Pejuang Islam Mali_8326523743

Pejuang Islam Mali/ atjehcyber.net

Selasa, 15 Januari 2013, 12:49 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,BAMAKO — Selain melakukan serangan udara, Prancis juga berencana untuk meningkatkan kehadiran pasukan militernya di Mali hingga mencapai 2.500 personel dalam beberapa hari ke depan.

Aksi militer Perancis ini terkait upaya memerangi gerilyawan Muslim Mali yang semakin mendekati ibukota Bamako.

Redaktur: Mohamad Amin Madani

***

Allah Ta’ala mensifati orang kafir dalam memerangi Islam.

الَّذِينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا  [النساء/76]

76. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS An-Nisaa’/4: 76).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ (36) لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ  [الأنفال/36، 37]

36. Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,

37. Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka Itulah orang-orang yang merugi. (QS Al-Anfal/ 8: 36, 37).

***

Gerilyawan Mali: Prancis Serang Islam

Senin, 14 Januari 2013, 19:42 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BAMAKO — Gerilyawan Mali utara bersumpah membalas serangan Prancis yang sudah memporak-porandakan markas dengan pesawat tempur, Senin (14/1).

“Prancis telah menyerang Islam. Kami akan menyerang jantung Prancis,” kata Abou Dardar, seorang pemimpin Gerakan Keesaan dan Jihad di Afrika Barat (Mujao), sebuah cabang dari Al Qaeda di Maghreb Islam (Aqim), kepada AFP via telepon.

Dardar menyatakan pasukannya bakal memusatkan serangan di beberapa titik. “Di mana-mana, di Bamako, di Afrika dan di Eropa,” tegas Dardar.

Serangan Prancis telah memblokir pergerakan Mujao di ibu kota Bamako dari basis mereka di utara yang telah mereka kendalikan sejak April lalu.

Pada Ahad (13/1) kemarin, pesawat tempur Prancis menyerang sasaran di pusat benteng gerilyawan di Gao dan Kidal. Dilaporkan 60 gerilyawan tewas di Gao.

Dardar mengungkapkan pihaknya menyandera delapan tentara Prancis di kawasan Sahel. “Kami akan membuat pernyataan tentang sandera hari ini. Mulai hari ini semua mujahidin bersatu,” tukas Dardar.

Redaktur: Karta Raharja Ucu

Sumber: AFP

***

Gempur Kelompok Islam Ansaruddin, Prancis Serang Mali

Shodiq Ramadhan | Jumat, 18 Januari 2013 | 13:29:09 WIB |

Paris (SI ONLINE) – Prancis menyerang salah satu negeri Islam di Afrika, Mali. Negara itu telah menempatkan 1.400 prajurit di Mali, lebih dari separuh dari total 2.500 yang akan dikirim ke negara bekas jajahannya itu, kata Menteri Pertahanan Jean-Yves Le Drian, Kamis.

Menurut mereka pasukan itu dikirim ke negara Afrika Barat tersebut sebagai bagian dari operasi untuk membantu militer Mali menguasai lagi wilayah utara dari kelompok-kelompok Islam.

Jumlah prajurit itu meningkat cepat sejak pasukan pertama Prancis tiba pada 11 Januari untuk menanggapi kelompok Islam yang menguasai kota Konna, Mali tengah.

Hingga Kamis, militer Mali yang dibantu pasukan Prancis masih bertempur untuk berusaha menguasai lagi Konna.

Pasukan Prancis juga terlibat dalam pertempuran untuk memperebutkan kota Diabaly, yang berada di dalam wilayah yang dikendalikan pemerintah namun dikuasai oleh kelompok Islam Senin dalam sebuah ofensif balasan setelah serangan-serangan udara pertama Prancis terhadap Konna.

Kelompok-kelompok Islam yang sejak April menguasai Mali utara bergerak pekan lalu ke arah selatan ke wilayah yang dikuasai pemerintah dan merebut Konna, sekitar 700 kilometer melalui jalan darat dari Bamako, ibu kota Mali, yang membuat Prancis segera melakukan intervensi.

Meski militer Mali sebelumnya melaporkan mereka telah merebut kembali Konna, Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan Selasa bahwa zona itu masih dikuasai para pejuang.

Kelompok Ansaruddin

Kelompok Islam dimaksud sebagai gerakan yang bergerak di bawah payung Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM). Mereka saat ini menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis.

Kelompok Islam Ansaruddin merupakan salah satu dari sejumlah kelompok terkait Al Qaida yang mengusai Mali utara di tengah kekosongan kekuasaan akibat kudeta militer pada 22 Maret di wilayah selatan.
Ansaruddin menguasai Timbuktu, sementara Gerakan Keesaan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO) memerintah Gao, kota besar lain di Mali utara.

Kelompok-kelompok itu memberlakukan Syariah di wilayah mereka dan berniat memperluas penerapan hukum Islam itu di kawasan lain Mali.

red: shodiq ramadhan

sumber: ANTARA News

***

Presiden Moursi Menentang Intervensi Perancis di Mali

Agusdin Syah | Selasa, 22 Januari 2013 | 20:13:00 WIB |

Riyadh (SI ONLINE) – Presiden Mesir Muhammad Moursi menentang intervensi Perancis di Mali. Hal itu ditegaskan Moursi dalam pidato Pembukaan KTT Ekonomi di Riyadh, Saudi Arabia, Senin (21/1) : Kami tidak menerima sama sekali intervensi militer di Mali karena hanya akan menyulut konflik di wilayah tersebut.”

Moursi juga menyatakan bahwa Mesir tidak menerima tindakan ekstremisme, kekerasan, atau agresi terhadap warga sipil. Kami tidak menginginkan adanya  pertumpahan darah baru.  Intervensi di Mali harus berlangsung dengan cara damai.

