh untuk mendapatkan pengetahuan lebih luas lagi. Tidak cukup hanya dari tafsir ayat ahkam itu.
Faham JIL
Secara mudahnya, JIL itu menyebarkan faham yang menjurus kepada pemurtadan. Yaitu sekulerisme, inklusifisme, dan pluralisme agama.Sekulerisme adalah faham yang menganggap bahwa agama itu tidak ada urusan dengan dunia, negara dan sebagainya. Inklusifisme adalah faham yang menganggap agama kita dan agama orang lain itu posisinya sama, saling mengisi, mungkin agama kita salah, agama lain benar, jadi saling mengisi. Tidak boleh mengakui bahwa agama kita saja yang benar. (Ini saja sudah merupakan faham pemurtadan). Lebih-lebih lagi faham pluralisme, yaitu menganggap semua agama itu sejajar, paralel, prinsipnya sama, hanya beda teknis

(ISLAM=AGAMA FIR’AUN (PENYEMBAH DEWA), ISLAM=MAJUSI(PENYEMBAH API), ISLAM=KRISTEN (KONSEP 3 TUHAN), ISLAM=BUDHA, HINDU, YAHUDI, KONGHUCU, KEBATINAN, ANIMISME, DINAMISME, KABBALAH, FREEMASONRY, INTINYA SEMUANYA SAMA SAJA) (AGEN INTELLIGENT ASING MENGHARAPKAN DENGAN METODE INI UMAT ISLAM LEMAH BERPEGANGNYA PADA SYARIAHNYA SEHINGGA TIDAK AKAN BANGKIT LAGI SELAMANYA (HUKUM YG BERSUMBER PADA ALQURAN DAN AS-SUNNAH). Dan kita tidak boleh memandang agama orang lain dengan memakai agama yang kita peluk. (Ini sudah lebih jauh lagi pemurtadannya).

Jadi faham yang disebarkan oleh JIL itu adalah agama syetan, yaitu menyamakan agama yang syirik dengan yang Tauhid. Tampaknya orang-orang yang pikirannya kacau dan membuat kekacauan agama seperti itu adalah yang telah merasakan celupan dari pendeta, atau Yahudi, atau Barat, atau yang dari awalnya bergaul di lingkungan faham sesat Ahmadiyah dan sebagainya atau di lingkungan ahli bid’ah. Berikut ini contoh nyata, Ahmad Wahib yang mengaku sekian tahun diasuh oleh pendeta dan Romo. Kemudian fahamnya yang memurtadkan pun disebarkan oleh Johan Effendi, tokoh JIL yang jelas-jelas anggota resmi aliran sesat Ahmadiyah. Di antara fahamnya sebagai berikut:Ahmad Wahib Menafikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai Dasar IslamSetelah Ahmad Wahib berbicara tentang Allah dan Rasul-Nya dengan dugaan dugaan, “menurut saya” atau “saya pikir”, tanpa dilandasi dalil sama sekali, lalu di bagian lain, dalam Catatan Harian Ahmad Wahib ia mencoba menafikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai dasar Islam.

Dia ungkapkan sebagai berikut:

Kutipan: ” Menurut saya sumber-sumber pokok untuk mengetahui Islam atau katakanlah bahan-bahan dasar ajaran Islam, bukanlah Qur’an dan Hadits melainkan Sejarah Muhammad. Bunyi Qur’an dan Hadits adalah sebagian dari sumber sejarah dari sejarah Muhammad yang berupa kata-kata yang dikeluarkan Muhammad itu sendiri. Sumber sejarah yang lain dari Sejarah Muhammad ialah: struktur masyarakat, pola pemerintahannya, hubungan luar negerinya, adat istiadatnya, iklimnya, pribadi Muhammad, pribadi sahabat-sahabatnya dan lain-lainnya.” (Catatan Harian Ahmad Wahib, hal 110, tertanggal 17 April 1970).

Tanggapan:

Ungkapan tersebut mengandung pernyataan yang aneka macam.Menduga-duga bahwa bahan-bahan dasar ajaran Islam bukanlah Al-Quran dan Hadits Nabi saw. Ini menafikan Al-Quran dan Hadits sebagai dasar Islam.Al-Qur’an dan Hadits adalah kata-kata yang dikeluarkan oleh Muhammad itu sendiri. Ini mengandung makna yang rancu, bisa difahami bahwa itu kata-kata Muhammad belaka. Ini berbahaya dan menyesatkan. Karena Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah SWT yang dibawa oleh Malaikat Jibril, disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun lebih. Jadi Al-Qur’an itu Kalamullah, perkataan Allah, bukan sekadar kata-kata yang dikeluarkan Muhammad itu sendiri seperti yang dituduhkan Ahmad Wahib.

Allah SWT menantang orang yang ragu-ragu:

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

(QS Al-Baqarah: 23).

Al-Qur’an dan Hadits dia anggap hanya sebagian dari sumber sejarah Muhammad, jadi hanya bagian dari sumber ajaran Islam, yaitu Sejarah Muhammad. Ini akal-akalan Ahmad Wahib ataupun Djohan Effendi, tanpa berlandaskan dalil.