Sementara, kelompok Salafi di Mesir menyatakan dukungannya terhadap pejuang Mujahidin Mali dan menyerukan rakyat Mesir untuk melakukan aksi protes di depan Kedutaan Besar Prancis di Kairo terhadap praktek penjajahan Prancis kepada kaum muslimin di Mali.

Pernyataan tersebut menekankan beberapa poin, termasuk bahwa “Islam adalah identitas agama dan peradaban bangsa kita, dan Dunia hendaknya menerima identitas ini tanpa syarat, karena kita tidak akan menyerah hanya untuk memuaskan pihak manapun.

Pernyataan itu menambahkan bahwa mentalitas penjajah yang menyerang dengan pasukannya di negeri orang, akan selalu memaksakan kontrol atas negara tersebut dan rakyatnya, hal tersebut tidak akan dapat diterima oleh dunia kita saat ini, Kita adalah satu Umat, baik prancis suka hal itu atau tidak,dan tindakan kriminal Prancis ini  menantang setiap negara yang menentangnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tindakan Prancis yang anti-Islam bertambah dengan tindak kriminal pasukannya di Mali, dan dia sendiri yang akan menanggung akibatnya.
Di akhir pernyataan itu disebutkan bahwa, “Aksi ini bukanlah akhir dari perlwanan terhadap Prancis, tapi kami akan bersiap untuk meningkatkan aksi kami hingga Prancis menarik mundur pasukannya dari Mali.

Seperti diketahui, Prancis  melancarkan intervensi  ke Mali pada 11 Januari untuk memerangi  Mujahidin Mali Ansharudine   dengan dalih untuk menghentikan gerak maju para pejuang yang mengontrol bagian utara negara itu. Prancis sudah menempatkan 1.400 prajurit di Mali, lebih dari separuh dari total 2.500 yang akan dikirim ke negara bekas jajahannya itu, kata Menteri Pertahanan Jean-Yves Le Drian.

Protes Serangan Prancis_8236528083

Pasukan itu dikirim ke negara Afrika Barat tersebut sebagai bagian dari operasi untuk membantu militer Mali menguasai lagi wilayah utara dari kelompok-kelompok garis keras. Jumlah prajurit itu meningkat cepat sejak pasukan pertama Prancis tiba pada 11 Januari untuk menanggapi ofensif militan yang menguasai kota Konna, Mali tengah. Beberapa Negara Afrika juga berkomitmen untuk mengirim pasukan ke Mali, termasuk Senegal,  Aljazair, Nigeria.

Pemerintah Mali pada Senin malam (21/1), memperpanjang status keadaan darurat yang diberlakukan sejak 12 Januari selama tiga bulan, di tengah serangan militer yang dipimpin Prancis untuk menghalau gerilyawan terkait Al Qaida dari wilayah utara.

Keputusan itu diambil pada pertemuan kabinet khusus saat tentara Mali dan Prancis merebut kembali dua kota strategis, Diabaly dan Douentza, sebagai dorongan besar bagi operasi militer selama 11 hari oleh pasukan Prancis dan Mali, kata satu pernyataan.

Konflik Mali  merembet ke Aljazair terkait penyanderaan para pekerja perusahaan gas Aljazair. Kelompok “Cap Jempol Darah” yang dipimpin oleh warga Aljazair Mokhtar Belmokhtar, seorang mantan komdandan senior Al-Qaida di Afrika Utara, tersebut menuntut diakhirinya intervensi Prancis terhadap gerilyawan Islam di negara tetangga Mali, kata Kantor Berita Mauritania ANI.

Pasukan Aljazair yang melakukan pencarian di kompleks gas gurun sehari setelah mengakhiri pengepungan empat hari menemukan mayat 25 sandera didalamnya, sehingga jumlah korban sandera meningkat sekitar dua kali lipat menjadi 48 orang, kata sumber keamanan setempat. Digabung dengan 32 penyandera yang dibunuh, jumlah korban tewas secara keseluruhan dari insiden tersebut mencapai 80 jiwa, seperti dilaporkan Reuters dan AFP.

Red : Agusdin

Sumber : ant/ahram/prtv/dll

***

Biadab, AS Bantu Prancis Serbu Mali

Shodiq Ramadhan | Jumat, 18 Januari 2013 | 17:56:54 WIB |

Washington (SI ONLINE) – Amerika Serikat akan membantu pasukan Prancis yang memerangi pejuang Islam di Mali dengan pesawat-pesawat transport, kata para pejabat seperti dikutip AFP, Jumat (18/1/2013) seperti dikutip ANTARA News.
Tetapi AS belum memutuskan untuk menawarkan pesawat pengisi bahan bakar untuk pesawat tempur Prancis, kata mereka.

“Kami setuju membantu Perancis dengan pesawat transport. Dan kami kini sedang menyusun rincian,” kata seorang pejabat pertahanan yang enggan namanya disebutkan kepada AFP.

Pemerintah AS telah menyetujui meningkatkan kerjasama intelijen untuk membantu Prancis, termasuk informasi dan pesawat pengintai tanpa awak dan satelit mata-mata.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengonfirmasikan tindakan membantu bahan-bahan intelijen dan pesawat-pesawat transpor untuk pasukan Prancis.

“Kami mendukung operasi Prancis di Mali dengan informasi intelijen dan pesawat transpor,” katanya di Washington setelah bertemu dengan Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud.

Prancis bekerja sama dengan militer Pemerintah Mali memerangi kelompok Islam Mali.
red: shodiq ramadhan

sumber: ANTARA News

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.080 kali, 1 untuk hari ini)