Al-Qur’an dan Hadits disejajarkan dengan iklim Arab, adat istiadat Arab dan lain-lain yang nilainya hanya sebagai bagian dari Sejarah Muhammad. Ini menganggap Kalamullah dan wahyu senilai dengan iklim Arab, adat Arab dan sebagainya. Benar-benar pemikiran yang tak bisa membedakan mana emas dan mana tembaga. Siapapun tidak akan menilai berdosa apabila melanggar adat Arab.Tetapi siapapun yang konsekuen dengan Islam pasti akan menilai berdosa apabila melanggar Al-Qur’an dan AAs-Sunnah. Jadi tulisan Ahmad Wahib yang disunting Djohan Effendi iitu jjelas mmerusak pemahaman Islam dari akarnya. Ini sangat berbahaya, karena landasan Islam yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah/ Hadits telah dianggap bukan landasan Islam, dan hanya setingkat dengan adat Arab. Mau ke mana arah pemikiran duga-duga tapi sangat merusak Islam semacam ini?

Pandangan-pandangan berbahaya semacam itulah yang diangkat-angkat orang pluralis (menganggap semua agama itu paralel, sama, sejalan menuju keselamatan, dan kita tidak boleh melihat agama orang lain pakai agama yang kita peluk) yang belakangan menamakan diri sebagai Islam Liberal.

Tokoh-tokoh Islam Liberal

Siapa sajakah yang mereka daftar sebagai Islam Liberal?Dalam internet milik mereka, ada sejumlah nama. Kami kutip sebagai berikut:”Beberapa nama kontributor JIL (Jaringan Islam Liberal, pen) adalah sebagai berikut:

  • Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta.
  • Charles Kurzman, University of North Carolina.
  • Azyumardi Azra, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
  • Abdallah Laroui, Muhammad V University, Maroko.
  • Masdar F. Mas’udi, Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, Jakarta.
  • Goenawan Mohammad, Majalah Tempo, Jakarta.
  • Edward SaidDjohan Effendi, Deakin University, Australia.
  • Abdullah Ahmad an-Naim, University of Khartoum, Sudan.
  • Jalaluddin Rahmat, Yayasan Muthahhari, Bandung.Asghar Ali Engineer.
  • Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
  • Mohammed Arkoun, University of Sorbone, Prancis.
  • Komaruddin Hidayat, Yayasan Paramadina, Jakarta.
  • Sadeq Jalal Azam, Damascus University, Suriah.
  • Said Agil Siraj, PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Jakarta.
  • Denny JA, Universitas Jayabaya, Jakarta.Rizal Mallarangeng, CSIS, Jakarta.
  • Budi Munawar Rahman, Yayasan Paramadina, Jakarta.
  • Ihsan Ali Fauzi, Ohio University, AS.
  • Taufiq Adnan Amal, IAIN Alauddin, Ujung Pandang.
  • Hamid Basyaib, Yayasan Aksara, Jakarta.
  • Ulil Abshar Abdalla, Lakpesdam-NU, Jakarta.
  • Luthfi Assyaukanie, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta.
  • Saiful Mujani, Ohio State University, AS.
  • Ade Armando, Universitas Indonesia, Depok-Jakarta.
  • Syamsurizal Panggabean, Universitas Gajahmada, Yogyakarta.

Mereka itu diperlukan untuk mengkampanyekan program penyebaran gagasan keagamaan yang pluralis dan inklusif. Program itu mereka sebut “Jaringan Islam Liberal” (JIL). Penyebaran gagasan keagamaan yang pluralis dan inklusif itu di antaranya disiarkan oleh Kantor Berita Radio 68H yang diikuti 10 Radio; 4 di Jabotabek (Jakarta Bogor, Tangerang, Bekasi) dan 6 di daerah. Di antaranya Radio At-Tahiriyah di Jakarta yang menyebut dirinya FM Muslim dan berada di sarang NU tradisionalis pimpinan Suryani Taher, dan juga Radio Unisi di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Dua Radio Islam itu ternyata sebagai alat penyebaran Islam Liberal, yang fahamnya adalah pluralis, semua agama itu sama/ paralel, dan kita tak boleh memandang agama lain dengan pakai agama kita. Sedang faham inklusif adalah sama dengan pluralis, hanya saja memandang agama lain dengan agama yang kita peluk. Dan itu masih dikritik oleh orang pluralis.

Itulah pemurtadan lewat jalur yang menggunakan nama Islam dan orang-orang yang mengaku dirinya Muslim.

Menghadapi Islam Liberal

Untuk menghadapi pemurtadan yang diusung Islam Liberal itu sudah ada tuntunan dari Allah SWT dan Rasul-Nya.

Di antaranya ayat:

“Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.”(QS Al-Kaafiruun/ 109: 6).

Ibrahim Al-Khalil dan para pengikutnya berkata kepada kaumnya, orang-orang musyrikin:

“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”(Al-Mumtahanah/ 60: 4)

(Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, Darul Fikr, Beirut, hal 509).

Dalam hadits ditegaskan:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda:

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.”(Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Faham inklusifisme dan pluralisme agama yang diusung oleh JIL jelas bertentangan dengan firman Allah SWT dan sabda Nabi saw. Berarti faham JIL itu adalah untuk merobohkan ayat dan hadits, maka wajib diperangi secara ramai-ramai. Kalau tidak maka akan memurtadkan kita, anak-anak kita, dan bahkan cucu-cicit kita.

Dari Aldakwah.com

Oleh: Drs. Hartono Ahmad Jaiz

Posted by DimasRangga at 7:57 PM / mastersaham

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.623 kali, 1 untuk hari ini)